Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 156


__ADS_3

Fira sudah sangat kepanasan sekali dia sudah berkeliling ke sana kemari, tapi tidak menemukan pekerjaan yang pas apalagi tadi dalam angkutan umum Fira harus membagi tempat duduk dan pengap sekali. Fira benar-benar tidak suka menaiki itu.


Apakah tak ada kendaraan yang lain disini. Fira tak akan pernah sanggup kalau setiap hari harus seperti itu.


"Aku harus cari kerja di mana lagi sungguh sulit sekali ternyata mencari pekerjaan, ternyata aku juga ada di kota yang jauh. Papih benar-benar membawaku jauh dari tempat yang seharusnya"


Fira duduk di warung yang ada kursinya, tadi juga dia sambil membeli makanan dan juga minum sekalian istirahat juga. Fira menatap sekitar dan melihat sinar matahari yang begitu menyeramkan, sangat panas sekali hari ini benar-benar Fira tak kuat.


"Aku harus pergi ke mana lagi, tidak mungkin kan aku melamar kerja sebagai pelayan, umurku ini sudah terlalu tua tidak akan ada yang mau menerima aku. Sulit sekali ternyata mencari pekerjaan di umur segini"


Fira mengelap peluhnya yang mulai bercucuran, dia akhirnya kembali berjalan untuk mencari pekerjaan. Kalau tidak menemukannya lagi Fira akan pulang saja. Besok saja Fira teruskan panas sekali hari ini, nanti tiba-tiba kalau misalnya kulit Fira hitam bagaimana.


Fira tak punya uang untuk perawatan. Fira rasannya ingin menghilang saja kalau ke kehidupannya seperti ini.


...----------------...


"Ayana kita harus segera fitting gaunmu, kita harus cepat-cepat "


"Fitting maksudmu apa"


"Kita akan menikah nanti sore, kita harus bergegas Ayana, agar kita bisa cepat tidur satu kamar "


Ayana sampai menyemburkan makanannya, Ayana tidak tahu kalau pernikahan ini akan dilakukan sore hari ini. Ayana tidak salah dengarkan.


"Kamu yakin pernikahan kita akan sore hari ini, kamu tidak bicara apa-apa padaku kemarin kenapa tiba-tiba kita langsung menikah seperti ini, dan kamu jangan macam-macam jangan aneh-aneh Adnan"


"Aku tidak macam-macam dan aku juga tidak aneh-aneh memang kenyataannya seperti itu. Kamu kan sudah menerima lamaranku, jadi kenapa tidak kita percepat saja pernikahan ini. Aku sudah siap aku sudah menghias segalanya jadi kita tinggal menikah saja nenek juga sudah membantu mengurus segalanya. Kamu tinggal duduk manis saja sayang "

__ADS_1


"Adnan kamu yakin"


"Tentu saja yakin, aku sudah mempersiapkan gaunnya"


"Memangnya kamu tahu ukuran aku berapa"


"Tentu saja aku tahu sayang "sambil menoel dagu Ayana.


"Benarkah, aku ingin tahu benar tidak ukurannya nanti"


Adnan mendekati Ayana dan mencium pipinya "Aku pasti akan benar sayang bagaimana kalau kita taruhan saja"


"Baiklah kita akan taruhan, berarti kalau kamu sampai melenceng kamu mempunyai perempuan lain Adnan sampai-sampai kamu mengingatnya"


"Baiklah sayang aku setuju, kita akan taruhan kalau sampai aku salah dengan ukuran gaunmu nanti aku berani melakukan apapun, tapi kalau aku benar nanti saat malam pertama kamu yang pertama memulai semuanya Ayana "


Ayana langsung mendorong dada Adnan "Kamu ini kenapa mesum sekali, kenapa malah sudah berfikir kesana Adnan "


Ayana langsung menggelengkan kepalanya "Aku tidak mau"


"Tuh kan, kamu pasti ga bener "


"Kamu ini ya adnan, dasar laki-laki mesum. Aku ga mau "


"Ya ga apa-apa mesum juga nanti sama istri sendiri, kalau sama perempuan lain baru kamu marah, gimana mau ga setuju ya Ayana "


Ayana memikirkan dulu baiklah ikuti saja permainan Adnan, toh nanti juga Ayana akan tidur bersama anak-anak saja.

