Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 96


__ADS_3

"Kamila tidak apa-apa kan ayah tinggalkan di ruangan ayah sendirian. Ayah akan ada meeting, tak akan lama juga Ayah meeting Kamila "


"Iya tidak apa-apa, Kamila akan menunggu Paman saja di sini. Kamila tidak akan kemana-mana Kamila juga tidak akan kabur Kamila janji pada paman, Kamila juga sudah kapok, ternyata kabur itu tidak enak harus panas-panasan dan jalan kaki. Cari alamat rumah Ayah itu sangat sulit sekali "


Rio menganggukan kepalanya, Rio mencium kening anaknya dan dia pergi keluar dari dalam ruangannya. Rio tenang kalau Kamila sudah kapok, Rio takut anaknya kabur lagi kalau misalnya ditinggalkan meeting seperti ini.


Kamila juga diam menunggu saja. Sudah banyak camilan yang disediakan oleh Rio dan Kamila tinggal memakannya saja. Kamila juga tidak mau kabur-kaburan lagi dia juga sudah berjanji kan tidak akan melakukan itu. Kasian juga melihat paman Rio yang mencarinya dan juga pekerjaannya sangat banyak sekali.


Kamila mengelilingi ruangan paman Rio, dia menatap foto istri dari Paman Rio, lalu kembali menyimpannya lagi di tempat semula takut pecah. Nanti paman Rio marah lagi dengan Kamila. Untuk sekarang Kamila tak mau membuat masalah Kamila ingin menjadi anak baik saja ah.


Tiba-tiba saja ada yang membuka pintu, Kamila sampai kaget ternyata itu perempuan yang ada di foto bersama paman Rio, itu istrinya Paman Rio. Dia datang kemari pasti akan mencari Paman Rio kan, tidak mungkin mencari orang lain.


Tapi Kamila melihat tatapan benci dari perempuan itu, Kamila mundur dan duduk kembali di tempatnya. Kamila juga tak peduli dengan tatapannya itu. Kamila tidak punya masalah ini dengan istrinya Paman Rio.


"Rio kemana, kenapa tidak ada dan kenapa juga kamu harus ada disini hah"


"Paman Rio sedang meeting tante, dia akan lama sepertinya memang ada apa mencari Paman Rio Tante"


"Tante kenapa Tante tidak tinggal di rumah lagi, rumah sepi tak ada Tante kasian paman Rio selalu melamun. Lebih baik Tante pulang lagi pasti paman Rio akan senang dan tersenyum kembali aku yakin itu Tante"


"Kamu pikir saja sendiri kenapa aku sampai tidak tinggal di rumahku. Seharusnya kamu tidak datang ke dalam keluarga aku, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan pernah pergi dari rumah itu, aku akan tenang tinggal dirumah itu. Kamu ini adalah seorang pengganggu Kamila. Kenapa juga kamu tak pulang saja pada Ayahmu yang kaya itu "


"Memangnya aku punya salah apa dengan tante, aku baru pertama bertemu dengan tante kan waktu itu dan sekarang untuk kedua kalinya kita ketemu Tante "tanya Kamila dengan polos. Kamila tak mengerti kenapa juga istrinya Paman Rio ini harus marah-marah padannya padahal Kamila tak punya salahkan.


"Kesalahanmu itu adalah dari ibumu, kamu itu anak selingkuhan kamu itu anak yang hamil diluar nikah, kamu sama saja dengan Fira tak ada bedanya kalian berdua ini sangat menyebalkan sekali "


"Maksudnya apa Tante aku tidak mengerti, aku tak tahu maksud dari kata-kata dari paman itu "


"Sampai kapan pun kamu tak akan mengerti, sudahlah percuma juga aku berbicara dengan kamu. Anak kecil tak akan tahu apa yang aku katakan "


Pintu langsung ditutup lagi dengan kencang. Kamila benar-benar tidak mengerti apa yang disebutkan oleh Tante itu. Kamila yang memang tidak mau memikirkannya memakan camilannya saja dia akan menunggu Paman Rio dan bertanya padannya nanti.


