Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 232


__ADS_3

Adnan hari ini mau masak di dapur sendirian, dia ingin membuatkan steak untuk istrinya, Adnan bahkan membawa laptopnya ke dapur untuk melihat tutorial bagaimana cara memasak steak yang benar dan enak.


Untuk masalah ayah Ayana Adnan belum berani untuk berbicara pada Ayah sekarang. Ayana sedang mengandung. Adnan tidak mau berbicara yang macam-macam dulu dan nanti akan membuat istrinya kepikiran.


Yang terpenting sekarang Adnan sudah tahu kan siapa ayah kandung Ayana, untuk ibu dan juga Ayah tirinya Ayana mereka sudah pergi, mereka sudah tidak ada dan diantarkan oleh pengawalnya Adnan.


Mereka benar-benar pergi ke tempat yang jauh. Adnan akan terus memantau mereka. Adnan masih belum percaya 100% pada mereka berdua. Adnan juga ingin menanyakan terlebih dahulu pada ayahnya Fira apakah kebenaran ini memang benar-benar atau hanya omong kosong yang dibicarakan ibunya Ayana, agar tidak dikejar-kejar olehnya.


Adnan tak bisa gegabah dalam mengambil sebuah keputusan. Ibunya Ayana itu sangat licik, dia bisa melakukan apa saja.


Sedangkan Ayana sendiri dia sedang menopang dagunya sambil menatap anak-anaknya yang sedang bermain. Anak-anaknya itu begitu gembira setelah pulang dari rumah neneknya dan sekarang ayah mereka sedang memasak untuk mereka semua. Pasti masakan Ayahnya akan enak.


Ponsel Adnan yang ada di sebelah Ayana berdering kembali, Ayana hanya menatap sekilas saja ternyata itu dari Marco. Dari tadi Marco menelfon Adnan terus untuk membahas tentang pekerjaan. Sepertinya mereka sedang banyak pekerjaan.


Tapi suaminya itu malah tetap ingin membuatkan makanan untuknya, padahal Ayana sudah memintanya untuk bekerja saja biar dirinya yang memasak untuk Adnan dan juga anak-anak, tadi dia tak mau katanya dia sudah berbicara pada Ayana kalau hari ini dia tak akan masuk dan akan menghabiskan waktunya bersama keluarganya saja.


Melisa juga yang melihat ponsel ayahnya itu terus berdering langsung menepuk tangan adiknya "Coba kamu antarkan ponsel itu pada ayah, sepertinya sangat penting sekali dari tadi terus berbunyi "


Melinda menatap ponsel ayahnya yang ada di samping Mamanya "Baik akan aku antarkan" Melinda mengambilnya dan berlari ke arah dapur. Ponsel itu kembali berdering yang tadinya sudah diam kembali bersuara. Melinda bahkan sampai kaget tadi, untungnya tidak dirinya lempar tadi.


"Ayah lihatlah kamu kembali dicari orang, aku tidak tahu siapa yang menelpon"


Adnan langsung mengambil ponselnya, Adnan begitu gemas dengan Melinda yang makin hari makin gemuk saja, pipinya itu makin besar itulah salah satu yang membuat Adnan gemas rasannya ingin mengigit pipinya itu.


"Terima kasih anak ayah"


"Sama-sama Ayahku " Melinda tersenyum lebar dan berlari kembali untuk bergabung bermain bersama kakaknya.


Melinda dan juga Melisa tidak mengganggu mamanya yang sedang duduk manis di sana. Sambil senyum senyum sendiri, mereka juga tak banyak bicara yang terpenting mamanya bahagia saja.


Adnan menoleh dan tersenyum lebar, Ayana ingin tertawa melihat wajah suaminya yang seperti itu sangat lucu sekali.


