
Tatapan mata kami semua tertuju pada ponsel Laila, dan terlihatlah seorang pria bak supermodel yang seperti sedang berjalan di atas catwalk dengan gagahnya menyusuri mall. Yang tak lain dan tak bukan orang itu adalah Libiru yang waktu itu sedang bersama ku.
Laila dan Arya begitu terkejut sampai tak mampu berkata-kata sekedar untuk meledek Libiru yang tak menunjukan reaksi apa pun selain wajah merah dan alis bertaut.
"Aku juga kaget!!" Ujarku sembari menjelaskan semuanya kepada Laila dan Arya jika foto yang ada di sana benar-benar Libiru yang waktu itu bersama dengan ku. "Kharismanya beda banget, bahkan dia bicara formal dengan pakai kata Aku Kamu."
"Kesambet lu Bang!!" Ungkap Arya yang tak mampu lagi menahan rasa menggelitik di hatinya.
"Gila sih, gua kira ini editan. Tapi gak gua sangka, lu bisa se keren ini ampe gua pikir ini cuman orang yang mirip." Jelas Laila yang tak henti-hentinya menatap foto itu.
"Hhhuuummmpp...!!" Tiba-tiba saja Libiru mendesah dengan wajah menyeringai menyebalkan dan menyilangkan jempol dan jari telunjuk di hadapan wajahnya. "Akhirnya kalian semua menyadari pesona gua." Ucapnya penuh dengan aura kesombongan.
"Cih, tambah ngeselin." Respon Laila bermuka jijik menatap Libiru.
"Ngaku kan lu sekarang kalau muka gua ga mubazir!" Timpal Libiru.
"Siapa tau ini editan!" Balas Laila tak habis-habis.
"Editan pala lu, liat bener-bener!!"
Bla bla bla.... begitulah seterusnya mereka saling adu bacot sampai salah satunya mengeluarkan jurus rahasia.
**************
"Loh Hendri mana, kok kamu yang nyetir?" Tanyaku saat melihat Sakurai yang menjemputku pulang dari kampus.
"Kakak gak suka kalau Sakurai yang jemput!" Ucapnya dengan nada lirih.
Aku kena lagi, Lagi-lagi Sakurai.
"Bukan begitu. Aku khawatir karna kamu kan baru berumur 18 ta..hun."
Dia langsung menunjukan lisensi mengemudinya kepadaku sebelum aku selesai bicara, dan yang mengejutkan ku adalah dia sudah mendapatkan lisensi itu sejak berumur 13 tahun. Tertera jelas tanggal dan foto wajahnya yang masih muda dengan matanya yang terlihat polos menatap kamera. Dan yang membuatku tambah kaget ialah dia memakai baju angkatan militer yang tak tahu dari negara mana asal seragam itu.
"Sebelum pulang, aku ingin bertemu dengan teman ku!" Ucapnya sambil mengambil jalan memutar menuju suatu tempat, dan juga berusaha mengalihkan perhatianku dari fokus lisensi mengemudinya.
"Teman?"
__ADS_1
"Lebih tepatnya fans!!" Balasnya dengan senyum polos penuh kebahagiaan.
"Fans, kau punya fans?" Tanyaku setengah mengejek.
"Kakak lupa kalau aku mangaka terkenal!"
Aku langsung tersenyum ngilu saat dia menyatakan hobinya, gambar-gambar vulgar itu membuatku merasa mual jika mengingatnya.
"Di negara asalku, aku terkenal loh!!" Cetusnya dengan bangga. "Kakak jangan kaget yah kalau tau betapa terkenalnya aku." Sambungnya.
Sampailah kami di sebuah cafe nongkrong yang tak begitu jauh dari kampusku.
Namun saat Sakurai menyapa fans yang dia maksud betapa terkejutnya aku saat bertemu dengannya.
"Dafa!!" Panggilku kaget.
Dafa Dagula, teman satu angkatan jurusan design interior yang dulu satu kelompok dengan ku dalam kolaborasi antar jurusan.
"Loh Bos, ngapain bareng Mas Eko, kalian saling kenal." Ujar Dafa bingung.
"Bos?" Tanya Sakurai menatapku balik.
