
Tok tok tok...
Archie masih tertidur pulas di sisi ku, bahkan dia tak sadar akan suara ketukan pintu yang berulang-ulang.
"Archie, ada orang!!" Ucapku, tapi dia tak mengidahkan dan masih mendengkur.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu lagi, menyebalkan. Padahal hari ini aku benar-benar ingin istirahat setelah semalaman kerja rodi dengan seorang kompeni asal jepang jerman.
"Archie, bangun bukain pintu!!" Ucapku yang mengguncang tubuhnya. Tapi dia tak bergerak dan mangkin hanyut dalam tidurnya.
Akhirnya aku menyerah dan menggerakan tubuhku dengan berlahan sembari menerka-nerka di mana terakhir kali aku meletakkan baju ku.
Ceklek...
"Nyonya?" Sapa Hendri setelah aku membukakan pintu. "Sarapan anda berdua sudah siap!!"
Aku tak menjawab dan terus menatapnya dengan wajah mengantuk dan lelah.
"Atau sebaiknya saya antarkan saja sarapannya ke sini!" Ucap Hendri lagi sebelum aku mengatakan apa pun.
"Hendri, sebenarnya aku lebih membutuhkan tidur dari pada makanan!!" Jawabku menjelaskan kondisi ku sendiri.
Hendri mengangkat kepalanya dan mendongok ke dalam, dia melihat Tuan nya yang terkapar dalam keadaan telanjang dan hanya berbungkus selimut, Tuannya terlelap seperti orang mati dan tak kan mudah untuk di bangunkan.
"Saya akan mengantarkan lilin aroma citrus untuk menghilangkan penat, dan juga teh jahe dengan campuran madu." Ucapnya yang langsung memahami kondisi kami berdua, karena hanya Hendri yang paham betul kejantanan Tuan nya jika soal menghabiskan malam berdua dengan ku. Kadang aku sampai tak bisa berjalan, dan sering kali cuti kuliah.
"Kau tak perlu repot-repot.." Tapi Hendri sudah duluan pergi dari hadapanku.
"Ahhh..pinggangku, rasanya benar-benar seperti berkuda semalaman." Keluhku sambil memapah dinding.
*************
"Siang teman-teman!!" Sapa ku yang baru keluar dari kamar setelah seharian ini, lalu menyapa mereka yang berkumpul di hall room.
"Lu kemana aja, kok baru muncul sekarang!!" Tanya Dafa. "Terus napa kok muka lu lemes, kurang darah ya."
Plaaakkk...
Tiba-tiba Laila menampar Dafa lalu memicingkan matanya dengan isyarat tak jelas.
__ADS_1
"Bego lu, mangkanya jangan kelamaan jomblo!!" Timpal Arya mengeksekusi Dafa yang tak peka.
"Pura-pura bego tuh, dia kan fans nomor satu manga hentai Sakurai." Tambah Laila.
"Apasih lu bedua, gua beneran polos kok!!" Dafa membela diri.
"Yang lain mana?" Tanyaku.
Mereka lalu menjelaskan kalau sebagian dari anak-anak ada yang sedang berbelanja ke pasar, dan ada juga yang pergi memancing, lalu sebagian lagi tinggal di kamar untuk beristirahat. Karena hari ini tak ada acara yang di jadwalkan maka dari itu anak-anak mulai mencari kesibukannya sendiri.
"Ruana gimana?"
Mereka bertiga saling bertatapan satu sama lain dengan wajah prihatin.
"Katanya dia masih shock berat, ampe sekarang dia lebih milih tinggal di kamar dari pada keluar!!" Jelas Laila.
Sampai separah itu, ku pikir Ruana akan baik-baik saja setelah beristirahat.
Tapi ada sesuatu yang mengganggu pikiran ku setelah kejadian tersebut, karena sebelum kejadian itu aku melihat Ruana yang mengecek peralatan menyelamku dan mengatakan kalau peralatannya rusak. Dan entah kenapa meskipun sudah mengecek dan mengganti peralatannya dengan yang baru, Ruana malah mengalami insiden.
Apakah telah terjadi sesuatu yang hanya di ketahui oleh Ruana?
"Ruana ini aku, bolehkah aku masuk!" Ucapku yang berada di luar kamarnya.
Cekleek...
Pintu pun terbuka dan terlihatlah Tora yang datang menyambutku.
