
"Ayah apakah aku boleh membukanya "tanya Melisa saat melihat ayahnya sudah dekat sambil memegang handle pintunya juga.
Adnan langsung menganggukkan kepalanya. Melisa langsung membukanya dengan perlahan mereka berdua kembali berlari masuk ke dalam ruangan ayahnya itu, sangat luas sekali Melinda yang memang baru pertama kali datang juga sama senang sekali melihat ruangan ayahnya ini seperti rumahnya yang dulu besarnya.
Tapi ini versi mewahnya. Ruangannya sangat menenangkan Melinda nanti mau kalau bekerja ruangannya seperti ini, pasti Melinda akan sangat betah sekali.
"Mereka begitu bersemangat sekali, mereka tidak ada lelahnya padahal baru saja pulang sekolah tapi sudah berlarian seperti itu "
"Iya, mereka senang dibawa kemari nanti aku akan sering-sering deh bawa mereka ke kantor. Lalu kamu sendiri apakah senang saat bisa kembali lagi ke kantor ini dan sekarang bukan sebagai pekerja lagi tapi sebagai istri dari Adnan pemilik perusahaan"
"Emm bisa saja "jawab Ayana sambil menatap suaminya.
Adnan mencubit hidung Ayana dengan pelan, Ayana yang tahu kalau Adnan kesal hanya bisa tertawa, Ayana sebenarnya pura-pura saja, sebenarnya Ayana senang bisa datang kemari sebagai istri dari seorang Adnan.
Tapi tetap saja ada rasa takutnya juga, takut kalau Ayana dibicarakan lalu mereka tidak suka dengan Ayana kadang Ayana itu selalu kepikiran. Ayana itu apa-apa selalu saja difikirkan dari dulu seperti itu.
Mereka masuk ke dalam ruangan. Adnan dan juga Marco yang melihat Melisa dan juga Melinda yang sudah duduk sangat kaget, Adnan kira mereka akan berkeliling atau mungkin mengambil dokumen-dokumen, tapi mereka duduk dengan tenang dan hanya matanya saja yang melirik kesana kemari, melihat interior dari ruangan Adnan ini.
Ayana juga langsung bergabung dengan anak-anaknya. Adnan masih merasa tidak percaya saja anak-anaknya bisa sepatuh itu, padahal di sini banyak yang bisa mereka mainkan waktu itu Adnan menyangka Melisa langsung duduk begitu saja di kursi karena dia sendirian tidak ada Melinda.
Ternyata saat ada Melinda sama saja mereka memang benar-benar patuh, Ayana memang sudah mengajarkan segalanya. Ayana memang sudah berhasil menjadi seorang ibu menurut Adnan.
"Adnan kenapa kamu malah melamun. Bukannya kamu mau bekerja, apakah kamu akan terus berdiri di depan pintu seperti itu saja "tegur Ayana aneh saja suaminya itu malah diam saja di situ. Katanya dokumen penting tapi masih diam seperti itu.
Adnan langsung tersadar mereka baru ingat kalau mereka datang kemari untuk bekerja bukan menatap anaknya yang duduk dengan patuh seperti itu. Adnan segera berjalan dengan cepat ke arah mejanya dan akan mengerjakan pekerjaannya ini dengan sangat cepat.
Adnan segera menghabiskan waktu bersama anak-anak dan juga istrinya di rumah. Adnan begitu suka saat melakukan hal itu.
Melinda menopang dagunya sambil menatap ayahnya yang sedang bekerja. Melinda begitu fokus sekali menatap ayahnya bahkan sesekali juga dia tersenyum. Sampai tak menyadari kalau mamanya dari tadi menatapnya.
__ADS_1
"Melinda "bisik Ayana
"Iya Mama "jawab Melinda sama berbisik, tapi tak mengalihkan pandanganya dari ayahnya itu.
Mereka tidak mau mengganggu konsentrasi Adnan yang sedang bekerja makanya berbicara berbisik-bisik seperti ini.
"Kenapa Melinda memperhatikan Ayah seperti itu, apakah Melinda ingin seperti ayah nantinya"
"Ayah begitu tampan mah kalau sedang bekerja seperti itu, dan Melinda juga mau nanti kalau sudah besar seperti ayah duduk dan mengerjakan banyak sekali kertas. Sepertinya sangat menyenangkan sekali Ma, pekerjaannya hanya duduk dan memeriksa saja, Melinda ingin seperti itu juga "
"Yakin Melinda ingin seperti ayah, tak akan berubah fikiran "
"Iya Melinda yakin ingin seperti ayah. Lihatlah ayah begitu fokus menatap kertas-kertas itu, lalu Ayah juga membacanya sepertinya sangat cepat Melinda sangat kagum sekali mah Melinda ingin seperti ayah nantinya"
Ayana mengusap kepala anaknya dan menciumnya "Maka belajarlah dengan giat dan nanti kamu akan sama seperti Ayahmu akan hebat sepertinya, mungkin kamu nanti akan lebih hebat lagi dari ayah kamu "
"Tentu mah, aku akan terus belajar aku mau seperti ayah seperti itu sangat menyenangkan sekali rasanya. Aku jadi tak sabar mah "
Tapi Ayana tidak akan pernah memutuskan cita-cita anaknya atau harapan anaknya. Ayana akan selalu mendukung apapun pilihan anaknya nanti, maupun nanti Melinda seperti ayahnya tidak masalah karena mau bagaimanapun mereka adalah penerus Adnan selanjutnya.
