Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Hiduplah Di Dalam Bayangan Part 4


__ADS_3

"Arya!!" Ucap Libiru menutup matanya sendiri dengan telapak tangan, lalu terkekeh sambil menampakan senyum mengejek.


"Hahahhahahaha!!" Libiru tertawa keras sampai tertunduk dan memegangi perutnya sendiri.


Archie merubah pergerakannya dari rebahan menjadi duduk. Dia mengawasi tingkah laku abusrd Libiru dengan tatapan tajam.


"Arya. Lu beneran udah gila, omong kosong apa lagi ini!!" Libiru mengolok-ngoloknya.


Arya tak bereaksi dia diam dengan ekspresi yang dingin.


"Lu lagi ngomongin orang yang udah meninggal. Dan lu bilang, dia adalah dalangnya!!" Libiru tambah menjadi.


Arya menghembuskan napas panjang dan memalingkan wajahnya ke arah lain karena menahan amarah.


"Otak lu bener-bener ga beres!!" Sambung Libiru terpingkal-pingkal.


Kami bertiga memandangi Libiru dengan tingkah seperti itu tanpa melakukan apapun. Karena bagaimana pun cara kami menjelaskannya. Semua itu, kebenaran itu, dan juga interaksi yang kami lakukan. Tak bisa di buktikan jika Libiru tak melihat nya secara langsung.


"Siapa yang kau bilang tak beres!!"


Suara laki-laki berat dengan ketegasan dalam setiap intonasi nya langsung membuat hening keadaan.


Secara serempak kami semua menoleh ke arah pintu masuk ruangan ini.


"Otak siapa yang tak beres!!" Ucapnya lagi masuk ke dalam ruangan.


"Paman!!" Gumam Archie.


Arya dan Libiru membeku di tempat mereka masing-masing. Pasalnya meskipun mereka tak tahu asal usul lelaki tua yang tiba-tiba datang ke sini. Namun firasat yang memenuhi logika tak pernah berbohong.


Karisma yang sangat kuat, bahkan saat hanya melihatnya dalam satu kali pertemuan. Siapa pun akan langsung tau, jika laki-laki ini adalah seseorang yang punya pengaruh besar atas kekuatan.


"Aku adalah Pay Long Tse!!" Ucap Paisee menggetarkan seisi ruangan ini dengan karisma nya.


Paisee maju selangkah memasuki ruangan itu dengan gerakan yang mengesankan dan berhati-hati.


Tanpa di sadari oleh Libiru, tubuh nya melangkah mundur dengan sendirinya tanpa di perintah, karena insting alamiah tubuh nya merespon ancaman.


"Nak, katakan dengan sungguh-sungguh padaku!!" Paisee berjalan ke arah Libiru sambil membuka topi koboinya. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya!!"


Libiru berusaha menguasai dirinya sendiri dengan memalingkan wajahnya ke arah lain dan mengatur pergerakannya agar tak terlihat celah kalau dirinya sedang terdesak.


"Kenapa anda mengaku sebagai Pay Long Tse!!" Libiru membalasnya dengan penyangkalan. "Padahal siapapun tahu, kalau Pay Long Tse sudah lama meninggal karena di hukum atas kesalahannya!!"


Paisee mengerling beberapa kali sampai akhirnya menjatuhkan tatapannya lagi kepada Libiru.


"Nak!!" Dia memanggil Libiru. "Aku tanya lagi. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya!!" Paisee mengulangi pertanyaan yang sama.

__ADS_1


Libiru terdiam.


Paisee mengangguk berlahan dan berjalan selangkah lagi kehadapan Libiru.


"Ku anggap jawaban mu tidak!!" Ucap Paisee yang wajahnya sontak berubah dingin.


Libiru membuang muka.


"Katakan padaku nak, siapa kau ini. Siapa yang mengutusmu!?" Tanya Paisee tegas.


Libiru tak menjawab dan tetap membuang mukanya.


"Aku tak pernah mengadopsi atau pun mengangkat seorang anak untuk ku asuh, begitupun juga dengan Arlangga. Lantas kenapa, anak-anak itu ada di catatan resmi kependudukan negara ini, dengan tanda tangan dari identitas asli kami berdua." Paisee terus mendesak.


Libiru tak berniat menjawab apapun. Dia bungkam seribu.


"Lalu, yang tak bisa ku pahami adalah. Kalian berdua bersaudara, dan membuat pergolokan antara dendam keluarga!!" Paisee mengatakannya dengan nada suara bergetar. "Barang konyol, yang bahkan tak kan pernah kami lakukan semasa Arlangga Tiam masih hidup!!"


Libiru mengepalkan kedua tangannya dengan ekspresi wajah keras.


"Apa yang sebenarnya kau rencanakan anak muda." Paisee mendekat.


Libiru melirik sedikit dan mengawasi pergerakan Paisee.


"Siapa yang mengutusmu?" Paisee terus mendesaknya. "Ku mohon bicaralah!?"


Tapi sekeras apapun Paisee meminta. Libiru tetap bungkam dengan rahasianya.


Dalam beberapa detik suasana langsung berubah hening, dengan irama napas sesak yang menyelimuti kami semua.


"Katakan semua yang kau tau nak. Karena sekeras apapun kau mengelak, kau tak kan bisa lagi kembali!!"


