
Aku terbangun di dalam sebuah mobil yang sedang melaju dalam kecepatan sedang. Matahari yang menembus kelopak mataku membuat kesadaranku berangsur pulih.
Saat kedua mataku berlahan-lahan terbuka dengan sendirinya. Ku lihat, hamparan laut yang membiru menyambutku di sertai hembusan angin kencang yang menyibak rambut dan menerpa wajahku.
Aku mengingat-ngingat apa yang terjadi padaku sampai berada di sini. Tapi tak menemukan jawaban apapun sampai kedua mataku tertuju kepada pengemudi taksi ini.
Saat aku terbangun, dia langsung menyadari nya dan melirikku di balik kaca spion depan.
"Kau sudah sadar?"
Suara itu sontak membuatku kebingungan dalam sesaat. Pasalnya, meskipun berulang kali di ingat pun, suara ini terdengar familiar di telingaku.
"Kalau kau masih mengantuk, istirahatlah!" Ujarnya lagi.
Aku mendekat dan dengan jari jemari gemetar memastikan sesuatu yang mengganggu pikiranku.
"Libiru!"
Sontak dia langsung menoleh kearahku dengan menunjukan wajahnya.
Aku tersentak mundur ke belakang mengenai badan kursi sampai tubuhku terbentur.
Dia menyeringai dengan tatapan penuh kemenangan.
"Kau cepat sadar rupanya!" Ujar Libiru melirikku.
Seketika aku langsung panik dan melihat ke sana kemari dengan tergesah, lalu menyadari semua yang terjadi padaku dibandara tempat pemberhentian taksi.
"Dimana Sayang?" Ucapku yang kelabakan dengan napas tersengal kebingungan.
Libiru tak menjawab, dia terus mengemudikan mobil taksi itu dengan kecepatan sedang.
"DIMANA SAYANG?" pekikku panik.
"Tenanglah!" Jawab nya yang terlihat tersenyum dengan puas sambil melirikku di balik kaca spion.
"Turunkan aku sekarang!" Pintaku.
Tapi Libiru tak menghiraukan ku, dia terus melajukan kendaraan.
"Libiru, turunkan aku sekarang!" Aku kehilangan kesabaran.
"Apa kau tak melihat dimana kita sekarang?" Tanyanya.
Sontak aku berhenti histeris dan membuka kaca jendela. Saat itu yang ku lihat adalah hamparan lautan dengan langit biru yang indah di sertai oleh jalanan tebing yang menjuram ke arah bibir pantai yang di penuhi oleh batu karang yang tajam dan juga berbahaya.
Aku terdiam untuk beberapa saat setelah mengetahui jika di tempat ini tak ada mobil yang melintas selain mobil ini, kondisi jalanan terlihat sangat lenggang bahkan tak terlihat tanda-tanda kalau ada kendaraan lain yang melewati daerah ini.
"Apa sekarang kau mengerti alasanku untuk menyuruhmu tetap tenang!" Ucapnya melirikku di balik kaca spion.
Aku tertunduk sesaat lalu membuang muka ke arah tebing curam dan juga ombak laut yang tampak ganas menerjang batu karang.
"Dunia ini sangat sempit, Anya!" Ujarnya menoleh ke arahku, "amat sempit bahkan keberadaanmu bisa ku rasakan dengan sekali hentakan nafas!"
Aku tak merespon dan merebahkan tubuhku ke senderan kursi. Libiru tersenyum menyeringai melihat kepasrahanku.
"Kemana kau akan membawaku?" Tanyaku memandangi tengkuknya. "Apa kau akan membunuhku lagi seperti hari itu?"
Libiru langsung tersenyum mendengar penuturanku.
"Astaga. Ternyata kau masih marah ya dengan perbuatanku waktu itu!!" Dia tertawa sampai gigi taringnya terlihat. "Anya. Ternyata kau itu orangnya pendendam!"
"Lalu, kemana kau akan membawaku pergi selain untuk di lenyapkan!" Ucapku marah.
Suasana langsung hening untuk sesaat. Libiru diam sambil fokus menyetir mobilnya, dan hanya terdengar bunyi ombak yang memecah di hempasan batu karang yang saling beradu dengan deruan angin.
"Jadi, ingatanmu sudah kembali?" Tanyanya.
Aku meliriknya di balik kaca spion.
"Pasti sulit bagimu setelah mengetahui kebenarannya. Tapi dunia harus terus berjalan, meskipun kau hancur sekalipun!" Dia terus mengoceh.
Aku tak perduli.
"Kau kenal Samusi?"
Seketika aku langsung terhenyak dan menatap tajam wajahnya di balik kaca spion.
__ADS_1
"Dia adalah orang besar berkuasa yang aku ceritakan tempo hari. Dia memberikan penawaran itu kepada ku untuk melenyapkanmu lalu merekrut Arya sebagai kaki tangan. Dan melihat reaksimu saat ini, mungkin kalian baru bertemu beberapa jam yang lalu sambil bercengkrama ria." Libiru membalas tatapanku di balik spion. "Apa tebakan ku benar?"
