Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 51


__ADS_3

Adnan sekarang sedang ada disebuah kota, pagi-pagi sekali Adnan sudah diam disebuah pantai menatap air yang tenang. Adnan tak sengaja melihat pantai dan ingin menenangkan fikirannya disini, rasannya tenang sekali.


Tiba-tiba saja ada anak kecil yang mendekati Adnan"Halo Paman kenapa pagi-pagi seperti ini Paman ada di pantai, apakah tidak dingin paman "


Adnan yang kaget langsung mengalihkan pandangannya pada anak kecil itu. Adnan tersenyum melihat anak itu di kuncir dua lucu sekali jadi ingat Kamila anaknya. Pasti kalau Kamila seperti ini diikat seperti ini akan mengemaskan sekali.


"Hallo, paman sedang ingin melihat matahari terbit. Kamu sendiri anak kecil kenapa tiba-tiba ada di sini, kamu memangnya tidak takut berjalan sendiri seperti ini. Bagaimana kalau nanti orang tua kamu mencari mu "


"Aku sedang menunggu Mama siap-siap, memang rumahku juga sekitar sini lalu tidak ada yang salah kan kalau aku sudah keluar pagi-pagi seperti ini. Sepertinya kamu sedang sedih ya paman, seperti Mama kadang Mama juga suka sedih. Tunggu aku punya sesuatu"anak kecil itu merogoh sakunya dan memberikan coklat pada Adnan.


"Ini Paman aku punya satu coklat, aku hanya diberi dua coklat sama Mama aku berikan satu sama Paman. Semoga saja setelah makan coklat ini paman bisa tersenyum, karena aku pun kalau sudah makan coklat ini langsung tersenyum bahagia. Kata Mama jangan terlalu banyak makan coklat nanti giginya rusak. Jadi Paman jangan mau lagi ya, aku tidak punya lagi satu lagi ini untukku "


"Hemm, benarkah terimakasih paman makan ya"


"Tentu Paman aku kan memberikannya untuk paman, maka harus paman makan "


Adnan memakan coklat itu dan langsung tersenyum lebar "Wah ternyata benar Paman jadi tidak sedih lagi, pintar sekali kamu ini membuat orang menjadi bahagia lagi. Dari tadi kita belum kenalan namamu siapa ? "


Anak kecil itu langsung menjabat tangan Adnan "Perkenalkan namaku adalah Melinda Liona Gantari, aku juga punya kakak yang bersama Melisa Liona Gantari kami kembar hanya beda beberapa menit sih. Tapi tetap saja dia menjadi kakak dan aku menjadi seorang adik lalu Paman namanya siapa"


"Perkenalkan nama paman Adnan"


"Nama yang bagus, aku suka. Lalu bagaimana dengan namaku apa paman suka dengan namaku dan juga kakakku, ini Mamaku yang memberikan namannya"


"Tentu Paman suka sekali nama kalian itu begitu cantik, hebat ya Mama kalian memberikan nama yang cantik untuk kalian berdua "


"Terima kasih Paman atas pujiannya"


Melinda melepaskan tangannya dari Adnan lalu dia menggerak-gerakkan kunciran rambutnya sambil memain-mainkannya dengan tangannya "Paman Mamaku sangat pintar sekali menguncir rambutku, sampai sampai serapi ini kan. Aku suka sekali kalau rambutku sudah di kuncir seperti ini "


"Tentu bagus sekali apa kamu tidak takut dengan orang asing. Paman ini kan orang asing dan kita juga baru bertemu"


Melinda langsung menatap Adnan "Ya sebenarnya sih Mama tidak membolehkan aku untuk mendekati orang asing, tapi aku memang selalu ke pantai dan jalan-jalan seperti ini dan aku lihat paman sedang sedih jadi aku datangi saja paman"


"Melinda"


"Iya Bibi aku di sini, aku sedang bersama paman "


"Kamu ini suka menghilang. Mamamu mencarimu ayo kita pulang, cepat kita akan segera pergi Melinda "


