
Adnan masih belum berbicara dia memikirkan bagaimana istrinya dulu membawa kedua putrinya dalam perutnya ini. Apalagi harus menjalani hidup sendirian tanpa suami tanpa keluarga sedikitpun. Membayangkan saja Adnan sudah tak bisa, apalagi menjalaninya seperti Ayana waktu dulu.
Bagaimana pula cara Ayana agar tetap waras menjalani hidup tanpa siapa-siapa. Ayana pasti waktu itu sangat ketakutan dan juga binggung sekali.
Memang dulu ada Fabian, tapi kan Fabian juga tak diberitahu dulu saat Ayana pergi. Adnan tahu cerita itu pun dari Fabian waktu itu.
Perasaan Adnan begitu rumit sekali, Adnan benar benar tidak tahu bagaimana dulu saat Ayana hamil. Waktu itu Adnan begitu tak peduli dengan Ayana. Dia hanya memikirkan tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh Ayana padannya.
Adnan menatap mereka berdua yang menanti jawabannya, mereka begitu sabar padahal Adnan dari tadi hanya diam. Dia tidak ada saat istrinya hamil Adnan benar-benar gagal menjadi seorang suami.
"Ayah " panggil Melisa yang melihat ayahnya hanya melamun saja, bahkan Melisa juga menyentuh pipi ayahnya dengan pelan sekali, Melisa ingin mengecek apakah ayahnya sakit, kenapa ayahnya ini tiba-tiba saja diam seperti itu.
Melinda juga ikut menyentuh pipi ayahnya "Ayah apakah ada yang sedang kamu rasakan, apakah kamu sedang kesakitan. Apakah kita harus pergi kerumah sakit untuk mengecek keadaan Ayah"
Adnan yang akan mengelengkan kepalanya tak jadi, Adnan selalu mendengar kalau Ayana selalu meminta anak-anaknya untuk selalu jujur dengan perasaannya dan tak boleh berbohong. Agar hatinya tenang dan fikirannya juga tenang. Adnan akan jujur saja pada anak-anak tak akan ada yang disembunyikan lagi.
"Ayah sedang sedih, hati ayah cukup sakit untuk sekarang " Adnan tersenyum pada kedua putrinya. Ingin terlihat baik-baik saja.
"Ayah apakah kata-kata aku itu malah menyakiti Ayah, Melinda minta maaf ya "
Adnan tersenyum kembali pada Melinda "Tidak semua itu bukan salahmu, hanya saja Ayah waktu dulu saat mamah mengandung kalian berdua Ayah tidak ada di samping mama, ayah tidak ada bersama mama"
"Lalu saat itu Ayah di mana. Kenapa bisa Ayah sampai tidak ada di samping Mama, apakah pekerjaan ayah sangat banyak sampai-sampai Ayah tidak bisa menemani mama. Kasihan Mama sendirian Ayah"
Adnan tiba-tiba saja mengingat istrinya Adnan tiba-tiba saja rindu pada istrinya itu "Asep kita putar balik ya kita pulang ke rumah saja, tak usah pergi kekantor "
"Baik Pak "
"Iya waktu itu Ayah sangat banyak pekerjaan bahkan menumpuk sekali, makanya Ayah tidak bisa menemani Mama. Ayah malah fokus pada pekerjaan ayah itu, mama dan Ayah juga tinggal ditempat yang berbeda dan jauh sekali "
Melisa langsung membuang pandangannya. Melissa tahu yang sebenarnya. Adnan yang melihat Melisa seperti itu hanya bisa tersenyum kecut. Melisa memang mengetahui semua cerita dirinya dan juga Ayana hanya Melinda saja yang tidak tahu.
