
Melisa yang melihat ayahnya tersenyum sendiri dari tadi tentu saja curiga. Ada apa dengan ayahnya ini, sangat mencurigakan sekali dan patut untuk dipertanyakan juga kan.
Melisa yang sedang duduk langsung bangkit "Ayah ini kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri, awas saja ya kalau ayah macam-macam di belakang Mama, aku akan membawa mama pergi lagi "
Adnan langsung menyimpan ponselnya. Adnan sendiri yang mengantar anak-anak sekarang, tadinya Adnan mau masuk langsung ke kantor tapi kalau dipikir-pikir Adnan ingin mengantarkan anak-anaknya untuk sampai ke sekolah dan selamat.
"Sayang Ayah ini sedang bertukar kabar dengan Mama, mana mungkin Ayah akan macam-macam"
Melisa malah berkaca pinggang. Melisa menatap ayahnya dengan wajah yang garang tapi Adnan malah tertawa melihat ekspresi anaknya itu, menurut Adnan itu sangat lucu sekali tidak ada seram-seramnya.
"Jangan berbohong Ayah, aku mau lihat pesannya apakah benar ayah bertukar kabar dengan Mama, jangan sampai Ayah menyakiti mamaku ya. Aku tak akan terima jika ayah melakukan itu pada mama "
Melisa begitu kaget saat tubuhnya tiba-tiba saja diangkat oleh ayahnya. Sekarang Melisa ada di pangkuan ayahnya, Adnan juga sudah mengeluarkan ponselnya untuk bukti pada anaknya, jangan sampai nanti anaknya berkata yang macam-macam pada Ayana dan pada akhirnya dirinya akan bertengkar dengan istrinya.
"Ini lihat, pesan ini ayah kirim buat mamamu, mana mungkin Ayah bertukar pesan dengan orang lain sambil senyum-senyum, hanya Mama saja yang bisa membuat Ayah tersenyum seperti tadi "
Melinda yang duduk paling ujung tidak tertarik dengan perdebatan ayah dan juga kakaknya. Melinda hanya fokus menatap gedung-gedung besar dan juga mobil-mobil yang sedang berkejaran. Melinda selalu suka kalau melihat mobil yang saling susul seperti itu.
Sedangkan Melisa sendiri menatap nama mamanya yang diberi love yang sangat banyak oleh ayahnya ini, terdapat nama Mamah di belakangnya ada tanda love "Apakah Ayah sangat mencintai mama"
"Tentu saja Ayah sangat mencintai Mamamu, makanya Ayah menyimpan emoticon love sangat banyak seperti ini, kalau ayah tak mencintai mama mana mungkin kami berdua menikah "
"Baiklah selalu cintai Mamaku jangan sampai Ayah menyakiti Mamaku awas saja, aku yang akan maju terlebih dahulu untuk memukul ayah nanti "
Adnan terkekeh mendengar itu, lalu Adnan mencium pipi Melisa, Melisa yang memang tidak suka dicium menggeliat dan mencoba untuk turun dari pangkuan ayahnya. Adnan sendiri yang tidak mau menahan Melisa dan takut dia marah melepaskannya.
Melisa kembali duduk di samping adiknya dan fokus kembali menatap ke luar jendela bersama sang adik, sambil mengobrol berdua dan Adnan hanya dijadikan nyamuk saja di mobil ini.
Mereka berdua ini memang selalu asik sendiri. Mereka akan membicarakan banyak hal, bahkan yang tak perlu dibahas pun akan mereka bahas.
Adnan kembali membuka ponselnya dia menatap rekaman CCTV. Minggu lalu saat Ayana selalu menyembunyikan barang-barangnya. Sebenarnya dari lama juga Adnan sudah tahu tapi dia ingin membuat Ayana selalu senang dan tersenyum bahagia. Makanya Adnan selalu pura-pura tidak tahu dan lupa di mana dia menyimpan barangnya.
