
Agenda hari ini adalah bersantai dan bermain di tepi danau seharian. Meskipun anak-anak mengusulkan untuk naik ke puncak gunung, tapi seseorang yang lebih berpengalaman seperti Dimas mengatakan kalau mendaki gunung di jam segini itu percuma.
"Bayangin aja kita naik ke gunung di jam segini, terus pas nyampe di atas mataharinya malah naik. Ga work banget karna kita bakalan panas dan kegerahan." Ujarnya menasehati anak-anak yang bandel. "Terus gimana kalau kita di atas malah dehidrasi dan ga cukup air buat di minum bareng-bareng. Di tambah lagi kalau pengen turun malah ga cukup waktu karena bakalan gelap. Bahaya banget kan, karena kita ga punya peralatan yang cukup buat ngendaki malam-malam!!" Dia berorasi habis-habisan.
Selama beberapa tahun bersama denganku Dimas terkenal dengan sebutan Jungle Boy, berkemah dan mendaki gunung baginya adalah makanan sehari-hari sejak dia menginjak balita. Kedua orang tuanya adalah pendaki handal dan pasangan yang bahkan hampir menaklukan seluruh gunung di indonesia ini dengan kaki kokoh mereka. Maka dari itu wajar kalau Dimas lebih tau dan berpengalaman dari siapa pun soal gunung menggunung.
Akhirnya atas keputusan bersama, agenda hari ini hanyalah bermain di sekitar perkemahan, dan di lanjutkan besok mendaki gunung pada saat subuh sebelum matahari terbit. Keputusan yang baik, di saat Archie mengundang Dimas karena ada agenda semacam ini, walaupun Archie selalu punya maksud di balik keputusannya.
"Baiklah, kita mulai!!" Ucap Hendri yang bertelanjang dada dan membawa speargun atau panah ikan ke dalam air.
Di susul oleh Sakurai yang memakai kacamata renang, dan ikut terjun ke dalam air sambil membawa speargun.
Kami semua sedang menyaksikan pertarungan duo maut antara mantan pembunuh bayaran dengan penjaga profesional dalam hal memancing ikan menggunakan panah.
Tanpa mengambil tempo keduanya berenang melesat di dalam air seperti ikan lumba-lumba yang sedang mengejar segerombolan salmon. Bahkan riak di atas air pun tak terlihat saat mereka berenang di dalamnya.
Lima menit berselang, mereka berdua berburu dan menahan napas di dalam air tanpa terlihat tanda-tanda kalau mereka akan muncul ke permukaan. Di sini sudah terasa menegangkan, karena anak-anak baru pertama kali menjumpai orang yang tak perlu bernapas meskipun selama itu.
Kemudian, di detik selanjutnya keduanya muncul ke permukaan dan bersamaan mengangkat hasil buruan. Hendri membawa ikan air tawar sejenis gurame seberat 7 kilo, dan Sakurai membawa Lobster air tawar seberat 4 kilo.
Dua-duanya seri, meskipun tangkapan Hendri lebih besar dari tangkapan Sakurai. Namun yang membuat mereka seri adalah, Lobster Sakurai adalah tangkapan langka yang jarang di jumpai oleh pemburu ikan air tawar di alam liar.
Namun tak berhenti sampai di situ. Anak-anak juga ikut berburu dengan keahlian mereka masing-masing.
__ADS_1
Sebagian ada yang memancing di tepi danau, dan ada juga yang memancing memakai kayak. Sebagian lagi ada yang menebar jala dan di bantu oleh para penjaga resort, dan ada juga yang menangkap ikan menggunakan perangkap ikan tradisional khas daerah sini.
"Namanya bubu!!" Jelas si bapak penjaga resort sambil menebar bubu atau perangkap ikan tradisional ke tepian dasar danau.
Bubu ini terbuat dari rotan atau bambu yang kemudian di buat sedemikian mungkin menyerupai bentuk bulat namun panjang dan mengerucut di tempat masuknya ikan, lalu tak lupa di beri umpan seperti sisa makanan semalam untuk menarik para ikan agar masuk.
"Di sini juga kan pak!!" Aku membantu bapak penjaga Resort untuk menebar bubu ke tepian danau.
Sampai tak terasa, kalau aku sudah terlalu jauh dengan anak-anak di tempat perkemahan.
"Nyonya!!"
Aku terperanjat, dan hampir masuk ke dalam air karena kaki ku terperosok.
"Aku tidak apa-apa!" Ucapku sambil bertopang di akar-akar rambat.
"Nyonya berjalan terlalu jauh, jika meneruskan kedepan mungkin Nyonya akan tersangkut di antara akar-akar pepohonan." Ucapnya.
Aku melihat ke arah depan, dan memang area nya mencurigakan bahkan airnya terlihat gelap.
"Di sana berbahaya karena sudah memasuki rawa-rawa." Jelasnya dengan rinci.
"Ahh..terimakasih, kalau bapak tak datang memperingatkan ku, mungkin aku sudah masuk ke daerah sana!!" Ujarku tersenyum.
__ADS_1
"Nyonya sebaiknya kembali, Tuan Archie bisa marah kalau tau Nyonya pergi sejauh ini." Ucapnya mengingatkan ku.
Aku mohon diri dan segera pergi dari tempat itu. Namun sesuatu mengganggu pikiranku, saat aku berbalik untuk mengingatkannya agar segera menyusul, karena tak lama lagi anak-anak selesai membuatkan makan siang. Aku melihat sesuatu yang familiar dan pernah ku jumpai di suatu tempat.
Tato yang terdapat di lengan kiri lelaki itu, yang bergambar seorang putri duyung yang membawa harpa dan berambut panjang tergerai, lalu di lengan bawahnya lagi tato bergambar ikan koi dan juga sebuah parang panjang. Samar-samar tergambar kalau aku pernah menjumpai nya di suatu tempat, tapi dimana?
"Nyonya, kenapa anda belum kembali?" Tanyanya spontan saat aku melamun menghadap ke arahnya.
Aku langsung tersadar dan menggelengkan kepala ku. "Ti-tidak, aku akan segera kembali!" Ucapku dan pergi.
Di daerah perkemahan.
"Kakak dari mana?" Tanya Sakurai yang menyambutku datang.
Aku langsung menutup mataku secara spontan karena melihat sesuatu yang dejavu. Sakurai tiba-tiba datang di hadapanku dengan hanya menggunakan ****** ***** renang dengan tubuh dan rambutnya yang basah, ini adalah pemandangan familiar dimana pertemuan pertama kami berlangsung.
Namun saat aku sadar dan membuka mataku, ternyata yang setengah bugil bukan hanya Sakurai, akan tetapi hampir semua lelaki yang ada di perkemahan ini, termasuk Archie juga. Mereka beramai-ramai menceburkan diri ke air karena cuaca mangkin terik dan mulai kegerahan.
Saat itulah aku merasa bagaikan berada di surga, di harem ku sendiri.
Roti sobek itu, badan yang basah itu, sampai lekuk tubuh itu. Aku melihat semuanya.
"Mantap!!" Gumamku hampir mimisan.
__ADS_1