
Pintu ruangan Fira dibuka, Fira begitu kaget saat melihat ada Kamila di sana. Jadi Kamila ada di sini. Ini adalah sebuah kejutan yang begitu berharga untuk Fira.
Saat tadi Fira sedang merasakan sakit tiba-tiba saat melihat anaknya rasanya senang dan bahagia sekali, rasa sakitnya teralihkan oleh rasa bahagianya karena melihat Kamila.
"Kamila " gumam Fira
"Ibu ada apa dengan ibu " teriak Kamila sambil berlari ke arah ibunya itu, Kamila juga langsung naik ke atas tempat tidur dan memeluk Fira dengan sangat erat sekali.
Fira meringis kesakitan karena Kamila memeluk tangannya yang sakit. Rio langsung mengangkat Kamila yang sudah menangis sesenggukan melihat keadaan ibunya.
Rio dari tadi memang mengawasi ekspresinya Fira, makanya dia langsung tahu kalau Fira sedang kesakitan dan mengambil anaknya ini.
"Ayah turunkan aku, Ayah turunkan. Aku ingin memeluk Ibu kenapa kamu malah seperti ini, turunkan aku Ayah turunkan"
"Ibu sedang sakit, ibu butuh istirahat kamu tidak boleh memeluk Ibu seperti itu. Nanti kalau Ibu sudah sembuh baru kamu boleh memeluknya, untuk sekarang tahan dulu ya. Ibu sedang sakit sayang "
Rio langsung membawa Kamila keluar dari dalam ruangan terlebih dahulu, agar tidak mengganggu pasien yang lain karena Kamila menangis dengan sangat kencang sekali. Rio takut-takut nanti malah diprotes oleh orang-orang yang ada di sini.
Pasti akan diprotes lah mereka di sini kan mau istirahat, mau menyembuhkan diri yang sedang sakit kalau mendengar suara jeritan anak kecil, menangis seperti ini pasti mereka akan sangat-sangat terganggu sekali.
"Fira kenapa bisa seperti ini "tanya Papinya dengan sedih.
Fira langsung menceritakan semuanya kronologinya seperti apa. Kenapa dia sampai bisa seperti ini, Fira juga tidak tahu siapa yang menolongnya dan membawanya ke rumah sakit atau mungkin yang menabraknya tadi.
Tapi tidak ada orang yang menemuinya ataupun para suster, dokter tidak berbicara siapa yang membantunya. Suster yang tadi juga sudah keluar pamit katanya harus memeriksa pasien yang lain.
"Ya ampun Fira kalau sudah tahu jalan itu rawan kenapa kamu lewat sana, kenapa kamu nggak cari jalan yang lain aja sih. Cari aman dong Fira "
"Iya Papi, Fira yang salah kirain Fira tidak akan terjadi apa-apa, ternyata di luar dugaan malah kayak gini. Fira minta maaf Fira benar-benar nggak tahu akan kayak gini papih "
"Ya sudah yang terpenting kamu selamat, yang terpenting kamu masih bisa hidup Fira. Papih begitu khawatir tadi saat mendapat telepon dari rumah sakit, papih takut kalau kamu parah banget"
__ADS_1
"Fira juga nggak menyangka kalau Fira bakal kecelakaan, tapi untungnya mereka belum apa-apain Fira papih, Fira benar-benar takut sekali "
Papinya langsung duduk dan mengusap kepala anaknya, ternyata di sini banyak orang nakalnya juga dirinya kira di sini akan aman dan baik-baik saja, tak akan ada yang macam-macam ternyata salah.
"Ya udah sekarang kamu fokus aja sama pemulihan kamu ya, lebih baik kamu ambil satu aja pekerjaan. Lihat di sore hari aja kamu bisa kecelakaan kayak gini. Apalagi malam kamu harus mikirin kesehatan kamu keselamatan kamu juga Fira, jangan terus mikirin uang-uang dan uang "
"Gak bisa, Fira harus tetap kerja di dua tempat, mungkin ini lagi hari apesnya Fira aja nanti juga nggak akan kayak gini, Fira akan lebih hati-hati lagi"
"Kamu ini nggak bisa dikasih tahu ini juga demi keselamatan kamu loh. Kamu harus mikirin segalanya Fira pokoknya nanti pikir-pikir lagi deh mau kerja satu tempat atau dua tempat. Tapi menurut Papi lebih baik satu tempat aja itu udah cukup nggak usah maksain diri kamu ini. Sekarang aja udah kayak gini ke depannya nggak tahu kita ini orang baru di sini, kita ga akan tahu nanti akan kejadian apa lagi "
Fira hanya diam saja bingung harus mengikuti apa kata Papinya atau bagaimana. Fira benar-benar mau menabung dan nanti kalau misalnya bisa Fira akan buka usaha, ya siapa tahu Fira bisa kan nanti menjadi orang sukses.
...----------------...
Kamila masih saja menangis, Rio mencoba untuk menenangkannya, Rio tahu bagaimana perasaan anaknya ini. Datang kemari ingin bertemu dengan ibunya dalam keadaan sehat tapi ini malah seperti ini.
