Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Kebenaran Di Balik Rasa Sakit


__ADS_3

"Ruana bersekongkol dengannya untuk mencelakai kakak!!"


Aku memegangi dadaku sendiri karena sesak, padanganku gelap dan tubuhku berat. Namun gejala shock seperti itu tak sebanding dengan rasa sakit atas penderitaanku setelah mendengar pengakuan ini.


"Siapa?" Aku menarik napas pelan-pelan, berusaha menjaga emosiku agar tak tumbang di saat-saat terakhir. "Siapa dia?"


Lagi-lagi Ruana mengerjapkan matanya dengan kuat sampai kerutan di kelopak matanya terlihat, terlambat baginya untuk menghindar, karena dirinya dan juga mimpi burukku akan berjalan di jalur yang sama.


Dia merogoh handphone nya, lalu dengan tangan gemetar memberikannya kepadaku.


Ruana menunjukan kepadaku sebuah pesan singkat dari pengirim yang di beri nama 'D'. Dan di dalam pesan itu, berisi ancaman dan juga hal-hal yang harus Ruana lakukan untuk mencelakai ku.


Tanganku gemetar, saat membaca isi pesan singkat itu, yang benar-benar berisi perintah untuk melenyapkan ku. Ternyata Ruana lah yang menyeretku ke tengah lautan, seseorang telah merencanakan aksi ini dan diam-diam telah mempersiapkan kaca mata renang ke dalam kamar nya.


Aku menatap Ruana dengan mendekap mulutku sendiri. Sedangkan dia merundukan tatapannya dengan mata merah karena menahan tangis.


Namun aku terpaku pada isi pesan singkat yang selanjutnya, mengenai perintah untuk merusak peralatan menyelamku. Namun hal itu tak terjadi, dan malah dia sendiri yang tenggelam karena peralatannya yang rusak.


"Jadi karena itu, kau mengutak-atik peralatan menyelamku." Ucapku memandanginya searah.


Dia tak berani mengangkat kepalanya.


"Tapi karena aku memergokimu, kau malah memakai peralatan rusak itu sendiri!!"


Dia tak menjawab, jari-jemarinya bergetar.


Aku berdiri dan ingin segera memberitahukan kepada Archie tentang semua ini, tapi lagi-lagi Ruana langsung menahanku dan menyuruhku agar tak gegabah membeberkan hal ini.


"Meskipun Ruana bilang tahu pelakunya, tapi Ruana tak pernah bertemu langsung dengannya. Dia hanya berkomunikasi dengan Ruana lewat pesan singkat, dan jika Ruana tak melakukan apa yang dia suruh, Ruana akan semangkin menderita. Ruana ga mau lagi balik ke Sabiru." Ucapnya bersimpuh di kedua kaki ku.


"Maksudmu, semua yang kau lakukan ini, tak ada hubungannya dengan Sabiru." Apa aku salah lagi karena berpikir dia adalah kaki tangan Sabiru.

__ADS_1


Ruana menggeleng. "Sabiru melepaskan ku dengan jaminan aku harus menuruti semua yang di perintahkan oleh seseorang yang berinisial 'D' ini, jika aku membantah. Dia akan mengembalikan ku ke lagi ke tempat Sabiru."


Keterlaluan, orang macam apa yang mengancam seorang wanita dengan hal seperti ini. Ini tak ada bedanya seperti memperlakukan Ruana sebagai barang, yang jika sudah tak berguna lagi akan di kembalikan ke tempat asal.


************


"Abis dari mana lu?" Tanya Arya mencegatku. "Anak-anak ribut tuh, gegara lu ngilang gitu aja. Ikan bakarnya gosong."


Aku tak menjawab dan memandang searah.


"Anya?" Arya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku.


Aku tak mau membahas apapun dengan siapapun sekarang, yang ku butuhkan hanyalah ketenangan sesaat.


"Pinjem Handphone kamu dong!!" Ujap ku.


