
"Aahhh.uhhh...aaaawhhh...pelan-pelan, uuuhhh...hhhhhh agak ke kanan, ahhhh..su-ssumpaah aahhh...aah ah..plis...Archie...uuh uuuh..pelan-pelan..ahhh..aaaa."
"Ini sakit ga..gua puter kayak gini!"
"Aaahh...aah...sa-sakit.. aaaa." Balas ku menggeliat, menahan sakit yang luar biasa.
"Jangan banyak gerak dong, gua malah jadi susah ngontrol."
"Sa-sakit, jangan pegang disitu, aahhh..."
"Kalau gini, enak ga.."
"Agak ke-ke kanan.."
"Kayak gini!"
"Aaaaaaahhhh....aahhh..hhhh!"
"Kayak gini.."
"I-itu, ahhh aaaaaaah...naik, naik ke atas."
"Kesini.."
"Oooh...yes, enak banget, ahhh..ahh.."
"Heboh banget sih lu!!" Potongnya, "pijat kaki doang, suara lu berisik banget!"
"Kanan zeyeng, ka-kanan!" perintahku.
"Lagian kalau pemanasan tuh yang bener, Ujung-ujung nya kaki lu malah keseleo dan gak bisa jalan!" Tukasnya mengomeli ku sembari terus memijat kaki ku yang sakit.
"Aku udah pe-pemanasan dengan benar kok, ahhhh...."
"Pemanasan apanya!" Dia menarik tumit ku ke atas.
"Waaahhhhhh....." Erang ku kesakitan.
"Itu karena lu udah jarang latian!!" Ujar nya sambil terus konsentrasi memijat kaki ku.
"Yang bikin aku kayak gini, siapa hah!?" Pekik ku sambil menahan rasa sakit.
"Gua cuman maunya lu lebih menghargai bakat lu sendiri, gak semua orang bisa punya reflek hebat kayak yang lu lakuin!"
"Gimana tadi kalau aku beneran kalah di ronde ke dua!" Pekik ku di iringi suara mendesis menahan rasa sakit.
"Kalau lu kalah. Gua bakalan turun ke arena dan bikin perhitungan sendiri sama Rio, gua ga peduli image atau apalah kalau lu beneran kalah!" Ujarnya membara.
"Tapi kan kamu ga boleh seenaknya, lagi pula kalau hal itu sampai terjadi, nama baik kamu juga bakalan ancur!?"
"Persetan nama baik!!" Jawabnya ngegas.
"I-itu..kau gak boleh berbuat begitu, kau harus belajar menahan diri, untuk tidak membuat masalah."
"Terus, gua mesti diam aja kalau lu di gangguin cowok lain!" Jawabnya meremas telapak kaki ku.
__ADS_1
"Waaaaaaagggghhh..." Erang ku kesakitan, seolah-olah nyawaku tercabut keluar dari raga ku.
************
Ddrrtt...Ddrrtt...
Dengan lemas ku cari arah suara getaran HP ku yang sampai terasa di seluruh penjuru kasur.
"Hallo!" Jawab ku dengan mata yang masih terpejam.
"Nya! gua tadi abis dari rumah lu, mau ngantar bahan yang gua pinjem kemaren. Tapi kata pak satpam lu udah ga tinggal lagi di rumah ortu lu, dan dia udah ngasih ke gua alamat baru lu. Tapi gua kayak salah alamat deh, kenapa jadi lu tinggal di apartemen yang mewah banget sekelas sultan, apa lu abis nyolong duit bank biar bisa tinggal di tempat kayak gini!!" Ujar suara yang berada di panggilan telpon.
Dengan berlahan aku mengucak mataku, dan melihat nama yang tertera di panggilan telpon.
"Arya, ngapain nelpon pagi-pagi gini!" Ujar ku yang tidak mengerti dengan ucapannya barusan.
"Gua mau balikin bahan modul lu! Bentar lagi gua nyampe ke tempat lu, lantai 12 Spring Season kan!"
DEG..
"Lu bilang apa tadi barusan!" Ucapku yang seperti bangkit mendadak dari kematian.
"Makannya kalau gua ngomong tuh dengerin. Gua ngantar modul yang kemaren gua pinjem, udah di lift ni gua."
"MAMP*S!!!" Pekik ku sambil keluar dari kamar ku dengan panik setengah mati.
"Halo Nya, mamp*s apaan, Nya, Nya!" Arya berbicara sendiri di dalam panggilan telpon yang ku tinggalkan di dalam kamar.
Braaakkk....
