Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Boss


__ADS_3

Kaki ku terlalu lemah untuk berjalan, sendi lututku pun terasa penat akibat pergulatan semalam yang terbilang sangat menguras energi. Tak hanya itu ternyata efek dari obat perangsang yang ku minum membuat kepala ku terasa sakit.


Archie langsung mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar mandi. Dia meletakkan ku di dalam bathtub yang berisi air hangat dan memijat tengkukku dengan hati-hati.


"Archie!!" Seru ku dengan mata terpejam.


"Diem, gosah ngomong dulu!" Jawabnya.


"Tapi ini penting!"


Dia berhenti sembari diam menatapku.


"Pelakunya adalah Libiru!!" Ucapku dengan wajah kusut.


"Hah?" Dia bingung.


"Libiru," kataku menjeda. "Dia yang melakukan semua ini padaku, dia yang menjebakku!" Jelasku lagi.


Dia jelas kaget dan tak mengatakan apa pun.


"Jelasin ke gua?" Pintanya dengan nada mengerang. "Jelasin semuanya?"


Nafasku menderu getir, rasa bergejolak seperti ini mengingatkan ku kembali pada reaksi terakhirnya sebelum meninggalkan kamar ini. Tak di ragukan lagi, walau bagaimana pun mengkajinya, pelaku kejadian ini tetaplah Libiru.


"Aku dan anak-anak sengaja pergi ke tempat ini untuk mencari keberadaan Libiru, karena akhir-akhir ini dia bersikap aneh sampai-sampai mengganggu perkuliahannya dan kami semua khawatir ama keadaanya, lalu.."


"Lalu?" Sambungnya yang tak mampu lagi berfikir logis dan berusaha mendesakku bercerita.


"Disini aku bertemu dengannya!" Ujarku melanjutkan. "Aku bertemu dengannya dan membicarakan beberapa kata patah yang memang ingin ku ucapkan padanya saat kami bertemu, dan kemudian dia keluar kamar ini untuk beberapa waktu saat menerima panggilan, lalu saat dia kembali, dia memberikan ku sebotol minuman dingin yang ku rasa telah di berikan obat, karena setelah meminum minuman itu tubuhku langsung bereaksi!"

__ADS_1


Archie diam saja setelah mendengar penjelasanku. Aku tahu dia marah, hanya saja, saat dia diam dan mendengarkan penjelasan orang lain tanpa menyela. Saat itu lah iblis yang ada di dalam tubuhnya sedang menari-nari memberikan stimulasi.


Lalu aku juga menceritakan kepadanya, perihal pertemuanku kepada Rio sampai bertemu teman-temannya, dan perkelahian yang terjadi antara Rio dan temannya yang mengakibatkan bajuku basah kuyup karena di guyur wine.


Archie mendengarkan ku dengan seksama tanpa memotong sepatah katapun pembicaraanku, dia terlihat tenang di luar padahal dari tadi tangannya terus mengepal kuat sampai urat-uratnya menyembul dengan kasar.


"Aku gak tau apa yang terjadi padanya, aku benar-benar tak habis fikir kenapa Libiru melakukan ini padaku!!" Sambungku yang frustasi sambil memegangi kepalaku sendiri. "Dan juga, aku gak tau gimana nasib Arya dan Laila sekarang!"


"Mereka baik-baik aja!" Jawabnya spontan dan membelai kepalaku berniat untuk menenangkan rasa gundah yang membelenggu ini. "Lu tetap di sini, gua bakal kirim Sakurai buat jagain lu." Ujar nya berniat beranjak dari hadapanku.


Namun aku langsung bangkit dan memegangi lengannya.


"Aku baik-baik aja!" Ucapku dengan lantang.


Bodoh, bagaiaman bisa dia meninggalakan ku dengan Sakurai setelah kejadian semalam, rasanya saat ini aku tak ingin bertemu dengannya.


*************


"Jangan maksain diri kalau masih lemes!!" Ujarnya yang menghawatirkan ku sambil memperhatikan langkahku yang lemah gemulai.