Pasti Paman Rio akan menjelaskannya dengan baik. Kalau dengan Tante itu malah akan kena marah saja, menakutkan sekali dia sama seperti ibu yang selalu berteriak-teriak dan marah-marah.


...----------------...


Fira keluar dari dalam kamarnya, karena kakinya selalu dipasung saat berjalan sangat sakit sekali. Fira dipapah oleh Papinya mereka sedang berjemur di dekat taman. Fira hanya menatap sekitar saja dia sudah lama tak keluar dan saat sinar matahari menyorot kearah matanya sakit sekali.


Rambut Fira juga disisir dengan lembut oleh Papinya. Fira sekarang mulai tenang dia tidak sering mengamuk seperti awal-awal. Fira bisa diatur sekarang pelayan yang selalu memberi makan Fira juga sudah tak sering dipukul lagi atau dicakar lagi.


"Papi janji kan akan menemui aku dengan suamiku. Lalu kenapa semua itu belum terjadi juga aku ingin bertemu dengan suamiku Papi, aku sudah sangat tak sabar sekali aku ingin bertemu dengan suami aku itu"


"Iya nanti kita ketemu sama suami kamu, tapi nanti belum saatnya. Suami kamu lagi kerja dia lagi pergi jauh jadi dia nggak bisa temuin kamu"


Papinya Fira binggung harus bagaimana berbicara dengan Adnan. Adnan pasti tak akan pernah mau menemui Fira lagi, dirinya sangat yakin itu apalagi sekarang Adnan sedang mengejar Ayana pasti dia tak akan peduli dengan Fira.


"Pergi jauh ke mana, kerja apa emangnya suami aku itu papih aku lupa lagi "


"Nanti dia pulang dan temuin kamu. Sekarang kamu harus sembuh dulu seperti apa yang papi katakan, kalau kamu sudah sembuh baru kamu bisa bertemu dengan suami kamu ya. Dia juga pasti akan senang sekali bertemu dengan kamu "


Fira menganggukan kepalanya, Fira menatap sekitar, mencoba menapakkan kakinya ketanah, ingin berjalan tapi malah sakit.


"Kita masuk saja Papih, aku sudah kepanasan aku tak suka kepanasan "


"Baiklah kita masuk ke dalam rumah, kita akan segera beristirahat ya "


Fira kembali dipapah oleh Papinya untuk masuk ke dalam. Fira menata foto yang terpajang ada foto anak kecil "Itu foto siapa anak siapa itu, kenapa aku tidak mengenalnya. Memangnya di sini ada keluarga baru ya Papih anak siapa ya itu "


"Itu foto anakmu dia Kamila, kamu ingin bertemu dengan Kamila nanti Ayah suruh Rio untuk datang kemari dan kalian bisa bertemu. Pasti kamu akan senang bertemu dengan Kamila kalian berdua juga belum bertemu lagi kan "


"Kamila, Kamila siapa anak siapa ya, aku benar-benar tidak tahu "


"Itu anak kamu, masa kamu lupa dengan anak kamu sendiri, Kamila anak kamu dia sangat baik sekali, dia sangat sayang dengan kamu Fira "


"Memangnya aku udah punya anak ya, memangnya aku nikah udah punya anak ya Papih"


"Sudah kamu sudah punya anak, namanya Kamila dia cantik banget kayak kamu, dia baik juga loh"


"Ohh, gitu ya aku baru tahu itu "


"Mau ketemu dengan Kamila, setelah bertemu pasti kamu akan mengigat anak kamu itu "

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mau ketemu aku ingin suamiku saja. Aku ingin bertemu dengannya, aku tidak mau bertemu dengan siapa-siapa selain suamiku papi"


"Baiklah kita ke kamar ya, kamu mau istirahat mau tidur kan pasti "


"Tentu boleh, aku mau tidur saja pasti akan sangat enak nanti tidur "


Fira kembali diantarkan ke kamarnya, saat akan dipasung lagi Fira memegang tangan papihnya "Bisa tidak jangan diikat kakiku sakit sekali, perih yang ini saja masih sakit kalau sampai kakiku di pasung lagi nanti akan semakin bengkak, aku malah makin kesakitan Papi. Jangan lakukan itu lagi padaku Papih aku minta itu padamu "


"Baiklah papi tidak akan memasung mu, papih akan membiarkan kamu seperti ini. Maaf ya Papih sudah menyakiti kamu. Papih tak akan melakukan ini lagi sama kamu kalau kamu selalu tenang seperti ini "


Fira berjalan ke arah tempat tidurnya, dia membaringkan tubuhnya di sana. Papinya Fira yang sudah melihat anaknya tidak akan kabur kemana-mana keluar dari kamar itu.


