Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Mati Rasa


__ADS_3

Tok tok tok...


"Anya!" Panggil ibuku.


Aku tak menjawab.


"Ayo makan nak!!"


Aku tak merespon.


Tok tok tok...


Ia mengetuk lagi pintu kamarku.


"Sayang. Keluarlah!!" Desaknya.


Aku tak perduli.


"Kau boleh marah pada ibu dan bapak. Tapi jangan sampai merusak tubuhmu sendiri karena tidak makan berhari-hari!!"


Aku diam saja sambil memandangi langit-langit kamarku yang terlihat mangkin menyeramkan setiap kali aku berkedip.


"Anya!!"


Ibuku terdengar sedang mengelus pintu kamarku.


"Jangan seperti ini sayang, jangan siksa ibu dengan rasa bersalah!"


Tapi aku tak perduli. Seluruh raga ku seperti sudah tercabut pergi dari tubuhku. Aku tidak bisa merasakan dunia beserta isinya. Dunia telah mencampakan ku seiring dengan derap langkah kaki ku menguliti kenyataan ini. aku mati rasa.


"Mau berapa lama lagi kau akan mengurung dirimu di sana. Anya!!"


Aku memejamkan kedua mataku.


"Ibu mohon jangan seperti ini!!" Bujuknya terus.


Namun sia-sia saja, aku bahkan tak merasa kalau ada suaranya di seberang pintu. Semua bujukannya seolah terdengar seperti dengungan kumbang di telingaku.


"Ibu akan menyiapkan makan malam di bawah, jadi keluarlah sebelum makanannya menjadi dingin!" Ujar Ibuku yang pada akhirnya menyerah dan meninggalkan ku sendirian.


Aku menghembuskan napas dalam dan membuka mataku.


Entah sudah berapa lama waktu yang sudah ku habiskan untuk berada di tempat ini. Aku bahkan tak sanggup melihat jam maupun membuka jendela kamarku untuk merasakan matahari.

__ADS_1


Pada hari pengakuan mengejutkan itu, tanpa sadar aku berlarian tanpa arah sampai kaki ku sakit dan tubuhku lelah. Aku berada di tempat antah berantah yang tak ku kenal, dan di temukan oleh anak buah Hendri yang bertugas untuk mencari keberadaan ku setelah 4 jam terkatung-katung tanpa tujuan.


Aku menolak untuk mengikuti mereka dan mengancam akan menyakiti diriku sendiri jika mereka berani membawaku ku pulang ke apartemen. Akhirnya mereka pun menyerah dan menuruti permintaan ku untuk membawaku pulang ke rumah orangtua ku.


Sesampai nya di rumah kedua orangtua ku, aku langsung mengamuk dan menangis sejadi-jadinya di hadapan mereka berdua dan mengatakan semua yang ingin ku katakan atas segala perlakuan tidak adil ini.


Dan mereka pun akhirnya mengatakan yang sesungguhnya, jika benar mereka berdua memang menjual ku kepada keluarga Yuaga dengan dalih masa depan yang lebih baik jika menikah dengan keluarga konglomerat.


Sialnya, mereka tak memikirkan perasaanku yang akan menderita saat aku tak lagi berguna jika syarat pernikahan ini terpenuhi.


Aku tak tahu harus menyalahkan siapa karena memang dari biaya pengobatan sampai biaya kuliahku yang terlampau tinggi, kedua orang tua ku tak kan sanggup menanggung semuanya sendiri, apalagi mereka hanyalah pegawai pemerintah yang menerima gaji pokok yang sekiranya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami.


Kedua orang tua ku setuju mengatur pernikahan kontrak ini karena menilik keuntungan yang akan di dapatkan di kemudian hari. Mereka tak punya pilihan lain selain mengorbankan kepolosanku untuk mendapatkan benefit itu. Mereka tak tahu jika di situasi ini, aku lah yang paling menderita. Bahwa aku lah yang paling tersiksa karena di manfaatkan.


Bertahun-tahun mereka semua menyembunyikan kebenaran itu dari hidupku. Tanpa ku tahu jika hampir dari sepanjang hidupku, aku di peralat oleh orang-orang yang ku cintai. Aku di manfaatkan atas dasar nama masa depan yang lebih baik. Atas dasar materi yang tak sanggup orang tua ku berikan.


Dan kini kenyataan-kenyataan itu membelengguku. Membuatku tak lagi mempercayai siapapun selain rencana tuhan.


*************


"Nyonya!!" Suara Hendri menggema di balik pintu kamarku.


Entah sudah tak terhitung berapa kali dia mengunjungiku, mungkin setiap hari pada jam yang sama dan juga penawaran yang sama. Dia ingin aku menunjukan diriku di hadapannya dengan alasan ingin membicarakan sesuatu yang penting.


Tapi barang sekalipun aku tak pernah sudi melihatnya apalagi membahas sesuatu yang akan dia bicarakan. Karena apapun yang akan di bahas nanti, aku merasa setiap kata-kata dan juga maksud dari pembicaraanya akan semangkin menyakitiku.


