Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 216


__ADS_3

"Kalian berdua benar-benar punya adik bayi "mereka berdua langsung bersorak gembira mereka loncat-loncat Adnan yang melihatnya tertawa dengan tingkah anak-anaknya ini. Memang dari awal mereka benar-benar ingin punya adik jadi saat mendengar Mamanya sedang mengandung mereka senang sekali.


"Tapi adik bayi harus disimpan dulu dalam perut Mama, agar dia bisa tumbuh dan nanti bisa ada bersama kalian "


"Yey " teriak keduanya, mereka juga sampai berputar putar senang lalu loncat-loncat lagi "Kami punya adik bayi, kami akan punya teman lagi. Kami senang sekali Ayah "


Meraka yang sudah lelah langsung berhenti dan menatap Ayahnya "Lalu kapan adik bayi itu akan keluar "Melisa menunjuk titik yang ada di gambar itu.


"Jika sudah saatnya maka akan keluar, kalau adik bayi sudah menjadi cantik atau tampan mereka akan segera keluar dan bisa menemani kalian untuk bermain nanti kalian jadi bertiga, kalian berdua harus menjaga adik dengan baik ya. Kalian harus kompak pokoknya"


"Aku tidak sabar menunggunya untuk keluar "sekarang Melinda yang berbicara


"Jadi karena di perut Mama ada adik bayi kalian tidak boleh meminta digendong oleh Mama atau membuat mama marah, sedih pokoknya kalian harus selalu membuat mama senang ya. Mama harus selalu tersenyum "


Mereka berdua langsung mengangguk mengerti "Baik kami akan terus membuat Mama tersenyum, kami tak akan membuat Mama marah. Ayah tenang saja, kami akan terus menghibur mama, pokoknya mama setiap hari akan selalu senang "


"Lalu Ayah ada berapa adik bayi dalam perut Mama, apakah akan sama seperti kami "tanya Melisa.


"Ayah belum tahu, karena adik bayi masih kecil nanti kalau sudah lebih besar kita akan tahu ada berapa adik bayi, tapi maupun ada 1, 2, 3 atau 4 kita harus selalu berterima kasih kita harus menerima pemberian dari Allah. Kalau kita hanya diberikan satu berarti Allah melihat kita hanya mampu merawat satu adik bayi saja"


Anak-anak langsung mengangguk "Tapi kalau nanti misalnya yang keluar hanya satu adik bayi, apakah Mama akan punya adik bayi lagi setelah itu"

__ADS_1


"Bisa, tapi nanti harus diberi jarak dulu mungkin akan beberapa tahun dulu, karena mama juga nanti harus membawa adik bayi dengan perut yang besar, kita tidak boleh mendesak mama untuk membawa terus adik bayi kasian mama, mama juga harus pemulihan nanti "


Adnan berharap teror adik bayi ini akan berakhir, anak-anaknya nanti setelah lahirnya keluarga baru mereka tidak akan bertanya lagi tentang adik bayi, karena Adnan juga pusing terus mendengar kapan adik bayi ada, kapan adik bayi menemani mereka "Kalian juga tidak boleh membuat mama kesal ya"


"Baik kami mengerti ayah, kami akan menjaga perasaan mama dengan baik "


"Baiklah ayah akan mencetak satu lagi foto ini dan akan disimpan di kamar kalian. Agar kalian merasa kalau kalian tidur terus bersama adik bayi"


"Iya iya kami setuju, kami ingin adik bayi selalu bersama kami dan nanti kalau adik bayi sudah keluar bisa memperlihatkannya padanya. Kami jadi makin tak sabar "


"Ayah apakah kami tidak boleh bermain lagi bersama mama " tanya Melinda khawatir.


