Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Jangan Menghindar


__ADS_3

"Selamat siang Nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu!?" Sapa sekretaris kantornya yang langsung cepat tanggap saat melihat kedatanganku.


Karena jengah di abaikan terus menerus dari Archie, akhirnya aku pun memilih untuk mendatangi kantornya secara langsung untuk menggerebeknya.


"Dimana Archie?" Tanyaku tanpa basa basi.


"Tuan sedang berada di ruangannya Nyonya. Tapi untuk saat ini Tuan sedang menerima tamu penting!!" Jawabnya.


Tapi aku tak perduli dengan hal itu, saat mendengar kalau dia sedang berada di ruangannya, aku pun langsung pergi tanpa mempertimbangkan kepentingannya.


"Nyo-nya. Anda tidak boleh masuk sembarangan!!"


Ting...


Aku langsung menaiki lift yang langsung menghubungkan ke ruangan Archie. Karena bagaimana pun pentingnya tamu yang sedang dia terima, aku yakin dia tak akan mengabaikan ku begitu saja.


Ting...


Lift pun terbuka dan aku langsung mendobrak pintu ruangan kerja milik Archie tanpa permisi.


"Udah gua bilang berkali-kali kalau gua ga bisa terima tamu ya jangan ada yang datang..."


"Dimana tamunya?" Ucapku.


Archie diam mematung dengan mulut menganga saat melihatku berdiri tepat di hadapannya.


"A-Anya!!" Panggilnya kaget.


"Sekretarismu bilang kalau kau sedang menerima tamu?"


Archie melengos kearah lain sambil memegangi kepalanya sendiri.


Aku mendekat lagi ke hadapannya sampai tubuhku memepet di meja kerjanya.


"Apa yang sedang kau rencanakan. Kenapa akhir-akhir ini kau terang-terangan sedang menghindariku!?"


Dia tak bisa mengelak, karena sekarang apapun alasan yang akan dia katakan, dia tak kan bisa berdalih.


"Gua ga lagi ngehindarin lu, gua beneran lagi sibuk!!" Dia ternyata orang yang tak mudah menyerah sampai-sampai mempertontonkan kebohongannya sendiri.


"Kau sibuk!" Aku menunjuknya. "Apa kau pikir aku percaya kalau kau benar-benar sibuk!!"


Archie gelagapan dengan tampang masam.


"Sekretarismu bilang kalau kau sedang menerima tamu, tapi ternyata kau hanya sendirian di sini dan berpura-pura kalau sedang sibuk!!" Aku meledak.


"Anya!!" Archie berdiri dari kursinya dan berjalan menenangkan ku.


"Kenapa kau begini padaku. Apa yang kau sembunyikan!?"

__ADS_1


"Anya, gua bisa jelasin!?" Dia kalang kabut.


"Padahal selama ini yang ku butuhkan hanya kau, tapi kenapa kau terus-terusan menghindariku!!" Aku membentaknya dengan histeris sambil menangis.


"Sayang. Dengerin gua dulu!!" Dia memegangi kedua lenganku.


Tapi dengan enggannya aku langsung menepis kedua tangannya.


"Kau tahu. Setelah kejadian itu, setiap hari aku selalu menderita, aku kesepian, aku selalu mengharapkan kehadiranmu setiap saat." Aku berteriak histeris, "tapi apa yang kau lakukan. Kau hanya datang di saat aku terlelap, kau bahkan tak berani menatap kedua mataku di saat sedang bicara. Ada apa denganmu, kenapa kau berbuat seperti ini!?"


"Anya!!"


"Apa kau tak membutuhkan ku lagi!" Ucapku lirih.


"Apa yang barusan lu bilang!!"


"Apa kau sudah tak perduli lagi dengan ku, karena aku tak lagi berguna!!" Aku kehilangan kendali.


"Anya. Berhenti ngomongin omong kosong!!" Jawabnya memelas.


Aku mengangkat kepalaku ke atas dan menatapnya dengan aura membunuh.


"Omong kosong katamu!!" Lagi-lagi aku meledak. "Lalu apa yang kau lakukan selama ini. Kenapa kau terus menghindariku seolah kau tak membutuhkan ku. Kenapa kau terus beralasan sibuk jika ku ajak bertemu."


Archie meraup wajahnya sendiri dengan raut wajah gelisah.


"Apa semua kelakuan mu itu hanya omong kosong. Apa kau pikir aku ini bodoh sampai tak tahu jika kau sedang menghindar!!"