Setelah berbincang-bincang beberapa saat.
"Mas Eko itu nama indonesia nya, dia sendiri yang pengen gua manggilnya kek gitu." Jelas Dafa.
"Jadi fans yang dimaksud itu kamu?" Tanyaku.
"Gua fans garis keras!!" Jawabnya dengan bangga tanpa sedikitpun penyangkalan. "Semua karya seni buatan Mas Eko itu indah, kalau ada manusia yang gak menyukai mahakaryanya berarti dia bukan manusia." Sambung Dafa.
"Ya ampun!!" Balasku sambil geleng-geleng kepala saat mengingat mahakarya yang dia maksud. Berarti aku bukan manusia.
"Lalu, napa lu bareng Mas Eko. Lu fans nya juga!!" Ucap Dafa mengeksekusiku.
"B-bukan, kau tak tahu kalau Sakurai adik iparku."
Dafa melototiku. "Hah!!" Jelas melihat reaksinya Dafa kaget. "Lu adeknya Archie?"
__ADS_1
Sakurai mengangguk lembut. "Kamu bisa tahu karena nama belakang kami sama-sama Yuaga." Jelasnya.
"Mana gua tau, lu ga bilang!!" Ucap Dafa menimpali. "Lu udah bawa kan barang yang gua minta." Pintanya sambil melirik Sakurai.
Dengan hati-hati Sakurai mengeluarkan 4 buah manga bersampul wanita memakai pakaian minim hampir telanjang sedang main air ciprat-cipratan, dan dengan sengaja Sakurai hanya menunjukannya sedikit kepada Dafa.
"Buset, itu edisi khusus musim panas yang langka banget, bahkan ada adegan yang ga di perlihatkan di edisi manapun." Pekik Dafa dengan semangat mesum membaranya.
Saat Dafa menjulurkan tangannya untuk meraih buku itu, Sakurai terlihat tak bereaksi bahkan tak berniat memberikannya kepada Dafa.
"Dafa senpai, apa kau melupakan janji pertukarannya!!" Ucap Sakurai dan mengelakkan ke 4 buah buku itu agar berada jauh dari jangkauan Dafa.
*Senpai panggilan yang di tunjukan kepada orang yang lebih tua atau bisa di artikan senior.
Dafa tertegun dalam diam dan menatap balik Sakurai yang tak menunjukan ekspresi wajah apa pun selain tatapan mata sejurus.
"Informasi apa yang pengen lu tau?" Jawab Dafa duduk tenang kembali.
Sakurai tak menjawab tapi menampakan wajah datar yang semakin serius tanpa sedikitpun teralihkan.
"Mas Eko, jangan-jangan lu?" Ucap Dafa seperti berasumsi sendiri dengan wajah mengernyit penuh kekhawatiran, lalu bergantian menatapku yang duduk bersebelahan dengannya. "Jadi, ini tujuan lu selama ini!" Ucapnya lagi dengan senyum seperti di paksakan.
"Dafa senpai," Panggil Sakurai sambil menepuk bahunya dan menyodorkan sendiri ke empat serial manga itu di hadapannya."kita sudah sepakat bukan." Ujar Sakurai seperti sedang mengintimidasi Dafa.
**************
"Jadi Sakurai itu adik tirinya Archie!" Ucap Dafa yang banyak diam setelah Sakurai pergi untuk sesaat dan kami berbincang-bincang berdua. "Pantas aja sih kalau gitu, mengingat apa yang udah dia pengen dari gua!" Sambungnya sambil menggaruk tengkuknya sendiri.
"Sejak kapan kalian saling mengenal?" Tanyaku mencari tau lebih jauh.
Dafa diam untuk sesaat, seperti yang terlihat bukan hanya tertekan, sifatnya yang nolep dan sering berbuat semaunya itu hilang dalam sekejab.
"Entahlah, gua juga ga ingat pas kapan." Jawab Dafa, "Dia dateng gitu aja."
"Apa ini ada hubungannya dengan ku, Dafa."
Dafa langsung tersentak dan berusaha tak menunjukan wajah terkejutnya kepadaku, dan sekali lagi dia terlihat khawatir dengan raut wajah mengernyit yang di sembunyikan.
__ADS_1