
Sudah satu minggu Adnan tidak ada datang ke rumah, bahkan Fabian juga sudah pulang nenek juga sudah pulang. Ayana berpikir kalau Adnan tidak akan kembali lagi padanya, maksudnya tidak menemui dirinya dan juga anak-anak.
Tapi itu akan lebih baik daripada dia menemui anak-anak dan nanti membuat masalah, Ayana akan tenang kalau Adnan tak datang lagi itu bukan salah Ayana kan itu salah Adnan sendiri kenapa tak datang lagi.
Ayana kan sudah memberi kesempatan tapi apa yang terjadi, Adnan tiba-tiba saja tak ada menghilang tanpa ada kabar sedikitpun. Tapi mau apa juga Adnan memberi kabar padanya tak ada gunanya juga kan.
Baru saja Ayana berpikir seperti itu, ponselnya berdering dan terlihat nomor Adnan yang menghubunginya. Panjang umur ternyata.
"Hallo Adnan ada apa "
Melisa yang mendengar mamanya menyebut nama paman Adnan langsung melihatnya, tapi Melisa tidak berani untuk menyela kata-kata dari mamanya. Melisa akan bertanya nanti setelah mamanya beres menelpon saja.
Melisa takut paman Adnan akan menyakiti mama ya. Kasian mamanya ini, Melisa akan selalu melindungi mamanya bagaimana pun caranya itu.
"Kamu di mana Ayana, kenapa aku datang ke butik kamu tidak ada, dan saat aku datang ke rumah juga kamu tidak ada. Kamu sedang keluar sekarang Ayana dengan anak-anak "
Ayana melihat jam tangannya sudah jam 05.00 sore. Memang mereka bertiga tadi jalan-jalan dulu ingin menghabiskan waktu bersama-sama, tidak tahu kalau Adnan akan datang ke rumah dan Ayana juga tidak berharap kalau Adnan akan datang juga jadi Ayana pergi-pergi saja dengan anak-anak.
"Memangnya ada apa sampai-sampai kamu datang ke rumahku, apa ada sesuatu yang tertinggal "
"Aku begitu merindukanmu, eh maksudnya bukan bukan maafkan aku Ayana. Maksudnya aku merindukan anak-anak aku ingin bertemu dengan mereka, aku ingin mendekatkan diri lagi dengan Melisa dan juga Melinda. Aku ingin bermain dengan mereka berdua, aku ingin dekat dengan meraka, aku juga ingin mereka tak takut dengan aku Ayana "
"Sebentar lagi aku akan sampai di rumah, kamu tunggu saja di sana. Tak akan lama kok "
"Memangnya kamu di mana. Biar aku jemput saja ya, aku akan segera menyusul kamu dan juga anak-anak"
"Tidak usah, aku sebentar lagi juga sampai tunggu saja di situ aku tidak akan lama mungkin 10 menit 15 menit kami sampai di rumah, jangan menyusul kemari makin lama nanti "
"Baiklah, aku akan menunggu "Adnan pasrah saja kalau dia memaksa takut nanti Ayana marah-marah dan tidak membolehkan Adnan untuk bertemu dengan anak-anak "Kamu jangan jajan di luar dan jangan membeli apa-apa, aku sudah membelikan makanan kesukaanmu dan juga anak-anak segeralah sampai kita makan sama-sama disini ya dirinya "
"Hemm, baiklah "
Ayana langsung mematikan sambungannya, bingung apakah makan bersama-sama seperti itu tidak akan terjadi kecanggungan. Ayana benar-benar masih aneh saja kalau bertemu dengan Adnan dan juga berbicara dengannya.
Meskipun mereka sempat mempunyai hubungan yang sangat dekat sekali, tapi tetap saja Ayana merasa asing sekarang dengan Adnan, meskipun sudah mencoba untuk menerimanya tetap saja Ayana harus mencoba lagi dari awal Ayana benar-benar trauma dengan apa yang terjadi waktu itu.
Jadi Ayana harus benar-benar mengenal kembali Adnan untuk anak-anak. Ayana tak mungkin melepaskan anak-anak begitu saja dengan Adnan, takut Adnan melakukan sesuatu saja nantinya.
...----------------...
Adnan tersenyum senang saat melihat Ayana yang berjalan bersama kedua putrinya. Adnan langsung merentangkan tangannya untuk menyambut kedua putrinya, tapi hanya Melinda yang berlari ke arahnya dan berteriak memanggilnya.
Melinda sangat peka dan sangat baik sekali, padahal mereka jarang bertemu tapi Melinda langsung mau bersamanya dan tak perlu banyak drama lagi.