"Tenang kamu jangan nangis, tadi ibu juga baik-baik aja kan kalau kamu terus nangis kayak gini nggak akan pernah bisa ketemu sama ibu dong. Yang ada didalam nanti ke berisikan, disini kan banyak orang sakit "
"Tidak ada yang pernah tahu akan terjadi apa pada diri kita, yang terpenting sekarang ibu sudah baik-baik saja kan Ibu sudah tidak apa-apa. Kamila ingin bertemu dengan Ibu tidak atau akan terus menangis seperti ini "
Kamila langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat "Kalau Fira memang ingin bertemu dengan ibu maka berhenti menangis dan terlihatlah bahagia, tersenyum lebar di hadapan Ibu pasti nanti Ibu akan cepat-cepat sembuh "
Kamila langsung mengusap air matanya, dia akan mencoba terlihat baik-baik saja "Apakah sudah siap untuk bertemu dengan ibu, apakah Kamila tak akan menangis lagi "
Kamila menganggukan kepalanya, tanda bahwa dia sudah setuju ingin bertemu dengan sang ibu. Dan Kamila akan menahannya agar air matanya ini tak mengalir.
Rio kembali membawa Kamila masuk kedalam rumah sakit, Rio sesekali melihat Kamila yang mengusap air matanya, lucu sekali anaknya ini kalau menangis karena air matanya ini tidak bisa berhenti keluar.
Saat mereka membuka pintu Kamila langsung turun dari pangkuan ayahnya. Kamila berjalan dengan pelan ke arah Ibunya dan naik kembali ke atas tempat tidur, tapi tidak memeluknya seperti tadi.
Fira tersenyum melihat anaknya ada di sini "Kamu datang kemari untuk bertemu dengan ibu Kamila, ibu senang sekali kamu datang kemari. Ini adalah sebuah kejutan yang begitu membuat ibu bahagia sekali, ibu tidak menyangka akan bertemu dengan kamu dengan cepat "
__ADS_1
Kamila menatap Ibunya dan menganggukkan kepalanya. Kamila mencoba tersenyum di hadapan sang Ibu "Aku ke sini karena ingin cepat-cepat bertemu dengan ibu dan ayah juga sedang libur, makanya kita datang kemari aku sudah rindu dengan ibu aku ingin dipeluk oleh ibu"
Fira merentangkan salah satu tangannya tapi Kamila takut kalau harus memeluk ibunya, takutnya nanti ibunya malah kesakitan lagi seperti tadi.
"Katanya mau dipeluk tapi kenapa sekarang tidak mau"
"Tangan Ibu sedang sakit nanti ibu malah kesakitan lagi, aku tidak mau menyakiti ibu "
"Tidak yang sebelah sini tidak sakit, ayo peluk Ibu. Ibu juga memeluk Kamila "
Dengan perlahan Kamila langsung memeluk ibunya kembali, lagi-lagi Kamila menangis tapi tanpa suara. Fira juga jadi ikutan menangis melihat anaknya yang memeluknya dengan begitu erat.
Untuk pertama kalinya mereka berpelukan seperti ini, ternyata pikiran Fira dulu salah besar. Fira dulu berpikir kalau dia tidak mau direpotkan oleh seorang anak atau dipeluk-peluk atau direpotkan, tapi ternyata hatinya menjadi tenang pikirannya menjadi tenang juga saat dipeluk seperti ini oleh anaknya sendiri.
Fira senang sekali bisa bertemu dengan anaknya, apalagi respon anaknya yang begitu baik, anaknya bahkan langsung memeluknya tanpa ragu-ragu lagi.
Rio dan juga Papinya Fira sama-sama senang melihat ini, mereka sampai terharu melihat Kamila dan Fira yang bisa seperti ini, mereka juga tidak menyangka Fira bisa menerima anaknya.
"Ibu bahagia sekali bisa bertemu dengan kamu sayang, maafkan ibu ya dulu ibu sempat tak suka dengan kamu. Tapi ibu janji ibu akan merubah segalanya ibu akan menebus segalanya, ibu janji tak akan seperti dulu lagi yang egois sekali"
Kamila hanya bisa mengganggukan kepalanya, dia masih menangis dan bahagia bisa memeluk ibunya seperti ini, akhirnya Kamila bisa seperti teman-temannya. Kamila bisa disayangi oleh ibunya seperti ini dan Kamila juga bisa dipeluk seperti ini.
Sekarang Kamila sudah tidak takut lagi akan dimarahi oleh ibunya jika merengek, jika ingin dipeluk Kamila sekarang sudah mendapatkannya semua hati ibunya jadi tak perlu ada yang ditakutkan lagi.
"Apakah ada yang sakit lagi Ibu selain tangan"
Fira mengelengkan kepalanya sambil tersenyum "Tidak ada sayang, hanya tangan saja dalam beberapa hari juga pasti akan sembuh. Nanti kalau sudah sembuh kita bisa main bersama-sama"
"Iya Bu, nanti kita main bersama ya"
"Iya sayang"
__ADS_1
Kembali mereka berpelukan Kamila juga tidak mau turun dari tempat tidur, katanya sudah nyaman dipeluk seperti ini.