"Iya Bibi sebentar, Paman sampai bertemu lagi semoga saja kita nanti bisa bertemu ya. Dadah jangan sedih-sedih lagi kalau misalnya nanti Paman sedih beli coklat ya dan jangan lupa ingat aku selalu"


Melinda langsung pergi dari hadapan Adnan. Adnan tersenyum melihat keceriaan Melinda, kalau Kamila seperti itu pasti akan sangat menggemaskan sekali anaknya begitu ceria. Melinda juga gemuk saat berjalan dia lucu sekali, tapi Adnan sedikit aneh dengan anak itu kenapa wajah Melinda mirip dengannya, mirip dengan saat Adnan masih kecil mungkin itu hanya perasaannya saja kan.


Tidak mungkin kan kalau Melinda itu anaknya, waktu pergi Ayana kan tidak sedang mengandung. Anaknya hanya satu Kamila saja. Meski Kamila tidak mirip dengannya tapi Adnan tetap menyayanginya.

__ADS_1


...----------------...


"Melinda kamu ini dari mana saja, jangan menghilang seperti itu"


"Mama seperti biasa aku berjalan-jalan di pantai itu saja, aku tidak kemana-mana aku sedang menunggu Mama, bibi dan juga Kakak aku tidak akan kabur. Aku tadi hanya bosan saja makannya aku pergi kearah pantai "


Melisa mendekati adiknya "Lain kali ga boleh kayak gitu, nanti kalau misalnya kamu dibawa sama orang lain gimana. Nanti Mama sedih jangan buat Mama sedih "tegur Melisa dengan tegas pada adiknya.


"Iya maaf kakak" Melinda menundukkan kepalanya.


"Sudah sudah ayo kita pergi " Ayana mencoba untuk mencairkan suasana, memang Melisa ini lebih dewasa dari Melinda, kadang Ayana berpikir Melisa ini terlalu dewasa dari umurnya dia terlalu bijak dan juga ya seperti orang dewasa.


Mereka berempat berjalan bersama, bibi yang tadi adalah temannya Ayana selama di sini dia adalah Diandra, perempuan baik yang pertama kali berteman dengan Ayana dan dia juga yang pertama kali mendekati Ayana pada saat pindah ke sini.


Ayana waktu itu bingung tapi karena bantuan Diandra semuanya menjadi baik-baik saja. Bahkan ide membuka toko itu adalah idenya. Diandra membantunya dari nol. Benar-benar teman yang baik sekali.


"Tadi Melisa berbicara dengan siapa "tanya Diandra yang memang penasaran dengan Melisa yang begitu akrab dengan laki-laki itu. Tadi Diandra pikir kalau Melisa sudah mengenal laki-laki itu. Tapi saat didekati Diandra saja tidak mengenalnya.


"Dengan paman siapa ya, aku lupa namanya Bibi tapi dia baik sekali. Sepertinya dia sedang sedih bahkan aku memberikan coklatku satu padanya dan dia menerimanya, setelah memakannya senyumnya langsung lebar lagi "


"Lain kali kalau ada orang asing seperti itu kamu nggak boleh bicara sama dia "tegur Melisa yang mendengar ucapan adiknya.


"Aku hanya kasihan saja dengannya lain kali aku tidak akan seperti itu lagi, aku janji ini untuk terakhir kalinya "


Untung saja ada tetangga yang baik yang menghadangnya dan juga mengambil Melinda kembali. Kalau tidak sudahlah mungkin Ayana sekarang sudah gila karena kehilangan anaknya.


...----------------...


"Apa kartunya tidak bisa digunakan, jangan main-main ya mana mungkin tidak bisa digunakan. Suamiku itu pengusaha hebat, jadi tak mungkin kartunya tak bisa digunakan"


"Sudah Bu ada yang lain"


Fira mengeluarkan kartu yang lain tapi sama saja semuanya tidak bisa digunakan. Fira menatap teman-temannya yang juga menatap ke arahnya seperti sedang mencemoohnya. Fira sangat malu sekali, tidak mau uang cash lagi.


