
"Wooaaww..!!" Ujar anak-anak bergidik takjub saat mendatangi lokasi tempat proyek yang di pimpin oleh Archie.
dia benar-benar melakukannya dengan totalitas.
"Apa gua lagi ngimpi!" Ujar Gima yang memandangi seluruh bahan-bahan baku bangunan yang tersedia lengkap dengan harganya yang tak main-main.
"Keren!" Sambung Dimas yang berdiri di sampingku sambil terpaku memandangi proyek kerja sama yang luar biasa ini.
Karena itu Archie, maka proyek kerja sama ini benar gak kaleng-kaleng, bahkan di kontrak stasiun TV swasta dengan peralatan yang berderet sponsor adalah mimpi di siang bolong bagi anak-anak yang baru menjadi mahasiswa seperti kami ini.
Dan yang jadi tantangan terbesar kami semua adalah Archie yang terlalu yakin dengan kemampuan kami sampai menyerahkan semua ini dengan jalur resmi yang sudah biasa di tangani oleh tangan-tangan profesional.
"Jadi tugas kalian adalah bekerja senatural mungkin di depan kamera, selama kalian kerja, kita berlima anak-anak film bakal on terus mantengin kalian kerja dan gak pake cut! karena semua proses nya bakalan di rekam, mulai dari kondisi mentahan kayak gini, terus proses kalian semua lagi kerja, dari mulai pemasangan pondasi, atau permak kontainer segala macam, semuanya bakal di rekam. Nah nantinya semua yang kalian kerjain, bakal di edit dengan video fast recorder dan di jadiin satu episode!!" Arahan Archie kepada kami semua di bawah tenda besar yang memang sudah di sediakan sponsor untuk kami istirahat.
"Nah Kerja keras kalian semua gak bakalan sia-sia, selain dapet royalti dari proyek ini dan juga TV swasta yang ngontrak kalian, Muka-muka gak berdosa kalian ini bakal di tayangin di TV." Sambungnya memberikan secercah semangat meskipun sarkas.
"Emak Bapak kalian bakalan nonton, jadi ini kesempatan kalian buat terkenal!" Tatapnya tersenyum menyeringai.
Anak-anak langsung heboh sendiri dan memuja-muja Archie layaknya dewa yang turun dari langit dan membawa kemakmuran serta umur panjang bagi umat manusia.
"Oh ya satu lagi. Jadi karena ini bentuknya sistem rally, dan seluruh prosesnya di rekam gak di jeda jadi kita gak punya banyak waktu buat bolak-balik tempat tinggal, maka dari itu biaya makan dan tempat tinggal semuanya di tanggung oleh sponsor!" Ujarnya Archie sambil menunjukan kepada kami kunci penginapan yang tak jauh dari tempat ini.
Anak-anak pun bersorai kembali, dan meneriakkan namanya berulang-ulang.
Dah kayak fans meeting aja.
"Mangkanya!" Ucapnya lagi sambil mengantongi kunci tersebut.
"Karena gua udah banyak berkorban buat bikin tim ini, kalian juga harus balas budi. Tunjukin pada semua orang kalau kalian adalah anak-anak berbakat yang punya segudang prestasi yang pantas di banggain!"
Seketika anak-anak terdiam namun tampang mereka semuanya begitu bersemangat, seolah aura kepemimpinan Archie mengalir di setiap darah mereka yang sedang menyaksikannya.
"Ayo Kita kerja sampe b*go!" Teriaknya memberikan semangat pada pasukannya sambil mengepalkan tangannya ke atas.
"Yyyeeeaahhh...!!" Pekik anak-anak semua yang semangat mendengar motivasi nya.
**********
Minggu pertama.
Semua anak arsitek yang paling sibuk bekerja di minggu pertama, karena mereka merupakan perancang awal atau yang di sebut pondasi dari keberhasilan proyek kami ini, dan selebihnya kami hanya membantu mereka merealisasikan bentuk rancangan yang mereka kerjakan.
"Oke, take 5. Action." Pekik Archie.
"Jadi ehh..ada beberapa keutungan yang di dapatkan jika kita memilih bahan bangunan yang berasal dari kontainer ini.
Yang pertama bangunan berbahan dasar kontainer ini Kokoh dan anti gempa.Sesuai dengan namanya rumah ini terbuat dari kotak kontainer yang memiliki struktur besi. Oleh karena itu, jika terjadi gempa, konstruksi besi bisa meredam getaran dan keretakan struktur bangunan. Hal ini berbeda dari bangunan biasa dengan konstruksi batu dan semen.
Yang kedua mudah berpindah-pindah.Salah satu keuntungan memiliki rumah kontainer adalah mudah dipindah! Modelnya yang ringkas bisa mempermudah hunian untuk berpindah lokasi. Namun, sebelum memindahkan ke tempat yang lain, harus pastikan lokasi yang baru memang memadai untuk pembangunan rumah kontainer.
