
"Ini sudah larut malam. Jadi saya akan berbicara dengan pelan agar Ibu dan Bapak Nyonya tak terbangun saat mendengarkan pembicaraan kita!!" Ujar Hendri bersikap tenang setelah membuatku patuh.
Aku mengangguk setuju dan mendengarkan.
Pertama-tama Hendri membeberkan permohonan maaf nya kepadaku, atas sikap Tuan nya, atas kerahasiaan yang telah di sembunyikan oleh keluarga ku selama bertahun-tahun, atas semua masalah yang menimpaku, atas semua yang telah terjadi. Dia meminta maaf atas semua yang tak ada hubungannya dengan dirinya, tapi dia tetap merendah seolah semua itu adalah perbuatannya.
Kemudian, dia pun membeberkan rencana Tuan nya untuk meninggalkan indonesia sesegera mungkin dan menetap di jepang bersama keluarga dan istri barunya di kediaman Yuaga.
Hendri mengatakan jika semua itu semata-mata Tuan nya lakukan untuk melindungiku dari ancaman-ancaman yang akan datang, sehingga Archie tak punya pilihan lain selain meninggalkan ku, dan menikah dengan wanita lain yang tidak di cintainya.
Meskipun aku tahu Hendri akan mengatakan hal itu secara berulang-ulang karena membela Tuan nya. Tapi tetap saja, aku ingin mendengarkan omong kosong ini. Aku ingin mendengarkan banyak sekali alasan kalau Archie masih mencintaiku dan terpaksa meninggalkan ku karena ingin melindungi atau semacamnya. Aku ingin mendengar hal semacam itu, meskipun sampai ribuan kali pun aku masih sanggup mendengarnya.
"Lalu ini!" Hendri menyodorkan segepok berkas kepadaku. "Tuan sudah mengurusnya dari awal pernikahan, dan semua nya atas nama Nyonya!"
Berkas-berkas itu berisi hasil kesepakatan awal kontrak pernikahan yang di setujui oleh kedua orang tua kami dan rahasiakan rapat-rapat dari ku. Dan di sana tertulis jika perusahaan milik Archie Yuaga yang berada di indonesia akan di serahkan seluruh nya kepadaku, sehingga aku memiliki 32% aset kekayaan dari keluarga Yuaga.
32% dari aset keluarga Yuaga di indonesia mencakup 3 perusahaan game, 12 hotel berbintang 5, 32 buah restoran besar, 2 buah mall, 4 buah gedung apartemen, beserta aset lainnya yang tak bisa di sebutkan satu persatu. Dalam waktu singkat hal itu langsung membuatku menjadi salah satu orang terkaya di negri ini di usia muda.
Namun kabar itu tak membuatku senang sedikitpun, karena harta-harta ini ku dapatkan dengan cara mengorbankan kewarasan dan kebahagiaanku.
"Dan ini...." Hendri menyodorkan berkas lainnya ke atas meja dengan tangan gemetar.
Itu adalah dokumen-dokumen yang di butuhkan oleh pengadilan agama agar segara ku tandatangani, kemudian mengesahkan secara resmi perceraian kami.
Aku dan Hendri saling bertatapan dalam perasaan asing yang tak mampu ku jelaskan. Seolah tatapan mata nya sedang mengisyaratkan penyangkalan, terlihat dari keragu-raguannya menjelaskan dokumen perceraian itu.
Saat aku memegang pulpen untuk menandatangani berkas itu. Seketika jari-jemari ku gemetar hebat saat memikirkan betapa Archie sangat ingin membuangku setelah apa yang telah kami lewati bersama.
Dia bahkan tak membuang-buang waktunya untuk memikirkan perasaan ku yang akan terluka jika proses perceraiannya di lakukan secepat ini.
Aku tak sanggup melakukannya, sehingga langsung membuang pulpen itu dan menangis terisak sambil meringkuk.
Hendri menunduk dalam, saat mendapati keadaan ku yang memprihatinkan.
Aku menangis sejadi-jadinya di hadapan dokumen perceraian itu, karena tak ada lagi yang bisa ku lakukan selain menangis.
__ADS_1
"Nyonya!" Sapa Hendri.
Tapi aku tak menggubris nya dan terus menangis sejadinya sampai mataku perih dan wajahku mati rasa.