Aku meneguk liur ku sendiri mendengar penuturannya.
"Pengaruhnya benar-benar kuat. Entah bagaimana caranya dia menundukan orang-orang besar di negara itu lalu berbuat seenaknya seperti tuhan!"
Dia tak berhenti mengoceh.
"Tapi sehebat-hebatnya Samusi. Ternyata, orang tua payah itu bisa tumbang juga gara-gara ingat dosa!!"
Aku beralih memandangi punggung Libiru dengan napas tertahan.
"Mungkin karena sudah tua dan merasa nyawanya sudah tak berarti lagi. Dia jadi tol*l dan mengabaikan perintah atasannya. Dasar bod*h. Kenapa orang tua selalu saja bersikap tak tahu diri..."
"Apa maksudmu?" Aku menghentikan ocehan Libiru.
Libiru melirikku.
"Apa yang sedang kau bicarakan. Kenapa kau mengatakan hal seperti itu tentang Samusi!" Tanyaku.
"Hei, ternyata kau tak mengerti juga ya!" Jawab Libiru tersenyum smirk.
"Apa yang kalian lakukan kepada Samusi?" Aku membeku.
"Harusnya kau lebih tahu itu di banding siapapun!" Jawabnya. "Harusnya kau langsung sadar saat aku menculik dan membawamu ke tempat seperti ini."
Aku terdiam cukup lama dengan wajah pucat, sampai Libiru kembali melirikku dengan tatapan meremehkan.
"Tentu kau tahu akhir dari kisah seorang penghianat. Satu dari seribu orang yang melakukan penghianatan akan selalu berakhir tragis seperti ku." Jawabnya.
Kepalaku seperti di hantam bebatuan karang di tebing curam itu dengan posisi menukik. Dalam sekejab, pandanganku memudar di sertai rasa sesak yang menggelayuti napasku.
Sial. Apa aku harus mendengar hal seperti ini lagi. Apa aku harus mendengar seseorang mati dan mengorbankan nyawanya lagi demi hal ini.
"Entah Samusi itu bod*h atau pintar. Tapi, jika aku berada di dalam posisinya dan di tujukan pilihan seperti yang ia lakukan. Mungkin aku akan memilih kekuasaan ketimbang hal lainnya. Tapi entahlah, aku saja hampir menjadi seperti Samusi!!" Dia mengocehkan ketololannya sendiri.
Perjalanan pun terasa semangkin jauh, dan mobil yang di kemudikannya melaju dengan pelan saat berada di tempat berangin dengan jurang curam yang menjorok seperti labirin.
"Aku menggantikan Samusi untuk melenyapkanmu. Meskipun aku tak tahu siapa dalang yang sangat membenci keluarga Yuaga itu, sampai-sampai sangat ingin melenyapkan sumbernya sampai ke akar-akarnya." Dia menoleh ke arahku, "tapi ku rasa ingatanmu itu pastilah sesuatu yang amat sangat berharga sampai orang itu menurunkan perintah kepadaku untuk mengejarmu sampai ke negara ini!!" Libiru lanjut mengoceh.
"Jadi benar kau akan membunuhku?" Tanyaku spontan.
"Tapi, aku tak bisa mati dalam keadaan seperti ini." jawabku spontan.
Aku dan Libiru sontak terdiam dan membuang muka.
"Aku belum melakukan banyak hal untuk membalas penderitaanku!" Lanjutku setelahnya.
Libiru melirikku.
"Kau bisa melakukannya di kehidupan selanjutnya." Jawabnya.
Kami berdua saling berpandangan lewat kaca spion.
"kami percaya, jika manusia di kehidupan sebelumnya banyak di rundung kesusahan dan penderitaan, maka di kehidupan selanjutnya, saat die terlahir kembali, maka orang itu akan mendapatkan keberuntungan selama hidupnya!!" Balas Libiru seperti sedang menyampaikan kata-kata terakhirnya kepadaku.
"Aku tak percaya dengan hal-hal seperti itu!" Jawabku memalingkan wajahku.
Libiru tersenyum mendengarku.
Tak berapa lama kemudian dari kejauhan, aku melihat ada sebuah mobil sedang melaju kencang dari arah berlawanan. Untuk pertama kalinya setelah berlama-lama berada di jalanan ini, akhirnya ada sebuah mobil yang lewat.
Aku melirik diriku sendiri di kaca spion, menghembuskan napas dalam dan membaca doa di dalam hati sebagai persiapan.
Libiru membuang muka saat melihat saat-saat terakhirku yang membosankan. saat-saat terakhir sebelum kematian.
"Tapi, kau benar!" aku membalas ekspresi membuang muka Libiru dengan mendekat ke sisi bahunya.
Dia terkaget sesaat dan melirikku.
"Apa kau masih mengingat pembicaraan terakhir kita yang membahas tentang takdir?" Aku berbisik di dekat telinganya.
