
Aku langsung mendekap tubuhnya yang gemetar dan kemudian menutup kedua matanya dengan telapak tangan ku.
Getaran tubuhnya sekarang berkurang namun di gantikan dengan suara nafas berat yang berhembus dengan kuat.
Dengan tangan yang bergetar dia memegang tanganku yang menutupi matanya, namun aku langsung mendekat lagi ke punggung nya dan mendekap tubuhnya dari belakang.
"Ini, aku!" Bisik ku di dekat telinganya.
Dia tak beraksi dan berusaha untuk membuka telapak tanganku yang menutupi matanya.
"Archie," Panggilku meraba lembut kedua matanya.
"ini aku!" Bisik ku pelan di daun telinganya.
Bahunya melemas, nafas beratnya sudah tak terdengar lagi, tubuhnya yang semula bergetar ketakutan sekarang malah tenang dan mulai diam.
Dia masih memposisikan tangannya menyentuh tanganku yang menutupi matanya, namun kali ini dia tidak berusaha untuk melepaskannya.
"Anya!" Panggilnya dengan suara parau, dan mengusap tanganku yang menutupi matanya.
"Iya, Ini aku!" Jawabku untuk kesekian kalinya, sambil menyandarkan kepalaku ke punggung nya.
Tubuhnya sedikit terperanjat dan mengidarkan wajahnya melihat kesisi kepalaku yang bersandar di punggungnya.
"Kamu ngapain disini?" Tanyaku melihat ke atas dimana wajahnya berusaha mencari keberadaanku di punggungnya.
"Kejebak!" Jawabnya singkat yang masih di penuhi suara parau.
"Kejebak, gimana ceritanya?"
"Panjang!"
"Gledek kan!" Jawabku sendiri.
Dia mendengus lemah dan kemudian berusaha menarik tanganku yang menutupi matanya, namun belum sempat dia melepaskannya, aku langsung menariknya kembali, sehingga kedua matanya masih tertutup oleh tanganku.
"Bikin nostalgia!"
__ADS_1
Dia mendengus kaget mendengar perkataanku.
"Dua tahun yang lalu!" Ucapku memejamkan mataku sendiri.
"Ingat gak, kita abis ngapain di sini?"
Dia hanya menghela nafasnya berlahan dan berhenti menarik tanganku.
"Archie!"
Kami menghela nafas secara bersamaan senada dengan jatuhnya suara rintik hujan yang masih sama terdengar di dalam kegelapan 2 tahun yang lalu.
"Apa yang terjadi padaku?"
Detak jantungnya berpacu cepat saat ku menanyakan hal ini padanya, suaranya terdengar jelas di telingaku yang menempel di punggungnya.
"Anya?" Panggilnya lirih.
"Hari itu...Apa yang terjadi padaku?" Tanyaku lagi.
Dia membuka telapak tangan ku dan membalikan tubuhnya menghadapku, meskipun hanya di terangi flashlight HP, sudut matanya yang menghitam menandakan kepiluan yang dia rasakan beberapa menit yang lalu sebelum aku sampai disini.
"Apanya?" Tanya ku bingung."Kau bilang maaf?"
"Gomenasaiごめんなさい !!" Dia menunduk.
"Untuk apa?" Tanyaku memandangi ubun-ubunnya.
"Untuk semua yang udah pernah gua lakuin ke lu, selama ini gua.."
"Aku ingat semuanya!!"
Dia berhenti merunduk dan menatapku.
"Maaf katamu..!" Ujar ku dengan suara bergetar." Setelah apa yang terjadi padaku selama ini, kau bilang maaf!"
Keluarlah butiran air mata yang sudah tak mampu lagi ku bendung, meskipun kejadian kemarin membuatku takut menangis di hadapannya, untuk saat ini aku benar-benar tak bisa menahannya.
__ADS_1
"Si*lan, mati saja kau!!" Pekik ku kencang sampai membuatnya terpukul mundur.
Mungkin, seumur hidupnya dia tak pernah melihat wanita berteriak memakinya seperti ini, itulah sebabnya dia terperanjat dan terpukul mundur kebelakang.
"Kamu gak tau. Gimana menderitanya hidupku terkurung di rumah sakit selama 3 bulan, tanpa seseorang pun datang menjenguk, tanpa dukungan dari siapapun selain orang tua ku, dan terpuruk oleh bayang-bayang b*ngsat punggungmu yang menghantui kepalaku!!" Pekik ku kencang menunjuk hidungnya.
Dengan ekspresi kaget dia memandangi wajahku yang telah basah karena air mata.
"Kamu gak tau. Gimana susahnya berjalan menggerakkan anggota tubuhku yang layu serta di paksa meminum obat-obatan sampai aku muak!!" Pekik ku dengan urat-urat yang keluar dari leherku.
"Kamu gak tau. Gimana susahnya tidur di malam hari, karena ga bisa gerak!!" Emosi ku memuncak sehingga tanpa sadar menggenggam kerah bajunya. "Kamu gak tau. Gimana susahnya melupakan siluet punggungmu sampai seluruh tubuhku merasakan sakit lewat sugesti hipnoterapi secara berulang-ulang, yang hampir membuat ku gila."
Dia diam memandangiku.
"Kamu gak tau. Gimana susahnya makan karena gak sanggup menelan, dan terpaksa harus melewati selang!!"
Akhirnya tangisku kembali pecah. Tubuhku terkulai dan duduk terjatuh."Kamu gak tau, semua yang terjadi padaku!!"
Dia langsung mendekap tubuhku dalam pelukannya seolah semua amarah serta emosiku terlarut dalam pelukan hangatnya.
"Anya!" Panggilnya lirih kemudian mengecup pelipisku berulang-ulang.
"Kenapa kamu malah datang ke kehidupan ku?" Pekik ku kencang di balik tubuhnya yang mendekap erat tubuhku."Kenapa kamu malah datang. Apa kamu ngelakuin semua ini cuman mau balas dendam. Salah ku apa. Kenapa kamu membenciku tanpa alasan?"
Hujan tiba-tiba berhenti dan hanya tersisa tetesan air yang berada di atas genteng yang jatuh ke tanah.
Dia tetap diam seribu bahasa dengan wajah menatap ubun-ubunku dan bibirnya yang terus menempel di dahiku.
"Apa alasan mu membenciku?"
Tap...
Dia mendaratkan ciumannya padaku, bahkan ******* habis sisa air mata yang mengalir di sela-sela bibirku.
"Karena gua juga ga bisa ngelupain lu, itu lah alasan satu-satunya gua benci lu!!"
Aku membeku setelah mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Dua tahun yang lalu. Lu penasaran apa yang terjadi disini?" Ucapnya memandang lekat kedua mataku.