"Anyaaaa...haaaaahhhgggg!!!!" Laila berlari dengan histeris dan langsung memelukku. "Lue tau hngak, betapa khawatirnya guwe waktu Hendri bilang lue lagi kenya musibah, lue ga tau aja guwa nangis-nangis semaleman ampe ga bisa molor gegara ga bisa ketemu ama lue." Ujarnya yang menangis tanpa henti di pelukanku.


"Bukannya lu ga bisa molor karena grogi tidur sekamar bareng gua ya!" Celetuk Arya membenarkan.


Laila berhenti sekilas dan melototi Arya dengan tampang dendam. "Hhuuuaaaaaahggggg...guwa setengah matiiii khawatieer ama lue Nyaa..." Lanjutnya setelah sempat terhenti beberapa detik.


"Cup, cup, cup. Udah aku baik-baik aja kok, udahan." Balasku sambil menepuk kepala dan punggung Laila.


"Tuan lewat sini!" Pinta Hendri yang berdiri di hadapan sebuah pintu yang tertutup.

__ADS_1


Saat kami semua masuk secara bersamaan ke ruangan itu, ternyata di dalamnya terdapat beberapa orang dengan salah satunya dalam posisi duduk dengan tangan dan kaki terikat.


"Loh..kak Tora." Sapa Laila yang langsung mengenali seseorang yang duduk dengan kondisi terikat.


"Lu kenal?" Tanya Archie mengawasinya.


"Hooh, dia kan teman yang seangkatan ama Libiru." Jawab Laila. "Kak Tora juga yang ngasih tau gua kalau Libiru kerja di sini." Jelasnya lagi.


Pria yang bernama Tora, ketakutan setengah mati saat melihat Archie berdiri dengan murka di hadapannya. Aura membunuhnya begitu kuat, bahkan rusa pun akan langsung tau jika hanya melihat belang pemangsanya dari balik ranting.


"Archie!!" Sapa pria yang berada di balik Tora."Gak sangka, kita ketemu lagi di saat kayak gini."


"Rio!?" Balas Archie menyapa.


"Maafin gua yang bikin cewek lu berada di situasi sulit kayak gini, kalau tau keadaanya bakalan runyam, gua ga bakalan mau di suruh-suruh kak Tora buat bawa Anya ngumpul bareng anak-anak." Ujarnya dengan wajah menekuk dan tatapan bersalah.


"Jadi dari awal kamu gak kebetulan ketemu aku," Potongku ngegas. "Kamu emang dari awal di suruh dia buat bawa aku ke teman-teman kamu gitu!!"


"Bener!!" Jawabnya spontan.


"Jadi semua itu bukan kebetulan?" Konfirmasiku.


"Gua sengaja boong karena kak Tora bilang bakalan keluarin gua dari kelompok mereka kalau gua nolak permintaanya!!" Jawabnya dengan jujur. "Gua benar-benar ga ada niat buat nyelakain cewe lu Ci, gua berani sumpah." Rengeknya yang mulai paham posisinya dan mengemis minta belas kasihan.


Archie diam saja dengan tatapan bengis memperhatikan Tora yang sedari tadi tak mampu mengangkat kepalanya. Tekanan yang di rasakan Tora saat ini sangat dahsyat bahkan untuk sekedar menarik napas.


"Biar gua tunjukin ke lu, apa itu arti dari sebuah pengampunan?" Tutur Archie yang berjalan selangkah di hadapan Tora.


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu menahan nafas, di saat Archie tiba-tiba memegangi kepala Tora dengan ke dua tangannya dan menghantamkan kepala Tora ke lututnya dengan sangat keras, sehingga wajah Tora pun hancur dengan darah yang mengucur deras ke lantai. Di hadapan semua orang, Archie memulai pertunjukan dengan caranya sendiri, dia menunjukan kekuasaannya dengan cara kekerasan agar semuanya tau kalau dia berada di atas.

__ADS_1


__ADS_2