Sekarang Adnan melihat CCTV yang ada di kamarnya. Ayana tidak tahu kalau di dalam kamar juga sebenarnya ada CCTV, Adnan melihat istrinya yang sedang tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh badannya.
Pasti istrinya itu sedang marah, lalu Adnan juga melihat selimut yang terbuka dan Ayana yang memukul-mukul sisi kanan dan kirinya menggunakan tangannya pasti dia sangat kesal sekali dengan tingkah Adnan yang mengetahui semuanya.
Tadi juga anak-anak saat diberitahu kalau Ayana butuh istirahat dengan adik bayi mereka mengerti tidak mengganggu Ayana, mereka juga makan sendiri, anaknya ini benar-benar pengertian sekali.
Kadang Adnan bingung umur anaknya ini sebenarnya berapa tahun sampai-sampai mereka itu selalu patuh dan mengerti dengan keadaan sekitar. Ya maksudnya Adnan tahu anak seumuran seperti ini kan kadang-kadang tidak bisa dilarang dan selalu ingin diikuti apapun itu kemauannya, tapi dengan Melisa dan Melinda mereka selalu mengerti asal ada alasannya.
Mereka benar-benar baik sekali, bahkan Adnan tak pernah direpotkan oleh kedua putrinya ini. Mereka selalu melakukan apa-apa sendiri.
"Ayah apakah sekarang kamu sudah tahu adik bayi yang ada di dalam perut Mama itu ada berapa, kami begitu penasaran sekali "tanya Melinda tiba-tiba.
Adnan menatap kedua putrinya yang juga menatapnya "Ayah juga belum tahu ada berapa, tapi nanti kan akan ada pemeriksaan kalian ikut saja ya dan kalian akan tahu adik bayi ada berapa. Kita lihat sama-sama "
"Yey "Melinda bersorak gembira "Kita boleh melihat adik bayi diperiksa, Ayah yakin Ayah tidak bohong kan "
Adnan takut ekspektasi Melinda adalah adik bayi yang sudah menjadi bayi yang sudah berbentuk bayi dan diluar perut Ayana, jadi Adnan langsung menjelaskan "Ya nanti mama diperiksa oleh dokter dan adik bayi akan terlihat di layar komputer, kita akan melihat adik bayi yang masih ada di dalam perut Mama ya, adik bayi belum bisa kita pegang langsung"
Melisa dan juga Melinda mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum, Adnan kembali menjelaskannya takut anaknya masih belum mengerti dan nanti kecewa dengan pemeriksaan yang akan dilakukan oleh Ayana.
"Nanti kita akan melihat adik bayi seperti yang ada di gambar waktu itu yang ayah berikan. Adik bayi memang masih kecil dan belum terlihat seperti bayi yang pernah kalian lihat"
"Apakah nanti akan lebih besar dari yang kemarin Ayah. Yang kemarin itu sangat kecil sekali apakah sekarang akan tumbuh jadi lebih besar lagi ayah" tanya Melisa yang ingin tahu apakah adiknya akan berkembang atau masih akan terus kecil seperti itu.
"Benar sekali nanti adik bayi akan lebih besar dari yang kemarin, akan ada perubahan "
"Baiklah Ayah akan sebesar apa adik bayi itu "
__ADS_1
Adnan hanya mengira-ngira lalu memperlihatkannya pada anaknya "Mungkin sebesar ini"
"Kenapa sangat lama, kenapa masih kecil juga ya. Apa nanti adik bayi akan terlihat sangat besar seperti kami. Kapan dia tumbuh ayah, kami ingin cepat-cepat adik bayi tumbuh "
"Semuanya butuh waktu kalian juga waktu itu saat masih ada di perut Mama seperti itu, dari kecil dulu seperti apa yang ayah lihat kan dari foto itu nanti akan tumbuh menjadi adik bayi yang pernah kalian lihat "
"Hemm, baiklah kami berdua akan menunggu kelahiran adik bayi kami berdua akan sabar menunggunya. Kami tak akan mengkritik adik bayi lagi"
"Bagus kalian harus menunggu dengan sabar nanti kalau sudah waktunya adik bayi akan keluar dan akan menemani kalian berdua. Saat nanti punya adik bayi kalian tidak boleh rewel ya harus membantu Mama juga menjaga adik bayi "
"Siap ayah, kami akan membantu Mama. Ayah hanya perlu percaya saja pada kami "
Melisa dan juga Melinda mengangkat kedua jempol mereka. Mereka sangat senang dengan kabar yang diberikan oleh ayahnya mereka hanya perlu menunggu adik bayi saja.