__ADS_1


"Baiklah aku setuju"


"Yes, nanti siang aku jemput lagi jadi kita akan fitting gaunnya dan setelah itu kita langsung pergi ke gedung yang sudah nenek siapkan, pokoknya semuanya sudah selesai kita hanya perlu menikah saja"


Ayana menganggukan kepalanya dengan pelan sebenarnya menurut Ayana ini terlalu cepat pernikahan dirinya dan juga Adnan. Baru saja kemarin malam Adnan melamarnya tapi sekarang tiba-tiba saja sudah aman menikah.


Adnan memang benar-benar ingin menjebaknya, dia membawa dirinya kemari pasti karena ingin cepat-cepat menikah seperti ini kan.


...----------------...


"Fira kenapa pakaianmu sangat kotor, kamu ini habis cari kerja atau udah main lumpur. Kenapa kotor kayak gini pakaian kamu"


Fira menghentakkan kakinya "Tadi Fira jatuh waktu ke sini, Fira tadi saat turun dari angkot jatuh Papi dan ada lumpur jadi kayak gini deg. Kenapa sih papi kita harus pergi ke kota yang jauh kayak gini. Ini benar-benar terpencil banget dan aku harus ke kota tuh ngabisin uang belum lagi harus naik angkutan umum, aku ga betah disini "


"Ya sudahlah kamu harus belajar mulai sekarang berarti hemat dengan uang kamu itu. Dengan uang yang kamu punya gimana kamu udah dapat kerjaan, pasti udah kan "


"Boro-boro dapat kerja yang ada cuman capek, kepanasan dan kelaparan pokoknya hari ini tuh gagal banget Fira ga mau cari kerja lagi. Memang papih ga punya gitu usaha yang lain yang bisa Fira kelola nanti"


"Sayangnya semua yang kita punya sudah tidak ada Fira, hanya rumah ini saja sekarang yang kita punya. Papi sudah tidak punya apa-apa lagi. Kamu kan sudah Papi beri solusi kalau kamu tidak punya pekerjaan terus jadi petani saja, disini banyak kok yang jadi petani "


"Papi tidak sedang main-main kan dengan Fira, apakah papi ingin melihat Fira kotor-kotoran, ingin melihat Fira panas-panasan tadi saja Fira sudah tidak kuat apalagi harus kerja di sawah seperti mereka itu. Fira tidak mau Papih "


"Lalu bagaimana kita akan menyambung hidup Fira. Nanti kalau misalnya kebutuhan bulanan kita habis, bagaimana kalau listrik habis, bagaimana hayo mau dari mana nanti "


Fira mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Apakah Fira harus memikirkan itu semua.


"Papih tahu, tidak ada yang mau menerimaku kerja karena umurku ini aku sudah tidak muda seperti dulu papi, makanya tidak ada yang mau menerima aku. Apa Papih punya kenalan teman yang bisa membantu Fira untuk bekerja "

__ADS_1


"Tidak ada, ponsel Papi sudah Papi jual sih, nomornya semuanya ada di sana. Kamu harus berjuang dari 0 Fira kamu harus semangat ini juga demi hidup kita kan Ya sudah kamu mandi sana gih bau tahu, papih ga kuat "


Fira yang kesel dengan tingkah Papinya yang tenang-tenang saja langsung masuk ke dalam rumah sambil menghentak-hentakkan kakinya. Papinya Fira hanya bisa menahan senyum melihat tingkah anaknya seperti itu, lihat saja akan sampai kapan Fira bertahan.


__ADS_2