Terus yang ketiga, gak perlu ijin untuk mendirikan bangunan.Rumah kontainer termasuk dalam jenis bangunan semi-permanen. Oleh karena itu, kamu tidak memerlukan IMB (izin mendirikan bangunan) karena dianggap sebagai bangunan sementara. FYI, proses perizinan IMB memakan banyak waktu dan biaya. Jadi yah lebih hemat.
Nah yang ke empat harganya yang relatif lebih murah. Salah satu keuntungan dari membangun rumah kontainer adalah harganya lebih murah. Tentunya biaya yang dikeluarkan untuk membangun rumah peti kemas tidak terlalu banyak jika dibandingkan rumah normal berukuran sama. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp 15 juta untuk kontainer bekas berukuran 20 feet dan mulai Rp30 juta untuk kontainer baru berukuran 20 feet. Semuanya bisa disesuaikan dengan bujet yang kamu punya.
Nah yang ke lima, adalah proses pengerjaannya yang relatif cepat. Jika bangunan biasa memakan waktu pekerjaan 6 bulan hingga 1 tahun, maka rumah kontainer hanya butuh 1 – 3 bulan saja. Apalagi saat ini sudah banyak jasa pembuatan dengan tenaga profesional. Kamu bisa menanyakan rekomendasi jasa pemasangan rumah peti kemas dari teman yang juga memiliki rumah jenis ini.
Dan terakhir yang paling penting ramah lingkungan. Bahan baku utama rumah peti kemas bisa juga menggunakan kontainer bekas yang masih dalam kondisi bagus dan bersih. Kontainer yang sudah tidak terpakai ini dimanfaatkan sebagai sebagai tempat tinggal. Hal ini tentunya membantu mengurangi limbah kontainer. dan membuat alam kita terjaga dari kerusakan."
"Ok. Cut!" Pekik Archie sambil mengidarkan pandangannya.
__ADS_1
Dia melirik ku yang terpaku pada Dimas yang menjelaskan nya tanpa ada celah sedikitpun, bahkan Dimas tak butuh naskah untuk berbicara.
"Kerja bagus Dimas!" Puji Archie yang tak melihatnya sama sekali tapi malah menatap tajam padaku dengan pandangan mematikan.
"Kita udah masuk proses rekaman, bekerja lah senatural mungkin jangan hiraukan kamera. Kalau ada yang ketauan ngelirik kamera, gak usah makan siang!" Ujarnya sambil berkaca pinggang.
Menurutku omongannya sudah sangat menyebalkan, tapi entah mengapa rekan setimnya malah nurut dan tersenyum senang saat dia memperlakukan mereka semua seperti itu.
"Oh gitu ya Ra, jadi pertama-tama kita harus tau dulu bentuk tanah dan strukturnya!" Ujarku pada anak Arsitek yang sedang mengerjakan bagian pondasi bangunan sebelum di letakan kontainer di atas nya.
"Bener. Nah, karena bentuk tanah di sekitar sini terlalu lemah dan gampang nyungsep maka kita gunain pondasi pile, meskipun mahal tapi yang paling cocok adalah bahan baku terbaik untuk hasil yang baik juga!" Jawab Nara anak Arsitek yang paling imut sedang mengaduk semen yang di bantu anak laki-laki dari tim ku.
Setelah selesai membuat pondasi bangunan, barulah 4 buah kontainer di daratkan dengan menggunakan crane yang memang sudah di sewa dan di dukung oleh sponsor.
"Rumah kontainer ini sebenarnya rentan banget sama suhu, makannya mesti di kasih bahan dinding bangunan yang melapisi bahan utama kontainer!" Ujar Dimas saat aku membantunya memasangkan beberapa panel berbahan kayu di dalam bangunan tersebut!
Lalu tanpa sengaja dia mendaratkan sikunya sampai mengenai wajahku, sehingga aku pun langsung kesakitan sambil menutupi wajahku.
"Sorry, sorry. Sakit gak!!" Ujar nya panik dan melepaskan peralatannya sambil memegang wajahku.
"Mana yang sakit?" Sambungnya membuka tangan yang menutupi wajahku.
Drraapp....
Tiba-tiba terdengar suara barang jatuh berserakan dan masuklah Archie memegang kamera besar di bahunya, dia mirip penyergap yang sedang memergoki kami berdua yang ketangkap basah.
"Aahh..Kaget!" Pekik Dimas sambil menatap Archie yang tak beranjak dari tempatnya.
Aku meliriknya yang tak bergeming dari tempatnya dan terus merekam, lalu melambaikan tangan padanya sambil menundukkan kepalaku yang ingin melihat wajahnya.