"Gawat, ni gawat!" Lapor ku sambil menggiring tubuhnya terpojok di kaca balkon.
"Kumat lu ye. Penyakit bege lu balik lagi!" Ujarnya sambil memasang baju.
"Dengerin dulu." Ucap ku panik sambil menepuk kedua lengannya.
"Arya..."
Ting tong ting tong...
Belum sempat aku memberitahunya, Suara bel telah berbunyi.
"Siapa sih!" Ujar Archie sambil beranjak dari hadapan ku.
Aku langsung memeluknya dari belakang dan menahan tubuh besarnya untuk berjalan.
"Anya, apaan sih lu!?" Ujarnya sambil mengangkat tubuhku lalu melepaskan tanganku yang memeluknya.
"Archie, duh bege.." Teriak ku sambil menyusulnya.
Aku berdiri menghalanginya, dan dengan cepat ku tunggangi tubuhnya sehingga aku bergelantungan layaknya bayi kera yang sedang di gendong oleh induk nya.
Ceklek....
Tapi perjuangan ku sia-sia ternyata dia sudah duluan menyentuh gagang pintu.
__ADS_1
"Assalamualaai.. isitigfar.. astagfirullahalazim!!" Pekik Arya dengan memegangi dadanya.
***********
"Jadi kalian ini sodaraan!" Ucap Arya sambil menyeruput teh yang sudah ku hidangkan.
Aku melirik Archie dan memberi kode padanya agar tak membuat Arya curiga.
"Ho'oh." Balas Archie dengan malas.
"Kok, Anya gak pernah bilang sih?" Tanya Arya yang semakin ingin tahu cerita kelanjutannya.
"Yah gimana yah, aku kan gak mau ketahuan kalau kita sodaraan, secara gitu dia kan famous, aku takutnya anak-anak tar kebablasan minta macem-macem ama gua!!" Jawabku membuat alasan.
"Sodara dari mana?"
Aku dan Archie melirik satu sama lain.
Astaga, sodara dari mana?
Kenapa juga aku membuat alasan sodara, padahal jelas-jelas Archie itu bule jerman jepang.
"Saudara jauh, jauh banget pokoknya!!" Jawabku keringatan.
"Jauh, jauh banget!!" Ujar Arya mengheran.
"Iya, Jauuuuh banget!!" Balasku kikuk.
"Oh gitu, pantes aja kalian berdua emang ada kemiripan." Respon Arya menatap kami berdua yang duduk canggung di atas sofa.
Untunglah Arya berfikiran seperti itu, aku sudah panik duluan kalau dia bertanya macam-macam.
"Orang jaman dulu bilang, kalau mirip tuh artinya berjodoh, tapi gak sangka ternyata kalian mirip karena sodaraan!" Sambung Arya yang tambah membuatku merasa canggung berada duduk di sebelah Archie.
"Jadi Anya nemenin kak Archie, tinggal sendirian di apartemen segede ini?" Tanya Arya memakan kue kering yang ku sediakan.
"Iya, soalnya Archie tuh orangnya parno-an kalau tinggal sendiri." Ucapku mencari alasan.
Archie terlihat tidak peduli, tapi pandangannya lurus menatap Arya.
***********
"Kenapa lu gak bilang kalau kita berdua udah nikah!" Tanya Archie setelah aku mengantar Arya keluar dari apartemen ini.
"Kamu beneran pengen orang lain tau keadaan kita yang sebenarnya! Kamu yakin gak mikirin pandangan orang-orang terhadap ku, terhadap gosip kamu yang punya banyak cewek-cewek di sana sini. Kamu yakin bisa menanggung semua itu seorang diri!!" Jawab ku sambil membereskan meja sisa menjamu Arya.
Archie terlihat memandangi ku dan diam mematung, tak ada balasan maupun makian. Dia hanya menatap ku yang membersihkan meja dan sesekali menarik nafas panjang.
"Gak bisa kan!" Ujar ku yang terlihat memancingnya terus menerus, meskipun aku terlihat sedang menantang ombak setinggi 12 meter.
"Gua gak bisa!!" Ucap nya dengan suara lantang sehingga membuatku terkaget untuk beberapa saat.
Lalu dia mendekat ke arah ku, dan langsung menautkan tangannya memeluk seluruh tubuhku dari belakang dengan wajahnya menempel di telingaku.
"Buat gua yakin, kalau lu benar-benar udah nerima gua dengan seutuhnya, lalu setelah itu.." Dia menggenggam erat tanganku. "Gua bakalan ngumumin ke semua orang kalau kita udah nikah, terlepas dari apapun resikonya!!"
__ADS_1