
Plaakkk...
Ibu dan Bapak sontak mengangkat kepala mereka secara serempak melihat ke arahku.
Aku melempar berkas-berkas beserta dokumen penting tentang kepemilikan aset dan kekayaan harta dari keluarga Yuaga yang ku terima sebanyak 32% dari hasil menjual diri kepada anak sulung mereka.
"Anya!" Ibu ku terkejut mendapati pembangkangan yang pertama kalinya dia lihat pada diriku.
Bapak sontak berdiri dalam wajah keterkejutan yang tak bisa dia sembunyikan bahkan membiarkan sendok dan garpu berserakan di atas lantai.
"Apa kalian berdua bangga pada ku!" Ucapku sambil menunjuk seberkas itu. "Apa kalian menganggapku anak yang berbakti sekarang!"
Bapak membuang muka karena menahan perasaannya sedangkan Ibu merentangkan kedua tangannya untuk menggapaiku.
"Ini yang kalian inginkan. Ini yang selama ini kalian kejar sampai-sampai mengorbankan kebahagian dan masa depan anak kalian sendiri. Ini kan yang ada di kepala kalian."
"Sayang!!" Ibu menghampiriku.
Tapi aku menepis kedua tangannya yang ingin merangkul ku.
"Apa yang ada di kepala kalian saat merampas kebahagianku dan mempermainkan agama atas nama pernikahan!" Aku murka dengan suara menggelegar, "bukankah kalian berdua lebih tau itu di bandingkanku karena aku di besarkan oleh kedua tangan kalian."
Bapak berjalan berlahan ke arahku dengan wajah menekuk, sedangkan ibu tak dapat lagi membendung air mata yang sedari tadi terus menggenang di pelupuk matanya.
"Lantas kenapa kalian menjual ku kepada keluarga konglomerat untuk mendapatkan jalan pintas menuju kekayaan. Kenapa kalian melakukan ini padaku!?"
Aku menangis sejadinya dalam duka sambil meringkik. Dan kedua orang tua ku langsung mendekap tubuhku yang ringkih dalam pelukan hangat mereka.
"Aku sudah heran dari dulu, mana mungkin keluarga konglomerat sekelas Archie Yuaga yang punya latar belakang bangsawan, menikahi gadis biasa yang tak punya apa-apa seperti ku. Lagi pula alasan klise yang menyatakan jika kalian menikahkan ku dengan Archie karena ingin melindungiku dari orang-orang yang berbahaya hanyalah dalih agar aku percaya kalau aku benar-benar dalam bahaya!!" Aku tak berhenti histeris.
"Sayang, bukan begitu!" Ibu mengusap punggungku.
"Kenapa kalian melakukan ini. Kenapa?" Aku memekik kencang.
Bapak diam seribu bahasa, ibu tak hentinya menenangkan ku. Sedangkan aku, seperti biasa yang bisa ku lakukan hanyalah protes. Terus berorasi tentang hidupku yang tak adil sampai tubuhku lelah dan kehabisan tenaga.
************
"Sepuluh tahun yang lalu, sebenarnya kami sudah membatalkan rencana pernikahan kalian!" Ucap Bapak.
Aku tersentak kaget dan terheran-heran menatap Bapak.
"Apa yang sedang Bapak katakan?" Tanyaku.
Padahal baru saja aku di tenangkan oleh rasa lelah karena kehabisan energi, tapi setelah mendengarkan perkataan Bapak barusan, seketika dadaku kembali bergejolak.
"Kalau kau ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya, baik. Akan kami katakan!!" Bapak berdiri sambi mondar mandir.
Aku diam menyimak dengan mata sembab.
"Dari awal kontrak ini di buat, Ibu dan Bapak tidak pernah setuju dengan rencana ini. Mengenang apapun yang bersangkutan dengan keluarga Yuaga selalu berhubungan dengan bencana!" Ujar Bapak. "Kami memang tak punya uang yang cukup untuk membiayai perawatan rumah sakit dan juga kuliah mu!!"
__ADS_1
Tafsiran biaya rumah sakit dan kuliah sebesar 200 juta perbulan. Kampusku merupakan universitas elite swasta paling berkelas se asia tenggara namun juga menerima mahasiswa berbakat seperti kak gima dan kak roland yang membayar biaya sekolah separuh dari harga normal. Dan rumah sakit tempatku di rawat, merupakan rumah sakit elit swasta dengan peralatan paling memadai di indonesia, bahkan kelas ekonomi saja di patok sebesar 7 juta permalam.
