
Adnan memberhentikan mobilnya ke daerah villa yang sudah mereka sewa. Ayana cemberut saja tapi Adnan langsung menggendongnya dan membawanya ke dalam kamar.
Ayana benar-benar kesal dengan suaminya ini. Bagaimana kalau tadi ada yang tahu. Bahkan sudah ada beberapa orang yang curiga.
"Kita harus lanjutkan di sini sayang, aku sudah tak sabar untuk ketahap yang selanjutnya, anak-anak juga pasti akan mengerti, apalagi mereka bersama Marco"
"Kamu gila, udah tadi yang di mobil juga cukup "
"Ya kan aku nggak bisa kalau sekali, tambah lagi ya sayang disini satu kali lagi mau ya "
"Tadi malam kita udah lakuin beberapa kali loh, memang kamu nggak takut nanti anak-anak tiba-tiba muncul. Udah dong nanti malam juga bisa lagi, kamu harus sabar dan tahu situasi juga Adnan, kita datang kemari dengan anak-anak loh bukan berdua jadi kita ga bisa leluasa "
Adnan akhirnya menyerah juga, sebenarnya Adnan ingin lagi tapi Ayana sepertinya kelelahan. Adnan tidak akan memaksanya, apalagi memang tadi malam mereka melakukannya beberapa kali. Bahkan sampai subuh dan istirnya ini baru tidur sebentar.
"Sudah kamu di sini saja istirahat ya. Aku akan menemani anak-anak untuk bermain. Kamu jangan kemana-mana istirahat saja di sini aku tahu kamu sangat lelah sekali, nanti malam kita akan buat adik untuk anak-anak ya "
"Kamu yakin, nanti kalau anak-anak tanya sesuatu bagaimana aku ikut saja bermain dengan kalian ya. Aku tak masalah kok, aku masih kuat kalau untuk bermain dengan anak-anak. Aku juga ingin bermain dengan mereka "
Adnan mengusap kepala istrinya itu "Tidak kamu di sini saja, biarkan aku yang bermain dengan anak-anak nanti kalau kamu sudah enakan badannya baru kamu menyusul anak-anak. aku tahu kamu lelah apalagi semalam kamu juga kurang tidur aku mengerti sayang sudah di sini saja ya, tak usah memaksakan tubuh kamu ini, kalau sampai kamu drop bagaimana anak-anak malah akan sedih loh "
Adnan mengecup beberapa kali bibir istrinya, setelah itu Adnan keluar dari dalam villa untuk menemui mereka. Adnan juga tidak mau nanti tiba-tiba anak-anak bertanya-tanya ke mana dirinya ini bersama mamanya, nanti yang ada akan banyak lagi pertanyaan yang mereka lontarkan pada Adnan.
Benar saja kan, baru saja Adnan berjalan beberapa langkah anaknya itu sudah berlari ke arahnya. Melinda ingin dipangku Adnan segera melakukannya "Ayah di mana Mamah kenapa sekarang Ayah sendirian tadi kan kalian berdua, apakah mama ada didalam mobil dan tak mau bermain disini "
"Mama istirahat Mama kecapean, nanti mama menyusul kalau sudah tidak lelah lagi ya. Sekarang bermain dengan ayah saja dulu dan juga Paman Marco "
"Memangnya Mama kenapa saat tadi kita berangkat Mama baik-baik saja kan tidak kenapa-napa, apakah mama sakit. Kalau begitu kita pulang saja Ayah, aku khawatir dengan keadaan Mama "Melinda begitu khawatir dengan keadaan mamahnya itu tidak biasanya mamanya sakit, mamanya kenapa.
"Mamah tidak apa-apa, mama hanya kurang tidur semalam jadi sekarang mama tidur dulu. Lebih baik main bersama ayah dulu saja ya nanti disambung main bersama mama"
"Lalu sekarang mama di mana, istirahat di mana mama? Apakah mama ada didalam mobil Ayah "
__ADS_1
"Mama ada di villa dia istirahat di sana, ayah sudah mengantarkannya tadi "
V"illa ? "tanya Melisa yang dari tadi mendengarkan saja.
"Iya villa, kita tidak akan pulang kita akan menginap di villa, kita akan pulang besok pagi saja ya. Apakah kalian setuju "
"Berarti kita akan menghabiskan waktu di pantai, kita bisa main sampai sore dong Ayah "girang Melisa sambil berjingkrak-jingkrak senang.
"Iya kita bisa main sampai sore, nanti mama akan menyusul setelah selesai beristirahat. Kita akan main sama-sama nanti "
"Lalu sampai kapan Mama beristirahat, biasannya mama tak akan mau istirahat kalau sudah ada di pantai"
"Iya karena mama itu harus banyak istirahat kalau kalian ingin punya adik, maka biarkan Mama banyak-banyak istirahat biarkan Mama tertidur ya agar adik cepat datang "
"Oh jadi begitu ya kalau mau punya adik, Mama harus banyak istirahat Mama tidak boleh banyak bergerak begitu Ayah "tanya Melinda.