Tapi tetap saja dia mengunci pintunya, bahkan jendela di luar juga ditutup tidak dibuka takut tiba-tiba Fira kabur, bisa sulit mencarinya. Bukan apa-apa takut melukai orang lain nantinya.


...----------------...


Rio yang sudah selesai meeting masuk ke dalam ruangannya, dia melihat ruangannya yang berantakan dengan bungkus makanan tapi tak masalah Rio tidak akan marah pada Kamila. Rio mengerti dengan tingkah Kamila.


Rio harus selalu tenang dan memberi tahu anaknya dengan baik-baik. Rio akan menjadi lembut pada Kamila tak akan berteriak lagi padanya.


"Paman tadi ada istri paman datang kemari, dia mencari Paman loh "


Rio mendekati Kamila "Lalu dia mengatakan apa, apa yang dia katakan "


"Cuman mencari Paman saja. Aku ingin bertanya pada paman kalau hamil diluar nikah itu maksudnya apa ya, aku tak mengerti paman "


"Kamu kata siapa kamu tahu dari mana Kamila, kenapa juga kamu tiba-tiba bertanya hal seperti itu"


"Dari istri paman, katanya kalau aku ini anak yang hamil diluar nikah, maksudnya itu apa ya. Aku tidak mengerti aku benar-benar binggung paman "


Rio diam sejenak. Kenapa istrinya itu bisa berkata seperti ini pada Kamila, apakah pantas hal seperti itu dibicarakan dengan anak sekecil Kamila. Kamila itu belum mengerti apa-apa.


"Sudah jangan pikirkan itu, itu bukan hal apa-apa mau pulang sekarang atau masih betah di sini dan ingin menghabiskan makananmu saja, masih ada banyak makanan kamu itu "


"Memangnya pekerjaan Paman sudah selesai jika sudah selesai mari pulang, tapi jika belum tidak masalah aku akan menunggu pekerjaan Paman sampai selesai dulu, baru kita akan pulang sama-sama Paman aku tak akan rewel paman merengek ingin pulang "


"Sudah pekerjaan Ayah sudah selesai semuanya ayo kita pulang sekarang sayang "


Kamila turun dari kursi dia memunguti sampah-sampah yang tadi dia lempar-lempari, karena memang sudah sangat jenuh, lalu memasukkannya ke tong sampah. Kamila juga mulai bisa memakai tasnya sendiri. Kamila menggandeng tangan Rio untuk keluar dari ruangan Rio.


Rio juga tadi tidak melarang anaknya untuk melakukan itu. Rio ingin melihat apakah Kamila akan membereskannya dan ternyata dia melakukannya. Rio bangga dengan anaknya yang makin hari makin banyak perubahan tidak manja lagi.


Bukannya Rio tidak mau memanjakan Kamila. Rio hanya ingin anaknya itu tidak ketergantungan dalam hal apapun. Dan kenapa juga Rio tak menyewa baby sister saja, karena Rio belum percaya pada mereka. Lebih baik Rio saja kan yang mengurusnya.