"Kenapa terus tersenyum seperti itu, apakah kamu tidak lelah terus tersenyum begitu"

__ADS_1


"Tidak sayang aku suka tersenyum seperti ini, kamu tenang saja aku sudah membuatkan steak yang enak buat kamu, mungkin kamu juga bertanya-tanya kenapa aku sangat lama di dapur banyak yang gagal, tapi tenang saja aku sudah membawa tiga yang kematangannya sudah jelas-jelas matang sekali dan tidak gosong ini akan sangat enak "sambil memperlihatkannya pada Ayana.


Ayana hanya melihat ada daging sapi dan juga bumbu marinasi saja. Tidak ada saos tidak ada apa-apa. Bahan bahan untuk membuat saus saja tidak tersentuh sama sekali, Adnan memang benar-benar hanya membuat daging sapinya saja.


"Kamu tidak membuat sausnya Adnan. Apakah kamu lupa dengan sausnya "


Adnan kembali tersenyum seperti tadi "Aku hanya fokus pada daging sapinya saja. Maafkan aku sayang tapi aku yakin ini enak mau coba dulu "


Adnan memotongnya dan memberikan satu suap pada istrinya, memakannya dengan sangat perlahan sekali cukup enak. Ayana menganggukkan kepalanya Ayana tidak mau membuat suaminya ini malah sedih, karena tanggapannya tapi Ayana benar-benar tidak berbohong ini cukup enak dan masih bisa dimakan juga.


"Enak seperti ini juga. Ayo cepat makan panggilan anak-anak juga, mereka juga harus mencobanya mereka pasti akan suka "


Adnan langsung melakukan apa yang istrinya suruh dia memanggil anak-anak untuk mendekati mereka, untungnya anak-anak tidak usah dipanggil beberapa kali mereka langsung berlari ke arah meja makan dan menatap makanan yang sudah disajikan dan dibuat oleh ayahnya ini.


Adnan memotong-motongnya terlebih dahulu menjadi kecil-kecil, agar anak dan istrinya ini bisa makan dengan enak dan juga tidak usah memotong-motongnya lagi. Pokoknya hari ini Adnan melayani istri dan juga anaknya, kapan lagi Adnan akan seperti ini.


Adnan takut nanti akan disibukan dengan pekerjaannya belum lagi dengan masalah ayahnya istrinya. Adnan harus mengurusnya sendiri Adnan tak akan menyuruh orang lain.


Adnan tak mau orang-orang tahu dulu sebelum dirinya memastikan semuanya. Adnan yakin bisa melakukannya sendiri dan semuanya akan selesai dengan cepat juga.


Fira yang hari ini memang sedang kebagian libur dia membongkar kamar papihnya. Dia melihat ada sebuah foto usang yang sudah sangat lama sekali, ini kan dirinya waktu kecil mungkin saat berusia 2 tahunan, tapi di sampingnya siapa anak perempuan ini siapa. Fira tak mengenalnya sama sekali anak kecil ini punya hubungan apa dengan keluarganya.


Fira benar-benar tidak mengingat tentang siapa anak perempuan yang ada di samping Papinya ini. Aneh sekali Papihnya dari dulu tak pernah mau difoto kalau dengan orang lain, tapi ini siapa.


"Siapa ya tidak mungkin ini kerabatku, aku saja tidak mengenali wajahnya. Kalau iya dia kerabatku pasti aku akan ingat tak lupa seperti ini "


Fira terus mengingat-ingat siapa tahu dia masih ingat tentang orang yang ada di samping ayahnya ini. Tapi kepalanya benar-benar tidak bisa mengingatnya ini sudah sangat lama sekali. Sudah bertahun-tahun.


Fira yang penasaran langsung memfotonya dan mengirimkannya pada Papinya. Fira akan menunggu jawaban dari papihnya. Sebenarnya siapa anak yang ada di foto ini. Fira jadi penasaran sekali apa mungkin Fira mempunyai saudara, karena Papinya tidak pernah menceritakannya maminya juga tidak pernah.