"Begitu ya kenapa bisa. Kenapa kalian tidak tinggal bersama saja, mungkin kalau Ayah dan mama tinggal bersama kami akan terus bertemu dengan Ayah "
"Ada sesuatu yang membuat kami harus berpisah, tapi sekarang tidak usah dibahas lagi kan ayah bersama kalian, sudah bersama-sama lagi memang waktu itu salah ayah karena terlalu fokus pada pekerjaan untuk mencari uang, untuk kalian bertiga Ayah ingin membuat kalian selalu bahagia dan semua kebutuhan tercukupi "
Melisa kembali menatap ayahnya "Mamaku adalah orang yang baik, selama kamu bersikap baik padanya maka Mama akan memaafkanmu dengan cepat. Mama tidak akan lama-lama memendam sebuah kebencian pada orang lain termasuk pada kamu "jawab Melisa dengan suara yang tidak bersahabat.
Tiba-tiba saja Melisa kembali tertarik pada ingatan saat mamanya selalu menangis, saat melihat ayahnya ada di televisi lalu melihat fotonya belum lagi iklan-iklan yang ada di laptop Mamanya itu selalu menampilkan wajah ayahnya. Mamanya selalu saja menangis Melisa saat itu sangat tidak suka dengan laki-laki itu. Yang ternyata adalah Ayahnya sendiri.
Melisa tidak pernah menghampiri mamanya saat sedang menangis seperti itu, karena mamanya akan berbicara baik-baik saja sambil mengusap air matanya. Melisa hanya ingin membiarkan mamanya mengeluarkan semua rasa tidak nyamannya itu agar mamanya tidak sakit hati lagi.
"Kakak kenapa kamu berbicara seperti itu "Melinda memicingkan matanya" Kalau ayah tidak bekerja Ayah tidak akan punya uang dan tidak akan bisa menjemput kita juga. Ayah juga tidak akan memiliki rumah sebesar itu dan juga perusahaan yang sangat besar juga. Seharusnya kita mengerti dengan posisi ayah dia mencari uang untuk kita juga kan Kak"
Melisa yang tidak mau berdebat dengan adiknya langsung membuang pandangannya. Melisa melihat kembali keluar jendela. Adiknya tidak boleh tahu tentang cerita ini hanya dirinya sajalah yang boleh tahu. Adiknya terlalu polos dan terlalu baik untuk mengetahui semua masalah yang pernah terjadi itu.
"Sudah Ayah yang salah, jangan berdebat dengan kakak ya" Adnan tidak mau anak-anaknya ini berdebat hanya karena dirinya saja, karena memang pada kenyataannya Adnan lah yang salah di sini.
Melinda menarik-narik tangan Kakaknya "Kakak maafkan aku, maaf bila kata-kataku itu sudah membuatmu sakit hati. Tapi Kakak jangan berkata seperti itu pada ayah, kata-kata kakak itu tadi sangat jelek sekali "
Melisa menerima uluran tangan dari adiknya "Aku juga sama minta maaf padamu" lalu Melisa berbalik menatap ayahnya "Ayah Maafkan aku juga karena sudah berkata seperti itu pada ayah, sekarang ayah sudah baik pada Mama tidak seharusnya aku mengatakan hal seperti itu maafkan aku, aku hanya teringat saja apa yang pernah terjadi dengan mama waktu itu, makanya tiba-tiba aku berkata seperti itu"
Adnan tersenyum dan mengusap kepala Melisa "Ayah juga minta maaf, maafkan ayah jika selama ini Ayah belum jadi ayah yang baik untuk kalian berdua. Ayah masih harus belajar lagi "
"Ayah jangan berkata seperti itu, Ayah itu adalah Ayah yang terbaik untuk Melinda dan juga Kakak Melisa, Ayah itu sudah sangat baik pada kami berdua apalagi pada Mama jangan katakan itu lagi ya "Melinda tidak setuju dengan kata-kata ayahnya itu. Ayahnya itu begitu perhatian sekali pada mereka.
