
Apa yang dia lakukan di sini!
Bagaimana bisa dia tahu aku berada di tempat Dimas.
Tuhan, tolong!! Jangan cabut nyawaku, aku belum siap mati.
Dengan meringis dan mata terpejam, aku berusaha mencerna apa yang terjadi saat ini, meskipun rasanya sulit, tapi aku sudah terlanjur kerpergok oleh suami sendiri nangkring di kosan gebetan.
Archie menundukan kepalanya melihatku yang duduk tak bergeming seperti ikan asin yang baru di salai.
"Ooh, ya!" Ucap Dimas membuyarkan rasa canggung yang merekah di dadaku.
"Gua tadi lupa ngasih tau lu, karna ada lu disini makannya gua ngajakin Archie aja sekalian buat diskusi rencana proyek kita. Sorry gak ngabarin, gua lupa karena terbawa suasana." Ujar Dimas sambil mengobrak-abrik isi dapur.
"Hahhh!" Respon ku yang merasa kalau aku sudah berfikir terlalu jauh, ternyata Archie datang kemari bukan karena ingin memergokiku, melainkan secara sengaja di undang oleh Dimas untuk datang kemari.
Aku memberanikan diri menengadahkan kepalaku menatap balik Archie yang menundukan wajahnya melihatku.
"Bentar ya. Gua bikinin minuman dulu." Teriak Dimas disusul suara klontang-klontang dari arah dapur.
Tiba-tiba Archie berjongkok merendahkan kepalanya sampai di depan wajahku, kemudian dengan cepat menarik rambutku sehingga aku tersentak kebelakang.
"Uummhh..." Dengan tiba-tiba dia langsung mencumbuku.
Aku terkejut sekaligus bingung dengan perlakuannya, tanpa aba-aba apa pun, dia langsung mendaratkan bibirnya menyentuh bibirku.
"Ditempat gua cuman ada ini!" Ucap Dimas yang masih belum beranjak dari dapur di iringi suara ribut gerabah.
Sontak aku langsung melepaskan ciumannya dan mendorong tubuh Archie menjauh.
"Gak pa-pa. Aer putih pake es aja udah cukup kok." Jawab Archie sambil memegangi tenggorokannya sendiri dengan tersenyum smirk padaku.
Apa yang barusan dia lakukan!
Bagaimana kalau tadi Dimas melihatnya, mungkin Dimas tak kan dengan mudah menerima semua penjelasan ku jika melihat Archie yang tiba-tiba mencium bibirku.
Dengan wajah malu dan memerah, aku berusaha menyembunyikan nya dengan menekuk muka ku, tak berani melihat kedepan.
"Anya kenapa?" Tanya Dimas, yang seketiba dari dapur nya dan menatap ku yang menundukan wajahku karena malu.
"Gak kenapa-napa kak, aku cuman lagi kelilipan aja." Jawabku sambil meraup wajahku sendiri dengan kedua tanganku.
"Sini gua.."
Tap...
Belum sempat Dimas melanjutkan kata-katanya, Archie langsung menangkap tubuhku dan mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajahku.
"Buka mata lu!" Ujarnya lalu membelakan kedua mataku dan meniupnya berlahan.
Dimas diam memandangi kami berdua dengan mata melotot dan bingung tak tahu harus bereaksi seperti apa, saat tiba-tiba melihat pemandangan seperti ini terjadi begitu saja di depan matanya, setelah pernyataan cintanya secara sepihak baru saja ku tolak.
__ADS_1
mungkin saja dia berfikiran kalau skinship sedekat ini, tak kan mungkin di dapatkan lelaki lain, terlebih lagi selama beberapa tahun bersamanya, meskipun kami dekat. Tapi kami tak pernah melakukan kontak fisik se intim ini.
Dengan lembut Archie meniup mataku, dan menyentuh dengan hati-hati wajahku dengan kedua tangan kokohnya.
Seolah tindakannya yang seperti ini, sengaja dia pertunjukan kepada Dimas, agar Dimas mengerti posisinya saat ini meskipun tak di katakan dengan lisan.
Setiap kali dia meniup mataku dengan pelan, tatapan matanya selalu mengisyaratkan sebuah kasih sayang yang tak terbatas dari dirinya, seolah-olah dia memperlakukanku lebih berharga dari nyawa nya sendiri.
Tentu saja itu semakin membuat seluruh wajahku tambah merah, karena aku sangat mengerti apa yang di pikirkan oleh orang-orang lewat ekspresi wajah mereka.
"Udah belom!" Tanyanya lembut dan tanpa ku sadari dia malah mengusap pipiku di depan Dimas.
"U-udah!" Jawabku malu.
Dimas memandangi kami berdua dengan tatapan kesal dan tak menerima semua yang telah terjadi di depan matanya, dengan tetap menjaga pikiran warasnya dia mengalihkan tatapannya dan fokus ke hal lain.
"Gua keluar beli cemilan dulu, kalian gak papakan kalau gua tinggal bentar!" Ujarnya dengan nada canggung sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Oke!" Jawab Archie yang masih lekat menatapku dan tak menganggap kehadiran Dimas.
Lalu Dimas pergi dari Kosan nya dan meninggalkan kami berdua di dalam tempatnya.
Damn it!
