
Sudah dua minggu berlalu tapi keberadaan Ayana dan juga kedua putrinya belum ditemukan. Adnan yang baru saja keluar dari ruang meeting segera melonggarkan dasinya dari tadi dia marah-marah pada setiap karyawan.
Tidak peduli apa masalahnya. Adnan begitu kesal keberadaan Ayana kenapa begitu sulit untuk ditemukan. Kenapa Ayana begitu pintar sekali saat bersembunyi seperti ini.
Adnan masuk ke dalam lift yang memang dikhususkan hanya untuknya saja bersama Marco yang setia mengikutinya dari belakang "Kamu ini bagaimana kenapa sudah dua minggu tapi belum menemukan juga Ayana. Lalu yang anak buahmu lakukan itu apa, apa yang mereka temukan aku ini membayar mereka ya. Aku sudah mengeluarkan uang dengan sangat banyak sekali "
"Mereka hanya menemukan kalau Nona Ayana pergi ke sebuah stasiun kereta api, tapi tidak ada yang tahu dia berangkat kemana Pak. Tapi aku sudah menghubungi Lili dan dia sudah mau bertemu dengan Bapak dia juga sudah menunggu disebuah restoran "
Adnan hanya menganggukan kepalanya saja, dia masuk ke dalam mobil memikirkan bagaimana nasib kedua putrinya itu, apakah mereka makan enak, apakah mereka tidak kekurangan dengan keadaan Ayana yang seperti itu, sungguh rasa bersalah Adnan makin besar karena adanya kedua putrinya itu pasti Ayana sangat kesulitan sekali.
Adnan tahu Ayana adalah perempuan kuat, tapi apakah dia bisa kuat dalam menghadapi situasi yang sudah kacau lalu tiba-tiba mengandung dan melahirkan dua anak sekaligus. Apakah dia akan sanggup, apakah Ayana mengurusnya dengan sangat baik.
"Pak kita sudah sampai"
Adnan membuka jasnya dan melemparnya begitu saja, rasanya sesak sekali. Adnan masuk ke restoran itu dan diantarkan oleh pelayannya ke ruang privat dan sudah ada Lili yang menatapnya dengan benci, tapi tidak peduli Adnan butuh sesuatu dari perempuan ini.
Kenapa Lili bisa kemari tentu saja dengan ancaman Adnan. Adnan akan melakukan apa saja agar bisa bertemu Ayana dan juga kedua putrinya itu. Adnan tak akan pernah tenang kalau belum bertemu dengan mereka.
Adnan begitu stres memikirkan semua ini. Bahkan dia jarang tidur. Pagi hari mengurus Kamila, mengantarkannya sekolah, lalu pergi ke kantor mengerjakan tugas yang banyak pokoknya jam tidurnya sudah sangat berantakan sekali. Adnan juga tidak mempekerjakan orang terlalu banyak di rumah itu.
Adnan tidak mau terlalu banyak orang saja. Ingin selalu tenang dan mengigat kembali kenangannya bersama Ayana. Saat mereka sedang bahagia-bahagianya.
"Kenapa setelah sekian lama Pak Adnan baru mencari Ayana, apa baru sadar kesalahan bapak itu. Kenapa bapak sangat telat sekali sadarnya "Lili langsung berkata seperti itu, saking Lili sudah kesalnya dengan mantan bosnya ini.
Adnan menatap tajam Lili, Adnan tidak suka dengan pertanyaan lili itu "Itu bukan urusanmu mau aku sekarang mencarinya, mau aku dulu ataupun kapanpun itu sekarang katakan di mana Ayana, dimana keberadaannya "
__ADS_1
Lili dengan acuh mengangkat bahunya, bahkan Lili membuang pandangannya. Tidak mau bertatapan dengan Adnan. Adnan yang kesal langsung menggebrak meja "Aku ini sedang berbicara denganmu maka tatap mataku ini, jangan mentang-mentang perempuan aku tak akan berani untuk melukai kamu "
Lili melipat tangannya dengan kesal nyalinya sekarang jadi ciut juga "Baiklah apa yang ingin bapak tanyakan pada saya, sampai-sampai saya harus diancam oleh asisten Bapak yang terhormat itu. Sungguh memalukan sekali "
"Sepertinya aku tidak usah mengulangi kata-kataku lagi, kamu tidak tuli kan, telingamu masih baguskan"
"Aku tidak tahu di mana Ayana. Aku sudah lama tidak bertemu dengan Ayana bahkan saat dia pergi aku sudah tidak berkomunikasi lagi dengan Ayana, gara-gara kamu aku kehilangan seorang teman, gara-gara kamu aku kehilangan seseorang yang baik padaku. Sekarang baru menyesal kan setelah dia pergi jauh dari mu" jawab Lili dengan marah dan dengan berapi-api. Tapi itu tidak membuat Adnan takut.
"Benarkah kamu tidak tahu apa-apa bukannya teman baik, masa teman baik tidak tahu dimana temannya itu. Berarti kamu memang tak dianggap teman oleh Ayana "ejek Adnan.