Archie tahu kelemahanku satu-satunya adalah pelukannya. Dia memandamkan kobaran api di dalam dada ku dengan aroma tubuhnya.


"Hei tenanglah. Tenang!!" Ucapnya sambil berbisik di dekat telingaku dan mengusap lembut rambutku.


"Apa yang kau sembunyikan, Archie. Ada apa denganmu!?" Balasku pelan.


"Tenanglah Anya. Tenang!!" Ucapnya sambil menciumi keningku dengan lembut.


Semarah apapun diriku. Aku pasti kalah dengan bau tubuh ini.


*************


"Lu udah tenang sekarang?" Tanyanya.


Aku tak menjawab dan meletakkan cangkir yang berisi teh camomile yang di seduhkan sekretarisnya untukku.


Dia menggeser tempat duduknya sampai posisinya mepet di sebelahku.


"Akhir-akhir ini ada banyak yang gua pikirin!!" Ucapnya mendesah, "sangking banyaknya, ampe gua sendiripun lupa waktu buat merhatiin lu!!"


Dia menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Dan menyembunyikan mata sembab nya agar tak terlalu ku perhatikan.

__ADS_1


"Maafin gua kalau lu ngerasa gua selalu ngehindar!!"


Aku diam saja.


"Gua ga tau harus ngapain selain ngehindar, ada banyak hal yang mau gua omongan ama lu." Ucapnya dengan nada lirih. "Tapi gua ga tau harus jelasin dari mana!!"


Sontak aku langsung mengangkat kepalaku dan menatapnya.


"Maafin gua Nya, tapi gua benar-benar butuh waktu buat sendiri!!"


"Jadi benar kau memang sedang menyembunyikan sesuatu dari ku?" Potong ku langsung.


Archie membuka telapak tangan yang menutupi kedua matanya dan beralih menatapku.


"Archie. Aku tanya lagi. Apa benar kau sedang menyembunyikan sesuatu dari ku!?"


Archie tak menjawab, tapi malah menatapku semangkin dalam.


"Kita sudah hidup bersama dalam kurun waktu yang tak sebentar." Ucapku mendiktenya, "11 bulan bukan waktu yang sebentar, Archie."


Dia tak melepaskan pandangannya dari sorot kedua mataku.


"Aku tahu jika kau sedang menyembunyikan sesuatu dari ku. Aku juga tahu jika kau sedang berbohong!!" Aku membalas tatapannya. "Aku ini istrimu. Kita tinggal di dalam satu atap dan melakukan banyak hal secara bersama-sama!!"


Archie diam saja.


"Tak ada yang lebih peka dari pada insting seorang istri!!" Aku mengenggam kedua tangannya.


Archie tak menjawab.


"Bagaimana pun cara mu berdalih, aku pasti bisa menemukan alasan itu!!"


Archie tetap tak bicara sepatah katapun. Dia terus menatapku dalam, seolah sedang merenungi perbuatannya setelah memetik satu-satunya bunga di tengah gurun yang panas.


"Kalau aku tak berhak mengetahui apa yang sedang kau sembunyikan, aku tak masalah dengan hal itu. Tapi tolong.." ucapku sambil memegangi kedua rahangnya. "Tolong jangan menghindariku. Aku tersiksa jika kau terus seperti ini."


Tiba-tiba matanya berkaca-kaca seperti pantulan sinar matahari di dalam air. Dan seketika saja, dia langsung menangis di hadapanku dengan wajah cengengnya.


"Ku mohon. Jangan pernah menghindariku. Aku benar-benar tersiksa, Archie. Ku mohon!!" Ucapku lagi.


Archie tak mengatakan apapun kepadaku namun langsung memelukku sangat erat seperti enggan untuk melepaskan.


Aku bisa merasakan setiap luka di dalam pelukannya. Meskipun aku sudah banyak menderita, tapi rasanya penderitaanya malah lebih banyak ketimbang penderitaanku.


Sampai akhirpun dia tak membalas perkataanku, dia bahkan enggan untuk membalas perkara itu.


Dia memilih untuk mengalihkan topik dan berbicara hal lain ketimbang membahas sesuatu yang tak ingin dia katakan.


Namun bagiku, segini saja sudah cukup. Aku sudah puas meskipun dia memilih untuku menyembunyikannya dari ku. Yang hanya aku inginkan adalah dirinya. Yang ku butuhkan adalah sosoknya.

__ADS_1


Tapi, siapa sangka. Pertemuan ku dengannya pada hari itu menjadi hari terakhir kami berdua sebagai pasangan suami istri yang berbahagia.


__ADS_2