Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 99


__ADS_3

Mobil Adnan berhenti tak jauh dari pesawat terbang yang siap lepas landas. Ayana awalnya kaget kenapa mereka berhenti di sini. Mereka tidak masuk bandara dulu tapi Ayana juga tidak mau menanyakan hal itu pada Adnan. Ayana tahu Adnan itu orang punya ya pastilah dia bisa melakukan apa saja.


Jadi tak perlu dipertanyakan lagi kan. Ayana hanya cukup diam dan mengikuti apa yang sudah Adnan siapkan. Ayana tak banyak bertanya dan ingin tahu. Adnan bukan siapa-siapanya lagi Ayana harus jaga sikap.


Adnan dan juga Ayana keluar dari dalam mobil, Ayana menggendong Melinda yang tertidur, sedangkan Melisa dibantu turun oleh Ayahnya, ya meskipun tadi Melisa sempat tak mau dan berdebat dengan Adnan.


Melinda tiba-tiba saja terbangun, dia kaget saat melihat pesawat terbang yang begitu besar" Apakah benar kita akan terbang seperti burung ayah, kenapa sangat besar sekali ini, aku tidak tahu kalau pesawat terbang itu akan sebesar ini Ayah" ucap Melinda dengan sangat kagum sekali.


"Tentu saja kita akan terbang seperti burung, Melinda senang kan "


"Tentu Ayah aku sangat senang sekali, kita harus sering-sering naik ini ya. Aku suka terbang seperti burung ayah "


"Baiklah kita akan sering sering, tapi kalau Mama mau "sambil menatap Ayana, tapi Ayana malah membuang pandangannya tak mau bertatapan dengan Adnan.


Pandangan Melinda sekarang teralih pada mamanya "Mama mau kan nanti kita terus terbang, mama juga suka terbang kan ? "


Ayana hanya tersenyum saja, memangnya mereka mau ke mana terus terbang. Ayana juga tak mau memberikan harapan kosong pada anaknya ini. Takut tak bisa menepati nanti anaknya malah kecewa kan.


Adnan menggenggam erat tangan Melisa, tapi Melisa langsung melepaskan tangannya itu dari genggaman ayahnya, sulit sekali tangannya dipegang dengan sangat erat, sudah lepas langsung ditangkap lagi ayahnya ini sungguh sangat menyebalkan sekali.


"Ada apa dengan ayah ini kenapa memegang tanganku dengan sangat erat sekali. Ups maksudnya paman Adnan " Melinda langsung menutup mulutnya, saat dia tadi lupa malah memanggil Adnan dengan sebutan ayah. Keceplosan padahal Melisa tak mau membuat paman Adnan besar kepala.


Adnan tersenyum dan mengejek Melisa "Kalau kamu ingin memanggil Paman dengan sebutan Ayah panggil saja. Kenapa harus malu seperti itu, jangan malu-malu Ayah senang kamu bisa menerima Ayah dengan cepat Melisa "


"Tidak aku tidak mau, dasar Paman jelek lepaskan tanganku ini. Kamu menyebalkan sekali "Melisa mengigit tangan Adnan cukup keras.


"Akhh Melisa kamu kurang ajar ya, sakit sekali aduh" Adnan mengibas-ngibaskan tangannya saking sakitnya karena kelakukan Melisa ini.


Lagi-lagi Melisa menjulurkan lidahnya pada Adnan, lalu Melisa melipat tangannya "Rasakan itu paman, kamu nakal sekali "


"Melisa tak boleh seperti itu minta maaf pada Paman Adnan, lihat paman Adnan kesakitan seperti itu. Kamu tak boleh seperti itu "


Melisa cemberut, mamanya malah menyuruhnya minta maaf, tapi Melisa tak bisa membantahnya "Maafkan aku paman Adnan, aku tak akan menggigit mu lagi, tapi kalau kamu nakal aku akan mengigit mu lagi "


"Panggil aku Ayah "


"Tidak, aku tidak mau. Maafkan atau tidak"


"Tidak akan, sebelum kamu memangil paman dengan sebutan Ayah, baru akan Ayah maafkan "


"Mama "rengek Melisa pada Ayana

__ADS_1


"Adnan "


"Baiklah ayah memaafkan kamu" Adnan pasrah saja, kalau ada Ayana, Adnan tak bisa leluasa untuk mengerjai Melisa yang menyebalkan ini.


Mereka berempat segera masuk, Melisa mau tidak mau harus digandeng lagi oleh ayahnya, Melisa tadi akan kabur tapi tubuhnya sudah ditangkap oleh Ayahnya yang sangat menyebalkan ini .


"Melisa duduk dengan Ayah saja ya, kita harus banyak mengobrol pasti akan sangat menyenangkan "


"Tidak aku ingin dengan Mama, dasar paman menyebalkan. Kalau aku duduk dengan paman yang ada aku malah akan terus dipaksa oleh paman"


Melisa berlari kearah Ayana dan memegang kaki mamanya dengan erat, Adnan mengambil alih Melinda, kasian dari tadi Ayana mengendong Melinda.


