Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 43


__ADS_3

5 tahun kemudian


"Fira kamu ini mau ke mana lagi, ini anak kamu masa mau didiemin kayak gini terus. Dia itu butuh Ibunya dia itu butuh kamu, kalau Adnan tahu kamu bisa dimarahin sama dia. Kamu ini ga pernah urus anak kamu. Ini baru anak pertama loh, gimana kalau kamu nanti punya anak lagi "


"Terus gunanya Mama buat apa, Fira itu harus shopping, harus ketemu sama temen-temen harus arisan.Pokoknya banyak banget yang harus Fira lakuin, Mama jaga aja Kamila. Kalau Mama ga buka mulut Adnan juga ga akan tahu kok kalau aku pergi-pergi setiap hari, jadi udah deh jangan buat aku pusing Ma"


Mama Linda mendelik "Kamu ini Ibunya, kamu ini harus diam di rumah. Setiap hari kamu tak pernah ada di rumah baru kalau Adnan mau pulang kamu cepat-cepat pulang dan pura-pura membawa main Kamila. Padahal buktinya apa kamu sama sekali tidak mengurus anak ini, ini adalah anak kamu Fira. Perhatian dia sebentar jangan terus sibuk "


"Aku tahu dia anakku mah. Sudahlah cerewet banget sih jadi orang tua, aku ini bisa-bisa terlambat loh. Udah ah capek dengerin Mama yang terus aja ngomong ga pernah berhenti dari tadi. Sehari aja Ma ga usah berisik dan banyak atur aku "


Fira melangkah pergi dari dalam rumah, tidak peduli dengan Kamila anaknya yang menangis ingin ikut dengannya. Fira harus bertemu dengan teman-teman sosialitanya, tidak mungkin Fira tidak datang. Yang ada mereka akan membicarakan Fira.


"Dasar Fira itu, ternyata pilihanku salah selama ini. Seharusnya aku biarkan saja dulu Adnan dan juga Ayana, kalau tahu Fira akan seperti ini menyusahkan ku. Aku tidak akan mau dan merestuinya bisa-bisa aku bongkar semua rahasianya itu pada Adnan. Agar Fira tahu rasa dan tidak seenaknya seperti ini padaku"


"Ayo Kamila, nenek juga sebenarnya sama ingin jalan-jalan tapi karena ada kamu nenek ga bisa kemana-mana kamu ini benar-benar anak manja dan selalu menyusahkan nenek "


Kamila malah makin histeris menangisnya mendengar bentakan dari neneknya"Sudah jangan menangis terus Kamila, aku pusing mendengar mu yang terus saja menangis tidak ada hentinya, setiap hari menangis menangis menangis. Cobalah menjadi anak yang tak rewel. Apa-apa kamu ini menangis "


"Aku ingin ibu nenek, aku ingin bersama Ibu saja" rengek Kamila. Membuat Mama Linda makin pusing saja.


"Ya sudah sana susul Ibumu itu, yang tidak tahu diri "sambil menurunkan Kamila


Mama Linda meninggalkan Kamila sendirian di ruang tengah. Kamila makin menangis lagi. Bibi yang memang biasanya mengurus Kamila mendekatinya, karena mendengar suara tangisan yang melengking. "Ada apa non Kamila, jangan nangis terus jadi neneknya marah kan ayo sama Bibi aja ya mainnya mau ke mana. Bibi akan ikuti kemauan non Kamila"


"Kamila mau Ibu, Kamila pengen ketemu sama Ibu, Kamila pengen ketemu ibu, tolong antarkan Kamila bibi "


"Tpi ibunya lagi pergi, nanti kalau misalnya non Kamila telepon ibu malah makin marah kan, udah mending sama bibi aja, sama aja kok sama bibi ga ada bedanya sayang. Udah ya jangan nangis terus"


"Engga Kamila mau ketemu ibu, Kamila mau sama ibu "


"Ya ampun gimana ini kok ini anak tiap hari nangis terus, badannya makin kecil ga mau makan mau bilang juga sama ibunya gimana malah diem aja. Ibunya ga peduli sama anaknya sendiri " gumam bibi


"Mending non Kamila makan dulu sama bibi ya, biar badannya besar sebentar lagi kan mau sekolah. Masa badannya terus kecil. Nanti kalau sekolah non Kamila bakal banyak temen bakal banyak yang ajak main "


Kamila mengelengkan kepalanya "Ga mau Kamila nggak mau, Kamila nggak mau makan Kamila pengen Ibu pengen Ibu pengen ibu, Kamila juga ga mau sekolah "


"Nanti ya ketemu sama ibunya, nanti sore bakal ketemu sama ibu "


Kembali Kamila mengelengkan kepalanya. Bibi yang sudah pusing akhirnya membawa Kamila saja kearah taman. Membawa main Kamila disana. Meski tangisnya tak pernah berhenti.


Bibi juga binggung harus melakukan apa, mau telfon Pak Adnan nanti ibu marah padannya. Pasti nanti malah akan menjadi bertengkar.

__ADS_1


Rumah tangga mereka berdua ini tak pernah lepas dari kata bertengkar. Pasti ada saja pertengkaran yang mereka lakukan tak ada henti-hentinya.


...----------------...


Bruk


Ayana menatap anaknya Melinda yang tak sengaja menendang mangkok bersi sayuran yang sedang Ayana potong.