Mereka keluar bersama-sama dan Rio malah dihadang oleh istrinya itu "Aku dari tadi menunggumu, kenapa sangat lama sekali sih"


"Kita bisa bicara ditelepon tidak seperti ini, ada apa kamu ingin menemuiku sampai-sampai mengatakan sesuatu hal yang tidak seharusnya kamu katakan pada Kamila, padahal kamu ini orang dewasa tapi perkataan kamu ini sangat tidak baik "


"Oh jadi anak ini mengadu. Dia sudah mulai pintar dia mengadu domba orang dewasa, lihat sudah aku bilangkan kalau dia ini sama saja seperti ibunya tak akan ada bedanya. Dia akan mempunyai sifat buruk dari ibunya itu "


"Dia tidak mengadu domba, dia hanya mengatakan apa yang kamu bicarakan. Sekali lagi aku mendengar kamu membicarakan itu aku tidak akan pernah memaafkanmu. Ada apa kamu ingin menemuiku, aku sudah menandatangani surat perceraian kita kan, lalu apalagi kita ini sudah bukan suami istri lagi seperti apa yang kamu mau, kita sudah tak ada urusan lagi "


"Aku harus mendapatkan jatah bulanan dari kamu, seperti yang tertulis di surat perjanjian. Aku ingin sekarang saja tak mau dinanti-nanti "


"Perjanjian yang mana. Bukannya kamu yang meminta cerai padaku, aku sudah mengikutinya dan aku tidak akan pernah memberikan uang sepeser pun padamu atau uang bulanan, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Tolong jangan halangi jalanku dan jangan mempersulit semuanya. Semua ini kamu kan yang inginkan kamu yang ingin bercerai denganku "


"Lalu saat tidak punya uang kamu akan meminta padaku, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa bahkan kita berdua tidak punya anak jadi aku tidak harus memberimu jatah bulanan kan minta saja pada orang tuamu atau kamu mungkin bekerja sana jangan membuat aku pusing "


Rio segera menggendong Kamila dan masuk ke dalam mobilnya. Memang tadi ada yang datang pada Rio dan itu saudaranya istrinya, menyerahkan surat perceraian lagi dan Rio yang sudah pusing dengan semua hal itu langsung menandatanganinya.


Sudahlah Rio pasrah saja kalau jodoh akan kembali lagi, kalau bukan ya mungkin nanti Rio akan mendapatkan yang lebih dari mereka. Semoga saja Rio bisa mendapatkan seorang perempuan yang bisa menerima masa lalu Rio dan juga anaknya.


Rio menjalankan mobilnya dan meninggalkan perusahaannya itu, jangan sampai nanti mantan istrinya itu malah mengejarnya. Bisa malah bertengkar nantinya, aneh-aneh saja minta jatah bulanan kalau punya anak baru Rio akan memberikan jatah bulanan tapi ini tidak ada kan.


"Paman kenapa istri paman itu tidak tinggal di rumah lagi, kenapa dia tak pulang saja kerumah padahal Kamila juga tak akan nakal dan Kamila juga tak akan mengganggunya "


"Tidak dia mulai sekarang tidak akan pernah kembali lagi ke rumah dan jika suatu saat Paman tidak ada di rumah, dia datang ke rumah kamu jangan bukakan pintu ya. Kamu cukup diam saja dirumah seolah-olah dirumah tak ada siapa-siapa "


"Kenapa seperti itu, kasian kan Tante nanti menunggu lama "tanya Kamila yang memang penasaran, Kamila tidak mau membuat hati orang lain sakit hati ya maksudnya itu kan istrinya Paman Rio. Nanti kalau dia marah pada Kamila bagaimana Kamila tidak mau dibentak-bentak lagi.


"Ya karena Paman sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya, paman dan juga istri paman itu sudah tidak serumah dan tidak punya hubungan lagi, jadi dia tidak berhak untuk masuk ke rumah pokoknya kalau dia sampai ada ke rumah kamu jangan pernah membukakan pintu ya, itu yang harus selalu kamu ingat kalau Paman pergi juga kamu kunci-kunci saja pintu"

__ADS_1


"Baiklah paman, aku mengerti paman "


"Ingin makan sesuatu atau membeli camilan yang lain lagi untuk nanti di rumah. Tadi ayah lupa tak membawa camilan kamu yang dikantor "


"Yang tadi saja sudah membuat perutku kenyang lalu kalau ditambah lagi aku tidak akan bisa bangun Paman. Sudah cukup nanti malam saja makan malam. Aku tidak akan sanggup kalau harus memakan makanan yang banyak lagi, kalau kekenyangan nanti perutku ini akan sangat sakit sekali paman"


"Baiklah, ayah besok akan belanja lagi ya "


"Hemm, baiklah paman"


Kamila mengeluarkan buku gambarnya, dan dia segera mewarnai tugasnya nya itu baru ingat kalau dirinya punya pekerjaan rumah. Tadi terlalu asyik makan camilan yang enak-enak itu.