Fira kembali membongkar semua laci di kamar Papinya ini. Bahkan dia menemukan sebuah kalung liontin, Fira kembali membukanya dan lagi-lagi foto anak perempuan itu bersama Papihnya saja berdua digendong dan dicium oleh Papihnya.


Belum lagi Fira menemukan foto yang lainnya, foto anak itu. Ada beberapa foto yang diambil secara diam-diam, ada juga saat anak ini sudah sekolah dasar. Untuk apa papihnya melakukan ini.

__ADS_1


Kembali Fira mengecek laci itu, siapa tahu ada foto saat anak perempuan ini sudah dewasa, tapi tidak ada. Sudah tak ada lagi hanya ini saja.


"Siapakah anak perempuan ini, kenapa aku seperti mengenal wajahnya, seperti tak asing saja untukku. Apalagi foto yang dia memakai pakaian seragam sekolahnya "


Fira kembali melihat ponselnya ingin tahu papihnya membalas atau tidak, tapi ternyata papinya tidak membalasnya karena nomornya juga tidak aktif ke mana papinya ini, saat sedang genting seperti ini malah tak bisa di hubungi.


"Aku harus menyelidiki semua ini papih harus menjawab semua pertanyaanku. Kalau iya aku punya saudara aku ingin menemuinya, kalau iya kenapa juga papih menyembunyikan semua ini, padahal dari dulu aku ingin punya saudara ingin punya teman aku selalu saja kesepian "


Fira mengambil foto itu dan juga liontinnya, lalu pergi ke arah kamarnya. Fira menyimpannya dengan baik, takutnya nanti papihnya kembali ke mari dan mengambil foto-foto ini serta liontin ini lagi. Fira tidak akan memberikannya sebelum mendapatkan jawaban yang pasti dari Papinya itu.


Tapi waktu itu Fira pernah bertanya pada maminya, apakah Fira mempunyai saudara lain tapi maminya selalu berkata kalau Fira adalah anak satu-satunya dan hanya anak tunggal, tapi difoto ini kenapa ada anak perempuan lain dan yang paling membuat Fira aneh Papinya seperti sangat menyayangi anak perempuan ini. Bahkan papihnya mengambil foto anak perempuan ini secara diam diam juga kan.


Fira yang tak sabaran menelpon asisten ayahnya.


"Halo Nona Fira. Ada yang bisa saya bantu"


"Di mana papi ku. Kenapa dia sangat sulit untuk aku hubungi nomornya tidak aktif. Tidak mungkin kan dia tidak masuk ke kantor"


"Bapak sedang meeting Nona. Jadi mungkin ponselnya dimatikan terlebih dahulu ada yang ingin anda sampaikan nona"


"Jika nanti sudah meeting nya bilang pada papiku kalau aku mengirimkan pesan dan aku ingin cepat-cepat pesan itu untuk dijawab, aku ingin jawabannya sekarang juga tak mau ditunda-tunda lagi"


"Baik Nona akan saya sampaikan nanti, apa ada lagi pesan yang lainnya nona "


"Sudah hanya itu saja. Awas saja kalau kamu sampai tidak menyampaikannya. Aku ingin jawabannya sekarang juga "


"Iya Nona saya pasti akan menyampaikannya pada bapak, dan nanti bapak akan menghubungi nona secepatnya "


"Baiklah terima kasih"


"Sama-sama nona"


Fira Langsung melempar ponselnya. Fira kembali mengeluarkan foto itu "Siapa ya ini, tapi kalau misalnya ini adalah saudaraku dan anak mami, kenapa wajahku tidak mirip dengannya tapi kalau dilihat-lihat dia mirip dengan Papi apa mungkin dia hanya mirip dengan Papi saja dan tidak dengan mami, aku saja ada miripnya dengan papih ada dengan mami juga "

__ADS_1


Fira menggaruk kepalanya karena pusing. Fira benar-benar ingin tahu sekarang penasarannya begitu dalam sekali. Kenapa juga Fira baru menemukannya sekarang.


__ADS_2