Libiru menjadi awas dengan wajah menegang melototiku.
Dia menggeleng cepat, seolah instingnya sedang mendeteksi keanehan.
"Sebenarnya aku setuju padamu!" Ucapku di dekatnya. "Kau bilang waktu itu kalau takdir itu Ilusi. mangkanya takdir hanya mempan terhadap mereka yang di kisahkan di dalam dongeng, tapi..."
__ADS_1
Dia tambah gemetar sampai tak lagi memperhatikan badan jalan.
Aku menautkan lenganku di badan kuris kemudi yang di duduki olehnya sambil mendekatkan bibirku di dekat telinganya.
"Aku ini sinting. Takdir tak berlaku bagi orang sinting!!" bisikku.
Sontak dia menoleh ke arahku.
Tiiiiiiiiiiiinnnn....
Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju kencang ke arah kami.
Dan karena jaraknya sangat dekat bahkan hampir bertabrakan, Libiru bergerak cepat dan dengan panik langsung membanting setir ke arah pembatas jurang.
Seketika mobil yang kami tumpangi menerobos pembatas jurang dan terjun bebas menuju hamparan batu karang dengan ketinggian mencapai 15 meter dari permukaan tanah.
Aku melihat dunia kembali seperti di slowmotion. Angin laut yang begitu kencang berubah menjadi belaian berhembus lembut menerpa wajahku seperti sentuhan dandelion.
Aku tak pernah merasa senyaman ini selama di hadapkan oleh kematian. Seolah tuhan sedang tersenyum memandangiku di balik langit biru itu. Dan dia pun berkata 'Tunggulah, lihat saja nanti' dengan membayangiku dengan wewangian surga.
Byyuuuurrrr....
Setelah 2 kali terombang ambing di sambut oleh batu karang yang tajam, mobil ini akhirnya jatuh juga ke dalam lautan.
Dan aku tak mampu merasakan tubuhku lagi. Aku hilang dalam kegelapan.
***************
Aku terbangun di ruangan yang asing dengan peralatan rumah sakit yang asing, orang-orang yang asing, bahasa yang asing dan juga suasana yang asing.
Aku tak mengerti apa yang terjadi dengan ku, apa yang sedang ku lakukan, dan kenapa ada di tempat seperti ini.
Tubuhku penuh luka, bahkan salah satu kakiku di perban. Kepalaku sakit, dan pemandangan yang paling mengerikan adalah lengan kananku penuh dengan jahitan panjang dari lengan atas sampai lengan bawah seperti gerakan memutar layaknya spiral.
Ku gerakkan berlahan-lahan tubuhku yang sakit menggunakan alat bantuan berupa penopang tubuh. Lalu berjalan keluar untuk menemukan jawaban atas apa yang terjadi.
Namun belum sampai mencapai pintu keluar, seorang perawat rumah sakit itu menyadari tindakanku dan langsung berteriak histeris menghentikanku dengan bahasa yang tak ku mengerti sedikitpun.
Tak lama kemudian. Berbondong-bondong dokter dan juga para perawat membantuku untuk beristirahat kembali ke atas tempat tidur.
Mereka menggunakan bahasa asing yang ku rasa merupakan bahasa jepang, dan menanyaiku pertanyaan yang sama secara berulang-ulang.
Aku menggeleng setiap mereka bertanya. Dan hanya diam menatap mata mereka yang kebingungan.
Sampai akhirnya datang seorang laki-laki berparas berbeda di antara mereka.
Dia bertindak tidak sopan. Saat melihatku, dia langsung memeluk tubuhku, menangis seperti kesurupan, dan hanya dia yang berbicara dengan bahasa yang bisa ku mengerti.
"Akhirnya lu sadar juga. Lu ga tau gimana khawatirnya gua nungguin lu yang ga sadar-sadar selama 4 hari!!" Dia terisak menangis memelukku. "Gua kira lu bakalan mati beneran. Gua panik pas lu ngilang dari bandara."
Aku diam dan mendengarkan. Mungkin dia merupakan temanku, atau bisa juga saudaraku, atau bisa juga suamiku, atau iparku atau adik tiriku, mungkin juga ayah angkatku, atau pacar ibuku.
Sungguh aku tak ingat apapun yang berhubungan dengan orang ini. tak ada yang ku ingat satu pun.
"Anya. Lu baik-baik aja kan?" Tanyanya melepas pelukannya.
Aku memperhatikan sorot matanya yang indah menunggu jawaban dariku.
"Anya!"
Dia terus memanggilku karena menemukan sesuatu yang tak biasa dariku.
"Lu, ga papa kan?" Tanyanya lagi.
"Kau.." aku menunjuknya sambil memandanginya dengan lekat.
Dia menunggu.
"Kau, siapa?"
Brukkk...
Tiba-tiba dia menjauh dari ku.
Dia tercengang.
^^^Halsey - Graveyard.^^^
__ADS_1
^^^(BGM)^^^
...Alasan Kami Menikah? S2 Tamat....