
Rio masuk ke dalam kamar putrinya itu, Kamila masih saja murung dia menundukan kepalanya, tidak mau melihat ke arah paman Rio, Kamila hanya diam dipojokan.
"Kamu makan dulu ya Ayah sudah memaksakan ayam crispy untuk kamu, kamu suka kan sayang "
Kamila hanya menggelengkan kepalanya "Aku tidak mau makan sebelum bertemu dengan ayah atau tidak berikan aku pada kakek lagi, aku lebih baik sama kakek. Kamu juga bukannya sibuk bekerja kan aku kesepian aku juga tak mau setiap hari ikut dengan kamu kekantor "
Rio duduk di samping Kamila dan menyimpan makanan yang sudah dia bawa juga di hadapan Kamila, semoga saja dia tergiur dan mau makan "Kakek sedang mengurus mamamu yang sedang sakit. Memangnya kamu tidak tahu kalau mamamu itu sakit apa kamu ingin menambah beban kakekmu itu lagi, kasian dia biarkan dia fokus mengurus Mama kamu"
Kamila langsung menatap ke arah Rio "Ibu sakit apa, bukannya Ibu baik-baik saja, ibu mana mungkin sakit ibu kan sangat kuat seperti nenek sihir "
"Kata siapa, ibu kamu tidak baik-baik saja. Dia sedang sakit mau menemuinya"
Kamila lagi-lagi menggelengkan kepalanya "Untuk apa aku menemui ibu, ibu juga tidak sayang dengan Kamila, ibu pasti akan marah kalau Kamila datang ibu juga pasti akan mengusir Kamila nanti, jadi untuk apa Kamila menemuinya, malah akan membuat sakit hati saja"
"Lalu kenapa ingin pulang ke rumah kakek, di sana kan ada Ibu"
"Tapi aku tidak pernah melihat ibu ada di dalam rumah kakek, dirumah kakek itu hanya ada kakek dan juga pelayan, supir dan satpam sudah tak ada ibu kok"
"Ya karena Ibu ada di dalam kamar, makan dulu ya Ayah minta maaf kalau tadi Ayah berteriak-teriak di hadapanmu dan juga ayah tadi menarik tanganmu seperti itu. Ayah ini tidak mau kehilangan kamu Kamila ayah tadi sungguh sangat ketakutan sekali"
"Iya aku sudah biasa kok mendapatkan teriakan seperti itu, jadi Paman tidak usah khawatir aku akan baik-baik saja. Aku sudah terbiasa dari kecil "
"Memangnya siapa yang selalu berteriak padamu"
"Ibu selalu berteriak padaku, Ibu tak pernah pelan-pelan saat bicara dengan Kamila, pasti akan ada teriakan-teriakan yang ibu lakukan apalagi kalau Kamila ingin terus bersama ibu. Pasti ibu akan berteriak dan itu sangat menyakitkan telinga"
"Adnan tahu"
__ADS_1
"Ayah tahu dan ayah juga sering memarahi Ibu. Tapi tetap saja Ibu tidak pernah mendengarkan apa kata-kata Ayah, mungkin Ibu memang sudah seperti itu suka marah-marah. Ibu tak pernah menurut pada Ayah sangat kasihan sekali ayah "
Rio tidak tahu kalau selama ini Fira selalu marah pada Kamila. Yang Rio lihat Fira selalu baik pada anaknya ini, tapi ternyata Fira hanya pura-pura saja ternyata sungguh pintar sekali perempuan itu menyembunyikannya semuanya darinya.
Bahkan Fira dulu pernah berbicara pada Rio, kalau mereka tak bisa pergi menemui Rio karena Kamila ingin dirumah menghabiskan waktu bersamanya, katanya Kamila tak mau lepas dari nya karena Adnan selalu memarahinya. Berarti selama ini Fira sudah mau mengadu domba dirinya dan juga Adnan dasar perempuan licik dia.
"Kenapa selalu ingin pergi pada Adnan. Kenapa tidak ibumu mungkin meskipun dia selalu berteriak-teriak tapi dia tetap ibu kamu dan menyayangi kamu juga Kamila, mau bagaimana pun kan dia yang melahirkan kamu "
"Karena Ayah tidak pernah marah, Ayah tidak pernah berteriak. Meskipun Ibu adalah Ibuku dia tidak pernah mau didekati oleh aku, lalu untuk apa aku ingin pergi pada ibu yang ada aku hanya akan diusir saja oleh ibu"
Rio diam, berarti mulai sekarang dia harus meniru bagaimana cara Adnan mendekati Kamila. Rio harus bisa tenang dan tidak marah-marah dengan Kamila, pasti nanti Kamila akan baik kan akan sayang padanya akan memanggilnya Ayah.
Rio harus melakukan itu dia tidak mungkin setiap hari harus seperti ini bertengkar dengan Kamila, apalagi dia ini masih kecil bagaimana kalau nanti dia trauma.