"RUANA!!" Pekik Libiru tiba-tiba.


Aku terperanjat hampir tak percaya setelah tiba-tiba Ruana bangkit dari samping kananku dan memungut belati yang terjatuh.


Crraaattt....


Tanpa sanggup lagi melawan, tanpa sanggup lagi mengelak. Ruana dengan cepat menancapkan belati itu ke lengan kananku.


"Ruana, tak kan pernah menghianati Sabiru!!" Pekiknya kencang.


Aku terpaku dalam detik-detik menyakitkan itu, ku pandangi raut wajah Ruana. Dia seperti orang lain, tak nampak belas kasihan dari wajahnya. Dia seperti seekor binatang yang liar dan merdeka. Pergerakannya cepat dan nyaris tanpa beban.


Craaaatt....


Dia mencabut belati itu dari lenganku dan berniat untuk menikamku untuk yang ke dua kalinya.

__ADS_1


Namun secepat kilat, aku melihat Archie yang langsung menangkap pergelangan tangan Ruana sebelum dia menyerangku untuk yang ke dua kalinya. Padahal saat itu aku yakin Archie sedang berada jauh dari posisiku.


Saat semua orang tengah lengah menyaksikan kejadian itu, Libiru tak menyianyiakan kesempatan itu membalikkan keadaan.


Diam-diam dia memungut besi batangan yang berada di belakangnya dan langsung menyerang Paisee yang tengah lengah.


Namun sialnya, Paisee sadar dan telah memperkirakan hal ini sedari awal. Dia langsung menangkis besi batangan itu dengan tangan kosong.


"Lepaskan Ruana, lepaskan!!" Ruana meronta dalam kekangan Archie. Bahkan aku menyaksikannya sendiri kalau tangan Ruana hampir remuk karena di cengkramnya.


"Anya!!" Pekik Arya tergopoh mendekatiku dan memandangi luka tusuk yang cukup dalam di lengan kananku.


Dia mengidar pandang sesaat dan menemukan perca di sudut ruangan. merobek nya dan membungkus lenganku untuk menghentikan pendarahan.


"Sakit. Lepaskan Ruana!!" Ruana terus meronta.


Tapi terlambat. Archie sudah berada dalam kendali setan.


Kami semua menyaksikannya sendiri saat tiba-tiba dia mencengkram rahang Ruana dengan telapak tangannya dan meremuknya seperti sedang meremas kentang.


Ruana meronta meminta tolong sampai pupil matanya memandang langit-langit, dia memukul tubuh Archie untuk melakukan perlawanan terakhirnya. Tapi terlambat. Archie sudah tidak ada di dunia ini. Raga nya telah di kuasai amarah.


"Archie, hentikan. Archie!!" Arya berusaha menghentikan nya. Tapi Archie tak menghiraukannya.


"Archie. Kau bisa membunuhnya. Archie!!" Pekikku.


Archie langsung tersadar dan melepaskan Ruana begitu saja, sehingga Ruana jatuh terkulai dengan kondisi mengenaskan. Rahang nya telah patah, tangan kanannya membiru, kesadarannya menurun. Ruana sedang berada di dalam masa kritis.


Archie membiarkan Ruana tergeletak di sana, bahkan berjalan melangkahi tubuhnya untuk menghampiriku.


Saat itu, semua orang yang berada di sana pun sadar. Jika Archie adalah monster sesungguhnya. Dan pemicunya adalah aku.


"Anya!!" Ucapnya yang memegangi wajahku dengan kedua tangannya yang dingin. Dia menyentuhku dengan tangan itu. Tangan yang telah menyakiti seseorang tanpa ampun.


"Maafin gua. Maafin gua yang ga bisa ngelindungin lu!!" Dia menangis melihat lenganku yang terluka dengan darah yang berlahan menetes dari sela-sela perca yang membungkus lenganku.


Arya berlari mendekati Ruana, dan menolongnya yang sekarat dan hampir tak bisa bergerak.


"Archie, aku baik-baik saja. Tidak apa-apa. Tenangkan dirimu!!" Ucapku memegangi kedua tangannya yang masih menempel di wajahku.


Bruuukkk....


Tiba-tiba kami semua di kejutkan oleh suara keras yang ada di hadapan ku. Libiru lagi-lagi memakai kesempatan itu untuk menyerang Paisee. Dia menendang perut Paisee tepat di bagian vitalnya, sehingga Paisee terpukul mundur dalam keadaan kesakitan.


"Paman. Ada banyak manusia di dunia ini yang menginginkan berkat dari pada kekuasaan!!" Ucap Libiru yang menyibak rambut yang menutupi keningnya dan nampaklah seseorang yang memang terlihat seperti Sabiru, yang beberapa kali pernah ku jumpai di lain waktu.


Libiru mengangkat tongkat besi itu ke atas pundaknya dan berjalan mendekati Paisee.

__ADS_1


"Tapi di dunia ini, banyak sekali macam dan jenis manusia yang tak punya keberuntungan sejak mereka di lahirkan!!" Libiru memandang Paisee dengan tatapan dingin. "Dan aku tidak butuh berkat!!"


Libiru langsung melayangkan tongkat besi itu ke arah Paisee.


__ADS_2