"Paman kamu disini, paman sudah lama ya kita tidak bertemu, kenapa apa banyak pekerjaan Paman "
Sambil masuk ke dalam pelukan Adnan, Melinda tentu saja membahas pelukan itu. Kalau untuk Melisa Adnan tidak memaksa Melissa untuk melakukannya, Adnan tahu Melisa itu masih tak suka dengannya.
Adnan langsung menggendong Melinda dan mencium pipinya yang gembul "Semangat sekali Melinda ini, habis dari mana sih sepertinya habis senang-senang ya. Seru kayaknya nih. Iya paman lagi banyak pekerjaan tapi sekarang sudah tak banyak lagi "
"Benar Paman kami ini habis jalan-jalan bersama mama, menghabiskan waktu bertiga kapan-kapan Paman ikut ya, pasti akan sangat senang sekali paman aku jamin itu "
"Tentu saja nanti kapan-kapan Paman akan ikut dengan kalian, paman ingin tahu bagaimana main dengan anak kembar yang mengemaskan ini "
"Bagus paman, aku akan menunggu janji paman itu paman harus minta izin dulu dengan Mama"
Adnan menatap Ayana yang diam saja"Ayana maafkan aku atas hal yang telah aku lakukan, aku telah menyinggung mu, minggu lalu aku minta maaf padamu aku tak akan melakukan hal seperti itu lagi "
"Sudah berlalu juga untuk apa kamu minta maaf. Yang sudah terjadi biarkan terjadi saja. Aku juga sudah lupa dengan kejadian itu, toh hanya masalah kecil saja kan bukan masalah yang besar dan harus dibahas juga "
Ayana menuntun tangan Melisa dan mereka masuk ke dalam diikuti oleh Adnan yang masih menggendong Melinda. Harus terbiasa kan dengan kehadiran Adnan mulai sekarang.
Ayana akan belajar demi anak-anaknya, demi kebaikan mereka Ayana harus bisa menerima semua ini dan tidak boleh egois. Ayana harus melupakan masa lalu itu Ayana pasti bisa.
"Ayo turun mandi dulu bersama kakakmu Melinda "
__ADS_1
"Baik Mama, Paman tolong turunkan aku, aku harus mandi apa paman tak mencium bau keringatku ini "
"Emm, tidak kamu masih wangi makannya paman betah memeluk kamu seperti ini "Adnan langsung menurunkan Melinda, Melisa langsung menggandeng tangan adiknya masuk ke dalam kamar dan mengambil handuk, lalu mereka masuk ke dalam kamar mandi.
Adnan sungguh takjub melihat anak-anaknya yang mandiri seperti itu, maksudnya benarkah mereka bisa mandi sendiri.
"Ayana apa kamu yakin mereka bisa membersihkan dirinya sendiri, apa tidak perlu ditemani biar aku temani mereka berdua ya. Aku takut mereka akan butuh bantuan nanti "
"Tidak usah mereka sudah terbiasa seperti itu. Aku sudah mengajarkan pada mereka berdua untuk selalu mandiri. Nanti kalau mereka butuh bantuan, mereka akan memintanya. Jadi kalau kamu ikut masuk ke dalam kamar mandi yang ada mereka akan malu, kamu duduk saja tak akan lama kok mereka mandinya"
"Baiklah aku akan menunggu saja kalau begitu "
Adnan duduk di tengah-tengah, dia menunggu anak-anaknya untuk keluar dari dalam kamar mandi. Sedangkan Ayana menyiapkan meja makan kecil itu dan juga beberapa piring, mangkok, gelas dan juga air putih tak lupa kopi untuk Adnan.
"Maaf jika kopinya bukan kesukaan kamu. Aku hanya ada kopi instan seperti ini "
"Iya tak masalah Ayana, terimakasih "
Adnan juga sudah menyimpan makanan yang tadi dia beli dan Ayana segera mengambilnya menyajikan semuanya di meja makan. Ayana melihat banyak sekali makanan kesukaannya.
Adnan memang tahu tentang semua apa yang dia suka, tapi sayangnya sekarang Ayana tidak peduli. Mungkin dia dulu akan berbunga-bunga dan senang sekali diperhatikan oleh pacarnya.
Tapi sekarang rasa itu tak ada, ya biasa-biasa saja tak seperti dulu yang langsung tersenyum dengan lebar dan menganggap kalau Adnan begitu baik dan juga perhatian padannya.