Tok tok tok...


Aku membalik tubuhku dan membekap kedua telingaku dengan bantal.


"Saya tahu anda tak ingin saya datang!" Pekiknya dengan suara nyaring, "tapi kali ini saya tak kan pergi sebelum anda keluar dan menemui saya!"


Aku mengerling dan menutup rapat-rapat kedua telingaku.


Terserah, mau dia menunggu ku sampai tahun baru sekalipun. Aku tak kan membuka pintu ini untuk menemuinya.


Namun setelah seminggu berlalu, ternyata Hendri lebih tangguh dan keras kepala dari apa yang aku bayangkan.


Dia tetap berada di depan kamarku selama itu tanpa pernah bergeser selain untuk buang air. Dia makan, istirahat, dan juga tidur di depan pintu kamarku tanpa pernah merasa jenuh.


Krieeett.....


Di tengah malam, aku membuka pintu kamarku atas keinginanku sendiri.

__ADS_1


Dan saat itu juga ku lihat Hendri tertidur pulas di depan kamarku dengan beralaskan tikar dan bantal tidur kepunyaan ibu beserta selimut hangat kepunyaan bapak. Dia juga memakai piyama tidur dan di sebelahnya terdapat peralatan mandi pribadi yang sepertinya dia siapkan dari rumah.


Dan juga koper besar itu, lampu tidur yang menyala di sampingnya itu, dan juga boneka teddy bear yang dia peluk. Sepertinya dia sangat niat untuk berada di sini hingga tahun baru, sampai-sampai membuat lorong di depan kamarku menjadi tempat yang nyaman untuk di tinggali.


Aku menghembuskan napas panjang sambil mengurut pelipisku sendiri mendapati pemandangan ini. Kalau saja aku masih tak ingin menemuinya, mungkin Hendri akan mengangkut semua barang-barang miliknya dan pindah ke rumah orangtuaku.


"Hei..Hendri!!" Ucapku berjongkok dan menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Hendri langsung terbangun dan membuka matanya.


"Ayo kita bicara!" Ajakku sambil berdiri dan melewatinya begitu saja menuju ruangan tengah.


Dia tak bisa tak prihatin melihat kondisiku yang semangkin mengenaskan setelah tak bertemu selama beberapa minggu. Karena kini tubuhku renta dan tak terurus seperti seseorang yang hampir mengalami gangguan jiwa.


"Untuk apa kau datang ke sini!" Ucapku dingin sambil membuang muka.


Hendri diam mematung dengan tatapan gelisah, dia bahkan tak berani merebahkan tubuhnya untuk duduk berhadap-hadapan dengan ku.


"Saya ingin menyampaikan sesuatu kepada Nyonya!" Jawabnya merundukkan tubuhnya, yang berarti sikap hormat dan merendah seperti yang sering dia lakukan.


"Aku bukan majikanmu lagi. Jadi untuk apa kau bersikap seperti itu dan memanggilku dengan sebutan Nyonya!!"


Hendri sontak terkesiap dalam posisi membungkuk.


Mungkin dia kaget mendapati respon dingin dari perkataanku. Karena memang selama bersamanya, aku bahkan tak pernah memperlakukan seseorang dengan buruk apalagi menyakiti dengan kata-kata.


"Maafkan saya Nyonya!" Balasnya yang masih dalam posisi itu dan tak menunjukan wajahnya padaku. "Tapi mau bagaimanapun posisi anda saat ini. Nyonya masih tetap lah majikan saya!!"


Braakkkk.....


Aku sudah tak tahan lagi dan langsung memukul meja. Sontak aku bangun dari tempat ku dan langsung menghampirinya.


Namun seperti yang ku harapkan, Hendri tak kaget sama sekali saat menghadapi ku. Dia bahkan tak beranjak dari tempatnya saat ku hampiri.


"Katakan apa maumu?" Ujarku mendekat, "apa lagi yang Archie ingin kan dari ku!"


Hendri memandangi ku dengan raut wajah datar yang tak bisa terbaca. Namun di balik wajah dingin itu terselip tatapan yang hangat.


"Nyonya!" Jawabnya dengan suara lembut.


Hendri merangkul kedua pundakku seperti sikap seorang ayah yang ingin menenangkan anaknya yang sedang tantrum.


"Saya akan mengatakan nya jika Nyonya sedang dalam keadaan baik dan dapat mengendalikan emosi!" Ujarnya memapahku untuk kembali duduk di atas sofa.

__ADS_1


Dan anehnya, aku langsung tenang dan menurut. Entah dengan sihir apa gerangan, tapi seperti yang di katakan Archie tempo hari. Hendri itu bagaikan mata air yang mampu memadamkan kobaran api sebesar apapun yang ada di hadapannya. Mau serumit apapun situasi yang di alami oleh Archie, Hendri mampu mengatasinya hanya dalam waktu semalam.


Dan itu juga berlaku padaku.


__ADS_2