
Terik matahari yang makin meninggi membuat pandanganku buram dan berkunang-kunang, meskipun kondisi tubuhku sudah mencapai batasan, hukuman ku masih saja berlanjut.
"Aku udah gak kuat kak!" Sambil setengah mencondongkan tubuhku kedepan, dengan sikap kelelahan dan menurunkan kembali kedua tangan ku.
"30 menit lagi!" Jawab Kak Archie dengan suara hardikan yang pelan namun di sertai ketegasan di setiap katanya.
"Tapi, aku udah disini selama satu jam!" Tepis ku yang tak terima di jemur di tengah lapangan dengan tangan di angkat ke atas.
"Ngeyel. Udah tau salah, malah nawar!" Jawab nya ketus dan tak memperdulikan kondisi tubuhku yang melemah.
"Kak, aku beneran gak ingat kalau harus bawa telor rebus!"
"Alesan lu doang kan biar ga kena hukuman." Jawabnya menampar betis ku dengan pemukul rotan ramping.
"Cepetan atau lu gak usah ngikutin aktifitas ospek!" Ancamnya meneriaki ku.
Dengan wajah meringis kelelahan, ku lanjutkan hukuman yang hampir mencabut nyawa ku itu.
*************
"Jalan jongkok 5 putaran!"
Aku hanya terkesiap memandangi tubuhnya dari bawah sambil menggeleng pelan.
"Tapi aku..."
"Cepetan!" Hardiknya yang tak memberikan ku kesempatan sedikitpun untuk berbicara.
Di saat menyelesaikan putaran ke 3, tiba-tiba tubuhku tersungkur ke tanah dan membentur beberapa tumpukan batu ruko.
Saat aku mengangkat kepalaku ke atas, tiba-tiba cairan hangat keluar dari kedua lubang hidung ku dan mengalir deras sampai menetes di kedua tanganku, setelah 10 detik berlalu barulah aku menyadari kalau cairan hangat tersebut adalah darah.
Libiru yang menyaksikannya datang membopong tubuhku menuju klinik dan tak menghiraukan teriakan Kak Archie yang sedari tadi memanggil nama nya.
"Dia itu psikopat!" Cecar Libiru yang sedari tadi terus mengoceh mengenai Kak Archie sambil menyeka hidungku yang berdarah.
"Gua juga gak ngerti, kenapa dia tertarik banget buat ngusik lu. Anak-anak juga pada bingung mau gimana, ini udah hari ke 3 dan tindakan dia tuh keterlaluan banget!" Lanjutnya yang masih terus mengoceh tentang ke binalan yang archie lakukan padaku.
Aku memilih untuk diam dan tak merespon semua perkataan Libiru.
Alasannya pun sudah jelas kalau Kak Archie itu membenciku.
Meskipun sudah mengetahui alasannya bersikap seperti itu, penyebabnya pun masih tidak di ketahui.
__ADS_1
************
"Lu tau sendiri kan kesalahan lu apaan?" Tanya Kak Archie memegang kerah bajuku sambil menatap ku dengan kedengkian yang berkecamuk.
"Ngerti!" Jawabku pelan sambil menundukan tatapan ku.
Lari 10 putaran."
Aku langsung mengangkat pandangan ku ke atas, di sertai mata melotot tajam dan emosi yang sudah tak terbendung.
Akhirnya dengan kepala yang mendidih, aku langsung menepis tangannya yang masih memegang kerah baju ku.
"Kakak ada masalah apa sih?" Pekik ku kencang hingga terdengar oleh orang-orang yang berada di pinggir lapangan.
Dia tidak merespon perkataan ku sama sekali, akan tetapi tatapannya malah semakin mengerikan.
Dengan tiba-tiba tangannya langsung mencengkram kuat kerah bajuku dan menarik dengan kasar tubuhku, sampai pandangan kami berdua sejajar.
"Gua harap lu mati!" Ucap nya singkat.
Akhirnya datanglah berduyun-duyun kakak senior yang melihat kejadian tersebut dan memisahkan kami berdua yang terlihat ingin adu bogem.
"Archie!" Pekik Libiru yang kemudian memposisikan tubuhku menghadap punggungnya.
