Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Tak Ada Salahnya Mencoba


__ADS_3

Aku tak bisa tidur.


Ini sudah tiga hari berlalu setelah bertemu dengan Paisee, aku tak bisa menikmati waktu tidur ku dengan nyenyak.


Menyebalkan. Kenapa setiap kata-katanya terus terngiang-ngiang di telingaku. Apalagi saat dia membahas tentang 'Takdir Benang Merah'. Meskipun aku tahu Paisee mengatakan itu hanya ingin mendramatisir percakapan. Tapi tetap saja, aku kepikiran.


"Hahh..aku haus!" Ucapku sambil duduk di tepian kasur.


Ku lihat hari sedang menunjukan pukul 02.00, dan lagi-lagi aku terbangun di saat tengah malam.


Apa karena akhir-akhir ini tak banyak hal yang ku lakukan dan hanya rebahan di dalam kamarku, mangkanya aku jadi bosan tiduran dan selalu terbangun di tengah malam.


"Apa aku pergi liburan saja ke luar negri, dan berkunjung ke tempat-tempat yang mahal untuk menikmati hasil dari kerja kerasku." Gumamku sendiri sambil menuangkan air minum ke dalam gelas.


Tak..tak...tak...


Aku di kejutkan oleh suara batu kerikil kecil yang menghantam jendela dapur secara terus-terusan.


Rasa penasaran ini langsung membawaku melihat ke arah luar jendela. Dan saat itulah aku melihat Sakurai dan Sayang sedang berdiri di luar rumah di bawah lampu jalanan sedang melempar kerikil kecil ke arah rumahku.


"Astaga. Seperti nya aku benar-benar sudah gila. Bahkan aku melihat Sakurai dan Sayang sedang berada di luar pada jam segini!" Gumamku sambil menenggak air putih.


Guk..guk..gukk...


Tiba-tiba terdengar suara anjing menyalak dari arah samping mereka. Dan saat itu juga mereka berdua langsung kabur kocar-kacir sambil melempari anjing itu dengan kerikil.


"Pppfffftttt....!!" Air yang ku tenggak langsung tersembur dari mulutku, dan aku pun langsung berlari buru-buru keluar untuk menolong mereka berdua.


*************


"Apa yang kalian lakukan pada jam segini di rumah orang?" Tanyaku.


Mereka berdua tak menjawab dan berjongkok ngos-ngosan mengatur napas.


"Bagaimana kalau seandainya ada yang melihat kalian duluan sebelum aku. Apa kalian tidak berfikir kalau kalian akan di tuduh sebagai pencuri.."


Greeppp...


Tiba-tiba Sakurai beranjak dari tempatnya dan langsung memeluk tubuhku dengan erat.


"Kakak!!" Panggil Sakurai.


Aku terkaget bahkan belum sempat bereaksi.


"Aku merindukanmu, kak!!" Ucapnya dengan nada lirih sambil mengusap lembut kepalaku.


"Sakurai!!" Panggilku.


"Kakak. Ku mohon jangan tinggalkan aku, kakak tak boleh meninggalkan kami dengan cara seperti ini. Aku tak akan membiarkan kakak pergi!!" Ujar Sakurai lagi sampai memelukku semangkin erat.


Aku menerima pelukannya dan menepuk-nepuk lembut punggung Sakurai untuk menenangkannya.


"Sakurai!" Panggilku lirih. "Maafkan kan aku. Maaf!!"

__ADS_1


Sakurai terdengar terisak dan memelukku kian erat.


Sedangkan Sayang hanya memperhatikan kami berdua sambil mengatur napasnya yang masih memburu.


Agar tak terjadi keributan yang berkepanjangan, aku membawa mereka berdua masuk ke dalam rumah meskipun kedua orangtua ku masih terlelap dan tak mengetahui kehadiran mereka berdua.


"Baiklah, katakan. Apa yang kalian lakukan di rumah orang pada jam segini. Tidakkah kalian berdua berfikir kalau tindakan kalian ini akan mengundang orang-orang sekitar untuk mencurigai kalian!!" Aku murka.


Mereka berdua saling pandang sambil memegangi cangkir yang berisi coklat panas.


"Bukan salah gua, Nya. Ni anak beneran ga mau dengerin gua. Dia mohon-mohon ampe nangis pengen di temenin ke rumah lu. Padahal udah gua bilangin ntar aja!!"


"Aku hanya punya waktu sampai malam ini!" Sakurai langsung memotong perkataan Sayang. "Aku tak punya waktu apalagi menunggu sampai besok!"


Aku dan Sayang saling bertatapan.


"Maksudmu?" Tanyaku.


Sakurai memalingkan wajahnya.


"Besok. Kami semua akan pergi dari negara ini dan menetap di jepang." Jawabnya.


DEG...


Aku membeku di hadapannya.