Suasana canggung apa yang menggerayangi pikiran ku ini tuhan, kenapa aku malah merasa lebih baik jika Dimas tak meninggalkan kami berdua dalam keadaan seperti ini.
"Gua udah denger semua nya!" Ujar nya sambil memainkan gelas kosong yang berada di atas meja.
Aku kaget.
"Sejak kapan!?" Bisiknya kemudian mendekat kearahku sampai membuat tubuhku tercondong kebelakang.
"Archie, kita lagi di tempat orang!" Ujar ku yang mencoba menanamkan kewarasan di dalam kepalannya.
"Jadi tadi secara gak langsung tadi lu lagi nyatain cinta ke gua." Bisiknya lagi mendekatkan bibirnya ketelingaku.
"A-aku gak..."
"Jadi lu gak ngakuin perasaan lu di depan gua, tapi di depan orang lain lu malah ngakuin perasaan lu sendiri." Bisiknya lagi menggigit lembut daun telingaku.
"Ki-kita lagi di tempat o-orang!" Ujar ku yang tak bisa menahan kedua lengan yang menopang tubuhku yang hampir saja terlentang.
"Gak ada hubungannya!" Jawabnya menarik lembut daguku dan mengangkatnya menuju bibirnya.
"Entar ada yang liat!" Ujar ku menghentikan aksinya.
"Bukannya bagus kalau ada yang liat!" Balasnya masa bodoh.
"Ki-kita lagi di indonesia, dimana moral merupakan segala-galanya dalam menjalin hubungan baik antar manusia." Mendadak aku menjadi guru PKN dalam situasi genting seperti ini.
"Tapi gua warga negara asing, jadi gimana dong?" Balasnya mengusap lembut bibirku.
__ADS_1
"Ja-jangan disini! Nanti kak Dimas.."
Suara hentakan sendal jepit yang mendekat kearah kosan langsung menghentikan aksinya.
Sehingga dia menarik tubuhnya kembali dan duduk dengan wajar seperti tamu normal kebanyakan.
"Lama gak!" Tanya Dimas.
"Gak lama sama sekali!" Jawabku bersemangat karena kedatangan Dimas sudah menyelamatkan ku dari monster bule bedebah.
***********
"Jadi menurut gua karna sekarang tuh lagi ngetren banget pake barang-barang bekas atau barang yang ga kepake buat dijadiin bangunan atau sebagai hiasan indor. Gua ngerasa kalau bagusnya kita ambil salah satu, pengen pake barang bekas sebagai bahan bangunan, atau pake barang bekas buat hiasan indor." Ujar Archie mendiskusikan perihal proyek ini pada kami berdua.
"Aku suka nya kalau pake bahan bangunan dari barang bekas yang gak kepake! Terus untuk soal Dekor indor, kita bisa gunain bahan yang murah dan ramah lingkungan seperti memanfaatkan potensi alam!!" Jawabku.
"Iyaaa..sih. Gua setuju, apalagi konsep anak-anak juga pada mirip-mirip semua nya pada ngusung konsep bedah rumah. Jadi gua pikir kita harus nyari tema berbeda dari mereka!" Ujar Dimas antusias melihat gambar dan video yang di putar di laptopnya.
"Rumah dari kontainer bekas, kayak gini bagus deh!!" Timpal Archie mendekat kearahku dan dengan sengaja meletakkan tangannya menyentuh paha ku.
Aku melototi dirinya yang berani-beraninya menempatkan tangannya di atas pahaku yang terbuka.
"Iya kan!" Tanya nya meminta pendapatku sambil sedikit menggerakkan tangannya.
Aku tidak menjawab pertanyaannya dan dengan terang-terangan melototinya, memberikan kode keras untuk segera menyingkirkan tangannya dari pahaku.
"Iya, gua juga setuju!" Jawab Dimas yang tak menyadari sama sekali kalau tangan Archie mendarat sempurna di situ.
"Gua juga suka kalau.." Tangannya semakin bergerak keatas dan menuju paha atasku.
"Kita ngusung tema ramah lingkungan!" Ucapnya yang tak mengidahkannku yang terus melototinya dari tadi.
"Hmmm...gua juga setuju banget. Kalau Anya gimana?" Tanya Dimas melihat kearahku yang dari tadi melototi Archie.
"Haaahhh..ohh iya, aku ju-ju.." Konsentrasi ku buyar sesaat, waktu tangan Archie menuju paha atasku dan bergerak liar menyentuhnya tanpa terkendali.
"Lah, lu kenapa?!" Tanya Dimas bingung.
"Air. Ambilin air!!" Ujarku panik dengan wajah memerah.
Dimas langsung bergegas kedapur dan mengambil air minum.
Tap...
Aku langsung menyingkirakan tangan Archie yang menempel dengan bebas di pahaku.
"B*doh!" Bisikku di dekat wajahnya sambil melirik Dimas yang sedang menyiapkan air putih untuk ku.
Archie hanya tersenyum senang sambil menatap puas reaksi ku.
"Gimana dong. Tangan gua gak bisa di kontrol!" Balas nya dengan berbisik di dekatku.
__ADS_1
Aku hanya memberi kan dia respon melotot sambil mengawasi Dimas yang berada di dapurnya.
"Entar malam..." Bisiknya lagi di dekatku. "Kamar lu gak usah di kunci. Gua mau masuk."