"Masuklah!!" Ujar Tora yang langsung menyingkir di pinggir pintu.
Ruana terbaring di atas tempat tidur dengan kondisinya yang memprihatinkan. Wajahnya pucat, dan tubuhnya lemas seperti tak bertenaga, matanya kuyu dan menatap kosong ke depan.
"Kak Anya!!" Sapanya saat melihat kedatanganku dan memaksakan diri untuk berdiri dari tempat tidur.
"Jangan bergerak, tetaplah di tempat tidur!!" Ucap ku yang kemudian mendudukannya kembali.
Aku melirik Tora yang berdiri di daun pintu dan mengawasi kami, sesekali dia memperhatikanku dengan sangat detil seperti sedang memprasangka kan sesuatu.
"Bisa ga kamu pergi dulu dari sini, ada yang mau aku bicarakan berdua dengan Ruana." Pintaku pada Tora.
"Kenapa ga ngomong aja sekarang, apa hubungannya ada gua ama ga ada gua!!" Jawab Tora yang ternyata lebih keras kepala dari apa yang ku bayangkan.
__ADS_1
"Ini masalahku dan Ruana, ga ada hubungannya ama kamu!"
"Tapi gua ga bisa ninggalin Ruana sendirian!!" Ucapnya dengan tegas. "Kalau lu mau ngomong. Ngomong aja di saat ada gua di sini.."
"Kak!!" Panggil Ruana memotong perkataan Tora, "Kakak pergi aja, lagi pula ada sesuatu yang harus Ruana omongin ama kak Anya."
"Tapi lu beneran ga apa-apa?" Tanya Tora lagi memastikan.
Ruana mengagguk lesu sambil menggenggam selimut.
"Bagaimana kondisimu?" Tanyaku setelah Tora pergi meninggalkan kami.
"Ruana baik-baik aja kok kak, makasih udah khawatirin Ruana dan bela-belain datang ke sini!" Jawabnya sambil memaksakan senyumnya.
"Syukurlah!!" Responku sembari menatapnya dengan penuh perhatian. "Tapi, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan. Ini perihal kejadian kemarin!?"
Sontak Ruana menunjukan wajah tak enak di barengi pandangan gugup, aku mengerti dia sama sekali tak nyaman dengan topik ini.
"Ruana, bukankah kau bilang kalau peralatanmu rusak, terus kenapa bisa terjadi kecelakaan, apakah saat itu peralatanmu tidak jadi di ganti?" Tanyaku beruntun.
Dia diam saja dan tak berani menatapku, bahkan air muka nya tampak kebingungan. Aku merasakan sesuatu yang tak beres, apalagi Ruana adalah tipe wanita yang pemalu dan lugu, dia tak akan menyembunyikan sesuatu jika tak memikirkan kosenkuensinya.
"Apa yang kau tau, katakanlah kepadaku jika terjadi sesuatu!?" Desakku yang mulai nyambung dengan ketidakberesan ini.
Dia tetap diam saja dengan ekspresi ketakutan.
"Ruana, aku janji akan melindungi mu. Ku mohon, katakanlah sesuatu. Apa yang terjadi?" Tanyaku lagi.
"Kak!!" Panggilnya sambil menggenggam tanganku. "Ruana takut!" Ucapnya sambil memelas.
Firasatku benar, memang ada yang tidak beres. Saat dia tak sengaja mengecek peralatan menyelamku dan berdalih kalau peralatannya rusak, aku memang sudah curiga kalau terjadi sesuatu.
"Katakanlah Ruana. Aku janji akan membantumu!?" Ucapku meyakinkannya.
Dia diam saja dan menutup mulutnya rapat-rapat, di balik ekspresi ketakutan yang dia tampakan, terdapat tatapan yang juga meragukan.
"Ruana?" Panggilku.
Tapi tak ku sangka, dia langsung menangis dan membekap wajahnya sendiri seperti orang ketakutan.
Saat itu juga Tora pun datang dan langsung menenangkan Ruana yang seperti orang yang terkena depresi berat. Aku terpukul mundur saat menyaksikan pemandangan pilu yang tak pernah ku saksikan selama ini. Padahal Ruana adalah wanita yang cantik ceria polos dan lugu, tapi di balik itu semua, dia malah menyimpan kesakitan yang bahkan tak pernah di bayangkan oleh siapa pun.
__ADS_1