Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 145


__ADS_3

Adnan menoel tangan Ayana "Apa Adnan"


"Kamu waktu itu bilang akan kembali lagi ke kota itu, kapan sepertinya anak-anak juga ingin tinggal di sana. Disana sekarang sudah berbeda Ayana tak sama lagi "


"Kalau kamu memang belum selesai bekerja di sana, kenapa pulang aku belum berpikir ke sana. Aku belum mau pulang, aku masih ingin disini saja. Disini lebih enak "


"Kamu yakin ga akan mau pulang ke sana, kita susun dari awal lagi mau "


Ayana diam. Memang sekarang Ayana berpikir kalau dia memang membutuhkan seorang laki-laki di sampingnya. Apalagi kemarin Melinda sempat sakit tapi Ayana tidak memberitahu pada Adnan, karena takut Adnan malah khawatir dan pulang ke sini, sedangkan pekerjaannya terbengkalai begitu saja.


Melinda terus saja mengigau memanggil-manggil nama kakaknya dan juga ayahnya, dia ingin bertemu dengan kakaknya, mereka tidak bisa dipisahkan begitu saja. Ayana kemarin sangat kebingungan sekali belum lagi dia harus ke toko dan mengurus anaknya yang sakit.


Bukan apa-apa mungkin dulu dia bisa melakukannya, karena ada bantuan dari temannya itu tapi sekarang entah kenapa Ayana berpikir kalau dia membutuhkan Adnan sosok laki-laki yang bisa membantunya kalau ada apa-apa.


"Tapi aku masih takut bagaimana kalau aku bertemu dengan keluargaku, aku tidak bisa aku tidak siap bertemu dengan mereka semua "


"Kan ada aku di samping kamu. Kamu tidak usah khawatir. Aku akan terus bersama kamu aku tidak akan meninggalkan kamu. Mereka tidak akan bisa menyentuh kamu"


"Aku harus berpikir lagi, banyak yang harus aku fikirkan Adnan "

__ADS_1


"Apalagi yang harus kamu pikirkan, kamu harus melawan segalanya memang di sana banyak kejadian pahit yang terjadi dengan kamu, tapi semuanya bisa dihadapi aku akan membantumu untuk menghadapi semuanya Ayana, anak-anak juga ada mereka juga akan membantu kamu "


Ayana menatap Adnan lalu menundukkan kepalanya "Aku ragu, dulu saja kamu akan melindungiku tapi kenyataannya apa sama sekali tidak, kamu tidak mempercayaiku Adnan"


"Iya aku tahu, itu adalah sebuah masa lalu aku tahu apa yang aku lakukan itu salah. Seharusnya aku tidak seperti itu padamu Ayana. Maafkan aku, aku berjanji tidak akan gegabah seperti itu kita mulai dari awal lagi "


"Jika aku menggantungkan hidupku lagi padamu, apakah kamu akan melakukan hal itu lagi apakah kamu akan melakukan hal yang sama lagi Adnan"


Adnan yang mendengar itu senang, Ayana sepertinya sudah mulai mau tapi bingung juga "Maksud kamu bagaimana kamu mau menikah lagi dengan aku"


"Ya kalau aku nanti kembali ke sana dan bisa menerima kamu lagi, apakah kamu akan menjamin segalanya menjamin aku dan juga anak-anak kalau sampai aku kembali padamu dan tidak bekerja lagi, kamu harus bisa menghidupi aku dan juga anak-anak Adnan "


Adnan benar-benar kebingungan dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia senang dan bercampur bingung pokoknya bingung rasanya "Maksudnya bagaimana Ayana, apakah kamu mau menikah denganku, apakah kamu mau rujuk lagi dengan aku"


"Apakah kamu sedang memberikan aku kesempatan Ayana, dengan berkata seperti itu" Adnan tahu kalau Ayana adalah perempuan mandiri, tidak mungkin tiba-tiba mau Adnan beri uang. Maksudnya dinafkahi oleh Adnan.


