
"Anya!!" Archie menghampiriku.
Tapi aku tak menggubrisnya dan diam mematung di hadapan makam Laila.
"Ini udah sore, bentar lagi ujan!!"
Tapi aku tak bergerak sedikitpun. Aku tak bisa melepaskan pandanganku dari batu nisan yang bertuliskan namanya itu.
Archie mengelus punggungku, berusaha meredakan rasa sakit dan sesal yang berkecamuk di dadaku. Namun bagaimanapun aku berusaha mengalihkan kesedihan ini, pikiran akan masa dimana aku tak seharusnya melibatkan Laila dalam masalah itu semangkin menghancurkanku.
Air mataku telah habis, mengering, tak bisa lagi mengalir. Jika ku paksa kan, maka mataku akan terasa sakit, perih, dan panas. Tiga hari tiga malam aku terus menangis tak henti-henti. Pernah ku coba mengalihkan perhatian dengan cara tidur, namun saat terbangun dan menyadari kenyataan ini. Air mataku mengalir lagi.
Aku ingin lari dan sembunyi. Menutup diri dari semua kenyataan pahit ini. Tapi seperti yang sudah-sudah, bagaimanapun caraku menghindar. Takdir dan nasib selalu saja menghampiri, menemukanku meskipun aku berada di ujung dunia sekalipun.
Archie merangkulku dengan tubuh hangatnya, sudah lama aku tak merasakan tubuh ini memelukku setelah kejadian itu. Tiga hari tiga malam pula, aku tak pernah berbicara sepatah katapun kepada Archie, begitupun dia. Kami sama-sama menyimpan sesuatu yang tak bisa kami ungkapkan atas peristiwa ini. Atas kematian Laila yang menyakitkan. Atas pernyataan bersalahnya Arya. Atas menghilangnya Libiru. Atas kekacauan ini. Atas derita kami masing-masing. Kami tak ingin membahasnya meskipun untuk sekedar basa-basi.
"Archie!!"
Archie menoleh ke arahku. Mata nya yang sembab dan di kelilingi oleh kantung mata yang menggantung. Menatapku dengan padangan dalam.
"Apa kau pernah mempertimbangkan hal ini!?"
Archie diam saja. Sepertinya dia sudah terlalu lelah bahkan sekedar untuk menjawab.
Ku taksir setelah kejadian itu, dia tak pernah tidur selama tiga hari tiga malam. Dia terus di sibukkan dengan tiga hal ini. Namun dia masih menyempatkan waktunya untuk pergi ke pemakaman Laila meskipun tubuh dan batinnya melemah.
"Apa kau pernah mengira kalau hal ini akan menimpa salah satu dari kita!?" Tanyaku lagi.
Archie tak menjawab namun terus menatapku.
"Apa kejadiannya bakalan sama, kalau sedari awal kita tau kalau Libiru adalah pelakunya!!" Ucapku.
Angin berhembus dari arah samping kami sampai rambut dan baju kami berkibar-kibar.
Archie mendengus lelah, dan menatap batu nisan yang bertuliskan nama Laila di atasnya.
"Mungkin saja, kalau kita sudah tau dari awal kalau dia adalah pelakunya, kita berdua bisa..." aku berhenti dan menggenggam tanganku sendiri.
Archie menghela napas panjang.
"Maafin gua!!" Jawabnya.
"Aku tak mengerti kenapa orang baik selalu cepat pergi meninggalkan kita. Sedangkan manusia biadab-biadab itu di biarkan hidup berlama-lama!!" Aku mengoceh.
"Maafin gua!!" Jawabnya lagi mengulangi perkataan yang sama.
"Kau tau, Archie?!" Aku berlutut di samping makam Laila dan menatap batu nisan itu sekali lagi dari jarak dekat.
__ADS_1
"Dia mengatakan kepadaku untuk bertahan. Aku mendengar itu setelah dia menghembuskan napas terakhirnya dengan senyuman."
Archie ikut berlutut di sampingku.
"Maafin gua!!" Jawabnya lagi untuk yang kesekian kali.
"Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu kepadaku, padahal saat itu dia akan segera pergi!!" Lanjutku.
"Maafin gua!!" Jawabnya terus.
"Kenapa kau minta maaf. Apa kau pikir ini semua ada salahmu.."
"Semuanya salah gua!!" Potongnya spontan.
Aku bungkam dan tertunduk pasrah.
"Maafin gua!!" Archie merangkul tubuhku saat bulir-bulir air mata itu berjatuhan lagi dari mataku.
