Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Catur Bapak


__ADS_3

Aku berhambur keluar dari mobil Hendri di saat melihat pagar depan rumahku yang berwarna biru terang.


Kedua orang tuaku sedang berdiri di halaman rumah dengan kepala mendongok kesana kemari mencoba melewati pagar rumah yang tinggi menatap lekat mobil hitam Hendri yang membawa ku.


Saat itu juga pak satpam membuka pagar rumah kami yang bergaya khas penghuni komplek. Dengan air mata yang tak bisa ku bendung lagi, aku langsung berlari dan memeluk ibuku yang sedari tadi menyeka air matanya dengan lengan bajunya.


Bapak ku ikut memelukku dan mengusap punggung ku.


Mereka bersedih karena perbuatanku.


"Selamat siang Nyonya dan Tuan besar!" Sapa Hendri yang tiba-tiba muncul dari balik pagar memecah konsentrasi kami sekeluarga yang sedang berduka.


"Nak Hendri!" Sapa bapak ku sembari melepaskan dekapannya di punggung ku dan menghampirinya.


Mereka terlihat berbincang-bincang dengan suara yang setengah berbisik, sesekali melirikku dan ibuku yang masih terisak.


Ibuku membawaku masuk kedalam, dengan tangannya yang masih menepuk ringan pundak dan juga mengusap-usap air mata yang mengalir deras melewati pipi tirus ku.


"Maaf?" Ucapku sembari bersimpuh di pangkuan ibuku.


Tak ada balasan dari kata-kata yang ku lontarkan, ibuku hanya membelai rambutku sampai rasanya ingin tidur.


"Maafkan aku!" Ucap ku sekali lagi berharap mendapatkan jawaban dari permohonan maafku.


Namun sia-sia, Ibuku malah diam seribu bahasa dengan tangannya yang masih membelai lembut rambutku.


Terdengar hembusan napas panjang dari dirinya sampai dadanya terlihat menyusut.


"Sembilan bulan yang lalu!" Ucap ibuku dengan suara bergetar, berusaha mengatur nada bicaranya agar seirama dengan napasnya. "Anak yang waktu itu pernah kau temukan tersesat di taman bermain, datang kembali kerumah ini dengan mengatakan akan menukar nyawanya sendiri demi mendapatkan tubuhmu."

__ADS_1


Aku langsung tersentak mendengar penuturan ibuku yang tiba-tiba, aku mengangkat kepalaku ke atas dan duduk dengan tegak di sampingnya.


"Anak yang kurang ajar!" Ucap ibuku sembari tertawa basi yang masih di linangi air mata sembari memegangi pelipisnya sendiri. "Sifat kurang ajar nya membuat ibu dan ayahmu malah semakin terpesona dengan tingkah nya."


Aku diam mematung dan memperhatikannya.


"Haahh!!" Desah ibuku di iringi tarikan napas ringan. "Anak konglomerat dari keluarga Yuaga itu selalu membawa kejutan dari tiap kali berkunjung!"


Ibuku sekarang terlihat tenang dan menarik napas panjang sembari mengusap punggung tanganku.


"Archie anak yang baik. Ibu dan Bapak memercayakan dia untuk menjagamu, karena Ibu dan Bapak tau siapa dia sebenarnya!"


Tanpa berkata terlalu jauh dan menjelaskan apa yang baru saja ibuku katakan, dia langsung beranjak meninggalkan ku yang mematung memandangi punggung nya.


Tak lama kemudian terdengar teriakan nya yang memanggil namaku dari belakang.


"Mandi dulu, ibu sudah siapkan air hangat!" Ucapnya mengusap tengkukku.


************


Tanpa terasa aku sudah berada disini selama kurun waktu seminggu dan tak mendapat kan penjelasan yang berarti dari ibuku mengenai perkataan nya waktu itu.


Saat ku tanya, dia hanya mengatakan kalau archie adalah anak yang baik, hanya itu yang ku dengar setiap hari.


Untuk alasan yang jelas, selama ini aku tak pernah berinteraksi dengan baik kepada kedua orangtuaku selain di meja makan.


Mereka berdua terlalu sibuk dengan urusan negara, sampai tak bisa berbuat banyak untuk membuat ku merasakan kehangatan keluarga.