"Apakah kamu tidak ada pekerjaan, sampai-sampai kamu bisa meluangkan waktu untuk datang kemari. Aku tahu pekerjaan kantor kamu itu sangat banyak sekali apalagi kamu harus mengurus cabang-cabang yang lain "
"Semuanya sudah selesai Ayana, aku sudah melakukan beberapa meeting dan aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan kalian bertiga. Aku ingin selalu dekat dengan kalian. Aku ingin anak-anak segera tahu kalau aku ini Ayahnya, ya meskipun Melisa sudah tahu tapi dia belum bisa menerima aku kan "
Ayana tidak menanggapinya lagi, Ayana fokus kembali menyusun makan makanan itu yang belum sempat dia tadi buka, anak-anak juga sudah selesai mandi dan berpakaian.
Melinda langsung duduk di pangkuan Adnan, sedangkan Melisa hanya diam menatap Melinda yang duduk bersama ayahnya. Adnan ingin menarik tangan Melisa untuk duduk juga di pangkuannya tapi tak jadi jangan membuat masalah, Adnan tak mau suasana yang tenang ini nanti menjadi tegang.
"Ayo makannya sudah dihidangkan, kita makan sekarang pasti kalian sangat lapar sekali kan tadi jalan-jalan terus"
"Tentu Mama. Ayo paman adnan kita makan, kamu membawa banyak makanan seperti ini, aku sudah tak sabar ingin memakannya" ajak Melinda dengan sangat bahagia sekali. Memang kalau tentang makanan Melinda akan sangat semangat sekali.
"Tentu, paman akan makan. Kamu juga ya makan yang banyak ini makan udangnya "
"Iya paman, lain kali Paman kalau mau beli makanan jangan terlalu banyak ayamnya, karena kami di sini suka makanan laut seperti ikan, udang, kepiting yang seperti itu sangat enak paman"
"Melinda tidak boleh seperti itu "tegur Ayana
Melinda tersenyum "Iya Mama maaf. Melinda hanya mengingatkan Paman saja, Paman harus tahu makanan kesukaan kita di sini mama, agar paman tak membeli banyak makanan terlalu banyak seperti ini. Nanti uang Paman habis. Seperti apa yang Mama bilang jangan boros harus membeli apa yang kita butuhkan saja "
"Iya nanti paman akan bawa yang penting saja, kenapa kamu ini sangat pintar dan mengemaskan sekali, rasannya paman ingin memakan pipimu yang gembul ini sangat mengemaskan sekali "
"Jangan paman, nanti pipiku tak cantik lagi"
Adnan tersenyum dengan tingkah anaknya ini. Ingin rasanya setiap hari seperti ini, pasti akan sangat menyenangkan sekali kan.
Melisa dari tadi diam saja fokus pada makanannya. Diam duduk dengan kalem, merasa kalau anak ini berbeda saja tidak seperti yang pertama Adnan temui. Dia sangat cerewet, banyak sekali tingkahnya bahkan galak.
Tapi saat ada dengan mamanya Dia sangat berbeda sekali apakah ini sifat asli Melisa ? Tapi tak mungkin pasti Melisa sana seperti Melinda yang cerewet, tak mungkin mereka berbeda kan.
Makan malam mereka akhirnya selesai juga, meskipun tidak banyak pembicaraan, yang dari tadi berbicara hanya Adnan juga Melinda. Melisa hanya diam saja diam seperti bungkam dan tidak mau berbicara dengan Adnan.
Ayana membereskan sisa makanan dan membawanya ke arah dapur, anak-anaknya membawa piring kotor yang habis mereka gunakan tadi, sedangkan Adnan dengan inisiatifnya sendiri membawa sisa-sisanya dan membantu Ayana dan juga anak-anak membereskan semuanya.
Tak mungkin kan Adnan diam saja dan membiarkan Ayana serta anak-anaknya beres-beres sendiri sungguh tega kalau begitu dirinya ini. Bukannya suka Ayana padannya malah akan menjauhinya nanti.
Mungkin kalau anak-anak tinggal bersamanya, anak-anaknya ini akan manja seperti Kamila, Adnan bersyukur anak-anaknya dididik dengan sangat mandiri oleh Ayana seperti ini.
Adnan tidak mau anak-anaknya seperti Kamila yang tergantung dengan segala hal, memang itu kesalahan Adnan karena memanjakan Kamila dengan terlalu banyak.
Seharusnya Adnan juga mengajarkan kemandirian kan pada Kamila. Adnan berpikir waktu itu kalau Kamila masih kecil dia harus dimanja dan diberikan apapun yang dia mau, tapi setelah melihat sifat Kamila yang sekarang Adnan merasa sangat bersalah sekali. Seharusnya Adnan tak melakukan itu.
