Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Take Me Home Part 5


__ADS_3

"Hai sayang, kita ketemu lagi." Ujarnya segera setelah masuk ke dalam kamar, dia terlihat babak belur dengan seluruh wajahnya yang memar.


Aku berjalan mundur ke belakang dan menjauhi pria ini dengan berlahan.


"Gak usah takut, gua gak gigit kok!!" Ujarnya yang langsung mengunci kamar itu dan melemparkan kuncinya di atas nakas.


"Kau...hhhhh, kau mau apa?" Ujarku dengan napas yang tak beraturan.


"Hei, hei, hei. Liat muka ama penampilan lu sekarang." Ucapnya mendekat ke arahku. "Lu tuh keliatan banget lagi h*rni nya, tampang s*nge kayak gini malah nanya gua mau ngapain."


Aku berjalan mundur sampai tak menyadari kalau langkahku malah mentok di sisi tembok.


"Gua datang atas permintaan pengelola tempat ini, katanya mereka udah ngasih gua kejutan atas permintaan maaf dari kekacauan tadi. Tapi gak sangka, yang jadi surprisenya ternyata lu." Jelasnya.


Dengan gemetar, ku paksakan kewarasanku untuk melawan diriku sendiri, karena saat ini yang ada di dalam kepalaku hanyalah ingin di sentuh oleh pria ini.


"Kamu lagi ngomong, apa...apa maksudmu, pengelola tempat ini!" Ujarku dengan napas tersengal berusaha mengontrol diri ku sendiri.


"Lu gak usah pura-pura gak tau dan jual mahal sekarang. liat aja diri lu sendiri yang abis minum obat perangsang. Efeknya udah keliatan jelas." Ucapnya yang dengan hati-hati membuka kancing bajunya sendiri.


Entah apa yang ada di dalam pikiranku, dengan santainya aku menerima begitu saja saat pria itu mendekat kearahku dan dengan seenaknya membelai wajahku.


"Liat kan, lu sendiri juga mau-maunya gua giniin. Jadi nurut aja ya sayang, kita hepi-hepi aja malam ini." Ucapnya yang berbisik di telingaku dengan nada menggoda.


DEG.....


Saat itu kewarasan ku kembali pulih, dan dengan sekuat tenaga mendorong pria itu menjauh dariku sampai membuatnya terpental. Namun karena pintunya terkunci dan berada di ruangan yang terbatas, dia berhasil mendapatkan ku dan langsung melemparku ke atas kasur.


"Diem gak lu, diem!!" Pekiknya dengan sekuat tenaga memaksaku untuk memasrahkan keadaan.


"Enggak, tolong. Lepasin!!" Pekik ku yang meronta-ronta berusaha melawan tenaganya yang besar.


Kini seluruh tubuhku telah terlihat, kimono handuk yang ku kenakan setengah terlepas dari tubuhku, semangkin aku berusaha meronta dan melawan semakin kuat juga tenaganya yang berusaha menjatuhkan ku.


Sialan, sialan, sialan. Seseorang, ku mohon datanglah, ku mohon.


Aku berharap ada seseorang yang datang menolongku dan menyelamatkan ku dari mimpi buruk ini.


Bbbuuukkkk.....


Tiba-tiba seseorang memukul pria itu dengan sebuah patung kayu dan dengan sekejab pria itu langsung ambruk dengan kondisi pinsan.


Mataku langsung terbelak tak percaya saat melihat langsung seseorang yang datang menyelamatkan nyawaku.


"Archie!!" Teriakku sambil menangis dan langsung memeluknya dengan tubuhku yang setengah telanjang.


"Tidak apa-apa, aku di sini?" Ujarnya dengan hangat memelukku.

__ADS_1


"Archie, kau datang!!" Ucapku yang tak bisa lagi mengungkapkan betapa gembiranya aku saat ini.


Pelukan hangat ini, membuat ku kembali kehilangan akal sehat. Semangkin bersentuhan, makan semangkin liar hasrat di dalam diriku yang ingin menginginkan lebih.


"Archie..!!" Ujarku yang semangkin terbawa gairah dan memeluknya dengan penuh hasrat. "Apa kau mau menyentuhku?"


"A-apa?" ujar Archie seperti kebingungan saat melihatku yang terang-terangan minta di buahi.


"Aku...aku ingin?" Bisikku di telinganya.


Saat itu juga di dalam pikiran ku hanyalah ingin melampiaskan hasrat bercinta yang semangkin menyiksa ini kepadanya, begitu kuat sampai rasanya ingin gila. Tanganku yang tak bisa di kondisikan lagi dengan jelas meraba-raba tubuhnya dengan intens, namun baru saja aku ingin menyentuhnya lebih dalam lagi, dia malah mendorong tubuhku menjauh.


"Stop!" Ucapnya dengan lantang. "Sadarlah kak, aku ini Sakurai."


"Archie!!" Balasku yang tak mengidahkan perkataanya. "Sentuh aku!!" Ujarku yang tak bisa berfikir jernih.


"Kak sadarlah!!" Pekiknya lagi sambil memegangi bahuku. "Aku ini Sakurai, kendalikan dirimu."


Saat itu juga, aku langsung tersadar dan melihat dengan jelas kalau dia bukanlah Archie, melainkan Sakurai yang memang sangat mirip dengannya walaupun di lihat sekilas.


"Aku benar-benar sudah gila," Ucapku sendiri yang langsung tersadar karena sudah melakukan tindakan memalukan seperti itu kepada Sakurai.


