Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Kekhawatiran Sakurai


__ADS_3

"Hei!!"


Seseorang menjahili ku dengan cara menarik-narik rambutku dengan pelan.


"Lu ngapain di sini!?" Ucapnya lagi sambil menyibak rambut yang menutupi wajahku.


Saat mata ku telah terbuka sepenuhnya, barulah aku tersadar jika semalaman aku tertidur di kursi pasien dengan setengah tubuhku rebahan di atas tubuh Archie. Dan semalaman juga ternyata kami saling berpegangan tangan dan tak melepaskannya sampai pagi.


"Archie!!" Panggilku sambil meluruskan tubuhku sendiri. "Kau sudah bangun!?"


Dia tak menjawabku, namun tatapannya terlihat sinis menyorotku.


"Lu kan bisa tiduran di sini, tempat gua aja luas. Kenapa harus tiduran di kursi sih, kalau badan lu sakit-sakitan gimana coba!?" Dia langsung merentetku dengan omelan.


Aku tak menjawab dan meregangkan tubuhku sendiri karena memang benar tiduran di kursi itu menyiksa.


"Aku tuh semalem takut gangguin kamu. Lagi pula, kamu tuh tidurnya nyenyak banget ampe ga tega bangunin!!" Jawabku mengelus lembut punggung tangannya.


"Kapan lu ke sini?" Tanyanya.


"Hendri langsung nyamperin ke apartemen pas kamu pinsan dan di larikan ke rumah sakit!!" Jawabku.


Archie terlihat tak senang dan memalingkan wajahnya sendiri.


"Apa dia ada ngomongin yang lain sama lu!?" Tanyanya terlihat khawatir.


Aku menggeleng dengan alis bertaut memandangi ekspresinya.


"Tidak. Hendri ga ngomong apa-apa selain kamu pinsan dan di bawa ke rumah sakit!!" Jawabku.


Dia menghembuskan napas lega dan menutup mata nya sendiri dengan lengan.


"Memangnya ada apa?" Tanyaku penasaran.


"Ga ada apa-apa kok!!" Jawabnya semangkin membuatku curiga.


"Beneran!!" Aku meragukannya.


Dia mengangguk di balik lengan yang masih menutupi mata nya.


"Apa kau baik-baik aja. Mau ku panggilkan dokter!!" Tanyaku karena dia terlihat gelisah.


Archie tak menjawabku, tapi berlahan mengangguk kan kepalanya seperti sedang menahan sakit. Sudah terlihat jelas kalau ada sesuatu yang tidak beres karena dia terus-terusan gelisah sejak menutup mata nya dengan lengan.


*************

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Sakurai yang baru saja tiba di rumah sakit setelah semalam dia kembali ke apartemen untuk menyiapkan perbekalan kakaknya.


Aku menatap pintu kaca di luar kamar Archie sambil mendengus berat, sekarang dia sedang menerima transfusi dua kantong darah sekaligus.


"Aku tidak tahu kalau selama ini dia sakit!!" Kelakarku pada Sakurai. "Barang sekalipun dia tak pernah menunjukan hal itu padaku!!"


Sakurai menarik diri nya dan mundur selangkah di belakang ku. Pandangannya tertuju pada Archie yang tak bisa membuka matanya karena mengalami vertigo berat.


"Mau kopi!!" Ucap Sakurai menunjukan dua cangkir kopi hangat yang di pesannya saat menuju kemari.


Di bangku taman rumah sakit.


"Dia itu orang aneh, jadi kakak ipar jangan terlalu menyalahkan diri sendiri karena sifatnya yang memang terbiasa keras dan mengedepankan harga diri ketimbang yang lain!!" Ucap Sakurai sambil menyeruput kopi nya.


Entah kenapa, atau memang ini hanya perasaan ku saja. Tapi setelah mereka bertengkar hebat sampai membuat semua orang kerepotan dengan tingkah mereka berdua. Sekarang Sakurai terlihat lebih ekspresif dan menjadi dirinya sendiri ketimbang waktu pertama kali aku bertemu dengannya.


Entah dia menyadarinya atau tidak, tapi aku menganggap baik apapun yang terjadi dengannya.


Tanpa sadar aku tertawa saat mendengarnya mengatakan hal itu mengenai kakaknya sendiri. Lebih anehnya lagi sekarang Sakurai bicara lebih santai dari sebelumnya. Karena selama ini dia selalu bicara formal seperti turis asing yang baru pertama kali menginjakkan kaki nya ke indonesia.


"Kakak kenapa. Omonganku lucu ya!!" Ucapnya dengan wajah datar.


"Bukan. Bukan. Ahh..maaf, tanpa sadar aku jadi bertindak berlebihan!!" Ucapku heboh sendiri.