__ADS_1
Apalagi neneknya suka memanjakan Kamila juga, tapi Adnan berdoa semoga saja sekarang Kamila bisa mandiri bersama Rio, Rio bisa membuat Kamila menjadi anak yang mandiri dan tidak manja.
"Mamah Melinda akan membantu Mama untuk mencuci piring ya " sambil merentangkan tangannya agar segera dibantu naik oleh mamanya.
Ayana langsung menggelengkan kepalanya "Tidak boleh, lebih baik sekarang kamu bermain bersama kakak dan juga Paman Adnan, kasihan Paman Adnan pasti butuh teman untuk mengobrol" Ayana tahu kalau anaknya ini hanya ingin bermain air saja bukan semata mata ingin membantunya.
"Baiklah Mama, Melinda akan mengikuti kata-kata Mama saja "Melinda berlari bersama Kakaknya.
Adnan yang masih ada di sana memberikan sisanya pada Ayana "Apa yang perlu aku bantu Ayana apa ada sesuatu yang harus aku bantu, aku bantu mencuci piring ya "
Ayana melihat ke arah bekas mereka tadi makan meja belum dilipat, daripada Adnan membantunya di sini lebih baik suruh melipat meja saja kan. Ayana tak mau berduaan dengan Adnan.
"Maaf bisa kamu lipat meja itu Adnan nanti kamu simpan di ujung, sudah tidak ada lagi yang perlu kamu bantu biar aku yang mencuci piring setelah ini kamu temani anak-anak saja. Dekati mereka bukannya kamu datang kemari untuk mendekati mereka kan, maka cobalah untuk mengambil hati mereka apalagi hati Melisa, dia akan sedikit sulit. Melisa sudah menyimpan rasa tidak suka dengan kamu, coba kamu buat Melisa luluh "
Adnan benar-benar mengikuti instruksi dari Ayana, dia ingin terlihat kalau dia adalah suami yang baik untuk Ayana dan juga ayah yang baik untuk Melisa dan juga Melinda.
Ayana melihat Adnan sudah menyimpannya" Tolong masukkan lebih dalam lagi agar tak jatuh nantinya, anak-anak selalu main sekitar sana "
Adnan kembali lagi dan menyelipkannya lebih dalam lagi, benar kalau tidak diselipkan akan jatuh. Ayana begitu teliti Adnan makin suka saja dengan Ayana. Rasannya Adnan ingin memeluknya dengan erat sekali. Tapi Adnan tak mau membuat Ayana marah dan malah mengusirnya nanti.
Adnan melihat suasana rumah, sangat nyaman sekali, meskipun rumahnya kecil tapi Adnan nyaman ada disini. Apalagi ada keluarga kecilnya kalau pun nanti Ayana ingin tinggal disini saat sudah kembali lagi padanya Adnan tak masalah, Adnan akan langsung setuju yang terpenting selalu bersama-sama.
Adnan juga tak masalah nanti bolak balik pulang ke perusahannya. Adnan akan melakukan itu demi kenyamanan Ayana, Ayana kan tidak mau kembali lagi kesana.
Adnan melihat kedua putrinya yang sedang bermain, Melisa sedang bermain dengan rumah-rumahan Barbie nya, tak lupa Barbie nya yang dia tidurkan di tempat tidurnya.
Lalu Melinda yang sedang menyisir rambut Barbie nya, sungguh lucu sekali nanti Adnan akan memberikan banyak mainan untuk anak-anaknya ini. Terutama boneka Barbie akan Adnan banyakan sepertinya anak-anaknya ini suka Barbie kecil seperti itu.
Adnan kembali dibuat kagum oleh anak-anaknya, biasanya anak-anak lain akan memberantakkan semua mainannya ya contohnya Kamila bukannya Adnan mau membanding-bandingkan Kamila dengan anak-anaknya.
Memang kalau di rumah Kamila sedang bermain semua mainan di berantakan, dari boneka mainan masak-masakannya pokoknya semuanya yang dia beli akan dikeluarkan dan hanya salah satu yang dia mainkan.
Tapi semuanya harus terlihat berantakan, tapi anak-anaknya ini hanya mengambil apa yang akan mereka mainkan. Padahal Adnan lihat mainan anak-anaknya banyak.