__ADS_1
"Baiklah mulai sekarang kita harus lebih saling menyayangi lagi "
Mereka berdua menganggukkan kepalanya, mereka kembali mengobrol sampai mereka sampai di depan rumah, tak terasa mereka akhirnya sudah sampai juga obrolan mereka tadi beralih lagi pada sekolah mereka dan juga teman-temannya bagaimana.
Adnan menurunkan kedua putrinya sekaligus, lalu mengambil tasnya yang tergeletak begitu saja. Melisa dan juga Melinda langsung mengambil tas mereka masing-masing.
"Kalian langsung ganti pakaian dan temui Mama pasti Mama sangat merindukan kalian berdua, mama dari tadi hanya diam dikamar, temani mama ya "
Melisa dan juga Melinda yang akan berlari ke arah rumah tiba-tiba saja mendengar suara teriakan yang begitu melengking, Melisa dan juga Melinda menatap ayahnya, mereka kaget dan takut dengan teriakan itu.
"Ayah itu suara siapa kenapa begitu menyeramkan suaranya itu, berteriak begitu keras apakah di sini ada orang lain lagi Ayah"
Adnan yang tahu arah suara itu dari mana langsung menatap kedua putrinya yang masih kebingungan "Bukan suara apa-apa mungkin itu pegawai Ayah yang kaget atau mungkin terjatuh. Lebih baik kalian masuk ke dalam rumah ya biar ayah mengecek ada apa di belakang"
"Baiklah ayah jangan lama ya, nanti ayah menyusul kami ke kamar dan menemani mama juga "
"Iya nanti ayah akan menyusul"
Setelah kedua putrinya itu masuk ke dalam rumah Adnan berjalan cepat ke arah kandang buaya. Adnan harus memastikan apakah anak-anak benar-benar masuk rumah, takutnya mereka akan mengikuti Adnan.
Sebenarnya ada masalah apa sampai-sampai suara ibunya Ayana terdengar sampai kemari, apakah pintu dari peliharaannya itu terbuka sampai-sampai suara itu terdengar kemari. Pasti ada salah satu orang suruhnya itu yang teledor.
Saat Adnan masuk ternyata kaki ibunya Ayana tergigit oleh salah satu buaya yang ada di sana, untungnya anak buahnya Adnan cepat menarik ibunya Ayana jadi kakinya itu tidak putus hanya luka yang cukup parah saja.
"Adnan tolong aku lihat kakiku ini malah mau dimakan oleh buaya-buaya kamu itu, kenapa kamu tidak memberi makan mereka, lihat kakiku ini sangat sakit sekali Adnan "dengan air mata yang sudah mengalir.
Adnan malah memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, Adnan melihat luka itu yang memang cukup parah tapi itu tidak sebanding dengan apa yang dia lakukan pada Ayana selama ini. Itu bukan apa-apa Ayana bertahun tahun disiksa olehnya.
"Sakit sekali kah, bagaimana rasannya sih "
"Apakah Ayana pernah mengalami hal yang seperti ini, aku ingin tahu "
"Tidak Ayana tidak pernah, dia tak pernah aku kurung di kandang buaya"jawab ibu Ayana dengan lemas dia benar-benar sudah pusing, darahnya sudah keluar banyak. Kakinya juga sudah sangat sakit sekali tak tertahankan untuk bicara saja sekarang sudah sangat sulit.
"Tapi Ayana punya luka di punggungnya dan itu sangat parah, pasti itu sangat menyakitkan dan darahnya juga sama akan banyak seperti apa yang kamu alami. Jadi agar semuanya rata sama pernah merasakan sakit aku akan membiarkanmu. Oh ya tadi juga kamu menyuruhku untuk memberi makan mereka rasanya tidak usah kalian berdua kan makanan buaya nanti kalian akan habis oleh mereka, kalian akan menjadi hidangan yang sangat nikmat untuk mereka"
"Tidak Adnan, bukan aku yang melakukannya pasti Ayana sudah berbohong kan dengan kamu. Dia mengatakan aku yang melakukannya, tapi pada kenyataannya bukan, aku tak melakukan apa-apa, aku tak kuat Adnan tolong aku ingin pergi kerumah sakit, aku minta tolong padaku untuk menyembuhkan aku, Adnan jangan tega begitu sama aku "
"Hemm, jadi kamu mengatakan kalau istri aku yang berbohong begitu. Sudahlah aku tak mau berdebat dengan kalian ini"
Adnan menutup pintu kandang buaya itu. Adnan masih mendengar suara ibunya Ayana yang berteriak, tapi tak sampai seperti tadi terdengar sampai ke depan. Adnan menatap orang-orang yang selama ini menjaga kandang buaya.