"Boleh, Handphone lu mana?" Ujarnya sambil memberikan Handphone nya kepadaku.


"Ketinggalan di resort." Jawabku.


"Ahh..iya aku kok bisa lupa ya." Jawabku sambil mengutak-atik Handphone nya. "Nih, aku balikin!!"


Namun aku tak memperhatikan detil yang sangat terlihat jelas. Saat itu, aku memasukan nomor Handphone seseorang yang berinisial 'D' dan tepat di nama kontaknya pun sebenarnya tertulis nama 'D'. Dan saat itu juga tanpa sadar aku menelpon pemiliknya sendiri di dalam Handphone nya sendiri.


*************


DEG...


Prang..prang...prang...


Peralatan makan ku terlepas secara spontan dari genggamanku, entah kenapa tiba-tiba jari jemariku lemas.

__ADS_1


"Pay Long Tse!!" Ucapku pelan dan menatap Archie yang masih terus melanjutkan sarapan nya.


Laki-laki yang berada di hadapanku juga terdiam dan menatap sejurus kepada Archie yang masih melanjutkan sarapannya tanpa sedikitpun bersuara. Archie makan dengan tenang, mirip seperti pangeran kerajaan yang punya atitude tinggi yang mengedepankan kasta.


Sedangkan aku dan laki-laki itu hanya menjadi penontonnya.


"Apa kabar paman!?" Tanya Archie setelah menyelesaikan sarapannya dan menaruh peralatan makanannya dengan rapi di pinggir piringnya. "Kapan paman bangkit dari kematian? Lalu untuk apa paman datang kemari, apa ini ada hubungannya dengan ku." Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyaksikan sendiri Archie Yuaga memakai kata 'aku' dalam percakapan.


Orang yang di panggil paman olehnya itu tak bersuara, dia menatap lekat wajah Archie seperti menaruh pikiran tersendiri.


"Apa paman kaget, karena aku langsung tahu kalau paman itu adalah Paisee!!" Ujar Archie tersenyum polos.


Paisee merupakan nama panggilan Pay Long Tse semasa muda, semua teman-teman beserta kerabatnya memanggilnya dengan panggilan itu.


Paisee tak menjawab, raut wajahnya terlihat muram.


"Tu-tunggu, tunggu!!" Aku kelabakan, "Pay Long Tse. Archie apa maksudnya ini, kenapa kau memanggil orang ini.."


"Bener, dia adalah buronan yang terkenal itu, Pay Long Tse. Dia adalah pamanku, teman dekat ayahku, dan seseorang yang amat ku segani sepanjang hidupku." Apa aku tak salah dengar.


Mendengar penuturan dari Archie, paisee mengangkat kepalanya dan menatap tajam sejurus pada Archie.


"Paman pasti tak menduga aku bisa tahu secepat itu tentang kehadiran paman, tapi perlakuan paman yang tak pernah berubah itu, tak kan pernah ku lupakan seumur hidupku." Ucap Archie.


Paisee tetap bungkam, dia bahkan tak menunjukan tanda-tanda akan membalas perkataan Archie.


"Perlakuan?" Aku penasaran, dan menatap mereka berdua yang saling pandang.


Archie mengisi segelas penuh susu yang ada di dalam kotak, lalu menyodorkannya kepada Paisee, "Tak ada yang tau selain paman Paisee kalau aku menyukai susu almond."


Lalu dia juga mengambil roti polos itu kemudian mengigitnya. "Waktu kecil, aku ingat paman Paisee selalu membawakan roti seperti ini jika berkunjung." Archie memakan habis makanannya dan menatap Paisee tanpa berkedip. " Benarkan paman, apa paman pikir aku melupakan semua hal yang pernah paman berikan padaku!"

__ADS_1


"Hmmmpph...!!"


Tiba-tiba Paisee tersenyum tipis, dia memalingkan wajahnya dan berpura-pura menyembunyikan perasaan itu.


__ADS_2