
"Anya, Anya, Anya!!"
Pandanganku kabur.
"Anya!!"
Greepp...
Arya memegangi lenganku. Dan seketika itu aku langsung sadar kalau tadi hampir pinsan.
"Lu ga kenapa-napa kan?" Tanya nya lalu mengusap kepalaku.
"Arya!!" Panggilku lalu memegangi lengannya untuk bertopang. "Apa yang kau lakukan, kenapa kau ingin memukulku!" Tanyaku sambil mencengkram lengannya.
"Hah!!" Dia Heran, "liat dulu tuh, di belakang lu!"
Sontak aku membalik tubuhku dan melihat seekor king kobra yang sudah mati karena di hantam benda tumpul.
Aku langsung mencengkram lengan baju Arya karena ketakutan.
"Dari jauh gua liat tu ular ngibrit ke arah lu!!" Jelasnya, "kayaknya lu udah ngusik sarangnya!!"
Aku melihat telur ular yang berbentuk lonjong dan bercangkang tipis di dekat kaki ku. Wajar jika ular nya marah, karena memang aku berada di dalam teritorinya apalagi sampai mengusik telur-telurnya.
"Yuk balik, anak-anak nungguin!!" Pintanya.
"Bentar dulu!"
Sebelum pergi, aku berniat mengubur ular itu di dekat telur-telurnya. Andai saja, aku tak sembarangan masuk hutan dan tersesat, dia tak kan bernasib tragis seperti ini.
"Kalian ngapain?" Tanya Dimas sambil memikul kayu bakar di pundaknya.
"Ssstt...diem!!" Ucap Arya menyilangkan jari telunjuk di mulutnya.
Karena sekarang aku sedang khusyuk berdoa dan menyesal telah membunuh ibu ular yang tak bersalah. Sambil menguburnya air mataku menetes, ahh..maafkan aku telur-telur ular.
__ADS_1
"Nah ni baru balik, abis dari mana aja kalian!?" Tanya Sayang yang menunggu di tepi hutan.
Archie langsung bergabung di dekat Sayang, dan melihatku bersama Dimas dan Arya, yang saat itu mataku terlanjur bengkak karena menangisi ibu ular.
Greeppp...
Archie langsung mengamit wajahku dengan ke dua tangannya.
"Muka lu kenapa, kayak abis nangis!?" Tanyanya mengintrogasiku. "Lu ga di apa-apain ama mereka kan?"
"Aghu abis naghisin mamaq ulall.." Jawabku. *Translate, aku abis nangisin emaknya ular.
Lalu aku menjelaskan semuanya yang terjadi, di lanjutkan dengan Arya dan Dimas yang menyaksikan kejadian itu.
"Kan da gua bilang ya tadi, gausah jauh-jauh sekitaran sini aja kan banyak!!" Archie mengomeliku sampai menyentil jidatku.
"Maaf, maaf!! Aku yang salah." Balasku mengusap jidat.
"Tadi kalau Arya ga dateng gimana?!" Archie tak berhenti.
"Hiikks...!!" Aku pura-pura menangis.
************
Malam pun tiba, tenda telah berhasil di dirikan, api unggun juga sudah di nyalakan. Anak-anak berantusias untuk menikmati makan malam dengan berbagai perbekalan yang di bawa dari resort.
"Aku persembahkan hidupku untukmu
Telah kurelakan hatiku padamu
Namun kau masih bisu, diam seribu bahasa
Dan hati kecilku bicara."
Anak-anak bermain gitar menyanyikan lagu dengan semarak sembari mengelilingi api unggun, dan membakar marshmellow.
__ADS_1
"Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan Kau buat remuk s'luruh hatiku." Bernyanyi dengan suka cita bersama-sama.
Aku duduk merepet di sebelah Archie, memegang segelas susu hangat dan memakai selimut bersama-sama dengannya.
"Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu."
Hari pun menjelang tengah malam, anak-anak mulai memasuki tenda untuk beristirahat, karena sudah seharian bekerja keras untuk sampai di tempat ini.
Lalu kami para ciwi-ciwi, berada di dalam satu tenda yang sama, kecuali Sayang dia sudah ku diskualifikasi karena tidak termasuk di dalam kriteria.
"Kalau Ruana kedinginan bisa pake baju hangatku." Ucap ku menawarkannya karena dia terlihat tak nyaman dengan cuaca dingin.
"Ini pake aja kaos kaki gua!!" Laila ikut menawarkan barang miliknya kepada Ruana.
"Ruana pake sleepingbag aja cukup kok kak!!" Dia berusaha menolak, tapi kami berdua tetap memberikan barang milik kami agar kondisi nya bisa lebih baik.
"Kalau lu butuh apa-apa, jangan sungkan buat ngomong!!" Ucap Laila yang memasangkan kaos kakinya kepada Ruana.
"Kami semua udah janji ama Tora buat jagain kamu, jadi kalau kamu kesusahan atau ada yang kamu perluin, ngomong aja ya" Timpalku yang memasangkan jaket hangat ke tubuhnya.
Seketika dia langsung menangis sesenggukan dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ruana, kamu kenapa?" Aku panik sambil bertatapan dengan Laila yang sama paniknya.
Dia menggelengkan kepalanya, lalu dengan mata berlinang dia menatapku dengan pandangan pilu.
"Maafin Ruana kak, maaf!!" Ucapnya sambil memegangi kedua lenganku.
Aku dan Laila tambah kebingungan, dan berusaha menenangkannya.
Namun sampai akhirpun dia tak bicara dan terus menangis sampai kelelahan dan tertidur. Sesuatu pasti telah terjadi, sesuatu yang besar sampai dia tak sanggup mengungkapkannya.
Di tengah malam, saat semua orang terlelap dalam syahdu dengan di temani keheningan malam tengah hutan yang menentramkan.
__ADS_1
Seseorang berjalan secara mengendap-endap ke arah tenda kami, dan tanpa permisi masuk ke dalam tanpa ada yang mengetahui.
Lalu tanpa di duga, sebuah tangan membekap mulutku di saat aku sedang terlelap.