Adnan yang mempunyai kesempatan untuk mendekati ibunya mendekati Ayana, ini sebuah kesempatan emas kan, Ayana masih mencuci piring "Biar aku bantu bilas ya, kamu istirahat saja ya "
"Jangan kamu lebih baik main saja dengan anak-anak, tadi kan aku sudah bilang kamu dekati mereka dulu saat dirumah seperti ini, aku bisa kok melakukannya sendiri sebentar lagi juga akan beres ini "
"Tapi anak-anak sedang sibuk dengan mainannya sendiri, aku tidak bisa tiba-tiba menerobos dan ikut main dengan mereka nanti mereka akan marah padaku Ayana. Aku takut mereka malah makin tidak mau denganku "
Adnan harus banyak alasan agar bisa mendekati Ayana lagi, selain mendekati anak-anaknya Adnan juga ingin mendekati ibunya juga kan ya sekalian saja, biar mereka bertiga luluh berbarengan oleh Adnan.
"Oh ya, besok aku antarkan kalian ke sekolah ya. Aku ingin mengantarkan kalian tak apa sekali ini saja ya Ayana, aku tak akan banyak bicara sama kamu aku akan duduk manis saja"
Sebenarnya Adnan ini ingin mendekati anak-anaknya atau hanya ingin mendekati Ayana saja, benar-benar bingung Ayana dengan Adnan yang datang kemari katanya ingin bertemu dengan anak-anak tapi dia terus saja mendekati dirinya.
"Apakah setelah ini kamu akan bekerja Adnan"
Inginnya sih berbohong, tapi Adnan tidak mau memulai sesuatu dalam kebohongan Adnan harus jujur pada Ayana agar Ayana percaya padanya "Iya setelah ini aku bekerja agar aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan kalian bertiga. Aku ingin selalu dekat dengan kalian, aku akan bekerja keras untuk bisa selalu dengan kalian bertiga "
"Kalau begitu pulanglah, jangan terlalu larut di sini. Tidak baik kamu begadang setiap hari dan kamu juga harus selalu peduli pada Kamila jangan menelantarkannya begitu saja, karena ada Melisa dan juga Melinda pasti Kamila akan sedih "
"Ayana kamu sedang tidak mengusirku kan, aku sudah tidak tinggal bersama Kamila lagi, itu anaknya Rio aku sudah tahu semuanya Ayana. Aku sudah memberikan hak asuh Kamila pada Rio, dia sendiri yang mau aku tak bisa melakukan apa-apa karena Rio adalah ayahnya"
Ayana menatap Adnan sekilas, lalu menggelengkan kepalanya "Aku tidak mengusirmu, aku hanya tak mau nanti akan membebani kamu. Aku tahu kamu ingin bertanggung jawab pada anak-anak tapi kamu juga harus bertanggung jawab pada perusahaan pada Kamila juga. Meskipun kamu sudah tahu Kamila bukan anak kamu, tapi kamu harus dengan perlahan melepaskannya kamu tidak bisa langsung memberikannya pada Rio"
"Kamila tidak tahu apa-apa, dia masih kecil dia hanya tahu kamu ayahnya dan aku tidak mau membuat hati anak kecil itu berpikir yang tidak-tidak. Dia akan sakit hati Adnan dengan apa yang kamu lakukan, kamu harus selalu memperhatikannya. Nanti kalau sudah dewasa pun dia akan mengerti kamu tidak boleh tiba-tiba meninggalkannya. Kasihan Kamila masih butuh kasih sayang"
"Tapi untuk sekarang anak-anakku adalah prioritas utamanya. Aku ingin fokus pada mereka. Aku sudah memberikan Kamila pada ayah kandungnya dan Rio juga sepertinya tidak mau kalau aku terlalu dekat dengan Kamila, dia ingin mendekatkan dirinya dengan anaknya itu. Aku tidak mau kalau Kamila terus tergantung pada aku Ayana "Sebenarnya prioritasnya bukan hanya anak-anaknya saja, tapi Ayana juga adalah prioritas utamanya.
Adnan tak habis fikir padahal Kamila adalah anaknya Fira tapi Ayana seperti tak masalah, Fira adalah orang yang telah melukainya.
"Kamu tak benci dengan Kamila Ayana "Adnan begitu penasaran dengan jawaban dari Ayana.
"Tidak, kenapa aku harus benci pada Kamila, yang punya salahkan ibunya lalu kenapa harus membencinya, dia tak tahu apa-apa jadi aku tak ada alasan untuk membenci anak kecil seperti Kamila "
__ADS_1
Adnan menganggukan kepalanya, benar juga Adnan suka pemikiran Ayana yang seperti ini tak membawa-bawa orang lain.