"Ayana apakah mau istirahat saja dikamar"


"Emm, tentu boleh kasian juga anak-anak sepertinya mereka sangat mengantuk "


"Baiklah ke sebelah sini "


Adnan membawa Ayana dan kedua buah hatinya itu kearah kamar. Anak anaknya itu langsung naik dan duduk ditempat tidur dengan nyaman.


"Emm, aku akan duduk disana saja. Kalian istirahat saja disini. Kalau butuh apa-apa bisa beri tahu aku"


Melisa mendekati Mamanya dan berbaring didekat mamanya juga " Mama apakah kita tidak akan dibuang oleh Paman Adnan, lihatlah kita sedang terbang seperti ini "


"Kenapa kamu berpikir seperti itu Melisa, mana mungkin Ayahmu tega melakukan itu "


"Iya takutnya kita malah dibuang oleh Paman Adnan, dibawah jauh pergi begitu saja. Memangnya ada apa dengan nenek, kenapa nenek tidak menelpon kita dulu mama. Paman Adnan tidak akan Jahat kan pada kita"


"Tidak akan, paman Adnan akan baik. lebih baik sekarang Melisa tidur saja ya. Nanti kita akan lihat nenek, semoga saja nenek baik-baik saja ya tidak kenapa-napa"


"Emm, baiklah Mama mari kita tidur sama-sama "


"Tentu "


Melisa dan juga Melinda memeluk Mamanya dengan erat, mereka tak mau melepaskan Mamanya, jangan sampai Mamanya pergi dan meninggalkan mereka. Atau dibawa oleh paman Adnan.


...----------------...


Setelah beberapa jam Adnan masuk ke dalam kamar itu dan dia melihat pemandangan yang sangat indah. Ayana dan juga kedua putrinya sedang tertidur dengan lelap. Sekarang sudah jam 03.00 subuh tidak terasa kan, memang itu jam-jam nya mereka tertidur dengan lelap kan.


Melisa tidur dengan tidak beraturan, kakinya ada di bantal sedangkan kepalnya ada didekat kaki Ibunya, bahkan Melisa juga memeluk kaki ibunya itu. Adnan baru pertama kali melihat anak-anaknya tertidur seperti ini.

__ADS_1


Adnan mengeluarkan ponselnya dan memfotonya untuk menjadi kenang-kenangan jadi saat nanti anak-anaknya dewasa Adnan akan memperlihatkannya.


Adnan ingin selalu melihat ini, semoga saja Ayana bisa dengan cepat luluh olehnya. Adnan akan selalu berdoa untuk hal itu.


Adnan naik keatas tempat tidur dan membenarkan tidur Melisa, Melisa sedikit terbangun dan mengerutkan dahinya, tapi saat Adnan memeluknya Melisa tertidur lagi dan menyembunyikan wajahnya di dada Ayahnya itu.


"Kamu ini kebanyakan gengsi Melisa, sebenarnya kamu ini suka kan dengan Ayah dan ingin menempel juga seperti ini "


Adnan mencium kepala anaknya dan mencoba untuk tertidur, Adnan juga sangat mengantuk ingin tidur bersama anak dan juga calon istrinya ini. Ya sebenarnya Adnan tadi bisa tidur dikursi tapi Adnan urungkan, tak enak tidur sendirian kalau seperti ini hangat kan dan nyaman.


...----------------...


"Paman Rio kenapa kamu belum tidur ini sudah sangat malam sekali. Kamu kan besok bekerja"


Rio menatap Kamila yang keluar dari dalam kamarnya dan mendekatinya. Rio segera memangkunya dan mendudukkannya di pangkuannya.


"Ayah tidak bisa tidur, lalu kamu sendiri kenapa terbangun. Apa kamu ingin sesuatu Kamila "


"Aku juga tiba-tiba terbangun entah kenapa. Apakah aku boleh minta susu, aku ingin yang hangat-hangat paman sepertinya akan enak sekali "


"Tentu akan Ayah buatkan kamu disini dulu ya duduk"


Kamila menganggukan kepalanya, Kamila mulai betah tinggal disini, Kamila juga tak mau rewel lagi. Ayahnya sudah tak peduli pasti padannya makannya Ayahnya tak ada datang kemari.


"Ini susunya Kamila "


"Terimakasih paman "


Kamila meniupnya sebentar dan meminumnya dengan perlahan. Kamila kembali menyimpan susunya.


"Apakah Tante pergi karena Kamila paman ? "


"Emm, tidak memang Tante dari dulu ingin pergi dan kebetulan saja dengan kamu yang datang " Rio tak mungkin berkata jujur kan.


"Oh begitu ya, aku kira karena ada aku datang kemari makannya Tante pergi "


"Tidak, tidak ada sama sekali sangkut pautnya dengan kamu Kamila, kamu ingin camilan "


"Tidak, aku ingin susu saja paman. Aku tak mau apa-apa lagi "


Mereka saling diam,Rio juga binggung harus bertanya apa pada Kamila. Tak ada yang perlu dibicarakan juga.

__ADS_1


__ADS_2