Lili langsung menggebrak mejanya "Tahu apa kamu tentang pertemanan aku dan Ayana jadi jangan memancing emosiku. Meskipun aku tahu aku tidak akan pernah memberitahu semua hal pada bapak, aku tidak akan membocorkan di mana Ayana. Rasakan saja sekarang kenapa Bapak membuat Ayana kecewa, mengusirnya begitu saja tanpa mendengarkan dulu penjelasannya. Aku muak dengan sikap bapak yang seperti itu memang Bapak itu punya segalanya tapi Bapak tidak bisa melakukan itu kepada Ayana. Bapak itu laki-laki pengecut "
"Memang harta itu bisa membuat orang sombong ya, aku meskipun tahu tidak akan memberi Bapak. Sudah aku tidak akan pernah mau bertemu dengan Bapak lagi cukup sampai di sini pertemuan kita. Aku tidak akan pernah mau memberikan informasi apapun pada bapak. Meskipun aku akan diancam dibunuh pun aku tidak akan pernah mau. Bapak memang pantas ditinggal oleh Ayana. Bapak tidak cocok dengan Ayana"
Lili segera keluar dari ruang itu, tidak peduli pekerjaannya akan hancur, apapun yang dirinya lakukan akan hancur, yang terpenting Lili sudah mengeluarkan unek-uneknya yang tersimpan sejak 5 tahun yang lalu dan sekarang Lili keluarkan semuanya, meskipun tadi sempat takut dan ragu.
Adnan yang kesel mengacak-ngacak makanan yang ada di meja itu. Adnan kesal sekali dengan Lili yang berani membentaknya. Padahal dia bertanya baik-baik tapi malah dijawab seperti itu. Adnan keluar dari ruangan itu dan membuang dasinya yang seperti mencekik saja dan masuk lagi ke dalam mobil bahkan sampai membanting pintunya.
"Kita pulang sekarang, cepat "
"Baik Pak"
Marco juga tidak bertanya apa-apa. Dia hanya diam saja karena tadi juga Marco melihat kalau Lili keluar dengan muka yang merah dan sepertinya mereka tadi bertengkar di dalam.
Marko tidak mau terlalu ikut campur dan bertanya pada Lili apa yang terjadi, yang anda malah nanti Marco terkena semprot tahu sendiri kan wanita kalau sudah marah semuanya akan terbawa.
__ADS_1
...----------------...
Adnan pulang ke rumah sudah melihat Kamila yang sedang belajar di lantai, dengan buku-buku yang berantakan dan mencoba untuk merubah raut wajahnya menjadi senang dan tidak marah-marah lagi seperti tadi.
Adnan tidak mau melampiaskan semua kemarahannya ini pada anaknya, yang ada nanti Kamila tak akan mau bersamanya, tidak akan betah bersamanya. Sampai kapanpun Adnan tidak akan melepaskan Kamila, tidak akan memberikan gak asuh pada ibunya karena ibunya itu gila.
"Selamat sore anak ayah"sapa Adnan dengan suara yang lembut.
Kamila yang mendengar suara Ayahnya langsung melepaskan pensil yang sedang dia pegang, lalu berlari dan memeluk kaki Ayahnya "Ayah aku rindu sekali pada Ayah, sini lihat Kamila sedang menggambar. Kamila diberi tugas untuk menggambar bunga, lihat Ayah apakah sudah bagus gambar Kamila ini "
Adnan mengikuti langkah kecil anaknya itu, lalu duduk dan melihat gambar anaknya. "Ini sudah cukup bagus hanya saja belum rapi. Ayah yakin nanti juga kamu akan menggambar dengan rapi, ini kan baru belajar jadi tidak masalah. Bagaimana apakah kamu senang sekolah di sana apakah teman-temannya baik, tak ada yang nakal kan sama kamu sayang "
"Tentu Ayah mereka sangat baik sekali. Aku senang banyak teman seperti itu. Apalagi Ibu gurunya juga baik mereka pokoknya baik-baik semua tidak ada yang nakal, aku sudah punya 4 teman dekat Ayah "
"Baguslah Ayah suka mendengarnya sayang. Ayah bahagia sekali kamu bisa bermain dengan mereka. Kapan-kapan ajak mereka main. Lalu apakah ada PR yang lain selain menggambar"
Kamila mengambil tasnya dan mengeluarkan bukunya lagi "Ada Ayah ini pr-nya, aku harus menambah-nambah kan angka-angka ini"
"Ya sudah kamu kerjakan dulu ya. Ayah mau ke kamar dulu dan membersihkan badan Ayah dulu. Setelah itu Ayah akan kembali lagi, Ayah tak akan lama kok sayang "
"Baiklah Ayah "
Kamila kembali fokus pada pekerjaan rumahnya. Adnan sendiri sudah menghilang dan masuk kedalam kamarnya itu.
Sebenarnya sangat lelah, Adnan ingin istirahat menutup matanya ini, tapi ada Kamila yang harus diperhatikan, yang harus Adnan urus tidak mungkin Adnan langsung tidur dan meninggalkan Kamila sendirian seperti itu.
__ADS_1
Adnan tidak mau membuat Kamila kecewa seperti ibunya. Adnan tidak mau Kamila menjadi anak yang pendiam dan juga takut dengan dirinya. Adnan ingin Kamila menjadi anak yang selalu ceria dan menceritakan apapun itu pada Adnan tanpa ragu lagi.