"Tapi menikahkanmu kepada keluarga Yuaga bukanlah pilihan yang baik, mengingat kau masih punya masa depan untuk menjalani kehidupan mu sendiri!" Sambung Ibu, "saat Ibu melihatmu bertumbuh dewasa dan menjadi pribadi yang baik, dan bergaul dengan teman seumuran mu lalu memperkenalkan Dimas kepada kami berdua di rumah ini. Ibu pun tersadar, pilihan yang salah jika menikahkanmu dengan orang yang tak kau cintai dan merenggut kebahagianmu hanya demi harta yang tak bisa kami berikan."
"Tapi, ada satu hal yang tak bisa kami cegah!" Ucap Ayah.
Aku menunggu sambil melototi Bapak.
"Fakta kalau kau sedang dalam bahaya adalah sesuatu yang tak terbantahkan. Dan jika kau menikah dengan Archie, maka kau akan mendapatkan perlindungan sepadan di bawah orang-orang berbakat seperti Hendri!" Lanjut Bapak, "Anya, kalau saja Bapak mampu menjagamu, mungkin kejadian belasan tahun silam tak akan terjadi. Bapak tak bisa menjagamu hanya dengan kedua tangan ini."
Bapak menengadahkan tangannya, menunjukkan ketidakberdayaannya kepadaku.
Aku terbelak sampai tak bisa berkata-kata. Dan menatap sorot kedua matanya yang lelah.
"Dan itu juga bukan satu-satunya alasan kami setuju menikahkan mu!" Ibu tiba-tiba menyela.
"Alasan?" Ucapku.
Mereka berdua saling bertatapan.
"Beberapa bulan sebelum pernikahan kalian terjadi. Archie tiba-tiba datang ke rumah ini!!" Balas Bapak.
"Anak konglomerat itu datang ke rumah ini dan memohon untuk tak membatalkan rencana pernikahan kalian, bahkan anak itu sampai berlutut di hadapan Bapak dan Ibu selama berjam-jam agar kami mengabulkan permintaannya!" Sambung Ibu.
Aku tercenung.
"Awalnya kami kira itu drama yang anak itu buat atas dasar rasa bersalah yang dia lakukan padamu saat insiden yang terjadi di gudang kampus. Tapi pada saat itu, siapapun pasti akan tau dan mengerti seberapa besar dan tulusnya anak konglomerat itu mencintaimu. Bahkan di setiap kata-katanya tersirat makna yang jelas, jika dia akan mengorbankan seluruh jiwa dan raganya untuk menikahimu!" Ucap Bapak.
"Bapak dan Ibu memang egois dan tak memikirkan dampak yang akan terjadi jika syarat pernikahan kalian terpenuhi dan Archie sembuh dari traumanya. Tapi yang jelas, saat melihat mu dan Archie saling mencintai dalam lingkup rumah tangga yang harmonis meskipun hanya sebentar. Tapi Ibu dan Bapak percaya jika Archie memang benar-benar mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini, Anya!!" Lanjut Ibu.
Ibu memegangi kedua lenganku lalu mengusap lembut wajahku dengan sentuhan hangatnya.
"Kau boleh membenci kami, kau boleh marah pada kami berdua. Tapi apapun yang akan terjadi nanti, kami akan tetap menganggap Archie sebagai menantu kami satu-satunya yang rela mengorbankan segalanya demi melindungimu." Ujar Ibu.
"Anya!!" Bapak berlutut di sampingku sambil memegangi ubun-ubunku. "Mau dulu ataupun sekarang, Bapak selalu melihatmu seperti anak kecil yang rapuh. Bapak selalu menganggapmu seperti anak yang waktu itu berlari-lari kecil memegangi jemari Bapak untuk menangkap kupu-kupu."
Aku memegang tangannya yang menyentuh ubun-ubunku.
"Bapak selalu berfikir untuk membawamu ke dalam sangkar agar tak ada seorang pun yang mampu menyakitimu. Itu yang kami berdua pikirkan, dan Archie Yuaga adalah harapan kami satu-satunya!!" Ucap Bapak.