"Maafkan aku yang datang terlambat," Ucapnya sambil menutupi tubuhku dengan selimut. "Kakak pasti tersiksa!" Ujarnya lagi sambil memelukku.


Cekleekk....


"Tuan muda!" Sapa dari suara seseorang yang ku kenal.


Hendri menatapku dan Sakurai dengan kaget, dia sangat shock sampai kehilangan kata-kata.


"Tuan Archie sudah tiba!" Ujarnya lagi.


Dari balik pintu samar-samar ku lihat sesosok manusia yang amat sangat ku rindukan, dia menyemulkan tubuh dan dengan iba menatapku yang menderita dalam pelukan lelaki lain.


"Aku berhalusinasi lagi." Ujarku yang tak percaya melihat Archie yang asli berada di sini.


"Kakak!!" Seru Sakurai menyapa Archie yang berada di ambang pintu menatap kami berdua yang larut dalam situasi genting.


"Hendri!!" Panggil Archie dengan nada santai namun tegas. "Beresin semua kekacauan ini," sambungnya yang melihat lelaki yang tergeletak tak sadarkan diri.


"Segera Tuan." Balasnya dan langsung membereskan lelaki itu dengan beberapa bantuan petugas tempat itu.


Melihat kondisiku yang berantakan yang hanya berbalut selimut dalam kondisi setengah bugil, membuat Archie semangkin tenggelam dalam rasa kemurkaan, namun karena sikap tenangnya dalam menghadapi segala situasi, dia hanya berbaur dalam kondisi dan menanganinya lewat tindakan Hendri.


"Makasih udah nepati janji lu," Ucap Archie pada Sakurai yang mematung menatapnya. "Gua ambil alih mulai dari sini." Ujar nya lagi sambil menepuk pundak Sakurai.


Akhirnya semuanya pergi dari kamar ini setelah membereskan segala kekacauan yang telah terjadi, sampai akhirnya hanya tinggal aku dan Archie yang saling menatap dengan canggung dalam perasaan iba dan bercampur aduk.

__ADS_1


"Archie, aku..."


Taaaapp...


Dia langsung berlari ke arahku dan memeluk tubuhku dengan erat. Pelukan hangat dari seseorang yang amat ku rindukan, begitu menenangkan sampai rasanya kejadian barusan terlupakan begitu saja.


"Maafin gua!" Ujarnya dan mengecup lembut ubun-ubunku. "Maafin gua yang bikin lu harus ngelewatin kejadian kayak gini, maafin gua yang ninggalin lu di situasi sulit."


Aku terdiam, karena ku pikir dia akan memarahiku dengan ekspresi menakutkan, namun di luar dugaan dia malah meminta maaf dan memelukku.


Aku menangis di dalam dekapannya, meskipun situasi seperti ini bukan salahnya dan tak ada hubungan dengan nya, aku merasa sangat senang karena dia datang di saat seperti ini. Saat ini aku merasa sangat beruntung di kelilingi oleh orang-orang yang memperdulikan keselamatanku meskipun aku ceroboh dan bertindak semaunya.


"Kamu gak marah?" Tanyaku dengan bagongnya.


"Tentu aja.."


Cttaaakkkk....


Archie langsung menyentil jidatku. "Beg*, lu gak tau tempat kayak gini tuh bahaya banget, kalau tadi anak-anak gak bertindak cepat, terus lu kena p*rkosa gimana!"


"Duuhh...maaf!!" Jawabku sambil mengusap jidatku yang sakit.


"Pala lu maaf, gua lari dari bandara ampe kesini karena panik setengah mati, gegara Hendri bilang lu lagi dalam bahaya." Jelasnya.


Pantas saja, aku mencium bau sol sepatu yang hangus di sertai bau keringat di tubuhnya di tambah lagi penampilannya yang sekarang acak-acakan.


"Kau, berlari dari bandara ke sini." Ujar ku kaget. "Tapi kan itu jauh banget."


"Itu gak penting, yang lebih pentingnya itu kenapa lu bisa ada di tempat p*lac*ran!" Tanyanya mangkin mengintimidasi.


"Eeehhh...itu, ceritanya panjang!" Balasku cengengesan sambil memutar bola mataku.


Dia menatap ku yang hanya memakai pakaian dalam dengan hanya terbalut selimut. Dengan suhu tubuhku yang meningkat, dan juga ekspresiku yang aneh, di tambah lagi mungkin dia juga tau apa yang tadi ku lakukan pada Sakurai. Mungkinkah dia akan bertambah marah jika tau keadaan yang sebenarnya.


Cuup...


Dengan tiba-tiba dia langsung memberikan ku ciuman yang hangat, sehingga tanpa di duga tubuhku malah kembali memanas dan membalas kecupannya dengan liar.


"Ternyata benar, lu di kasih obat perangsang." Ungkapnya yang dengan senang hati menerima perlakuan panasku.


"Archiee..aku gak ngerti, tapi saat ini tubuhku benar-benar menginginkanmu." Ucapku tanpa basa-basi dan dengan liar mengeluarkan kata-kata seperti itu.


"Hhhh....kayak nya lu lagi butuh bantuan!!" Ujarnya yang berlahan membuka tuksedonya dan melemparkannya dengan sembarangan.


"Archiiee...kenapa aku begini!" Tanyaku yang tak mengerti dengan diriku sendiri, dan menggeliat di pelukannya seperti cacing kepanasan.


Dia tersenyum smirk dan membaringkan ku dengan perlahan lalu berbisik di telingaku, "Itadikimasu!!" Dalam bahasa jepang yang artinya selamat menikmati makanannya.

__ADS_1


__ADS_2