"Boleh, tentu saja boleh tidak ada yang melarang tapi kalian tidak boleh sampai digendong oleh Mama, tidak boleh berlarian dengan mama. Jadi mama hanya akan mengawasi kalian saja tidak ikut bermain seperti biasanya, kan di dalam perut Mama itu ada adik bayi jadi Mama harus banyak diam dan tidak boleh terlalu kecapean. Mama harus banyak istirahat nanti "


"Boleh tapi ayah yang di tengah, nanti takut kalian tiba-tiba menendang Mama saat tidur, kita tidak sadar kan"


"Ayah memangnya kapan kamu tidak tidur di tengah, kalau kita tidur bersama-sama Ayah selalu saja tidur di tengah dan selalu menyingkirkan kami berdua ayah akan selalu memeluk Mama "protes Melinda" Memangnya Mama itu hanya punya ayah saja, mama juga punya kita, ayah itu selalu saja ingin dekat-dekat dengan Mama kami juga sama mau dekat-dekat dengan Mama. Ayah tak boleh serakah seperti itu dong"


Adnan malah tertawa mendengar hal itu, memang itulah kebiasaannya Adnan tidak mau jauh-jauh dari istrinya rasanya ingin selalu saja memeluk istrinya itu "Baiklah, lebih baik sekarang kalian mandi dan nanti kita bertemu lagi makan malam, kalau ada tugas kalian kerjakan ya, kali ada yang kalian tak mengerti panggil Ayah. Ayah mau ke ruang kerja dulu Ayah harus membereskan beberapa pekerjaan yang belum Ayah selesaikan"


"baik ayah" Melisa Melinda segera berlari meninggalkan ayahnya sendirian, mereka masuk ke dalam kamar mengikuti perintah dari ayahnya itu, mereka akan menjadi anak yang lebih baik lagi apalagi sebentar lagi akan punya adik.

__ADS_1


...----------------...


Adnan yang sedang bekerja tidak fokus, dia menutup laptopnya dan semua berkas-berkasnya. Adnan terus saja memikirkan istrinya padahal istrinya baik-baik saja. Dia sedang mengandung dan istirahat tapi pikiran Adnan ini terus saja tertuju pada sang istri, rasanya tidak melihat istrinya beberapa jam sudah rindu. Padahal ada dekat dengannya.


Adnan segera keluar dari ruangannya, dia pergi ke arah kamar lagi. Saat Adnan membuka pintu ternyata istrinya masih tertidur Adnan berjalan dengan sangat perlahan sekali, dia membuka jasnya lalu masuk ke dalam selimut dan berbaring di samping sama istri.


Adnan memeluk istrinya dengan sangat pelan sekali, tidak mau sampai membangunkannya tapi ternyata tetap saja istrinya terbangun. Ayana membuka mata cantiknya itu dan langsung menatap suaminya


'Maaf apa aku mengganggu tidurmu"


Ayana menggelengkan kepalanya dia malah menyembunyikan wajahnya di dada suaminya itu, Adnan mengusap kepala istrinya dengan sayang.


Ayana tiba-tiba mendongakkan kepalanya dan menatap suaminya "Aku tidak melihat Ibu dan juga ayah datang kemari, apakah mereka benar-benar menghilang atau sedang membuat strategi baru untuk menghancurkan aku untuk datang kemari lagi "


"Emm, sepertinya mereka sudah lelah makanya mereka tidak datang kemari, mungkin mereka sudah punya penghasilan jadi tidak mengganggumu sayang"


"Benarkah bisakah kamu Adnan mencarinya, maksudku melihat keadaannya apakah mereka baik-baik saja entah kenapa aku memikirkan terus tentang keadaan ibuku itu, aku takut kenapa-napa dengannya perasaanku tiba-tiba saja tidak enak"


Apakah Adnan harus melepaskan mereka, mereka masih ada di kandang buaya Adnan masih belum membiarkan mereka keluar, memang perasaan anak tidak pernah salah, tapi Adnan juga kesal dengan tingkah ibunya Ayana yang seperti itu.


"Baiklah nanti akan aku coba cari tahu keberadaan mereka dan keadaan mereka. Kamu jangan terlalu memikirkan hal-hal yang lain kamu kan sedang mengandung, jadi kamu harus selalu bahagia ya anak-anak juga sudah aku beritahu dan mereka sangat bahagia sekali dengan kabar ini, tidur lagi masih ada waktu untuk tidur dan nanti kita makan malam bersama-sama"

__ADS_1


Ayana menganggukan kepalanya, entah kenapa tiba-tiba saja Ayana tadi memimpikan ibunya, kalau ibunya sedang tidak baik-baik saja kalau ibunya itu sedang dalam bahaya.


Ayana sangat khawatir sekali, meskipun ibunya sangat membencinya, tidak menganggapnya sebagai anak tapi tetap saja Ayana begitu khawatir dengan keadaan ibunya Ayana takut ibunya dalam masalah besar.


__ADS_2