
"Fira kenapa kamu sudah memakai seragam, jangan dulu pergi bekerja sudah diam saja dirumah. Uang juga masih ada jangan memasakan diri kamu untuk berangkat bekerja "
Fira menatap ayahnya sekilas "Fira sudah baik-baik saja. Fira sudah bisa bekerja papih, belum lagi kita harus membayar hutang kan, kita kan udah pinjam uang saat berobat, Fira tidak mau menumpuk hutang, Fira ingin segera menyelesaikannya. Apalagi bukan uang yang kecil papih "
"Sudah nanti papih akan bantu kamu melunasinya, lebih baik sekarang kamu istirahat lagi di dalam kamar tidak usah memaksakan untuk bekerja. Kenapa sih kamu susah sekali untuk dibilangin, padahal ini demi kesehatan kamu sendiri "
Fira mendekati Papinya "Bukan begitu. Fira harus tetap bekerja Ayah, nanti kalau misalnya Fira tidak bekerja yang ada Fira akan dipecat di mana lagi Fira akan mendapatkan kerja, pekerjaan itu sangat sulit Fira dapatkan, papi tolonglah mengerti Fira sudah baik-baik saja Fira juga harus kembali mengumpulkan uang. Fira kalau diam dirumah juga tak enak "
"Jangan pikirkan itu, semuanya akan baik-baik saja, kita akan menyicilnya kan. Kita akan sama-sama menyicilnya "
Sebenarnya Papinya Fira ingin berbicara semuanya pada anaknya, tapi rasanya ini belum saatnya nanti kalau Fira tau yang sebenarnya pasti dia akan sangat marah besar, kalau ternyata mereka itu tidak bangkrut mereka tuh masih punya segalanya.
Takutnya anaknya akan kembali seperti semula, dirinya tak akan pernah sanggup kalau Fira kembali seperti dulu lagi. Dirinya juga yakin Fira belum sepenuhnya melupakan Adnan.
"Iya memang kita menyicilnya. Tapi tetap saja harus punya uang Papih aku kerja ya, papih tenang saja aku akan baik-baik saja tak akan ada yang terjadi dengan aku ini "
"Kamu sudah yakin Fira, papi tak mau kamu nanti malah makin sakit "
"Iya aku udah yakin kok aku harus pergi kerja, aku juga cuma ambil satu pekerjaan kok papi bisa tenang. Fira akan membatasi dulu nanti kalau memang sudah sembuh seutuhnya Fira akan bekerja di dua tempat lagi. Fira tidak bisa mengikuti apa kata-kata Ayah untuk mengambil salah satu"
__ADS_1
Akhirnya Papinya Fira membiarkan anaknya itu untuk pergi bekerja, mau ditahan pun sepertinya Fira tidak akan pernah mau. Fira akan terus berangkat Fira itu keras kepala seperti dirinya sama tidak ada bedanya.
"Maafkan papih nak, Papi telah membohongimu tapi ini demi kebaikanmu, ini demi kamu yang bisa berubah menjadi lebih baik. Papi tidak mau kamu terus menjadi Fira yang dulu Fira yang angkuh, Fira yang sembrono dan mau segalanya"
Papihnya Fira menatap anaknya yang sudah pergi, padahal jalannya masih belum benar tapi Fira memaksakan dirinya seperti itu.
...----------------...
Saat mereka sampai di depan gerbang rumah, Adnan melihat ada kedua orang tuanya Ayana, lagi lagi mereka muncul. Adnan sebisa mungkin untuk tenang Ayana juga wajahnya sudah pucat, Ayana begitu takut dengan orang tuanya ini.
Saat sudah ada di dalam rumah dan gerbang juga sudah ditutup Adnan menyuruh Ayana untuk masuk dengan kedua putrinya. Ayana juga tidak banyak bicara dia langsung masuk begitu saja tanpa bertanya Adnan akan menemui kedua orang tuanya atau tidak.
