
"Ada apa Adnan, kenapa kamu menelfon aku lagi. Aku sedang bekerja "
"Mama ini Melisa lihatlah "
Pandangan Ayana langsung melihat ke arah anaknya, ponselnya malah tertutup seluruh wajah Melisa, Ayana mengelengkan kepalanya melihat itu.
"Sayang coba kamu jauhkan sedikit ponselnya agar mama bisa melihat seluruh wajahmu. Lihatlah hanya hidungmu saja yang terlihat"
"Tidak Mama nanti malah Ayah mau melihat Mama juga"
Adnan malah menjauhkan ponselnya dan sekarang terlihatlah wajah Adnan juga.
"Hallo sayang, kamu rindu ya dengan aku "
"Tidak, aku tidak rindu dengan kamu. Aku hanya ingin bicara dengan anak ku saja "
"Hemm, selalu saja begitu "
Adnan diam dan melihat Ayana saja, lebih baik begini saja dulu nanti Adnan akan bicara dengan Ayana setelah Melisa selesai.
"Mama, kamu tahu disini tempatnya begitu nyaman sekali aku suka disini mama. Banyak sekali gedungnya "
"Benarkah mama ikut senang, apakah Melisa sudah makan "
"Tentu saja Mama aku sudah makan perutku sangat kenyang sekali, Ayah memesankan makanan yang sangat banyak bahkan tadi saat akan pulang ke kantor ayah malah menyuruhku untuk memesan es krim dan makanan yang lain. Padahal perutku sudah tidak bisa menampung makanan-makanan itu, aku tidak mau menyia-nyiakan makanan itu jadi aku tidak memesannya lag.i Sekarang kami akan pulang ke kantor katanya Ayah masih ada pekerjaan mama"
"Kamu jangan nakal ya disana "Ayana menatap Adnan yang ada dibelakang Melisa "Kamu kalau misalnya banyak kerjaan nggak apa-apa kok Melisa bisa ditinggal sama pelayan-pelayan kamu, dia juga akan ngerti kasih aja pengertian sama Melisa daripada kamu bawa dia ke kantor takutnya Melisa ganggu kamu "
"Cie perhatian "
"Apaan sih siapa yang perhatian, aku cuman nggak mau anak aku nggak diperhatiin itu aja"
"Kapan kamu perhatian sama aku"
"Kalau kamu mau diperhatiin sama aku, kamu jadi anak aku aja Adnan mau "
"Hemm, ga ah aku maunya jadi suami kamu aja "
"Ayah udah, aku yang mau bicara sama Mama. Ayah diam saja ya "
__ADS_1
Adnan mengacak rambut Melisa, Melisa langsung mendelikan matanya pada Adnan dan kembali fokus pada mamanya.
"Mama kenapa tak ada suara Melinda "
"Melinda tidur sayang, kamu juga kenapa ga tidur siang "
"Aku sudah tidur dari tadi mama, jadi aku belum mengantuk. Ya sudah aku matikan dulu ya. Mama jangan terlalu banyak bekerja ya ma "
"Iya sayang, kamu disana hati-hati kalau ayah nakal langsung beritahu Mama "
"Pasti Mama, aku akan selalu berbicara pada Mama apa saja yang ayah lakukan. Dadah mamah "
"Dadah sayang "
Setelah sambungan terputus Melisa langsung memberikan ponselnya pada ayahnya "Ini ayah terimakasih "
"Sama-sama "
Adnan mencium kening Melisa, tapi untuk yang kali ini tak ditolak Melisa hanya diam saja dengan mata yang terus melihat kearah luar jendela.
...----------------...
"Ayah rumahmu ini sangat besar sekali. Aku tidak menyangka kalau rumah Ayah sebesar ini" pekik Melisa takjub dengan rumah ayahnya.