Tapi dia diam saja, dan tak membalas ku sama sekali bahkan tatapannya datar seperti tak menunjukan emosi apa pun.
"Anya. Bantuin disini!!" Teriak Dimas di belakang ku.
Aku meninggalkan Archie dengan wajah kesal, meskipun dia tak merespon ku sama sekali, tatapannya tetap meradang saat aku membantu Dimas yang di saksikan langsung olehnya.
************
Minggu kedua.
"Sebenarnya udah bagus kalau kita pake warna dasar aja, tapi kan di atasnya bakalan di pasang atap." Ujar Dimas berdiskusi dengan rekan setimnya sambil melihat blue print.
"Apa kita tanya anak Design aja yang lebih tau beginian?" Ujar mereka sambil melirikku.
"Anya. Bisa batuin kita gak." Sapa mereka sambil menunjukan blue print nya padaku, dan menjelaskan titik bengek permasalahan nya.
"Oh gitu yah, bagus pake warna dasar aja dulu, untuk finishing kan mesti di poles warna awal!!" Respon ku pada mereka.
"Nah kan bener, lu aja yang ngeyel!" Ujar mereka mulai gelut antar sesama.
Bahan material bangunan lagi-lagi datang dalam jumlah besar dan dengan cekatan anak-anak serekan tim langsung bekerja dengan penuh semangat demi kelancaran proyek ini.
Di luar ekspentasi, ku pikir Archie akan diam dan hanya mengurusi pekerjaan di bidangnya saja, tapi ternyata dia cukup bisa di andalkan dan berbaur dengan sangat baik dengan rekan setim laki-lakinya, meskipun nada bicaranya serta perkataanya yang menyakitkan itu tidak berubah.
__ADS_1
"Istirahat dulu Dik!" Sapa kak Roland melewati ku yang sedang menyusun panel kayu untuk lantai dasar bangunan.
"Duluan aja kak!" Balas ku sambil terus bekerja.
Nyyess....
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin di pipi kanan ku, yang ternyata merupakan minuman kaleng dingin yang sengaja di tempelkan seseorang di wajahku.
"Rajin amat lu!" Ujar Archie yang duduk berhadapan dengan ku, sambil meminum minuman kaleng dingin.
"Bisa gak kita pura-pura gak kenal aja!" Ucap ku sambil menerima minumannya.
"Kalau gua gak mau!" Jawabnya.
"Nanti anak-anak malah curiga kalau kita ada hubungan!"
"Gak perduli sama sekali!" Ujarnya menenggak minumannya sambil melirikku mengelap keringat yang mengalir dari leher sampai dadaku dan membasahi sebagian dari baju yang aku kenakan.
"Heii, Nya!?" Bisiknya sambil mendekatkan wajahnya padaku.
"Ya Kenapa?!."
"Entar malam, lu datang ke kamar gua ya!" Bisiknya sambil merapatkan tangan di dekat mulutnya.
Aku langsung tersentak melihatnya yang terus tersenyum menyeringai menatapku, dari sini saja sudah bisa ditebak apa yang ada di dalam pikirannya.
"Kamu.." Ujar ku sambil memperhatikan sekitarku dan menatapnya."Gak bisa. Nanti anak-anak pada liat." Balasku sembari berbisik di dekatnya.
"Jam Sebelas malam!" Ujar nya sambil berdiri dan meninggalkan ku.
"Hei!" Teriakku sambil berdiri menatap punggungnya."Archie!"
Tapi dia tak menghiraukan panggilanku dan bergabung dengan anak-anak lainnya.
**********
Jam dinding pun hampir menunjukan pukul 11 malam, dengan bingung dan mondar-mandir di depan pintu kamar penginapan ku sendiri, aku komat-kamit sambil menggigiti kuku ku sendiri.
Ddrrtt..ddrrtt...
"Archie!" Gumamku sambil mengangkat telpon nya.
"Gua lagi nungguin lu ni!!" Ucapnya.
"Aku, takut ketauan anak-anak!" Jawabku.
"Apa gua aja yang ke kamar lu!"
"Ja-jangan!" Jawabku spontan.
Kalau dia yang datang kesini bisa saja anak-anak cewek yang masih belum tidur mengetahui keberadaannya.
"Makannya cepetan kesini, mumpung lagi sepi. Anak-anak pada pergi nonton futsal!"
Pantas, dia menyuruhku ke kamar nya ternyata memang tempatnya sedang sepi.
5 menit kemudian.
"Aku udah di depan kamar kamu, cepetan buka!" Bisik ku di dalam panggilan telpon sambil bersembunyi di dekat pot bunga di samping kamarnya, mengendap-endap agar tak ada yang melihat.
__ADS_1
Ceklek...
Sebuah tangan menjulur dari dalam pintu, dan langsung menarik lengan ku untuk masuk ke dalam kamar.