"Kenapa kalian membuka pintu, sudah aku bilang kan jangan pernah buka pintu itu kalau sampai istriku atau anak-anakku tahu kalian yang akan habis dan aku berikan pada buaya-buaya itu, aku tak akan segan-segan untuk melakukan hal itu "
"Maaf Pak tadi kami teledor. Sekali lagi kami minta maaf, kami tidak akan melakukan hal ini lagi. Kami akan lebih teliti lagi"
Adnan tidak menjawab. Dia langsung melengos pergi begitu saja dari hadapan anak buahnya ini. Adnan sekarang hanya ingin bersama istri dan anaknya saja, mau ibunya Ayana bagaimana pun Adnan tak peduli, mau matipun Adnan tak masalah.
Adnan yang baru saja masuk melihat Melisa yang duduk sendirian di depan televisi, tapi televisinya tidak menyala. Adnan mendekati anaknya itu, kenapa Melisa malah diam disini bukannya bersama Mamanya.
"Kenapa kamu tidak menemui Mamaku, tadi ayah sudah bilang bersama mama dulu nanti ayah akan menyusul, kamu juga belum berhenti pakaian "
"Aku ingin berbicara dengan ayah terlebih dahulu. Biarkan saja dulu Melinda yang bersama mama, mereka akan mengerti "
"Apa yang ingin kamu tanyakan pada ayah. Apakah sangat penting sekali "
__ADS_1
Melisa langsung menatap ayahnya itu "Tadi ayah bilang pada Melinda kalau ayah itu sibuk bekerja dan mencari uang untuk kami beserta Mama, aku selalu bertanya-tanya kenapa Ayah selama ini buat mama sedih, buat mama selalu menangis aku selalu melihat ayah di televisi dan aku lihat Ayah bukanlah orang yang kekurangan uang atau bekerja mati-matian hanya untuk mencari uang. Aku selalu melihat ayah bahkan Ayah terlihat bahagia tidak ada kekurangan sedikitpun yang ayah rasakan selama ini"
"Memang bukan itu alasannya Ayah tidak mungkin kan berbicara pada kalian berdua, ini belum saatnya kalian tahu "
"Sudah aku duga Ayah pasti berbohong, tidak mungkin Ayah pergi meninggalkan mama hanya untuk mencari uang saja. Tapi karena mamah sekarang sudah tidak sedih lagi, tidak banyak menangis lagi dan mama juga sudah bahagia dengan ayah aku tidak akan perhitungan lagi. Hanya aku minta ayah jangan pernah membuat Mama menangis seperti dulu lagi "
Adnan tersenyum mendengar kata-kata anaknya itu, Melisa begitu menjaga mamanya karena mungkin dulu Melisa sering melihat mamanya menangis, makannya dia selalu saja bertanya-tanya tentang hal itu.