"Tidak apa-apa. Semua nya akan baik-baik saja Nyonya!!" Ucapnya dengan suara parau.
Yang tak ku tahu pada saat itu adalah Hendri memungut dokumen perceraian itu lalu menyelipkannya di balik punggungnya.
Dia tak mengatakan apapun setelah nya, dan terus menenangkanku agar berhenti menangis.
************
"Saya pulang dahulu. Terimakasih karena sudah repot-repot mau saya repotkan!!" Ucap Hendri berpamitan kepada kedua orangtuaku pada pagi harinya setelah berhasil menemuiku dan menyampaikan pesan pentingnya.
Aku memandangi Hendri dari kejauhan di balik kaca jendela kamarku.
Saat akan memasuki mobil di berhenti sejenak lalu memandangi sesuatu di balik jas hitamnya. Kemudian dia mengidar sekitar dan berjalan berlahan ke arah tumpukan sampah yang sedang di bakar oleh tukang kebun.
Aku penasaran dengan apa yang dia lakukan, lalu mengikuti pergerakannya sampai akhir.
Kami berdua beradu pandang, dia membalas tatapanku yang mengawasinya di balik jendela kamar. Hendri membungkuk dengan rendah memberikan penghormatan terakhirnya kepada ku sebagai majikannya, lalu tersenyum ramah seolah mengisyaratkan sesuatu yang tak bisa ku pahami.
Setelahnya dia pun langsung pergi berlalu begitu saja dari kediaman kami dengan kecepatan tinggi.
Aku menutup jendela kamarku rapat-rapat setelah Hendri pergi dari rumah ini, dan kembali mengurung diri di dalam kamarku yang gelap dan juga sunyi.
Namun sekelebat bayangan Hendri di depan halaman rumah ini membuatku kepikiran.
Braakkk...
Aku langsung berlari keluar dari kamarku dan menyusuri tangga seperti pemain akrobat demi ingin melihat langsung apa yang terjadi di tempat tong pembakaran sampah.
"Anya. Kau mau kemana nak!!" Bapak berteriak melihatku yang kocar-kacir berlarian di sepanjang rumah.
Lalu pada saat sampai di tempat pembakaran sampah, aku menemukan sesuatu yang mengejutkan.
__ADS_1
"Hendri!" Aku terbelak hampir tak percaya dengan apa yang telah ku lihat.
Aku duduk bersimpuh di dekat tempat pembakaran itu sambil membekap mulutku sendiri.
"Apa yang kau lakukan!!" Gumamku tercenung memandangi berkas yang sudah hampir lenyap di makan api.
Hendri membakar dokumen perceraian yang seharusnya ku tanda tangani.
Ceklek....
"Anya. Kau dari mana saja!?" Tanya Ibuku di depan meja makan.
Aku tak menjawab dan berjalan dengan tergesah menaiki tangga menuju kamarku.
"Anya!" Panggil Bapak.
Aku langsung berhenti di depan tangga dan menatap mereka berdua di hadapan meja makan dengan mata kuyu.
"Apa ini yang kalian berdua inginkan!" Gumamku.
Bapak dan Ibu saling bertatapan satu sama lain.
"Nak. Kemarilah!!" Ucap Bapak berdiri dan menghampiriku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tak mengidahkan panggilan kasih dari orang tua ku. Dan mengabaikan mereka seperti orang asing.
Aku langsung pergi dari hadapan mereka menuju kamar dan mencari ponsel ku yang tak pernah ku aktifkan selama hampir sebulan.
Saat aku menelpon Hendri, ternyata nomornya sudah tak aktif. Begitu juga dengan Sakurai, nomornya juga di alihkan.
Aku duduk di atas tempat tidurku dalam perasaan yang tak karuan. Lalu terus menghubungi Hendri meskipun nomornya sudah tak lagi aktif.
Sampai pada panggilan yang ke 50 kali nya, aku pun menyerah dan melemparkan ponsel itu ke tas tempat tidur.
"Sial!!" Gumamku menjambak rambutku sendiri.
__ADS_1
Hendri apa yang sedang dia pikirkan. Kenapa dia membakar surat perceraian yang seharusnya ku tandatangani. Aku tak bisa menanyakan apa yang sedang dia rencanakan karena nomornya tidak dapat di hubungi. Kenapa dia bertindak semaunya sendiri.