"Iya harus seperti itu, Mama harus banyak-banyak istirahat agar Dede bayi segera tumbuh. Agar Dede bayi nanti ada untuk kalian berdua. Jadi kalau misalnya Mama sedang ada di kamar kalian jangan mengganggunya, biarkan Mama untuk banyak-banyak istirahat ya "
Melinda turun dari pangkuan ayahnya lalu menarik tangan ayahnya untuk melihat istana pasir mereka yang baru jadi setengah. Karena yang pertama sudah hancur.
"Lihat Ayah istana kami hanya baru jadi setengah. Lihatlah istana yang kami buat pertama itu hancur oleh ombak, yang ini bagus tidak ayah yang baru saja kami buat "
"Tentu saja sangat bagus, anak ayah ini sangat hebat sekali membuatnya kalian benar-benar pintar membuat istananya. Ayah suka dengan istana kalian"
"Benarkah Ayah kalau begitu Ayah bantu kami untuk menyempurnakan istana itu, agar lebih bagus lagi"
Adnan segera duduk menghadap ke arah istana pasir mereka. Sekarang Adnan benar-benar main pasir bersama anak-anak ini, untuk pertama kalinya Adnan melakukan hal seperti ini.
Dulu saja saat bersama Kamila, dia hanya bermain sendiri atau tidak Kamila bermain bersama pengasuhnya, tapi sekarang Adnan turun tangan sendiri sedangkan Marco dia hanya bersantai sambil meminum es kelapanya.
Marco juga sangat menikmati liburan ini, kapan lagi dia akan liburan biasanya akan disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan dan tidak akan ada habisnya, tapi sekarang berkat kedatangan Nyonya Ayana semuanya berbeda.
__ADS_1
"Ayah jangan seperti itu istananya harus besar sekali, kami berdua ingin istana yang sangat besar sekali"
"Seperti inikah"
"Iya Ayah seperti itu yang besar sekali, istananya jangan kecil kami berdua ingin istana yang besar jangan sampai nanti terkena ombak lagi"
Melisa yang melihat Paman Marko bangkit segera bertanya padanya "Paman mau ke mana, kenapa tiba-tiba mau pergi Paman juga sini buat istana dengan kami jangan pergi-pergi "
"Paman harus mengangkat telepon dulu nanti Paman kemari lagi ya"
Melisa menganggukan kepalanya, barulah Marco bisa pergi meninggalkan mereka "Kenapa Melisa begitu peduli dengan paman Marco, padahal Paman Marco hanya ingin mengangkat telepon saja"
"Ya tidak apa-apa ya Paman Marco kan sudah baik sekali. Jadi kalau Paman Marco pergi begitu Melisa suka bingung ke mana dia pergi, apakah Paman Marco sudah punya pacar ayah "
"Emm, entahlah Ayah tidak tahu mungkin sudah mungkin tidak, kenapa Melisa mau menikah dengan paman Marco nanti sudah besar. Ayah tidak akan mengizinkannya"
"Tidak aku hanya bertanya saja karena Paman Marco itu tidak pernah membawa seorang perempuan pasti Ayah sudah melarangnya kan"
"Tidak Ayah tidak pernah melarang Paman Marco untuk berpacaran hanya dia saja yang memang tidak mau menikah. Kan setiap orang berbeda-beda Melisa mungkin Paman Marco masih mencari orang yang lebih baik atau yang lain"
"Begitu ya, Melisa kira Ayah yang melarang Paman Marco untuk mempunyai pacar"
"Tidak Ayah tidak pernah melarang itu. Ayah membiarkan Paman Marco dengan siapapun Ayah tidak pernah melarangnya untuk berpacaran'
"Baiklah kalau begitu Melisa tenang, awas aja kalau Ayah melarang melarang Paman Marco untuk punya pacar"
Adnan langsung mendengus, anaknya ini begitu peduli pada Marco memang Melisa waktu itu dekatnya dengan Marco pas awal-awal.
Adnan kira Melisa suka dengan Marco, jangan sampai anaknya ini nanti menikah dengan Marco asistennya bukan apa-apa nanti Marco sudah kakek-kakek, sedangkan Melisa masih cantik masih muda masa harus menikah dengan kakek-kakek seperti Marco.
Adnan harus berbicara pada Marco untuk dia cepat-cepat mencari pasangan, agar nanti tidak bersama anaknya Asna. harus was-was anaknya ini dua-duanya seorang perempuan.
__ADS_1