
"Gua juga seorang kakak!!" Balas Archie.
Sontak Sakurai menoleh ke arah Archie dengan pandangan yang berbinar-binar.
"Gua juga ngerti posisi lu!!" Lanjut Archie.
Tora tertunduk.
"Meskipun kondisi ini di luar rencana kita, tapi akhirnya kita semua berhasil melewatinya." Archie menatap anak-anak satu persatu. "Tapi yang jadi masalah. Kita ga bisa ninggalin Ruana gitu aja, karena berkat situasi ga terduga ini kita bisa kumpul dalam satu ruangan!!"
Drap...drapp...draapp..
Suara langkah kaki yang sedang mendekat, sontak membuat anak-anak bungkam.
"Tuan dan Nyonya Yuaga, ketua ingin mengundang kalian berdua pergi sarapan!!" Panggil anak buahnya membuka pintu.
Aku dan Archie saling berpandang. Sekarang apa lagi?
*************
Kami di giring oleh anak buahnya dengan senjata api yang mengacung di belakang, bahkan pengawalannya lebih ketat dari biasanya.
Namun ada sesuatu yang membuatku risih setengah mati.
__ADS_1
Archie. Sepanjang perjalanan menuju tempat yang di tuju, dia tak hentinya menggandeng tanganku sambil tersenyum-senyum bahagia dan mengatakan 'I LOVE YOU' berkali-kali, entah apa gerangan yang terjadi padanya, namun yang pasti penjaga yang berada di belakang kami juga berkali-kali berdehem karena iri.
"Kau ini kenapa!" Ucap ku sebal.
Dia tertawa bahagia, seperti akan mengunjungi sesuatu yang menyenangkan.
"Gua ga bisa kek gini karena di sana banyak anak-anak. Itu namanya pembunuhan privasi!!" Balasnya mesra lalu menciumi tanganku.
Lalu apa bedanya dengan sekarang, bukankah dia melakukan ini di hadapan penjaga yang mengawasi kami dengan senjata api.
"Archie!!" Balasku dengan suara menekan sambil melirik ke belakang.
"Ga perduli!!" Ucapnya sambil terus menciumi punggung tanganku.
Krieeett.....
Pintu terbuka, dan terlihatlah meja bulat pualam dan tiga kursi berbahan steinlis dengan dudukan busa bercorak bunga dengan kondisi yang paling terawat. Di atas meja nya terdapat makanan berupa roti tawar dan susu hangat yang di sajikan dengan elegan menggunakan peralatan mewah yang bahkan sendok dan garpunya berwarna emas.
Yang jadi pertanyaanku, dari mana mereka mendapatkan peralatan seperti ini, padahal bangunan ini adalah bangunan tua yang terbengkalai yang bahkan mustahil ada orang yang iseng membawa peralatan dapur berkelas seperti ini.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya Yuaga, silahkan duduk." Ucap laki-laki itu menyambut kami sambil membungkuk layaknya seorang pelayan.
Aku dan Archie kembali bertatapan, yang kemudian akhirnya duduk juga di atas kursi yang mereka sediakan.
__ADS_1
"Apa kalian suka roti polos dengan rasa manis!!" Dia memulai dengan berbasa basi.
Kami berdua tak menjawab dan menatapnya dengan waspada.
"Apa kalian takut kalau ku racun!!" Ujarnya sambil terkekeh. Kemudian dia mengambil roti itu lalu memakannya, dan meminum susu yang berasal dari teko yang sama seperti yang ada di dalam gelas kami.
"Lihatkan, aku juga memakan makanan yang sama seperti yang ku hidangkan." Dia meyakinkan kami.
Archie mengulur tangannya dan mulai mengambil sehelai roti di atas meja. "Gua suka roti polos, tapi ga terlalu suka yang manis." Kelakar Archie yang mulai melahap makanan yang di sediakannya.
Tapi aku enggan bergerak, dan memandangi makanan yang tersedia di atas meja dengan pandang searah.
"Apa kau tidak suka makanannya?!" Tanya laki-laki itu setelah menyadari kalau aku tak berniat mengambil makanan yang telah di sediakannya.
"Makan yang banyak Sayang, lu kan juga perlu tenaga, apalagi abis bergelantungan dari jendela lantai empat ke jendela lantai tiga." Tiba-tiba Archie merosting laki-laki itu dengan tindakanku tadi malam.
Sontak tatapan laki-laki itu teralihkan dan menatap ke arahku.
"Anya jangan suka pilih-pilih makanan!!" Sambung Archie lalu memberikan sehelai roti ke atas telapak tanganku. "Lu harus kuat, karena lu itu pelindung gua."
Archie mengalihkan tatapannya dan melihat ke arah laki-laki itu dengan pandangan tajam.
"Iya kan, paman pay long tse!!"
__ADS_1