"Lalu sekarang di hati kamu apakah masih ada rasa kebencian pada Ayah"
"Tidak ada"
"Sedikitpun tidak ada"
"Iya tidak ada, karena kamu sudah sangat baik pada Mamah dan juga Melinda, Melinda selama ini ingin seorang ayah dan ayah muncul membuat senyum Melinda bisa kembali dan dia bahagia sekali akan hal itu "
"Jika masih ada yang ingin kamu bicarakan dengan ayah bicarakan saja. Mungkin ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati kamu"
"Semuanya sudah aku tanyakan pada ayah, dan semuanya sudah mendapat jawaban mungkin yang satu ini akan sulit mendapatkan jawaban dari ayah, aku tidak akan memaksa untuk ayah menjelaskan semuanya tentang kenapa ayah meninggalkan mama. Aku hanya minta Ayah selalu membuat Mama bahagia seperti ini"
"Iya Ayah berjanji ayah akan selalu membuat kalian semua bahagia. Ayah tidak akan pernah membuat Mama menangis Melisa dan kamu juga serta adik bayi yang ada di dalam kandungan Mama, kalian akan selalu bahagia di samping ayah. Ayah berjanji akan hal itu "
Melisa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya Melisa tiba-tiba saja duduk di pangkuan ayahnya "Ayo Ayah kita temui Mama, pasti Mama binggung karena kita tak ada "
Adnan ingin sekali mencubit pipi Melisa tapi Adnan tidak mau membuatnya marah. Jadi Adnan langsung menggendong anak bawel ini, untungnya Melisa tidak menanyakan kembali lebih dalam tentang apa yang pernah terjadi antara dirinya dan juga Ayana.
Kalau mungkin dia tahu Melisa akan membencinya lagi, mungkin tidak mau menemuinya lagi sampai kapan pun.
Sedangkan Ayana yang dari tadi mendengar suara teriakan melengking itu hanya diam saja didekat jendela.
Ayana mengenal suara teriakan itu, kenapa suara teriakan ibunya ada disini. Saat mendengar pintu terbuka Ayana tersenyum ternyata itu Melinda.
"Mama, kamu sedang apa "
Melinda mendekati Mamanya, Melinda tak meminta gendong, tapi Melinda menarik tangan Mamanya untuk duduk ditempat tidur. Setelah mereka duduk barulah Ayana bertanya karena putrinya yang satu lagi tak ada.
"Kemana Kakak kamu kenapa dia tidak ikut dengan kamu "
"Kakak tadi menunggu dulu ayah, Ayah tadi pergi ke belakang karena ada sebuah teriakan yang begitu melengking, menakutkan sekali apa Mama juga mendengarnya, karena suara itu begitu kencang sekali"
Ayana menganggukan kepalanya "Iya Mama tadi mendengarnya suara apa itu. Apakah kamu tahu"
"Kata Ayah itu suara dari pengawalnya, tapi kami tidak tahu siapa yang berteriak. kami tadi langsung disuruh oleh ayah untuk masuk ke rumah dan menemui Mama, bagaimana kabar Mama dan juga adik bayi"
"Kabar Mama dan juga adik bayi baik-baik saja"
"Apakah Mamah dan juga adik bayi ingin sesuatu, nanti Melinda akan mengambilkannya "
"Tidak mama dan adik bayi baru saja tadi makan, jadi Mama belum mau makan lagi. Lalu kalau Melinda mau makan tidak biar Mama nanti buatkan makanan untuk kamu dan juga Kakak, mama akan memasak makanan yang ingin kalian mau "
"Tidak Mama, Melinda tadi sudah makan di sekolah, dan masih kenyang juga belum lagi tadi aku makan banyak camilan mama, jadi perutku ini masih kenyang sekali "
Ayana menganggukan kepalanya dan mengusap kepala anaknya. Ayana masih penasaran dengan suara teriakan itu. Ayana kira anak-anaknya ini akan tahu tapi ternyata hanya Adnan saja yang mengecek akan Ayana tanyakan nanti pada suaminya itu setelah anak-anak tertidur.
Ayana jadi ingat lagi pada ibunya, Adnan juga belum memberitahu tentang kabar ibunya. Ayana jadi makin khawatir saja dengan keadaan ibunya, takutnya ibunya kenapa-napa.
__ADS_1
Tadi seperti jeritan ibunya, tapi mana mungkin ibunya ada disini. Adnan tak mungkin membawanya kemari.