Hanya tinggal beberapa bulan saja kan, nanti mereka akan bisa langsung melihat adik bayi dan memegang adik bayi juga. Pasti akan menyenangkan sekali nanti.
Adnan yang sudah selesai mengantarkan anak-anak ke sekolah langsung pergi ke kantornya. Adnan juga melakukan meeting dengan cepat. Dia ingin buru-buru menyelesaikan semua pekerjaannya agar Adnan bisa menghabiskan waktu dengan anak-anak dan juga istrinya.
Mungkin dulu Adnan gila kerja senangnya hanya di kantor saja, tapi sekarang berbeda Adnan sudah mempunyai keluarga. Keluarganya itu adalah keluarga yang selama ini Adnan inginkan selalu Adnan bayangkan, jadi Adnan tidak mau melewatkan sedikitpun waktu bersama mereka.
Meskipun Adnan melakukan pekerjaannya seperti terburu-buru tapi Adnan selalu teliti mengecek semuanya, tidak pernah ada yang terlewat sedikitpun.
...----------------...
Ayana membuka selimutnya dan melihat Rara yang mengantarkan makan siangnya. Ada buah buahan dan juga nasi serta lauk pauknya yang lengkap. Makannya begitu banyak sekali sepertinya Ayana tak akan bisa menghabiskannya.
Ayana sebenarnya tidak berselera untuk makan, tapi kalau misalnya dirinya tidak makan pasti akan tambah lagi hukumannya, yang ini saja sudah pusing apalagi kalau sampai ditambah lagi.
"Bu ini untuk makan siangnya, nanti kalau ada yang kurang Ibu bisa langsung panggil saya, atau ada yang ibu perlukan ibu bisa panggil saya juga"
"Iya terima kasih nanti kalau ada apa-apa aku akan memanggil kamu dengan cepat "
"Sama-sama Bu saya permisi dulu"
Ayana melihat setiap sudut yang ada di kamar ini, tapi tidak ada yang mencurigakan. Ayana langsung memakan makanannya, tapi dengan sangat perlahan sekali tidak buru-buru sama sekali mau habis kapanpun Ayana tidak masalah yang terpenting kan dimakan saja.
Saat dulu hamil Melisa dan juga Melinda Ayana seperti ini juga malas untuk makan, bahkan kadang Ayana tak makan karena sibuk untuk membuat karangan bunga.
Sedangkan di tempat lain Adnan yang sedang mengecek CCTV di dalam kamar merasa lega istrinya sudah memakan-makanan siangnya. Berarti semuanya aman sekarang Adnan akan menjemput anak-anak dulu.
Sebentar lagi anak-anaknya akan pulang, Adnan tidak mau terlambat lagi dan nanti diprotes oleh anak-anaknya lagi. Adnan tak mau dicap oleh anaknya sebagai ayah yang selalu telat menjemput mereka.
Adnan juga tidak mau membuat mereka kecewa padannya. Adnan mulai sekarang akan tepat waktu untuk menjemput mereka berdua. Adnan tak akan telat lagi.
...----------------...
Keceriaan kedua putrinya terlihat saat mereka melihat Adnan yang datang, mereka langsung berlari ke arah ayahnya berlomba-lomba siapa yang lebih dulu menghampiri ayahnya "Ayah ayah" teriak mereka dengan kompak.
Adnan sendiri sudah berjongkok dan menyambut mereka berdua. Melisa sampai terlebih dahulu disusul oleh Melinda, mereka langsung memeluk Adnan dengan erat.
