
Mia jatuh sakit. Sesuatu yang sangat ku takuti akhirnya terjadi. Tulung punggung kami, penopang hidup kami satu-satunya, akhirnya tumbang tak berdaya gara-gara malaria.
Dokter mengatakan, Mia sakit karena terlalu lelah bekerja, dia juga mengidap anemia karena tak cukup waktu tidur. Wajar saja, Mia bekerja tak kenal waktu hingga tubuhnya berada di ambang batas. Selama ini yang membuatku khawatir adalah dia tak pernah sekalipun mengeluhakan tentang betapa lelahnya membanting tulang. Dia pantang mengeluh walaupun kadang tak jarang dia sakit parah seperti ini.
Kondisi ini merupakan keadaan terburuk yang pernah terjadi kepada kami. Meskipun Mia tak bekerja karena sakit atau kelelahan, biasanya Shin yang membantu perekonomian keluarga ini dengan bekerja lembur seharian.
Tapi mengingat kondisi Shin yang sekarang, di tambah lagi dia juga tak bisa keluar untuk menghindari kecurigaan anggota gengnya, membuat kami benar-benar tak berkutik.
Hingga di hari-hari berikutnya, keadaan kami sampai pada batasnya.
Stok makanan yang tersisa hanya cukup sampai waktu kurang dari dua minggu. Belum lagi di tambah biaya pengobatan Mia yang belum lunas, dan yang paling menghawatirkan ternyata Shin juga butuh perawatan akibat luka terakhirnya yang tak kunjung sembuh dan malah semangkin memerah.
Aku menemui jalan buntu, tak tahu harus melakukan apa. Tak ada yang bisa ku perbuat untuk membantu mereka berdua. Di saat-saat seperti ini, aku merasa menjadi orang yang paling tidak berguna di mata saudara-saudaraku. Aku merasa malu karena hanya bisa menyusahkan tanpa pernah melakukan hal yang berarti bagi mereka. Aku benar-benar pecundang.
"Hei, Sada. Kau mau kemana!?"
Suara Mia menghentikan ku, saat tiba-tiba dia memergokiku keluar dari rumah.
"A-aku ingin membeli kecap ikan. Stok kecap ikan kita sudah menipis!" Jawabku gelisah.
"Membeli kecap ikan?" Mia memperhatikan ku dari atas sampai bawah.
Aku membalasnya dengan tersenyum sampai menunjukan gigiku.
"Tapi kenapa penampilanmu rapi sekali, memangnya kau mau membeli kecap ikan dimana?" Dia mulai curiga.
Aku diam sambil menundukan tatapanku.
Sial. Kenapa dia peka sekali, bagaimana kalau lagi-lagi aku ketahuan jika ingin mencari pekerjaan.
"Sada, jangan bilang kau mau.."
"Neechan, wajahmu pucat!" Aku memotong perkataannya.
"Apa?" Dia memegangi wajahnya.
"Ya ampun. Kau seperti mayat hidup!" Aku berusaha sebisaku untuk membuatnya tak membahas tentangku.
"Hah, benarkah!?" Dia terpancing.
"Cepatlah masuk. Di sini dingin, apa kau akan membuat ku khawatir lagi kalau nanti tiba-tiba pinsan!" Aku buru-buru mendorongnya untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Tapi, bagaimana dengan mu, kenapa kau terlihat mencurigakan..."
Draaakk...
Pintu tertutup, dan aku pun langsung beranjak pergi mencari harapan.
***********
"Maaf nak, tapi di sini kami tak membutuhkan karyawan tambahan. Barang kali di toko sebelah sedang mencari karyawan baru!!" Toko perlengkapan memacing menolakku dengan halus.
"Apa kau punya pengalaman bekerja. Kalau kau tidak punya, kau tidak di terima di tempat ini. Karena kami hanya membutuhkan seseorang yang punya pengalaman kerja paling tidak selama 7 tahun!" Pabrik garmen menolakku dengan alasan tidak berpengalaman.
"Hmmm.. apa kau bisa menyetir?" Apa yang ku pikirkan, kenapa aku melamar menjadi supir taksi sedangkan aku tak bisa menyetir.
"Kau di terima di tempat ini kalau bisa menjinakan burung unta itu. Kami berbaik hati menyuruhmu untuk menjinakan hewan ini, karena biasanya kami menyuruh anak baru untuk menjinakan beruang madu sebagai tes dasar!" Aku pulang, karena baru masuk kandang saja para burung unta itu sudah ingin melahapku.
"Maaf. Tapi kami hanya membutuhkan pegawai laki-laki!!" Mandor kuli bangunan menolakku karena aku wanita.
"Siapa tadi namamu. Apa tadi kau bicara padaku!?" Pilihan yang bodoh saat aku melamar pekerjaan di tempat toko kelontong kakek-kakek pikun yang bahkan tak ingat siapa pegawainya sendiri.