Memang terasa sakit saat air mata ini keluar, tapi bagaimanapun caraku untuk menahannya agar tak jatuh. Air mata ini semangkin deras mengucur.
*************
Tok tok tok....
"Nyonya. Apa anda di dalam!!"
"Ada apa Hendri!!" Jawabku sambil membuka pintu.
Hendri menatapku dengan pandangan gelisah.
"Nyonya. Tuan di larikan ke rumah sakit!!" Ujarnya panik.
Di rumah sakit tempat Archie di rawat.
"Sepertinya Tuan Archie mengalami anemia yang cukup parah!!" Ucap dokter di depan pintu kamar Archie di rawat.
"Anemia, ya ampun!!" Ucapku pasrah sambil meraup wajahku sendiri.
Saking terpuruknya dengan masalah yang sedang ku hadapai. Tanpa sadar, aku melupakan Archie dan tak memikirkan kondisi kesehatannya.
"Sepertinya, Tuan Archie kelelahan karena kurang istirahat sehingga pinsan. Lagi pula penyebab anemia bisa juga di sebabkan oleh insomnia yang berkala." Jelas dokter tersebut memaparkan penyebab Archie di rawat.
Aku memegangi kepalaku sendiri karena merasa bersalah. Archie memang tak pernah mengatakan ataupun mengungkapkan kalau dirinya merasa tertekan atas masalah-masalah ini. Tapi sebenarnya di bandingkan aku, Archie menerima paling banyak kesakitan itu. Dia menerima pukulan lebih banyak dari siapapun, dia menanggungnya seorang diri, menelannya mentah-mentah.
Meskipun dia terlihat dingin dan tak memusingkan semua yang sudah terjadi, tapi sebenarnya dia berteriak di dalam hati, dan menyimpan semua luka itu untuk dirinya sendiri.
"Archie, kau bodoh!!" Ucapku sambil mengusap kepala nya.
__ADS_1
Dia terbaring di atas kasur dalam keadaan tertidur pulas. Aku tak pernah melihatnya tertidur sangat nyenyak seperti ini selama menikah. Mulutnya sampai di biarkan terbuka, sehingga suara dengkuran yang terdengar cukup jelas memenuhi seisi ruangan.
"Bodoh. Kau benar-benar bodoh!!" Ucapku lagi sambil mencium keningnya.
"Maaf Nyonya!!" Panggil Hendri dari pintu masuk. "Apa anda membutuhkan sesuatu untuk di bawa kemari!?" Tanyanya.
Aku diam sejenak dan menatap langit-langit untuk waktu yang lama.
"Kayaknya enggak. Terimakasih Hendri!!" Jawabku sambil menggeleng.
Dia tersenyum dan menundukkan tubuhnya untuk beranjak dari sini.
"Di mana Sakurai!!" Tanyaku sebelum dia beranjak pergi.
"Tuan Muda sedang pergi ke tempat donor darah!!" Jawabnya.
"Donor darah!!"
"Ahh..iya. sepertinya dokter lupa menyampaikan kalau rumah sakit ini kehabisan stock darah B karena keterlamabatan pengiriman dari PMI. Jadi karena golongan darah mereka berdua sama, maka Tuan Muda dengan senang hati mendonorkannya kepada Tuan." Jelas Hendri.
"Ahh..sayangnya golongan darah ku AB!!" Jawabku menyesalkan.
Aku menatap Hendri yang gelisah melihat Tuannya.
"Hendri, apa golongan darahmu?" Tanyaku penasaran.
Dia tersentak beberapa saat dan tersenyum seperti seseorang yang terpergok.
"Golongan darah saya juga B, Nyonya!!" Jawabnya menunduk sopan.
"B!!"
Dia tersenyum saja dan memalingkan wajahnya.
"Kalau golongan darahmu juga B, kenapa tidak mencoba mendonorkan darah mu juga seperti Sakurai!!" Ucapku.
"Ahhh..saya bukannya tidak mau Nyonya, hanya saja..." kelakuaannya tambah aneh sambil menggosok leher belakangnya sendiri.
"Hanya saja!?" Aku penasaran.
"Saya..takut jarum suntik Nyonya!!" Jawabnya cengengesan.
"Hah!!" Responku.
"Hehehehe!!" Dia malu.
Lalu kalau dia takut terhadap jarum suntik, bagaimana bisa dia tak berekspresi saat senjata api mengacung di pelipisnya.
__ADS_1