"Bukan urusan lu!" Jawabnya singkat.
"Lagian lu yang benar aja, masa anak cewek lu ajakin gelud, dah konslet otak lu!"
"Gak ada hubungannya sama lu, bencong!" Balas nya yang memandang bayanganku di balik tubuh Libiru.
"Lu punya masalah apa sih sama Anya!" Balik tanya Libiru, yang kemudian membuatnya bungkam dan mengidarkan pandangannya menatap sekitar.
"Jangan kira gua bakalan diam ngeliat lu yang terus-terusan bertindak seenaknya!" Tantang Libiru yang kehilangan aura kefeminimannya.
"Bencong!" Ucapnya, yang kemudian pergi dari hadapan kami semua dengan wajah kesal yang membara.
"Lu istirahat aja dek, ga usah lari lagi!!" Ujar kakak senior lainnya sambil membopong tubuhku ke tepi lapangan.
"Abis ini kita gak bakalan biarin Archie deket-deket lu lagi!" Ucap yang lainnya melihatku dengan pandangan prihatin.
Ku balas perkataan mereka semua dengan anggukan!
Meskipun mereka semua terlihat melakukannya demi ku, tetap saja mereka hanya berusaha menghiburku agar tenang, dan melupakan kejadian ini untuk sesaat.
__ADS_1
Bagiku semua itu mustahil karena di lain hari, Dia akan tetap mengusik ku bagaimana pun caranya!
***********
2 hari pun telah berlalu. Hari ini adalah hari terakhir ospek.
Setelah kejadian di lapangan tersebut, dia berhenti mengusik ku dan melakukan aktifitas lainnya yang berguna.
Sesekali aku berpapasan dengannya tanpa sengaja, dan dia mengacuhkan ku dengan pandangan bengis.
"Anya. Bisa gak lu balikin ni banner ke gudang belakang sekolah." Pinta Kakak senior sambil memberikan ku beberapa gulungan banner.
"Tapi ingat!" Ucapnya menghentikan ku sebelum aku beranjak dari hadapannya.
"Pintu gudang itu lagi rusak. Kalau lu senggol pintu yang kebuka dari sebelah kiri, pintu itu bakalan ketutup dan otomatis lu gak bakalan bisa keluar, Karena pintu itu bakalan kekunci dengan sendirinya dari dalem." Ujarnya memperingatkan ku mengenai perihal pintu gudang yang rusak.
"Iya, Kak. Aku bakalan perhatiin." Jawabku yang kemudian pergi dari hadapannya.
Sampailah aku di gudang penyimpanan, sebuah gedung yang amat besar dengan kapasitas yang memuat ratusan barang-barang berguna maupun tidak berguna yang ada di dalam kampus ini.
Pintu nya terbuat dari tembaga, dan memang hanya sebelah kanan saja yang terbuka sedangkan sebelah kirinya tertutup rapat tak bisa di rentangkan.
Dengan tergesah karena ingin cepat-cepat pulang, aku langsung masuk ke dalam gudang tersebut dan menaruh banner ke atas barang-barang yang menumpuk.
Tanpa ku sadari ternyata ada orang lain selain diriku yang ada di gudang ini, dia sedang mensortir barang-barang yang telah di gunakan selama kegiatan ini berlangsung dan mencatatnya dalam sebuah buku.
Karena kaget mengetahui kehadirannya yang tak terduga.
Tanpa sengaja aku malah menyenggol pintu gudang sebelah kanan dan...
Bbraaakkk...
Pintu tersebut mengatup dengan sendirinya.
Mendengar suara pintu yang begitu keras, dia berhenti beraktifitas dan menatapku sejenak.
Dengan kesal dia melempar buku tulis serta pulpen ke sembarangan arah, dan berjalan mendekatiku.
Orang Sint*ng!
Ungkapan itulah yang pantas ku berikan padanya yang secara membabi buta langsung menangkap leherku dan memojokkan ku arah pintu tembaga yang tertutup rapat.
Tanpa alasan kak Archie mencekik leherku, sampai nafasku tersengal tak beraturan, yang kemudian pandangan ku berangsur-angsur mulai gelap dan hilang kesadaran.
__ADS_1