
Percuma melawan, bahkan seekor pemangsa handal sekelas singa jantanpun hanya bisa menggerung-gerung meminta pengampunan jika terkepung seperti ini.
Pria-pria gagah dengan baju lengkap anti peluru ini merubungi tubuhku yang terkulai tak berdaya di atas aspal bagai sehelai perca yang habis di lindas.
Salah satu dari mereka terus berteriak menginstrusikan kepadaku untuk menyerahkan diri tanpa melakukan sesuatu yang merugikan diriku sendiri.
Dengan pengawalan ketat tanpa celah, mereka menggiringku menaiki sebuah mobil van hitam yang berada di samping mobil kami yang porak poranda, dan tak berapa lama tubuh archie dan juga dafa yang tak sadarkan diri menyusulku dengan menggelontarkannya masuk secara paksa seperti babi hutan hasil buruan. Tak lupa mereka memborgol kedua tangan kami bertiga sebagai perlambangan tahanan.
Mobil melaju dengan kencang tanpa tujuan. Berkali-kali ku pandangi Archie yang seperti tertidur pulas tanpa tekanan, dan berkali-kali pula pikiran ku melayang akan kematian saat dua orang penjaga yang mengawal kami beradu pandang padaku.
"Aman!!" Cetus pria yang sedang mengemudi sembari memandangi kami bertiga lewat kaca spion.
Di sebuah persimpangan kira-kira jauhnya 20 km dari tempat kejadian, tiba-tiba Archie bangun dari tidurnya dan duduk dengan nyaman di tempatnya seakan tak ada yang terjadi.
Dia tak mengatakan apa-apa dan meraih sendiri sebuah kunci yang tergantung di pinggang celana pria yang duduk di depannya.
Sebelum kebingunganku terjawab, tiba-tiba pria yang ada di depannya membuka penutup kepalanya dan menatapku dengan pandangan bahagia.
"Kakak ipar, kau tidak terluka kan!" Katanya.
Aku terbelak dengan mulut membekap, "Sakurai!!"
"Iya, ini aku." Sapanya seperti bertemu saat sedang bertamasya.
__ADS_1
Archie tak bereaksi, wajahnya datar dan kini sedang mengutak-atik borgol yang mengekang tangan dafa yang masih tak sadarkan diri. Aku tahu pasti perasaanya sekarang sedang tak baik, lagi pula sabiru sekarang luput dari cengkraman kami, di tambah lagi bantuan yang tak terduga dari Sakurai dan juga Hendri yang langsung ku tahu dari cara menyetirnya dan suara nya yang dingin. Pasti sekarang Archie sedang di gelayuti oleh pikiran-pikiran abstrak.
**************
"Kau pikir dengan begini, kau akan tahu siapa dari kita yang berkhianat!" Padahal baru saja Sakurai menyapaku di dalam mobil dengan wajah malaikat, namun setelah sampai di tempat tujuan yang tak ku tahu ada dimana, dia langsung mencengkram leher kakaknya dan meninggikan suaranya.
Archie tak bergeming dia menatap lurus adiknya tanpa berkedip.
"Apa kau pikir dengan semua rencana mu yang tak masuk akal, dan melibatkan kakak ipar yang bahkan tak tahu bagaimana caranya melawan, maka kau akan tahu siapa pelakunya, huh!!" Sakurai mangkin kuat mencengkram leher Archie dan tak menurunkan tempo suaranya.
Sekarang Archie terlihat meringis karena terdesak, namun tak sekalipun dia menunjukan tanda-tanda perlawanan.
"Tuan muda!!" Hendri maju selangkah untuk menenangkan Sakurai namun dia pun sadar kalau dia tak punya kuasa untuk melerai pertengkaran dua beradik ini.
Tunggu punya tunggu Archie pun sama sekali tak melawan, dia membiarkan lehernya di bekuk adiknya meskipun sakitnya tak terkira. Kali ini Archie pun sadar akan kesalahannya dan membiarkan dirinya terkena hukuman.
Archie tetap bungkam, dia terus menatap mata adiknya tanpa sedikitpun berpaling.