Adnan hanya tersenyum saja, Adnan masih menggandeng tangan Melisa saat masuk ke dalam rumah "Apakah kamu suka dengan rumah ini "
"Iya aku suka dengan rumah ini, aku bisa berlarian di sini dengan Melinda aku juga bisa main petak umpet. Pokoknya kami bisa memainkan apa saja di sini Ayah lihatlah ruangan ini begitu besar. Kenapa kamu membeli rumah sebesar ini ayah memangnya siapa saja yang tinggal di sini. Apakah banyak orang sampai-sampai Ayah harus membeli rumah yang besar"
"Baiklah nanti kita bujuk mama, kamu harus bantu Ayah untuk membujuknya siapa tahu nanti setelah kita pulang ke sana Mama mau kembali ke mari kan, jadi kita bisa tinggal di rumah ini bersama-sama. Ayah di sini hanya tinggal sendirian nanti kalau kalian semua pindah kemari rumahnya akan ramai, di sini hanya ada pelayan, penjaga itu saja tidak ada lagi"
"Iya aku akan bantu ayah untuk membujuk mama "
Melisa melepaskan genggaman tangan dari ayahnya, dia berlarian mengelilingi meja besar yang terbuat dari kaca Melisa suka sekali berlarian di sini.
"Hati-hati sayang nanti kamu terjatuh, pinggirannya sangat tajam sayang "
"Apakah aku bisa naik ayah, apakah meja ini akan kuat jika aku naik bersama Melinda "
"Mau naik " Adnan langsung menangkap Melisa dan membantunya naik.
__ADS_1
Melisa langsung berpegangan pada bahu ayahnya, Melisa sangat takut karena meja ini kakinya saja menggunakan kaca, Melisa takut tiba-tiba roboh "Jangan lepaskan aku Ayah, aku takut jatuh aku takut meja ini tidak bisa menahan ku"
Adnan kemudian duduk di kursi yang dekat dengan mereka "Tidak akan, meja ini sangat kuat kamu tidak akan jatuh Melisa, ayo apa yang ingin kamu lakukan di sini di meja ini"
"Tidak, aku tidak mau melakukan apa-apa. Aku hanya penasaran saja apakah meja kaca ini bisa menahan ku atau tidak, itu saja ayah, penasaran ku begitu besar"
Perasaan Adnan makin hangat saat Melisa mau menerimanya, saat Melisa mengatakan kata ayah padanya. Melisa tidak perlu dia paksa lagi, Adnan tidak perlu bertengkar lagi hanya karena masalah itu Melisa sepertinya memang sudah benar-benar menerimanya.
Adnan bahagia sekali, akhirnya penantiannya selama ini terwujud juga. Tinggal mendapatkan ibunya saja. Pasti setelah itu hidupnya akan sangat lengkap sekali.
"Baiklah, kalau begitu kamu harus segera mandi" Adnan segera mengendong Melisa dan membawanya kekamar.
"Ayah kamarmu seukuran rumahku ya sangat besar sekali"
"Tidak Melisa, tidak sebesar itu ayo kita masuk ke dalam kamar mandi"
"Aku mau berendam di bathtub itu Ayah"
"Jangan main air, ini sudah malam harus segera tidur"
"Baiklah ayah baiklah turunkan aku, aku akan mandi sendiri aku tidak mau ditemani oleh Ayah, aku ini seorang perempuan Ayah itu laki-laki jadi ayah tidak boleh mengintip seorang perempuan yang sedang mandi"
Adnan hanya mengelengkan kepalanya dan mengisi bathtub dengan air hangat.
"Yakin mau mandi sendiri tidak mau Ayah temani atau Ayah mandikan, kamu ini masih kecil jadi tidak masalah kalau Ayah mandikan"
Melisa langsung mengelengkan kepalanya "Tidak aku mau mandi sendiri saja ayah, ayah tunggu saja diluar. Aku sudah biasa mandi sendirian, aku juga akan malu jika dimandikan oleh ayah "
"Hemm, baiklah ayah akan mandi dikamar mandi lain. Ini handuknya ayah simpan disini ya "
"Iya ayah terimakasih "
Adnan menganggukan kepalanya dan meninggalkan Melisa, pintunya tak terlalu ditutup Adnan buka sedikit takut anaknya nanti malah kesulitan untuk membuka pintu kamar mandinya. Takutnya Melisa yang terlebih dahulu selesai mandi.
Setelah ayahnya pergi, Melisa langsung membuka seluruh pakainya lalu berendam di air hangat itu, sesekali juga Melisa mencipratkan airnya.
"Kalau saja ada Melinda pasti akan sangat menyenangkan sekali, aku bisa mandi berdua"
Melisa mengambil bebek-bebekannya dan memandikannya.
__ADS_1