Melisa, menyenggol adiknya Melinda "Ayo minta maaf sama Mama, lihat mama sepertinya marah padamu. Makannya jangan main lari-larian terus kasian Mama sedang cape tapi malah kamu ganggu"


Melinda dengan wajah lucunya mendekati Mamanya dan mengenggam tangan sang Mama "Maafin Melinda ya Mama, Melinda beresin lagi ini sayuran yang tadi jatuh. Melinda ga sengaja Mama "


Ayana malah tersenyum mendengar suara anaknya yang merasa bersalah seperti itu. Lucu sekali anaknya ini, Ayana mana mungkin bisa marah pada anak-anaknya ini. Meraka berdua adalah sumber kebahagian Ayana "Baiklah bereskan semuanya Mama tidak akan marah"


"Baik Mama "


Melinda segera membereskan sayuran itu, dibantu kakanya Melisa. Mereka berdua begitu kompak mereka tak pernah bertengkar.


"Ini Mama sudah "


"Terimakasih anak Mama yang cantik-cantik. Ya sudah lebih baik sekarang kalian main lagi, mau boneka yang mana biar Mama turunkannya. Mama harus memasak, kalian tak masalahkan bermain berdua saja"


Melinda langsung loncat-loncat kegirangan "Melinda pengen boneka beruang itu Mama. Itu yang di atas, yang paling besar Mama "


"Melisa pengen boneka Barbie saja Mama "


"Baiklah ini "


Melisa mengambilnya dan duduk disamping adiknya "Mama mau masak dulu. Melisa jaga adiknya ya, jangan sampai bertengkar, Mama tidak akan lama "


"Iya Mama "


Ayana pergi meninggalkan kedua anak kembarnya untuk memasak. Untung saja anak-anaknya ini tidak pernah rewel, mereka itu selalu saja baik dan tidak menyusahkan Ayana apalagi saat Ayana bekerja, mereka tidak pernah mengganggu.


Karena waktu dulu Ayana tidak mendapatkan kerja sama sekali akhirnya Ayana membuka toko bunga dan juga membuka jasa dekor pernikahan dan juga acara lainnya. Untung saja ad uang dari Fabian. Pokoknya Ayana nanti akan menggantinya dan bertemu dengan Fabian meski entah kapan mereka akan bertemu.


Ayana juga sekarang sudah mempunyai beberapa karyawan. Alhamdulillah hidup Ayana sekarang makin hari makin membaik, apalagi dengan kehadiran dua buah hatinya Ayana makin bahagia sekali.


"Kakak aku ingin boneka itu "tunjuk Melinda dengan tangan mungilnya.


"Nanti kita harus tunggu Mama, kalau kita mencoba mengambil sendiri bagaimana kalau bonekanya malah akan jatuh semua. Kasihan Mama akan membereskan semuanya sendirian, kamu tahu sendiri kan bagaimana Mama bekerja setiap hari, Mama pasti sudah lelah sekali "

__ADS_1


"Hemm, baiklah "


Melinda kembali bermain dengan boneka beruangnya. Menuruti kata-kata dari kakaknya.


Ayana yang sudah selesai memasak segera menyusunya dimeja makan kecil. Sengaja Ayana membeli meja makan lipat untuk memudahkan anak-anaknya. Jadi mereka makan lesehan.


"Makanan sudah siap ayo kita makan anak-anak"


"Oke Mama "


Melisa membantu adiknya untuk bangun, karena tubuh Melinda memang lebih besar dari Melisa jadi kalau ingin berdiri Melinda harus dibantu dulu. Kalau tidak Melinda akan kesulitan untuk bangun.


Meraka duduk berhadapan dengan Mamanya, "Wah Mama masak sayur yang banyak. Sepertinya enak sekali ini ada sosis juga udang. Melinda boleh kan ambil udang 3" sambil mengangkat jarinya.


Ayana mengusap rambut Melinda dengan gemas "Tentu saja boleh sayang ayo ambil "


"Yey "


Melinda mengambil udang itu, benar saja dia mengambil 3 udang, tak lupa sayurannya juga dan juga sosis.


"Ayo kita mulai makan. Sebelum makan kita berdoa dulu "


"Iya Mama "


Setelah selesai berdoa barulah mereka memakan makanan yang Mamanya hidangkan tadi.


"Masakan Mama selalu enak "ucap Melinda sambil mengacungkan dua jempolnya.


"Kalau makan itu ga usah bicara Melinda "tegur Melisa yang melihat adiknya mengunyah sambil berbicara seperti itu, kalau misalnya sampai tersedak bagaimana.


"Iya kakak, kakak ini galak sekali pada Melinda "


"Bukannya galak sayang, kakak hanya memberitahu Melinda kalau makan itu tidak boleh sambil berbicara ya"nasehat Ayana.


"Iya Mama, aku hanya sedang memuji masakan Mama saja.Pokoknya masakan Mama yang terenak aku suka sekali"


"Kalau begitu habiskan "


"Tentu Mama "


Ayana senang, melihat anak-anaknya tumbuh dengan sehat dan ceria. Ayana bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Tak menyangka kalau kehidupannya akan berubah seperti ini.

__ADS_1


Untung saja Ayana waktu itu tidak memutuskan untuk menggugurkan anaknya ini kan, kalau tidak mungkin hidup Ayana akan kacau kalau sampai melakukan itu.


__ADS_2