...----------------...


Mereka berempat sudah duduk bersama-sama. Mereka ada di belakang toko, ya maksudnya di tempat Ayana selalu istirahat Ayana sudah membeli meja khusus untuk mereka makan. Sengaja agar mereka bisa makan disini juga dan lebih nyaman juga kan.


Adnan membuka makanan yang tadi dia beli, banyak sekali yang mereka beli, karena memang anak-anaknya ini mau yang ini mau yang itu, banyak yang mereka mau semoga saja makanan ini habis dan Ayana tidak marah padanya karena membeli makanan sebanyak ini.


Adnan tidak bisa menolak apa kemauan anaknya dan tidak mau membuat mereka menangis. Apalagi nanti mereka akan menganggap kalau Adnan itu pelit, makanya Adnan memberikan apa yang mereka mau.


Ayana yang melihat dan membuka makanan yang sangat banyak langsung menatap ke arah Adnan "Kenapa makanan ini begitu banyak, kita hanya berempat orang dewasa berdua dan anak kecil berdua lalu makanannya kenapa sebanyak ini. Apa kamu tidak salah Adnan kenapa membeli banyak seperti ini"


Adnan mengusap tengkuknya "Anak-anak ingin makan ini makannya aku membeli apa yang mereka mau, aku tidak bisa menolaknya Ayana. Aku takut mereka menangis aku tak tega kalau sampai itu terjadi"


Ayana melihat ke arah Melisa dan juga Melinda "Lain kali tidak boleh seperti itu, apakah kalian berdua yakin akan menghabiskan makanan ini. Kalau akan habis Mama tak masalah "


"Maaf Mama kami berdua tadi saking senangnya melihat banyak makanan yang kami suka makanya kami membeli semuanya. Kami tak bermaksud untuk melakukan ini "jawab Melisa mewakili adiknya yang hanya diam. Adiknya tak akan menjawab dia pasti akan diam sambil menundukan kepalanya saja.


"Baiklah tapi lain kali tidak boleh seperti ini lagi, kalian tidak boleh membeli banyak makanan seperti ini kalau tidak habis kan jadi mubazir. Siapa yang akan menghabiskannya. Jadi kalau beli sesuatu itu sesuai apa yang akan kita makan saja, bukan sesuai dengan apa yang kita inginkan kalau membeli sesuai keinginan kita memang banyak, tapi kalian harus bisa memilih mana yang akan kalian makan nantinya jangan seperti ini lagi "


"Iya Mama kami minta maaf tak akan seperti ini lagi"


Mereka berempat segera memakan makana itu, Adnan juga tak berani membantah kata-kata dari Ayana. Ayana melihat anak-anaknya makan dengan lahap. Ayana senang sekali melihatnya, anak-anaknya memang setiap hari selalu lahap kalau makan.


"Terima kasih karena kamu sudah menjemput anak-anak"


"Kenapa harus berterima kasih Ayana, mereka juga kan anak-anakku" jawab Adnan sambil tersenyum manis ke arah Ayana.


"Emm, kamu malam ini sibuk tidak Adnan apa kamu punya waktu, apa pekerjaan kamu sudah beres semua"


Adnan yang sedang makan tentu saja tersedak. Apakah Ayana akan mengajaknya berkencan, tapi tidak mungkin kan Ayana tiba-tiba mau mengajaknya makan malam, berkencan seperti itu, pikiran Adnan ini terlalu jauh. Ayana tidak mungkin melakukan itu.


Adnan terlalu berharap Ayana akan mengajaknya pergi berdua. Sadar Adnan yang ada dihadapan kamu ini bukan Ayana yang dulu. Ayana sudah berubah dia tak lagi sama seperti dulu, dia sudah sangat berbeda sekali.


"Ayah kalau makan itu hati-hati ini minum dulu, ayah seperti anak kecil saja selalu tersedak "ucap Melinda sambil memberikan air putih pada Adnan.