Mereka yang memang sudah tahu kalau ibunya sedang beristirahat tidak menanyakan keberadaan mamanya. Ayahnya saja yang menjemput sudah cukup. Mamanya harus beristirahat dengan adik bayi.
Adnan langsung menggendong kedua putrinya itu dan masuk ke dalam mobil "Langsung pergi ke kantor lagi ya sep "
"Baik Pak"
"Jadi kita tidak pulang ke rumah Ayah, kita ke kantor ayah dulu " tanya Melisa
"Iya kita kekantor dulu ya, ayah masih ada pekerjaan, hanya akan sebentar tak akan lama kok. Setelah itu kita akan pulang dan menemui mama"
__ADS_1
"Yey, aku senang sekali "
"Bagaimana dengan di sekolah kalian apakah menyenangkan "Adnan ingin tahu bagaimana mereka belajar di sana. Memang anaknya ini selalu saja menceritakan apa kegiatan mereka di sekolah, tapi Adnan ingin bertanya terlebih dahulu sebelum mereka bercerita padannya.
"Tentu sangat menyenangkan Ayah, kami suka dengan sekolah kami itu " Memang mereka selama ini tidak pernah mendapatkan hal buruk di sekolah, ya kecuali saat Alifah waktu itu masalah yang sudah berlalu itu tapi setelah Alifah tidak ada sekolah kembali menyenangkan dan mereka juga selalu bersenang-senang bersama teman-temannya.
Tak ada lagi pertengkaran atau anak yang nakal, teman-temannya itu semuanya baik. Mereka bersyukur dengan tak adanya Alifah kelas mereka jadi nyaman dan juga hangat tak ada yang menganggu lagi.
"Ayah ayah kami di sekolah juga diajarkan membuat hewan dari kertas origami, ibu guru mengajarkan banyak sekali bentuk hewan " Melinda membenarkan rambutnya yang mulai berantakan.
"Apa saja yang sudah kalian buat dari kertas origami itu, coba perlihatkan pada Ayah "
Melisa dan juga Melinda langsung membuka tasnya, lalu mengeluarkan kertas origami yang sudah mereka bentuk menjadi hewan-hewanan.
"Ini ayah kami sudah membuat banyak sekali hewan, walau meskipun kadang lupa untuk membuatnya tapi Ibu guru dengan sangat sabar memberitahu kami. Dan ini hasilnya bagaimana bagus tidak "Melinda mengambil salah satu origami yang sudah dibentuk menjadi bebek dan memperlihatkannya pada ayahnya.
"Wah hebat anak-anak ayah ini sudah bisa membuat hewan dari kertas origami, bagus ini sudah rapih, bagaimana nanti kalau kertas-kertas ini dipajang di ruangan Ayah "
"Akan dipajang di mana Ayah "antusias Melisa.
"Di jendela saja bagaimana. Nanti saat ayah bekerja kalian menyusun semua kertas origami yang sudah kalian bentuk menjadi hewan-hewan ini"
"Setuju "teriak mereka dengan semangat, mereka jadi tak sabar ingin cepat sampai kantor ayahnya dan memasang semua ini.
Mereka kembali duduk dengan rapi di dalam mobil. Tadi mereka sempat berdiri karena mengeluarkan semua kertas origami untuk diperlihatkan pada ayahnya.
Mereka juga sudah membereskan kertas origami itu dan memasukkannya kembali ke dalam tas, jangan sampai ada yang hilang mereka membuatnya dengan susah payah.
Adnan yang sedang mengecek email dikagetkan dengan telfon dari istrinya. Adnan tanpa banyak bicara lagi langsung mengangkatnya. Adnan juga lupa tadi belum mengabari istirnya kalau dirinya yang menjemput anak-anak dan membawanya kekantor dulu.