Dulu saja saat berpacaran Ayana tak mau diberi uang oleh Adnan, bahkan kalau pun makan diluar Ayana ingin dibagi dua saja tak mau kalau Adnan saja yang membayarnya.


"Sebenarnya aku juga bingung dengan kata-kataku ini Adnan, aku bingung apakah aku mau hidup denganmu atau hanya ingin_"

__ADS_1


"Benarkah kamu sedang mempertimbangkan semuanya Ayana, kamu akan kembali rujuk denganku"


"Tolong jangan potong kata-kataku ini, aku sedang berbicara Adnan "


"Baiklah aku akan mendengarkannya sampai selesai, aku akan diam dan menunggu kamu selesai berbicara Ayana "


"Aku ingin anak-anak tetap ada di samping kita berdua. Ya maksudku tidak berjauhan seperti kemarin. Aku ingin mereka selalu bersama aku tahu mereka itu saling membutuhkan, mereka itu tidak bisa dipisahkan maka di sini aku yang harus mengalah. Ya intinya aku melakukan ini demi anak-anak bukan karena kamu"


Adnan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, dia tidak mau membantah apa-apa yang dikatakan oleh Ayana dan tidak mau bertanya-tanya lagi. Ya intinya sebenarnya Ayana sudah menerimanya sudah mau rujuk dengannya.


Tapi Ayana masih gengsi untuk mengatakan semua itu dan berbicara dengan mengatasnamakan anak-anak. Ya mungkin sekarang untuk anak-anak tapi nanti ke depannya Adnan yakin Ayana akan mengungkapkan semuanya.


"Iya maksudku juga agar kamu tidak bolak-balik ke sana kemari, aku tahu pekerjaanmu itu sangat banyak sedangkan aku disini hanya menjaga toko bunga. Kalau kamu tinggal di sini aku bisa memberimu makan apa, kamu juga capek kan kesana kemari tidak mungkin kamu tiba-tiba berpindah ke sini, perusahaanmu tidak akan bisa loncat kemari. Jadi ya aku harus mengalah, salah satu dari kita harus mengalah anak-anak juga sudah sangat lengket sekali dengan kamu"


Adnan masih saja diam, dia ingin mendengar semua yang ingin dikatakan oleh Ayana, meskipun Ayana berkata berbelit-belit tapi Adnan mengerti kalau Ayana di sini sudah bisa menerimanya dan Adnan senang sekali.


Adnan menarik tubuh Ayana agar bisa menyender di dadanya, lalu Adnan mengusap rambut Ayana dengan perlahan "Anggap saja itu adalah pertimbangan pertama dari aku, nanti akan ada lagi pertimbangan pertimbangan yang berikutnya karena aku masih merasa kalau kamu itu belum berubah sepenuhnya dan aku benar-benar melakukan ini untuk anak-anak"


"Kamu mengerti kan dengan apa yang aku maksud, kamu tidak pusing kan dengan apa yang terus aku bicarakan dari tadi, ya aku nanti bisa buka toko di sana tapi sementara aku minta untuk kamu menjamin hidupku dan juga anak-anak. Aku belum berani untuk keluar dari rumah dan aku takut kalau orang-orang ada yang mengenaliku, aku hanya belum siap saja, apalagi kan kebutuhan anak-anak itu sangat banyak sekali"

__ADS_1


Adnan kembali menganggukan kepalanya, sungguh lucu Ayana ini sedang menutup-nutupi gengsinya yang begitu besar. Padahal kalau mau langsung ungkapkan saja. Adnan juga tidak akan menertawakannya atau mungkin mengejek Ayana.


Malahan Adnan senang tapi tak masalah Adnan tahu perempuan memang seperti itu kadang, mereka memang suka berbelit-belit dan ingin selalu dimengerti.


__ADS_2