"Ya udahlah Fira tenang aja sekarang biar punya aku dulu, nanti kamu traktir kita lain kali aja. Udah tenang aja kayak sama siapa aja kamu ini "sambil memberikan kartunya pada pelayan.


Fira yang malu langsung pergi begitu saja. Ini pasti kelakuan Adnan, berani-beraninya sekali Adnan melakukan ini padanya, membuatnya malu didepan banyak orang. Mau ditaruh dimana wajahnya ini. Harus segera ditelfon Adnan ini.


"Kamu gila kenapa kartuku semuanya kosong. Kenapa semuanya tidak bisa digunakan kamu ingin membuatku malu di depan teman-temanku, apa gunanya Adnan"


"Jika ingin uang maka bekerjalah. Sudah aku bilang kan aku akan memberimu jatah bulanan hanya bulanan saja dan untuk kartu-kartumu sudah aku blokir semuanya. Tidak akan ada yang bisa kamu gunakan lebih baik urus mamahku dengan baik. Aku disini sedang bekerja dan kamu jangan buat ulah urus juga Kamila bermainlah dengan anakmu, luangkan waktu dengan Kamila jangan terus menghambur-hamburkan uang bersama teman-temanmu itu dengan tidak penting. Jadilah ibu rumah tangga yang baik "


Sebenarnya Adnan sengaja melakukan itu untuk membuat Fira bosan dengannya dan nanti dia melakukan sebuah kesalahan, jadi Adnan mudah untuk melepaskan Fira dan juga mengungkap semuanya setelah ibunya sembuh.


"Kamu ini gila. Namaku pasti akan tercoreng namamu juga sama. Apa kamu tidak malu nanti kalau mereka menggosipkan mu, kalau kamu sudah bangkrut apakah kamu tidak akan malu Adnan dengan semua itu "

__ADS_1


"Tidak masalah, mereka hanya menggosipkan ku saja kan, tapi nyatanya aku tidak bangkrut kan. Lebih baik dari sekarang aku membatasi mu untuk menggunakan uangku, daripada nanti sudah kebablasan uangku akan habis di tanganmu. Sudah cepat pulang urus Mamaku dengan baik, jangan banyak membantah kamu itu masih istriku. Jika kamu ingin bebas maka bercerai lah denganku, maka kamu akan leluasa melakukan apapun itu "


Fira yang kesal langsung mematikan sambungannya, Fira masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan sangat kencang sekali, tidak peduli mau tabrak orang.


Fira sekarang sedang marah sekali pada tingkah suaminya. Makin kemari makin menjadi-jadi sama suaminya itu padannya. Apa ada yang menghasut Adnan. Fira harus mencari tahu semuanya tak boleh membiarkan Adnan terus begini yang ada Fira akan susah mendapatkan semua aset Adnan.


...---------------...


Fira menatap Mama mertuanya yang sedang disuapi Bibi, Fira langsung membanting piring itu dan mencengkram kedua bahu Mama mertuanya itu "Apa yang sudah kamu bicarakan pada Adnan, sampai-sampai dia tidak memberiku uang. Kamu pasti sudah menghasut Adnan kan jujur padaku nenek tua"


"Bu jangan seperti ini Bu, nyonya sedang sakit Bu. Lepaskan Bu "


"Diam kamu. Kamu tidak usah ikut campur di sini kamu cuma seorang pembantu saja aku bisa kapan saja memecat mu ya, awas jangan halangi aku "


Fira mendorong kursi roda Mama mertuanya sampai terjatuh. "Aku sangat kesal dengan anakmu, dia tidak memberikan uang sepeserpun pasti ini adalah ulahmu kan. Kamu yang telah melarangnya untuk memberikan aku uang ya kan, kamu memang ibu mertua yang jahat tahu. Jangan ikut campur dengan rumah tanggaku ini "


Mama Linda hanya menggelengkan kepalanya saja. Tapi Fira terus saja mencaci maki Mama mertuanya itu, bahkan para pelayan yang lain sudah berkumpul menatap pertengkaran ini. Tak ada yang berani memisahkan mereka.