"Maafkan kami. Maaf karena telah merenggut dengan paksa kebahagianmu dan menggantikannya dengan penderitaan. Anya. Maafkan kami!!" Sambung Ibu tiba-tiba.
Aku langsung merengkuh tubuh Ibu dan Bapakku dan memeluk mereka berdua dengan erat. Yang ada di kepalaku saat ini adalah menerima kenyataan menyakitkan ini meskipun aku tak ingin.
************
"Apa kabar?" Tanyaku.
Dia tak langsung membalas sapaanku melainkan menggaruk belakang lehernya dan dengan canggung tersenyum malu-malu atas penampilan baru nya.
"Jan liatin gua kayak gitu ahh!" Ujarnya membuang muka.
__ADS_1
"Abis tampang lu kok kocak banget sih, Ya!" Aku tertawa cekikikan.
Dua hari kemudian, aku sengaja mengunjungi Arya di lapas tempatnya mendekam untuk melihat keadaannya. Karena setelah kejadian pada hari itu kami tak pernah lagi bertemu bahkan di saat Arya di jatuhi hukuman berat atas perbuatannya.
Arya terlihat berbeda dengan wajah polos penuh jerawat dan rambut plontos yang mendekati botak, auranya juga berbeda setelah memakai baju tahanan. Aku juga mengerti kenapa dia canggung menampakan dirinya yang seperti ini padaku, karena setelah mengenal Arya selama bertahun-tahun dia adalah laki-laki yang selalu memperhatikan detil penampilannya, bahkan untuk urusan hari potong kuku.
"Makasih pizza nya, tar bakalan gua makan bareng anak-anak di dalem!" Ucapnya tersenyum sumringah di balik kaca transparan yang menghalangi kami berdua.
Aku mengangguk sambil tersenyum. "Aku ga bisa bawain yang lain selain makanan, kebijikan di tempat ini sangat ketat!!"
"Lu udah bawain makanan aja gua udah seneng banget kok. Makasih ya!!" Ujarnya lagi mengangkat tiga box kotak pizza ke hadapanku.
"Iya, masama!" Balasku.
"Lu pakabar?" Tanyanya.
Senyum di wajahku langsung memudar,"aku ga baik-baik aja!" Jawabku terus terang.
Arya memadangiku dari balik kaca yang memisahkan kami, dan sontak menundukan tatapannya karena tak tega melihat tempang menyedihkan ku.
"Setelah semua orang pergi dari hidupku, aku ga pernah baik-baik aja!" Lanjutku, "Laila, kau, Libiru. Dan sekarang Archie!!"
Aku membetulkan posisi tempat duduk ku dan menarik napas panjang.
"Aku ga pernah baik-baik aja setelah kehilangan kalian semua. Aku bener-bener udah hancur!!" Lanjutku.
Lama kami terdiam dalam perasaan itu sampai menghabiskan durasi pertemuan yang di batasi untuk pengunjung. Namun sampai akhirpun aku maupun Arya tak berani mengangkat kepala kami masing-masing karena takut beradu pandang.
Sampai waktu berkunjungku habis dan kami diam membisu tanpa pernah lagi berbincang-bincang.
Namun saat Arya di gotong dari hadapanku untuk masuk kembali ke dalam sel tahanannya, tiba-tiba Arya menyorobot petugas dan berdiri lagi di hadapanku.
"11 tahun lagi!" Ucapnya penuh semangat.
Aku terperanjat bahkan hampir terlonjak.
"11 tahun lagi gua bakalan bebas. Jadi tunggu gua sampai hari itu Nya!" Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Aku tak bisa lagi membendung air mata yang sedari tadi ku tahan, sampai akhirnya tumpah dan membasahi wajahku.
"Gua udah janji ama Laila buat jagain lu. Jadi gua mohon jangan menyerah dan tetap lah bertahan sampai di hari gua bebas!!" Pekiknya.
Dua orang petugas yang berjaga memegagi kedua lengannya, untuk membawanya paksa ke dalam sel tahanan.
"Tunggulah sampai hari itu, dan gua ga bakal biarin ada seorang pun yang nyakitin lu. Gua udah janji ama Laila, Nya. Gua udah janji!!"
Braakkk....
Pintu tertutup rapat. Dan Arya benar-benar telah lenyap dari hadapanku di balik pintu besi itu.
Aku membekap wajahku sendiri yang di banjiri air mata, dan meringkuk sendirian di atas keheningan.
__ADS_1