"Dan setelah itu, kakakku akan langsung menggelar acara pernikahan yang akan di adakan oleh keluarga ku di jepang. Aku tak bisa menunggu sampai pagi menjelang, karena pada saat itu mungkin kami semua telah pergi dari negara ini." Jelas Sakurai.


Aku mengangguk sambil menahan perasaanku sendiri yang hampir meledak.


"Apa yang ingin kau sampaikan?" Tanyaku spontan.


Sakurai menghembuskan napasnya sambil meletakkan cangkir di atas meja.


"Aku mendengar percakapan terakhir antara kakakku dan dokter yang menangani kakak waktu itu!" Ucapnya dengan tatapan searah.


"Apa yang kau dengar?" Sergahku.


Sakurai menatapku.


"Dokter bilang kalau sebenarnya kakak masih punya harapan terakhir untuk mengembalikan memori yang hilang!!" Jawab Sakurai.


"Kau mendengar hal semacam itu?" Aku mendesaknya.


Sakurai mengangguk.


"Lalu apa lagi yang di katakan oleh dokter itu?" Tanyaku terus.


"Dokter itu menyarankan kepada kakakku untuk membawa kakak pergi ke tempat kejadian perkara itu dan membiarkan memori yang hilang berkecamuk dan merasuki pikiran kakak sampai kakak mengingat kembali hal-hal menakutkan itu!" Ucap Sakurai.


Aku bungkam sambil mengepalkan dengan kuat tanganku.


"Tapi karena hal ini sangat berbahaya dan kakakku takut terjadi hal yang akan membahayakan keselamatan kakak, maka dengan keras kakakku menolak melakukan hal itu. Karena bagaimanapun, tempat itu adalah kenangan buruk yang amat sangat ingin kakakku lupakan seumur hidupnya!!" Lanjut Sakurai.

__ADS_1


Aku tercenung dengan tatapan searah.


"Tempat kejadian perkara. Maksud lu, balik ke pulau itu!?" Tanya Sayang


Sakurai mengangguk.


"Meskipun kemungkinannya hanya 30% dari presentase keberhasilan yang ada, tapi tak ada salah nya jika kakak mencobanya!!"


Aku terperanjat.


"Benarkan kakak!" Sergah Sakurai menatap manik kedua bola mataku.


Aku tak menjawab dan membalas tatapannnya.


"30% adalah kemungkinan paling kecil yang di miliki oleh orang yang putus asa. Apa lu pikir ini akan berhasil!?" Tanya Sayang.


Sakurai tak gentar dan menatap balik Sayang.


"Tak ada salahnya mencoba. Lagi pula jika kakakku tak yakin rencana ini akan berhasil, lalu untuk apa dia membatalkan perceraiannya dan merekayasa pernikahan palsu, dan juga membiarkan ku pergi ke tempat ini untuk bertemu kakak lalu membeberkan hal ini!!" Ucap Sakurai.


Aku mengangkat kepalaku saat Sakurai menggertak balik Sayang.


"Archie, tau rencanamu?" Tanyaku.


"Tentu saja!" Jawab Sakurai memalingkan tatapannya melihat ke arahku. "Kalau tidak, untuk apa dia membiarkanku pergi meskipun dia tau tujuanku adalah menemui kakak!"


Aku diam selama beberapa waktu sambil menatap sejurus dengan pandangan tak fokus.


"Kak!" Panggil Sakurai.


Aku setengah terperanjat dan balik menatapnya.


"Ini adalah kesempatan terakhir. Meskipun kemungkinan nya sangat kecil, tapi Sakurai yakin kakak mampu melakukannya!"


Aku tak menjawabnya karena yang ada di kepalaku saat ini adalah perasaan berkecamuk tentang Archie.


Sakurai merogoh sesuatu di balik kantong celanannya dan menunjukan secarik kartu padaku.


"Ini adalah alamat tempat tinggal kediamanku di jepang, dan di sana juga tertera nomor telpon jika suatu hari kakak membutuhkan bantuanku!" Ucapnya sambil memberikannya padaku.


Aku mengambilnya dan menatap alamat yang tertera di sana, lalu kemudian beralih menatap Sakurai.


"Datanglah kapanpun kakak membutuhkan ku!" Ucapnya dengan senyuman.


**************


Aku menatap pesawat terakhir yang terbang mengudara menuju jepang. Bersamaan dengan awan-awan putih yang berarak menaungi perjalanannya. Begitu juga dengan harapanku. Begitu juga dengan perasaanku.


"Anya!" Panggil Sayang.


Aku tak memalingkan tatapanku dari pesawat yang baru lepas landas kemudian berlahan-lahan melesat bagai burung puyuh kena jerat.


"Bentar lagi keberangkatan kita!" lanjut Sayang sambil membereskan barang-barang ku.

__ADS_1


Aku menghela napas panjang saat pesawat yang membawa mereka benar-benar telah menghilang dari pandanganku.


"Ayo!" Ucapku pada Sayang, "kita juga pergi!"


__ADS_2