"Jika suatu saat nanti Ibu kamu minta maaf, apa kamu masih mau bertemu dengan ibu kamu"
"Jika Paman baik apa kamu akan memanggil paman ayah"
"Tergantung, aku ingin sekolah di tempat dulu lagi di sana. Aku sudah nyaman di sana juga teman-temanku sudah banyak apa bisa kembali, aku ingin kembali kesana lagi "
Rio harus mengesampingkan dulu hal lainnya. Rio harus mengikuti apa kemauan Kamila ya kan, seperti itu yang harus dilakukannya "Baiklah kita akan kembali ke sekolahmu yang dulu. Ayah akan kembali mendaftarkan kamu ke sana, tapi bisakah kamu berjanji pada ayah untuk tidak melakukan hal seperti tadi lagi, itu sangat berbahaya kabur dari sekolah bagaimana jika kamu bertemu dengan orang jahat. Di dunia ini ada orang baik ada orang jahat, bagaimana kalau kamu bertemu dengan orang jahatnya masih untung kamu tadi bertemu dengan orang baik"
"Lalu bagaimana kalau kamu nanti diculik. Memangnya kamu mau nanti dijual. Ayah tidak mau sampai itu terjadi ayah begitu menyayangimu Kamila. Tolong jangan lakukan hal seperti itu lagi, itu sangat berbahaya sekali apalagi nanti kamu nyebrang jalan sana sini"
Kamila menatap ke arah Rio, lalu Kamila menganggukkan kepalanya.
"Janji tidak akan melakukan itu lagi Kamila, Ayah tidak mau sesuatu terjadi padamu"
__ADS_1
"Iya Kamila janji, tapi bolehkah Kamila berbicara dulu dengan ayah, Kamila ingin bicara dengan ayah banyak hal yang ingin Kamila katakan pada Ayah"
"Kita akan menelpon Adnan"
Baru saja Rio mengeluarkan ponselnya sudah ada yang mengetuk pintu rumahnya, dengan sangat kencang. "Sebentar Ayah akan mengecek dulu keluar siapa yang datang"
Rio bergegas pergi dari kamar sang anak, dia membuka pintu ternyata itu istrinya. Rio sudah sangat senang sekali melihatnya tapi istrinya malah memberi sebuah surat "Apa ini "
"Surat perceraian kita, jangan lupa untuk datang ke pengadilan. Aku ingin ini cepat selesai kita akhiri saja hubungan ini, kalaupun diteruskan tidak akan pernah baik"
Rio langsung menyobek kertas itu di hadapan istrinya "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu. Ingat itu aku tidak akan pernah melepaskanmu, apa sulitnya menerima Kamila dia itu anak baik, kamu bisa pura-pura tidak melihatnya kalau memang masih membencinya"
"Aku tidak akan pernah bisa hidup dengan anak hasil dari perselingkuhanmu itu. Aku tidak akan sanggup jadi lebih baik ceraikan aku saja, mau berapa kali pun kamu sobekan surat itu aku akan terus mengirimkannya. Aku ingin semuanya selesai sampai di sini, aku tidak mau terus hidup seperti ini aku ingin menjalaninya sendiri. Terima kasih untuk hari-hari yang pernah kamu berikan meski semua itu dilandasi dengan sebuah kebohongan, tapi aku cukup bahagia hidup denganmu "
Istrinya Rio itu kembali pergi, Rio tidak bisa mengejarnya rasanya Rio lemas sekali, tiba-tiba saja diberikan surat seperti ini kan baru saja Rio akan mengajak istrinya berdamai, Rio ingin kembali Rio tidak mau hubungannya tiba-tiba hancur seperti ini.
"Paman jadikan menelpon ayah aku ingin menelpon sekarang"
Rio menatap Kamila yang menarik-narik kemejanya, Rio menutup pintu dengan perlahan dan berjalan dengan lunglai ke arah kamarnya. Kamila masih diam menatap Paman Rio yang masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya cukup kencang.
"Kenapa dengan paman Rio, padahal aku hanya ingin menelpon ayah saja. Omongan Paman Rio itu ternyata mudah sekali berubah ya Tadi katanya mau meminjamkan aku ponselnya untuk menelpon ayah tapi sekarang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya aku jadi bingung"
Kamila berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dia juga tidak mau mengganggu Paman Rio yang sepertinya sedang marah. Kamila tidak mau menyulut emosinya lagi.
Kamila juga kapok kabur, kakinya pegal sakit sekali, apalagi telapak kakinya lebih sakit lagi, belum lagi tadi panas-panasan dan kepala Kamila juga sakit. Pokoknya itu tidak sangat menyenangkan itu sangat menyiksa.
Benar Kamila tidak akan pernah kabur lagi seperti itu, meskipun tanpa berjanji pada Paman Rio Kamila tidak akan melakukannya lagi, tidak kuat kalau Kamila tidak bertemu dengan kakak baik mungkin Kamila sudah pergi ke mana.
__ADS_1
Kamila tidak tahu jalan, bahkan untuk pulang ke rumah Ayah Adnan saja tidak tahu sungguh sangat aneh Kamila ini tak tahu alamat rumah sendiri.