"Untuk minta uang kan ? "
Awalnya ibunya Ayana hanya diam saja, belum berkata apa-apa lagi tapi suaminya langsung menyenggol barulah dia kembali berbicara "Iya aku butuh uang, aku benar-benar butuh uang, aku mengontrak sekarang dan kami butuh makan, kami sudah sangat kelaparan sekali "
"Jika butuh pekerjaan aku akan memberikannya" bukannya Adnan tak mau memberikan uang, tapi mereka harus melakukan sesuatu dulu untuk mendapatkan yang mereka ingin jangan terus meminta pada Ayana.
"Kamu ini kenapa begitu benci pada kami Adnan, kami ini adalah mertuamu tapi kamu tidak mau memberikan kami uang sepeserpun. Kami sedang butuh tolong dibantu "
__ADS_1
"Itu hanya akan menjadi kebiasaan jika Ibu ingin pekerjaan aku bisa memberikan pekerjaan pada suami ibu dan juga Ibu. Asalkan jujur saja aku akan memberikannya"
"Aku ingin bertemu dengan anakku, kamu ini memang menantu yang kurang baik aku ingin bertemu dengan anakku dulu, cepat aku sudah meminta tolong dari tadi"
"Di sini aku adalah suaminya Ayana, jadi aku berhak mengaturnya Ayana tidak akan bertemu denganmu, jika kamu datang kemari hanya ingin meminta uang dan bukan menyayangi putrimu lebih baik pergi saja, kamu hanya ingin membuka luka dalamnya saja, kalau mau bekerja aku bisa memberikan pekerjaan padamu jangan tahunya uang uang dan uang uang"
Adnan menatap orang-orang yang ada di depannya, lebih jelasnya orang yang menjaga rumahnya "Jangan pernah masukkan kedua orang ini ke dalam rumah, jika sampai mereka kembali menunggu seperti ini usir saja kalau tidak lapor polisi saja "
"Setega itu kah Adnan kamu pada kami, kami ini sebenarnya salah apa pada kamu. Kami hanya ingin bertemu dengan putri kami saja "
Kembali tatapan Adnan teralih pada ibunya Ayana, Adnan kira ibunya ini akan menanyakan bagaimana kabar anaknya atau mungkin ingin tahu bagaimana kehidupan Ayana sekarang, atau menitipkan Ayana padanya, tapi semua itu memang hanyalah dalam mimpi saja. Tak akan mungkin terjadi.
"Kamu bilang setega itu lalu kamu sendiri setega itukah kamu kepada Ayana, kamu selalu saja memberikan kesakitan padanya membencinya tanpa sebuah alasan yang pasti ".
Ibunya Ayana langsung memalingkan wajahnya "Aku membenci Ayana karena ada alasannya, ada alasan yang kuat dibalik aku membenci anak itu"
"Kalau kamu mau membenci anakmu lalu untuk apa kamu sekarang minta uang padanya, lupakan saja Ayana, jangan pernah ingat lagi jangan pernah anggap dia ada. Kamu saja sudah membencinya lalu untuk apa kamu masih memperdulikannya dan meminta uang padanya apakah tidak malu kalau aku menjadi mu pasti aku akan malu sekali "
Adnan memasukan kedua tangannya ke dalam saku, lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya, ibunya Ayana masih berteriak-teriak tak karuan di sana, Adnan tidak mau ada sebuah pertengkaran. Saat Adnan masuk Adnan melihat Ayana yang sedang menatap di jendela dengan raut wajah yang begitu khawatir dan takut.
__ADS_1
Adnan langsung menenangkannya Adnan langsung memeluknya dengan erat, tubuh Ayana begitu dingin Adnan tahu ketakutan Ayana begitu dalam pada orang tuanya tapi ibunya tidak pernah menyadarinya, mungkin menurutnya ini hal biasa tapi menurut Adnan ini sudah keterlaluan Ibunya benar-benar sudah membuat Ayana trauma.