Sakurai melemahkan cengkramannya dan melepaskan Archie secara perlahan setelah sekian lama menekannya, dia menyerah karena kakaknya tak sedikitpun menentangnya. Tanpa berkata-kata lagi dengan perasaan kesal dan penuh amarah Sakurai pun pergi tak tahu kemana.
"Tuan!!" Hendri maju mendekati Archie yang sekarang sedang tersengal-sengal memegangi lehernya.
Aku juga langsung berlari menghampirinya dan memapahnya ke sebuah kursi kayu mahoni mengkilap yang tak jauh dari sana.
__ADS_1
Aku dan Hendri enggan berkomentar, begitu juga dengan Archie dia juga tak berminat membuka percakapan. Di lihat bagaimana pun juga, menilik dari masa lalu dan juga pengalaman, dari segi fisik dan juga kekuatan, Sakurai lebih unggul di banding Archie. Maka dari itu bisa ku rasakan bagaimana rasanya jadi Archie yang mempertahankan kewarasannya saat di desak monster berparas malaikat itu.
************
Ternyata kami sedang berada di kediaman Hendri. Rumah besar bagai resort mewah dengan pemandangan hutan alami dan juga sawah membentang luas menghampar sampai jauh mata memandang. Nuansa elegan dan juga berkelas terlukis mantap dari desain dan perabotan yang ada di dalam rumah ini, seperti kepribadiannya yang dingin dan juga tak suka bertele-tele, kesan estetika mate tertanam kuat dari konsep rumah ini sendiri. Pemilihan, penempatan, dan juga pengaturan warnanya sendiripun di serasikan dengan fungsional kesan simpel namun elegan, ku katakan lagi mirip sekali dengan kepribadiannya itu.
Tak lama kemudian dokter keluar dari sebuah kamar tempat kami membaringkan Dafa yang belum sadarkan diri. Dokter bilang Dafa dalam keadaan baik, 5 menit yang lalu dia siuman dan sudah di pastikan dia tak hilang ingatan dan juga tak ada cidera serius maupan patah mematah, bahkan kepada dokter dia minta obat tidur dosis tinggi agar durasi istirahatnya lebih lama dan tak ingin kami semua mengganggunya.
"Untuk sementara Tuan dan Nyonya tinggallah disini untuk waktu yang lama." Ujar Hendri menggiring kami berdua menuju sebuah kamar, "Kalau Tuan dan Nyonya butuh sesuatu tinggal panggilkan saya saja!" Sambungnya sembari mohon diri. Keramahannya pun tak surut meskipun dia adalah tuan di rumahnya sendiri.
Archie tak banyak bicara karena suasana hatinya sedang buruk, begitupun aku berusaha agar tak membawa perkara. Seperti kebiasaanya yang sudah-sudah, jikalau hatinya sedang tak baik maka dia akan memakan waktu berjam-jam di dalam kamar mandi, menenangkan pikirannya sembari berendam di dalam air panas, menatap langit-langit dengan pandangan kosong, dan tak kan menyahut jika di panggil. Aku tak mau mengganggu saat-saat melankolis perenungannya itu.
"Sini biar gua aja!" Dia merebut dengan cepat salep luka yang ingin ku oleskan di bagian pundakku.
Sesi perenunggannya telah selesai setelah 2 jam 32 menit 22 detik di kamar mandi, wajahnya masih setengah kusut tapi dia terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Maafin gua ya." Ucapnya tiba-tiba. Spontan aku menoleh dan menatapnya, "gua da bikin badan lu penuh bekas luka lecet, udah ga semulus dulu lagi deh." Sambungnya berusaha menguatkan hatinya sendiri.
"Kamu ngomong apa sih?" Responku jengkel.
"Kalau lu nikah sama cowok lain dan bukan gua, kalau lu ga nolongin gua waktu itu dan bawa gua kerumah lu, pasti semuanya ga bakalan jadi kayak gini."
Plaaakkk.....
__ADS_1
Spontan tamparanku mendarat di wajahnya dan meninggalkan bekas merah. Aku pun baru menyadari tindakanku setelahnya.
"Archie!!" Panggilku keras.