Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Good Girls


__ADS_3

"Dimana dia!?" Dimas mempertanyakan keberadaanku pada Dafa yang sedang menungguku di luar toilet wanita.


"Anya!!" Panggil Dimas.


Aku diam saja dan mengunci diriku sendiri di dalam toilet wanita.


"Lu di dalem kan?" Tanyanya.


Aku tetap diam saja sambil meringkuk di depan pintu toilet.


Terdengar langkah kakinya yang semangkin mendekat sampai akhirnya berdiri tepat di depan pintu toilet yang sedang ku huni.


"Bersihin diri lu dan keluarlah!!" Ucapnya lalu meletakkan sebuah hodie itu di atas pintu toilet.


Tapi aku tetap tak merespon dengan terus meringkukkan tubuhku yang lengket karena minuman soda.


"Gua tunggu di luar. Cepat bersihin diri lu!!" Ucapnya lagi.


Aku tetap diam saja.


Terdengar helaan berat dari suara napasnya.


"Anya!!" Panggilnya, "Archie juga ga mau lu kenapa-napa, dia bakalan bunuh gua kalau lu sakit dan kena flu!!" Ucapnya lagi lalu pergi ke luar toilet.


Aku mengusap wajahku sendiri dan membasuhnya dengan air mata. Meskipun rasanya menyebalkan karena tidak bisa berbuat apa-apa, namun aku tak boleh menyerah.


Anayah Yonaa. Aku harus menemuinya secara langsung dan mempertanyakan apa maksud dari perbuatannya kali ini.


Tak lama kemudian aku pun keluar dari dalam toilet setelah membersihkan diri dan mengganti bajuku dengan hodie Dimas.


"Aku ingin kalian bungkam mengenai hal ini!!" Ucapku kepada mereka berdua. "Aku tidak mau kalau sampai Archie tau kalau ada kejadian seperti ini di kampus!!"


Mereka berdua diam dan saling melirik satu sama lain. Aku mengerti apa yang mereka berdua pikirkan. Tindakan wanita-wanita itu memang keterlaluan. Tapi kalau seandainya Archie tau dan terlibat. Kondisi kesehatannya yang menurun akan semangkin membahayakannya.


Lagi pula, kalau dia tahu siapa pelakunya, bisa saja Yoona akan mendapatkan sesuatu yang di luar bayangannya. Aku ngeri membayangkan apa yang pernah terjadi pada Ruana tempo hari. Aku tak mau jika Archie menyakiti seseorang seperti itu.


**************


"Yoona!!"


Dia berhenti.


Aku buru-buru berjalan ke arahnya dan langsung berdiri di hadapannya.


"Bisa kau ikut dengan ku. Aku ingin bicara!!" Ucapku.


Dia menatapku dengan pandangan tak nyaman, seolah-olah dia pun mengerti atas maksud dari ajakanku.


"Apa ada sesuatu!?" Tanyanya sok polos.

__ADS_1


Anayah Yonna, selain cantik dan baik hati. Dia adalah wanita yang menjaga baik lisan dan tutur katanya, tak pernah membuat keributan dan berteman baik dengan siapa saja. Seolah penampilan dan parasnya yang cantik adalah perwujudan dewi yang membawa kemakmuran bagi mahluk bumi.


Tapi siapa sangka, jika penampilannya dan sosoknya yang menawan penuh pesona itu adalah kedok iblis yang menyengsarakan ku.


Aku buru-buru merogoh HP di dalam tasku dan menunjukan unggahan postingan itu kepadanya.


Sontak dia menampakan wajah terkejut dengan mata membulat besar serta mulut mengangga. Siapapun tau jika ekspresinya itu menandakan kalau dia sedang terpergok.


"Apa kau tahu siapa yang mengunggah postingan ini?" Tanyaku secara langsung tanpa mengambil tempo.


Dia tercengang dan menundukan tatapannya, alisnya bertaut dengan wajah kusut.


"Gu-gua ga tau. Kenapa tiba-tiba lu nanyain ini ke gua!!" Gesturnya gelisah sambil memilin baju nya sendiri.


Meskipun lisannya berbohong tapi fakta tak bisa bohong.


"Apa kau yakin, kau tidak tau siapa pelakunya!?" Tanyaku lagi mengintimidasinya.


Dia menggeleng dengan kuat seolah benar-benar tak melakukan hal itu.


"Kenapa lu nanyain ini ke gua. Apa lu ngira kalau gua pelakunya karena Archie pernah pacaran ama gua!!" Dia memainkan perannya.


Dia mulai mempermainkan ku.


"Ahh..apa kau mengira aku berfikiran seperti itu!?" Tanyaku.


Di luar dugaan ternyata aku bertindak gegabah dengan menanyakan hal seperti ini langsung ke hadapannya. 99% dia tak akan mengakui perbuatannya, apalagi dari awal mereka memang tak pernah pacaran karena Archie memanfaatkan Yoona sebagai media hipnotis untuk menyembuhkan penyakitnya.


"Gua tau lu nuduh gua karena gua pernah jadi cewenya Archie. Tapi itu masa lalu. Lagian buat apa gua mengunggah postingan kayak gitu!!" Dia tetap berdalih seolah-olah aku sedang menyudutkannya.


Aku menghela napas dalam dan menenangkan diri ku sendiri. Apa ini memang bakatnya, bakat playing victim yang membuat orang lain seolah merasa bodoh karena tahu dia yang bersalah.