"Maaf nak. Tapi tempat ini sudah tutup karena bangkrut!!" Tempat makan yang ku datangi ternyata gulung tikar. Kasihan sekali, ternyata bukan hanya aku saja yang kesusahan.
"Liat apa kau hah. Mau mati, kau pikir kau siapa. Kenapa kau melihat ku seperti itu, mau ku cincang tubuhmu!!" Siapa yang ingin bekerja di tempat toxic sarang preman yang menjunjung tinggi senioritas, aku langsung pergi meskipun belum tahu apa yang harus ku kerjakan.
"Ahhh..segarnya!" Aku menenggak sekaleng minuman soda sambil mengipas-ngipasi diriku sendiri di bangku taman.
Sudah lebih dari setengah hari, dan aku masih tak mendapatkan pekerjaan apapun. Padahal sudah berusaha semampuku, tapi ternyata mencari pekerjaan itu sulit, apalagi yang benar-benar sesuai dengan kemampuan yang aku miliki.
"Menyebalkan. Kenapa aku masih tak mendapatkan pekerjaan yang layak. Apa ini sebuah kutukan.."
Sraaakkkk...
Tiba-tiba sebuah kertas melayang menerpa wajahku.
"Loh..apa ini?"
Ternyata kertas itu merupakan sebuah selebaran yang memuat lowongan pekerjaan yang entah kenapa secara kebetulan menyabangiku seperti sebuah takdir.
Di sana tertulis, membutuhkan seorang wanita muda, cantik, berpenampilan menarik, ukuran BH di atas 23, cukup umur, tidak punya pengalaman kerja tak jadi soal yang terpenting pandai menggoda. Gaji yang di tawarkan cukup besar, dan pekerjaan ini hanya di lakukan dalam sekali saja.
Tentu saja, pekerjaan ini di maksudkan untuk mencari para pekerja s*k* komersial solo yang tak punya naungan seperti tempat hiburan besar. Dari syarat yang di maksudkannya saja sudah mengarah ke arah prostitusi.
__ADS_1
"Mana mungkin aku tertarik dengan pekerjaan seperti ini!" Ucapku sambil meremas selebaran itu.
Namun fokusku terhenti saat melihat pengumuman terakhir yang berada di akhir kertas itu. Di sana tertulis jika syarat di atas hanya lah sebuah formalitas belaka, namun pekerjaannya tak mengarah langsung ke arah prostitusi.
Kata-katanya terlihat berbelit-belit, namun dari yang aku tangkap maksud dari pengumuman itu adalah Jika mereka sedang mencari orang untuk melakukan suatu misi. Kira-kira seperti itu penjabaran spesifiknya.
Aku membuang selebaran itu karena merasa tak membutuhkan nya, lagi pula Shin dan Mia akan mengamuk jika mereka tahu aku bekerja untuk hal semacam itu.
Tapi di tengah jalan, tiba-tiba aku berhenti. Dan menoleh ke belakang ke arah tempat sampah di mana aku membuang selebaran itu.
"Huuffft...dasar gila. Apa yang ku pikirkan!" Gumamku lalu pergi.
Namun semenit kemudian, aku kembali dan membawa pulang selebaran itu.
**************
"Niichan, tolong jaga rumah sebentar!" Ucapku sambil beres-beres.
Shin berhenti menonton TV dan mengawasiku sampai berada di depan rumah.
"Hei. Kau mau kemana. Bukannya akhir-akhir ini kau sedikit aneh karena selalu berada di luar!" Shin mengintrogasiku.
"Aku ada urusan!" Balasku singkat sambil memasang sepatu.
"Mencurigakan, bukannya selama ini kau benci keluar rumah karena sekarang musim penghujan!"
"Jangan cerewet, aku juga punya kesibukan lain selain mengurusi rumah!" Balasku mengacuhkannya.
"Hei Sada, aku begini karena menghawatirkanmu, bagaimana kalau terjadi hal yang tak di inginkan seperti hari itu!" Shin tetap cerewet.
"Itu karena aku bersamamu. Mereka mengincar kau bukannya aku!!"
"Tapi tetap saja saat itu kau dalam bahaya!" Dia tak berhenti.
"Sudahlah. Aku pergi dulu. Jangan lupa minum obatmu dan urus makanan Mia!!" Aku beranjak meninggalkannya.
"Dasar Sialan, aku belum selesai bicara. Sada!!" Dia bicara sendiri.
Aku berjalan dengan berlahan menyusuri deretan restoran di pusat kota. Lalu fokusku terhenti saat melihat sebuah rumah makanan prancis.
"Benar di sini!" Gumamku sambil melihat lagi pesan yang tertera di ponselku.
__ADS_1
Aku menarik napas, menggenggam dengan erat ponselku, dan berjalan masuk ke tempat itu. Aku tak boleh gentar, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk melindungi saudara-saudara ku. Aku tidak bisa mundur lagi.