Ayana langsung menatap Adnan seperti bertanya-tanya. Kenapa tiba-tiba Melinda mengucapkan kata ayah pada Adnan. Tapi itu baguskan Adnan berarti sudah bisa dekat dengan anak-anak.


"Bolehkah kita pergi ke rumah nenek sekarang saja, malam ini kita pergi ke sana. Aku tak bisa menunggu lagi Adnan "Ayana hanya akan membahas itu dulu, masalah tentang Melinda yang berbicara Ayah pada Adnan ya itu tidak perlu dipertanyakan karena memang seharusnya anak-anaknya memanggil Adnan dengan sebutan ayah kan.


Adnan mengernyitkan keningnya kenapa tiba-tiba sekali ya padahal Ayana tadi katanya ingin memikirkannya dulu tapi sekarang dia langsung mau pergi kesana kerumah neneknya.


"Maaf aku bertanya seperti ini, kenapa tiba-tiba apa ada sesuatu yang terjadi padamu apa semuanya sudah selesai "Adnan harus selalu hati-hati dalam berbicara, dia tidak mau menyinggung Ayana lagi takut kata-katanya ini terlalu membuat Ayana tidak enak dan membuatnya marah.


Adnan harus selalu hati-hati sekarang kalau berbicara dengan Ayana tidak boleh gegabah. Adnan tak mau dimarahi oleh Ayana lagi.


"Ya karena pekerjaanku juga sudah selesai. Aku tidak ada pekerjaan lagi. Aku khawatir dengan keadaan nenek aku takut terjadi apa-apa dengan nenek, bisa kita pergi malam ini juga. Kalau kamu tidak bisa tak apa-apa aku akan menunggumu sampai selesai bekerja. Aku benar-benar tidak tenang kalau tidak langsung melihat nenek. Bahkan aku sudah mencoba untuk menghubungi nenek tapi benar katamu nenek tidak mengangkatnya, nenek benar-benar tak bisa dihubungi oleh ku "


Ayana malah melihat Adnan yang malah diam saja seperti sedang memikirkan sesuatu saja "Pekerjaanmu sedang tidak banyak kan, apakah mungkin kamu ada meeting penting yang harus segera kamu kerjakan kalau ada ya sudah tidak masalah nanti saja. Aku tak akan memaksa kamu Adnan "


"Baiklah kita pergi malam ini, aku juga sudah tidak ada pekerjaan apa-apa. Kamu kapan pulang aku akan membantumu untuk menyiapkan pakaian anak-anak dan juga segalanya yang dibutuhkan oleh anak-anak. Agar kamu juga tak kecapean nanti "


"Aku pulang sekarang juga, kita akan siapkan semuanya sekarang. Aku tidak mau menunda-nunda lagi tapi jika kamu banyak pekerjaan tidak masalah ditunda beberapa hari pun, aku tak akan marah padamu Adnan "


"Tidak ada Ayana, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku kamu bisa tenang kita bisa pergi ke sana malam ini juga. Kita akan terbang dan menemui nenek kita akan melihat keadaan nenek ya "


"Baiklah kalau tidak ada "


Adnan melihat raut wajah Ayana yang mulai tenang. Adnan tahu Ayana ini sangat menyayangi neneknya, mereka begitu dekat dulu bahkan Adnan waktu itu tidak menyangka kalau mereka akan menjadi dekat seperti itu.


Adnan juga senang mendengar semua jawaban dari Ayana. Mereka seperti keluarga saja akan menyiapkan semua pakaian anak-anak dan akan pergi, ya rasanya Adnan seperti mereka ini memang keluarga bahagia keluarga yang utuh dan tidak ada masalah sedikitpun.

__ADS_1


Semoga saja hal ini bisa terjadi dan Adnan serta Ayana bisa menjadi suami istri kembali dan keluarganya akan lengkap. Ayana juga bisa pulang ketempat lahirnya. Semoga saja apa yang Adnan impi-impikan bisa terwujud semuanya kan.


Mempunyai keluarga yang untuk itu adalah impian semua orang. Siapa sih yang tak mau memiliki keluarga utuh.


__ADS_2