"Aku menemukan kalau ID ini adalah punya mu, dan kau yang mengunggah postingan ini!!"


Dia tak bisa berkata-kata saat ku tunjukan bukti-bukti yang ada. Bukti itu menyatakan jika pengunggah postingan itu beserta 15 akun yang ikut berkomentar jahat atas unggahan itu, berasal dari ID yang sama.


"Apa kau mau mengatakan kalau kau bukan pelakunya!!"


Dia bungkam dalam wajah kusut. Dia ketahuan telah terpergok atas perbuatan jahanamnya.


"Apa kau juga menganggap aku membuat omong kosong karena menuduh yang bukan-bukan kepadamu!?"


Dia tersudut.


"Apa kau ingin memutarbalikkan fakta yang ada dan menganggapku membual!?"


Yoona memejamkan matanya dengan ekspresi takut.


"Yonna, katakan padaku apa maksudmu dengan semua ini, kenapa kau..."

__ADS_1


Tiba-tiba saja Yoona berteriak sambil menangis. Dia menjerit sekencang-kencangnya seolah sedang di todong pisau dari kawanan begal.


Seketika semua orang yang berada di wilayah kampus itu melihat ke arah kami berdua. Dalam sekejab mereka semua berdatangan dan menyabangi Yoona yang mengelepar seperti ikan yang kekeringan air.


"Kenapa lu mengatakan kalau gua yang ngelakuin itu. Kenapa lu jahat ama gua!!" Pekik Yoona menunjukku.


Semua orang bergerombol menanyakan perihal perkara itu. Mereka semua menenangkan Yoona dan merangkulnya, tapi tak ada satupun orang ysng berdiri di sisi ku.


"Kalian tau gak. Tiba-tiba aja Anya nuduh gua yang nyebarin postingan itu. Dia ngomong kalau gua bikin akun palsu dan berkomentar jahat tentang dia." Yoona mulai menunjukan keahliannya.


Semua orang menatapku dengan pandangan keji, seolah-olah aku adalah manusia paling jahat yang pantas di musnahkan.


"Apa yang kau katakan?" Ucapku heran mengagumi bakat ektingnya.


"Memangnya salah gua apa, gua bahkan selama ini diem aja pas lu deketin Archie di kolaborasi antar jurusan, padahal waktu itu jelas-jelas kalau Archie masih jadi cowok gua. Gua udah berkorban sejauh itu. Tapi kenapa lu malah nuduh gua dengan tuduhan yang enggak-enggak!!"


Seketika dunia terlihat amat begitu besar di hadapan mataku. Yoona dan orang-orang ini tiba-tiba berubah menjadi raksasa dan aku adalah spesies manusia terakhir yang masih hidup di muka bumi ini.


Hebatnya Yoona. Karena dia adalah wanita yang seperti itu. Wanita yang di pandang cantik, baik, supel, ceria, baik hati, dan tentu saja ingin di dapatkan oleh lelaki mana saja. Maka dia mampu mengendalikan orang-orang di sekitarnya dengan manipulasi playing victim nya.


Dan sial nya aku. Yang tak begitu di kenal oleh orang-orang di kampus karena sifat introvert. Maka aku tak bisa berbuat apa-apa saat Yoona menyatakan genjatan senjata. Peluru yang ku lontarkan kepada Yoona berbalik ke arahku.


Semua orang menghujatku, menodongku dengan cacian dan makian, menyudutkan ku, dan melempariku dengan kebencian. Sedangkan Yoona, lagi-lagi tersenyum puas di balik tangisan palsunya. Dia mengejekku di balik orang-orang yang buta ini.


Orang-orang yang berada di bawah kendali Yoona kini kian memanas dan beringas, mereka serentak melempariku dengan botol bekas minuman dan juga sampah yang mereka punguti di tanah. Mereka telah di kuasai amarah dan kedengkian sehingga tak bisa lagi di kendalikan.


Yang bisa ku lakukan hanyalah menerima kebencian ini secara mentah, aku melindungi diri dengan lenganku untuk meminimalisir kesakitan yang akan ku terima.


Aku hampir putus asa dan menyerah, namun di ujung penantianku secercah harapan menaungi ku.


Tiba-tiba sebuah punggung lebar nan kekar menghalangi sampah-sampah itu, dan seketika saja orang-orang yang melempariku berhenti secara mendadak.


"Kenapa sampai sekarang lu masih bego dan menanggung semua ini sendirian!!" Ucapnya.


Berlahan ku angkat kepalaku dan melihat sesuatu yang mengejutkan.


"A-Archie!!" Aku terbelak.


Dia datang tiba-tiba dengan setelan baju rumah sakit dengan tangan berdarah bekas infus yang terpaksa di cabut.


"Kenapa lu masih aja ngelakuin hal yang ga guna tanpa mengatakan apapun ama gua!!" Ucapnya lagi sambil mengelus lembut wajahku.


Seketika orang-orang yang tadi membuliku pontang-panting berlarian ke sana kemari saat melihat pemandangan itu. Mereka ingin melarikan diri dari tanggung jawab dan meninggalkan Yoona sendirian.


Yoona pun panik tak bisa mengendalikan situasi, dia sendiripun tak menyangka jika keadaan nya akan seperti ini.


Tiba-tiba Archie menggendong tubuhku dan membawaku pergi dari tempat itu.


Dan Yoona hanya bisa menatap punggung Archie dalam situasi yang menghinakan.

__ADS_1


__ADS_2