"Ya sayangku apakah kamu sudah tidak sabar, tunggu sampai malam ya"
"Ist pikiranmu itu ke sana terus-menerus, aku ingin mengambil laptopku dan laptopku itu ada di ruangan kamu Adnan, jadi biarkan aku untuk keluar dari dalam kamar, aku tidak akan kemana-mana, hanya mengambil laptop saja " rengek Ayana.
"Baiklah kamu diam saja di situ biar Rara yang mengambil laptop kamu, kamu hanya perlu duduk dan nanti akan ada yang mengantarkannya. Duduk yang nyaman ya sayang "
"Kenapa tidak aku saja yang mengambilnya, aku ingin keluar Adnan aku juga tidak akan kemana-mana. Aku hanya ingin mengambil laptopku saja sudah itu saja, kalau didalam kamar terus aku bosan Adnan"
"Tidak bisa biar Rara saja yang mengambil, kamu lupa kita punya bisnis sayang nanti malam dan kamu harus melakukannya sampai siang hari, tidak boleh ada bantahan sedikitpun, kamu jangan sampai kecapean karena nanti malah kamu akan begadang dan pasti akan lelah maka sekarang kamu kumpulkan dahulu energi kamu itu "
"Terserah kamu saja. Aku ingin keluar rumah aku ini jalan-jalan sebentar, aku juga tidak akan kabur kok dari sini. Aku tidak akan kemana-mana aku hanya akan ada di sekitar rumah saja, aku juga ingin minum teh sambil melihat ikat yang ada di kolam, aku juga ingin memberi makan kelinci-kelinci anak-anak "
"Sudah kamu istirahat saja, kamu juga tidak boleh memikirkan kabur-kaburan, tetap di dalam kamarmu itu dan nikmati istirahatmu. Lebih baik kamu tidur agar nanti malam kamu tidak ngantuk. Aku tutup dulu dan aku akan menghubungi Rara. Tunggu beberapa menit saja dan laptop mu akan segera sampai "
Adnan langsung mematikan sambungannya tanpa mendengar dulu istrinya berbicara. Adnan langsung menghubungi Rara.
"Rara tolong antarkan laptop istriku yang ada di ruanganku ke kamarnya sekarang juga. Bawakan juga camilan yang banyak yah"
"Baik Pak"
"Ayah apakah Mama sakit, ada apa dengan mama Ayah"tanya Melisa, karena ayahnya menyuruh Bibi Rara untuk mengambil laptop mamanya, padahal ruangan ayahnya itu kan sangat dekat tidak jauh sama sekali mamanya biasanya selalu ingin mengambil apa-apa sendiri. Tapi ini kenapa harus bibi Rara yang mengambilkannya.
Adnan menggelengkan kepalanya sambil mengusap belakang kepala Melisa "Tidak Mama baik-baik saja, hanya saja Mama sekarang sedikit pemalas karena adik bayi sudah terasa berat jadi mama inginnya selalu tiduran di tempat tidur. Kasihan Mama jadi Mama harus selalu banyak istirahat, makannya ayah meminta pada bibi Rara untuk mengambilkan laptop mama "
"Ayah apakah kami saat ada di perut Mama, kami juga membuat Mama berat dan membuat Mamah menjadi malas juga seperti itu"tanya Melinda
Adnan bukannya menjawab. Dia hanya diam saja. Adnan binggung harus menjawab apa. Pertanyaan yang paling Adnan hindari.
Pak Asep langsung melihat ekspresi Adnan. Ekspresinya benar-benar langsung berubah dari yang ceria langsung berubah jadi murung. Pak Asep memang tidak tahu kisah Adnan dan juga Ayana karena dirinya juga baru bekerja di rumah besar itu.
__ADS_1
Tapi sudah sangat terlihat sekali bagaimana perubahan ekspresi dari bosnya ini, mungkin di masa lalu mereka menjalani sebuah hubungan yang tidak mulus makanya bosnya ini langsung merubah ekspresinya menjadi murung seperti itu.
Pak Asep kembali fokus pada jalanan, Pak Asep tak akan ikut campur tentang masalah majikannya. Pak Asep disini hanya bekerja saja.