Namun usaha yang mereka kerahkan untuk membuatku senang dengan cara menuruti semua kemauanku, sebenarnya sudah cukup untuk membuat ku bahagia.

__ADS_1


Sampai hari ini aku sadar. Kalau mereka berdua memikirkan ku lebih dari apa yang aku bayangkan selama ini.


Terutama mengenai masa depanku, dan juga hikmah yang terjadi dibalik semua peristiwa yang menimpaku.


Di suatu sore, ku lihat Bapak ku yang mengeluarkan papan caturnya dan menyusun dengan rapi pion-pion pada posisinya dan mulai menjalankan ritual aneh, yaitu hobinya yang bermain catur sendirian, menang sendirian, kalah sendirian, meruntuk sendirian, dan bacot sendirian.


Bapak ku ini?


Semua ini ada alasannya, Bapak melakukan ini hanya saat melihat ku ada dirumah. Dia membuat ku merasa iba agar mau belajar dan menemaninya bermain catur sebagai lawan tandingnya, tapi meskipun begitu, sekeras apapun aku mencoba mencerna pembelajaran nya, otakku selalu nyendat dan berakhir saling timpuk.


"Tepat 12 tahun yang lalu, Saat itu kau masih balita. Bapak berhasil meringkus seorang penjahat kelas kakap. Dia adalah Pay Long Tse buronan asal negara cina yang tersohor dan sudah di cari selama belasan tahun, karena kejahatan nya yang terus beroperasi memproduksi obat-obatan terlarang dan mensponsori perdagangan manusia yang sudah berjalan hampir puluhan tahun. Setelah meringkus penjahat tersebut, Bapak naik pangkat dan di tunjuk menjadi kepala kepolisian." Ucapnya berdongeng di sela permainan caturnya agar aku tak bosan, dan ceritanya hampir selalu sama di setiap episode, yaitu membicarakan tentang kebajikan nya yang menangkap dan menumpas para penjahat-penjahat berbahaya agar aku terkesan.


Bapak memindahkan pion caturnya dan pura-pura berusaha berpikir keras untuk melawan ku, padahal aku tak mengerti sama sekali bermain catur.


"Terus apa yang terjadi setelah itu kepada Pay Long Tse?" Tanyaku pura-pura berantusias dan dengan asal memindahkan pion ku ke sembarang arah tanpa berfikir.


"Negara kita melarang keras peredaran obat-obatan terlarang dan juga bentuk prostitusi bagaimana pun bentuknya, maka sesuai dengan hukum negara yang berlaku, hukuman yang setimpal dengan perbuatan kejinya adalah hukuman mati." Ayahku berhenti sejenak dan menatapku.


"Skak mat!!"


Dia terkekeh senang dan memadangi wajah polosku yang masih saja tak mengerti permainan kesukaannya yang membosankan, bahkan sudah di ajari belasan kali pun aku masih belum paham.


"2 tahun kemudian, Setelah Pay Long Tse di tembak mati. Dunia kejahatan di asia mengalami penurunan, dan berimbas kepada pelaku usaha black market di bidang Cybercrime terutama." Sambungnya sambil menjatuhkan pion-pion di atas papan kota hitam putih dan memasangnya kembali di posisi semula.


"Yuaga Konisuke adalah seorang konglomerat yang mendunia karena bisnisnya yang selalu menunjang teknologi masa depan. Seluruh ide briliannya seperti harta karun, dia bahkan mengklaim seluruh aplikasi terkenal agar berada di naungan perusahaan nya, yang akhirnya berimbas pada namanya yang semakin besar dan juga kekayaan yang semakin lama semakin banyak!" Ucap ayahku penuh semangat.


"Yaaah..luar biasa, aku berfikir kapan bisa mendapatkan tanda tangan dari orang terkenal seperti Yuaga Konisuke yang sangat ku idolakan itu."


Bapak terlihat merendahkan tatapannya dan menatapku dengan pandangan nostalgia.

__ADS_1


"Sampai suatu hari, kau membawa seorang bocah laki-laki berparas bule berbahasa jepang kerumah ini, yang membuat lutut bapak bergetar saking syoknya!"


__ADS_2