Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Bunga Tanpa Kelopak


__ADS_3

Dia tak mengidahkan hardikanku, wajahnya memandang lurus ke arah dimana posisiku terakhir kali menamparnya, tak tercermin di wajahnya kalau dia merasa bersalah atas perkataanya atau marah atas tamparanku. Memandang kosong seperti orang kena sakit saraf saat bulan purnama tiba.


Ku angkat wajahnya dengan kedua tanganku untuk mengalihkannya dengan tatapanku, dan kini ku sadar kalau dia sudah pergi jauh entah kemana melarikan kepedihannya sendiri atas teritori pemikirannya yang tak pernah ku mengerti.


"Kenapa kau sampai bicara seperti itu?" Desakku.


Dia tak menjawab.


"Archie, apa yang kau pikirkan?"


Dia sangsi dan menatapku balik dalam pandangan tajam yang mengiba. Sejurus kemudian dia menyambut kedua tanganku yang menempel di wajahnya, lalu mengusapnya ringan seperti menyapu debu kemudian tersenyum aneh.


"Apa lu bakalan bareng gua terus kalau suatu hari gua juga ga bisa selamatin lu?" Ucapnya dengan suara berat yang bergetar.


"Apa?"


"Apa lu ga kepikiran ampe kesitu?" Tambahnya. Aku pun dongkol, sampai kehabisan kata-kata.


"Apa lu pernah ngerasa jadi orang yang ga berguna tapi tetap nyoba buat nyelamatin orang lain!" Aku yakin dia sedang membicarakan dirinya sendiri, "coba aja si, dulu lu ga ketemu gua, mungkin sekarang idup lu ga penuh drama kek gini.."


"Hei!!" Potong ku, spontan dia menatapku dengan pandangan kaget. "Sejak kapan kau jadi semenjijikan ini?"


"Menjijikan?" Keningnya mengernyit.


"Ya kau menjijikan, padahal baru aja kemarin berkoar-koar ngomong bakalan ngelakuin apa aja demi aku, tapi sekarang kata-kata klise sinetron aja berani kau ucapkan."


Lama Archie terdiam setelah mendengar kata-kata ku, namun wajah muramnya tak juga kunjung hilang.


"Anya, gua!!" Dia tak melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


Ku dekati wajahnya dan ku kecup keningnya berlahan. "Beristirahatlah, akan ku tinggalkan kau sendiri." Ujarku.


Sebelum dia menyahut aku sudah di ambang pintu dan menutup pintu itu rapat-rapat.


"Nyonya?"


Aku tersentak, Hendri tiba-tiba muncul di hadapanku sembari membawa baki berisi 2 porsi makanan lengkap dengan susu.


"Ah, kau Hendri!!"


"Saya membawakan makanan untuk Tuan dan Nyonya." Jelasnya.


"Untuk sekarang, ku pikir sebaiknya kita harus ninggalin Archie sendirian!" Jawabku.


Kening Hendri mengernyit mendengarku, mungkin di dalam hatinya dia sudah menebak kemungkinan yang terjadi.


Hingga akhirnya Hendri menyarankan untuk memanggil konselor untuk menangani kejiwaan Tuannya, dan hal itu pun di setujui oleh Archie dengan usaha kami semua tentu saja. Hendri bahkan rela membobol jendela kamar yang berada di lantai tiga demi membujuk Tuannya itu makan. Dan aku berpura-pura pinsan dan rela tak bergerak selama 4 jam di hadapannya agar kedok ku tak terbongkar. Sampai Dafa yang nolep dan malas gerak itu ikut andil membujuk Archie dengan cara menarikan tarian gurita di tengah sawah demi menarik perhatian Archie.


***********


"Bolehkah saya berbicara kepada anda Nyonya Yuaga!" Ujar Dokter Edmund setelah keluar dari kamar Archie, dokter yang selama ini selalu menangani kondisi psikis kami berdua.


Aku mengiyakan dan mempersilahkannya untuk berbincang-bincang.


"Apakah Tuan Yuaga pernah mengalami pertengkaran beberapa hari belakangan ini, yang melibatkan trauma terhadap fisiknya, mungkin dengan Nyonya barangkali?" Tanyanya kritis.


"Kami pernah bertengkar, tapi hanya beberapa saat dan tak terlalu serius." Jawabku, "namun sebelumnya dia juga pernah bertengkar dengan adiknya, dan sampai sekarang adiknya bahkan belum kembali."