"Dulu juga kakakku pernah mengalami hal yang sama seperti ini. Dia juga pinsan di kamar mandi selama setengah jam tanpa ada seorang pun yang menyadari akan hal itu. Tapi untungnya dia selamat dan hanya menderita luka memar di dada akibat terkena wastafel di saat tak sadarkan diri!!" Cerita Sakurai.


"Dia itu bodoh. Saat semua orang menghawatirkan keselamatannya karena penyakit itu, tapi dia malah tak perduli dan selalu mengulangi hal yang sama." Ucap Sakurai dengan wajah kesal dan menyeruput lagi kopi nya.


Aku tertawa lagi dan memandangi nya.


"Kakak kenapa lagi, apa di wajahku ada sesuatu yang aneh!!" Tanyanya rada risih.


Aku buru-buru merentangkan telapak tanganku di hadapannnya.


"Enggak gitu. Ahhh..maaf. aku benar-benar ga terbiasa mendengarmu membicarakan Archie dengan ekspresi seperti itu!!" Ucapku mengoreksi.


"Apa aku terlihat aneh kalau seperti ini!?" Ucapnya menilai salah ucapanku.


Aku terdiam dan menatapnya.


"Selama ini aku berusaha menjadi apa pun agar semua orang mau menerimaku. Terutama berusaha untuk tak menunjukan diriku yang membosankan ini kepada orang-orang yang baru ku temui!!"


Sakurai menyeruput lagi kopi nya dan memandangi merpati putih yang sedari tadi hilir mudik di bawah kaki nya.


"Aku tidak mau orang-orang menganggapku sama mengerikannya seperti masa lalu ku. Mangkanya, aku selalu berusaha tersenyum di depan semua orang meskipun aku tak terlalu menyukainya!!"

__ADS_1


"Begini saja pun tidak terlalu buruk kok!" Ucapku.


Sakurai mengangakat pandangannya menatap ku.


"Kau tau. Dari awal perjumpaan kita, aku selalu merasa kau sedang menyembunyikan sesuatu yang tak ingin kau tunjukan kepada orang-orang. Dan dari awal, aku merasa kau terlalu menutup dirimu sendiri atas dunia." Ucapku.


Sakurai menyimak.


"Maksudku, ketimbang dulu. Sekarang kau jauh lebih ekspresif dan terbuka menunjukan isi hatimu ke pada orang lain!!" Ucapku, "itu pertanda bagus, karena kau terlihat lebih baik menjadi dirimu sendiri ketimbang memberikan kepribadian palsu kepada orang lain padalah kau tak terlalu menyukai hal itu."


Sakurai mengangguk.


"Aku senang melihatmu menjadi dirimu apa adanya. Kau yang sekarang pun terlihat lebih manis dan natural!!" Tambahku sambil tersenyum.


Sakurai buru-buru menenggak kopi yang ada di genggamannya dengan wajah memerah.


"Terimakasih kakak ipar. Aku merasa lebih baik saat mendengar hal seperti ini!!" Ucapnya membalas senyumku.


Aku mengusap bahu nya dan juga membalas senyumannya.


"Tetaplah seperti ini!!" Ucapnya spontan.


"Apanya?" Aku bingung.


Dia menunjuk sudut bibirku. "Maksudku ini!!" Ujarnya.


Aku bingung dan meraba-raba sekitar mulutku kalau ada sesuatu yang tertinggal.


"Bukan. Bukan!!" Ucapnya tertawa.


Dia lalu menarik kedua sisi ujung bibirku menggunakan telunjuknya, dan mengangkatnya ke atas.


"Kakak ipar sangat manis jika tersenyum. Aku sudah lama tak melihat kakak tersenyum!!" Ucapnya dengan nada sedih.


Aku diam saja saat Sakurai menarik tangannya dan melepaskan telunjuknya dari wajahku.


"Meskipun berat. Aku harap kakak ipar tidak jatuh dan menjalani hidup ini dengan semangat." Ucapnya.


Aku tersenyum sepintas.


"Kakak ipar harus terus berada di samping kakakku yang bodoh itu. Dia akan kehilangan arah dan tujuan jika kakak tak bersamanya!!"


Aku menepuk pundak Sakurai sambil tersenyum lebar.


"Kau tenang saja!!" Ucapku rada lantang. "Aku berjanji akan berada di samping kakakmu yang biadab itu sampai mati."

__ADS_1


Burung-burung merpati itu berhamburan saat kami berdua tertawa lepas di taman rumah sakit yang indah itu.


Dan matahari pagi pun menjadi saksi bisu janji ku kepada semesta.


__ADS_2