Salah satu dari mereka harus memegang perusahaan ini kan, tapi kalau dua-duanya juga tak masalah. Pasti mereka akan bekerja dengan sangat kompak sekali.
...----------------...
Fira yang baru saja pulang dari tempat kerjanya langsung membaringkan tubuhnya, bahkan Fifa belum sempat mengganti pakaiannya. Hari ini Gira pulang dulu nanti dia akan langsung pergi ke tempat kerja yang kedua.
Sebenarnya pekerjaannya ini belum selesai semuanya. Masih ada, Fira harus bekerja sampai jam 12 malam baru selesai, dan nanti besoknya disambung jam 06.00 pagi. Padat sekali kan pekerjaannya ini.
Setelah cukup enakan badannya Fira segera mengganti pakaiannya menggunakan seragam yang lain, biasanya dibawa tapi tadi lupa makanya Fira pulang terlebih dahulu.
__ADS_1
Fira keluar dari kamar dan berpapasan dengan Papinya "Fira kamu tidak lelah kerja di dua tempat, kenapa tidak ambil salah satu saja nak. Jangan menyiksa tubuhmu. Satu pekerjaan saja sudah cukup, jangan terus ditambah "
"Papi Fira itu ingin cepat-cepat ketemu sama Kamila, makanya Fira ambil semua pekerjaan ini. Ga apa-apa kok Fira masih bisa kerja dan masih sanggup kok, nanti kalau misalnya Fira udah nggak bener-bener bisa kerja lagi Fira akan keluar dari salah satu tempat"
Kepala Fira diusap sayang oleh Papinya, sebenarnya Papinya Fira ini tidak tega melihat anaknya bekerja seperti ini, tapi inilah yang harus dirinya berikan pada Fira.
Agar Fira bisa menghargai segala hal, agar Fira tidak menyepelekan apapun lagi, anaknya ini harus menjadi anak yang tegar anak yang mandiri tidak manja seperti dulu dan hanya tergantung pada seseorang saja.
Nanti kalau dirinya sudah tiada siapa yang akan menanggung anaknya, mungkin terlambat untuk dia melakukan ini tapi sebelum dirinya tiada akan dirinya lakukan dulu untuk membuat anaknya bisa mandiri dan menghidupi dirinya sendiri.
"Baiklah hati-hati di jalan, jika sudah lelah maka luangkan waktu untuk istirahat jangan terus memaksakan untuk bekerja ya. Papih tak mau nanti kamu drop dan sakit "
"Iya Fira pasti akan melakukan itu. Fira berangkat dulu ya Pi, soalnya Fira takut telat seharusnya Fira langsung berangkat ke sana, tapi karena ketinggalan seragamnya jadi Fira pulang dulu deh "
"Tak akan makan dulu atau bekal makanan buat di jalan gitu nanti kamu lapar loh sayang "
"Tadi di tempat kerja pertama Fira udah makan kok, tadi ada customer yang emang bagi-bagi makanan waktu beli ternyata kelebihan katanya jadi dibagiin sama karyawan di situ, aneh banget kan tapi udahlah yang terpenting Fira udah makan kan"
"Baiklah nak hati-hati ya"
"Tentu ayah"
Fira bergegas pergi dari rumahnya itu. Fira akan bekerja dulu, Fira akan mencari uang lagi, semoga saja tubuhnya ini tidak drop semoga saja harapannya terkabul bisa bertemu dengan anaknya.
Fira bisa dekat lagi dengan anaknya. Dan satu lagi semoga saja Fira nanti diberi cuti kan, kalau tak diberi cuti ya Fira tak akan bisa menemui anaknya Kamila.
"Aku harus semangat " gumam Fira menyemangati dirinya sendiri.
Fira tersenyum pada orang yang menyapa nya. Disini orang-orangnya begitu ramah sekali. Fira mulai nyaman tinggal disini, tidak seperti awal.
__ADS_1
Fira juga sudah terbiasa naik angkutan umum dan tidak gerah lagi. Pokoknya Fira sudah menyesuaikan diri untuk bisa tinggal di sini dan tidak mengikuti egonya yang tinggi.