Dokter Edmund mafhum, dia menatapku dengan serius dibalik kacamatanya yang berlensa tebal.

__ADS_1


"Mereka bertengkar mengenai sesuatu yang serius dan membuat adiknya marah, bahkan dia sempat menjegal leher Archie sampai terpojok." Jelasku lagi.


"Dan Tuan Yuaga tak melakukan tanda-tanda perlawanan secara psikis maupun lisan!" Ujar Dokter Edmund.


"Benar, Archie bahkan membiarkannya begitu saja, sampai membuatku aneh karena selama ini Archie bukan tipe orang yang selalu mengalah dengan keadaan apapun."


"Itulah kenapa Tuan Yuaga merasa tak berdaya karena sifatnya yang tak mudah mengalah." Pungkas Dokter Edmund mengangguk-angguk seperti kambing tua kekenyangan.


"Tak berdaya?"


"Misalnya seperti ini Nyonya!" Dokter Edmund bersiap menjelaskan, "andaikan Nyonya pernah memakan stick daging yang enak di suatu restoran, Nyonya akan tergerak untuk mengunjunginya lagi dan lagi dan tidak tertarik dengan restoran lainnya yang menjual stick daging karena menurut Nyonya di tempat itu lah yang paling enak, namun suatu ketika secara kebetulan dan tak sengaja Nyonya mengunjungi restoran lain yang menjual stick daging yang ternyata lebih enak dari restoran yang sering Nyonya kunjungi!" Aku mengangguk antusias, "singkatnya, perasaan seperti itu umumnya memiliki rasa penolakan di awal namun di akhiri oleh rasa kebenaran yang kuat, rasa stick daging yang enak merupakan kebenaran hakiki dari indra pengecap. Sampai sini Nyonya mengerti maksudku?"


"Aku mengerti dokter!" Jawabku.


"Tuan Yuaga merupakan sosok yang kuat dan sempurna, tak ada yang meragukan kepemimpinannya di bidang saham, politik dan juga sosialisasi. Namun di balik sosok sempurna manusia pastilah terdapat kelemahan yang terselubung," lanjut Dokter Edmund. "Meskipun aku tak mendapat kan permasalahan detilnya seperti apa, yang jelas Tuan Yuaga telah di sadarkan secara paksa lewat peraduan fisik, layaknya rasa stick daging enak yang tak dapat di akali indra manusia. Adiknya Tuan Yuaga menyadarkannya atas kelemahannya tersebut."


Aku diam sembari menopang daguku. Memang benar selama ini Archie selalu berhasil di segala hal, bahkan semua rencananya terbilang sukses tanpa ada kecacatan, itu semua karena di baliknya ada orang-orang berbakat seperti Hendri dan juga Sakurai, wajar saja kalau Archie merasa terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri setelah mendengar kemarahan Sakurai sampai dirinya terpojok.


"Saya menyarankan untuk menemui adiknya Tuan Yuaga terlebih dahulu, karena saat saya mendengarkan pernyataanya, dia hanya bereaksi kuat jika saya menanyakan kelanjutan konflik dengan adiknya!"


"Maksud Dokter, terlebih dahulu saya harus membujuk Sakurai agar mau berdamai!" Jawabku.


"Seperti itulah maksud saya Nyonya karena kunci dari permasalahan ini mungkin terletak pada Adik Tuan Yuaga."


***************


Sampai muntah-muntah Dafa mencari informasi keberadaan Sakurai, dia duduk selama berjam-jam tak bergeser dari kursinya mengutak-atik data satelit serta data penunjang lainnya, dan bergumam sendiri secara misterius, dia rela melakukan ini semua karena kuatir akan keberadaan idolanya itu.


Setelah hampir 16 jam lamanya, itu artinya dia sudah duduk di sana lewat setengah hari, dengan mata berbinar penuh harapan dan juga muka acak-acakan seperti habis bertarung dengan gerandong, dia mengabarkan jika akhirnya dia menemukan keberadaan Sakurai yang ternyata sedang bersemedi di suatu tempat yang tak terlacak oleh satelit manapun dan keberadaanya pun sukar untuk di temukan oleh intel manapun, yaitu di bawah kolong jembatan. Rumah Dafa.

__ADS_1


__ADS_2