Fira yang sudah puas melampiaskan semua kekesalannya pada Mama Linda langsung pergi ke lantai atas, sungguh Fira marah sekali dengan kelakuan Adnan yang seperti ini. Kenapa harus seperti ini Fira butuh uang, Fira tidak bisa hidup tanpa uang. Bisa gila Fira ini.


"Ayo nyonya aku bantu bangun"


Bibi dan para pelayan yang lainnya membantu Mama Linda untuk duduk lagi di kursi roda. Mama Linda sudah menangis tak menyangka menantunya akan seperti itu, menantunya yang dulu di agung-agungkan tapi kenyataannya malah seperti ini bisa melukainya.


"Ngapain kamu ada di kamar ibu, keluar sekarang dan jangan ada di sini cepat keluar. Ibu tidak suka ya kamu masuk kamar ibu seperti ini, dasar anak tidak sopan pergi sama Kamila "


"Tapi Kamila pengen di sini Ibu, Kamila lagi tunggu ibu. Kamila pusing bisa Ibu antar Kamila ke dokter Ayah ga ada, Kamila bingung harus minta bantuan sama siapa lagi tolong Kamila ibu"


Fira berkaca pinggang menatap anaknya itu "Kamu itu kapan sih sehatnya, kapan jadi anak yang ga nyusahin orang tua apa-apa sakit apa-apa sakit, kamu ini emang penyakitan ibu itu lagi marah sekarang lagi kesel sama Ayah kamu, jadi jangan buat ibu melampiaskan semuanya sama kamu. Lebih baik kamu keluar dan minta obat sama Bibi ga usah ke rumah sakit ke rumah sakit ngabisin uang aja sana keluar ah jangan ganggu ibu "


"Tapi kepala Kamila beneran sakit Ibu, biasanya Kamila pergi ke rumah sakit sama nenek tapi nenek sekarang sakit, jadi Kamila harus minta bantuan sama siapa lagi"


"Keluar Kamila dari kamarku sekarang juga, sudah aku bilang kan keluar. Apa telinga kamu sekarang mulai terganggu "teriak Fira dengan sangat kencang sekali, sampai-sampai Kamila yang mendengarnya kaget dan menangis.


Dengan perlahan Kamila turun dari tempat tidur ibunya. Dia berjalan dengan pelan sekali, Kamila masih memegang kepalanya, sungguh kepalanya ini sakit sekali rasanya untuk jalan saja tak kuat bahkan Kamila beberapa kali jatuh. Tapi Fira sama sekali tidak menolongnya, dia hanya diam dan menunggu anak itu keluar dari kamarnya.


Fira benar-benar tak habis fikir bisa memiliki anak seperti Kamila, yang selalu saja sakit-sakitan dan cengeng sekali. Membuat Fira kesal sendiri kan.


"Cepat keluar lelet sekali kamu ini, kamu ini ya Kamila tidak ada hari tanpa dimarahi kamu hanya bisa membuat aku kesal saja "


Fira menarik tangan Kamila dan membawanya ke luar kamar lalu menutup pintunya sekaligus. Kamila terduduk di lantai, kepalanya sungguh sakit sekali.


Kamila tidak bisa menahannya ini benar-benar sakit sekali "Ayah aku sedang kesakitan tolong aku Ayah sakit sekali, Ayah aku sakit aku harus minta bantu siapa lagi aku sudah tak kuat "


Kamila langsung tergeletak dilantai, Kamila pingsan dan hidungnya juga mimisan, tak ada orang yang tahu semuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing kalau Fira tak usah ditanya dia tak akan peduli dia hanya mementingkan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2