
"Tuan Nyonya!" Panggil Hendri berkali-kali pada kami berdua yang tertidur lelap di dalam mobilnya.
"Tuan!" Hendri sekali lagi menepuk lutut Archie berniat membangunkannya. "Nyonya!" Dia beralih padaku sambil menjentikan jarinya.
Namun kami berdua terlalu lelah sekedar untuk bangun, hingga akhirnya terlelap di dalam mobil Hendri dengan posisi tidur seperti orang yang tak ingat dengan peradaban.
TIIIIIINNNNNN.....
Kami berdua terperanjat, saat mendengar suara klakson yang sengaja di buat Hendri untuk membangunkan kami.
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya!" Ucapnya sembari membungkuk dengan wajah tersenyum."Kita sudah sampai di apartemen!" Lanjutnya sambil membukakan kami berdua pintu mobil.
"Gak ngotak lu!" Celetuk Archie sambil menampar jidat Hendri dengan telapak tangannya hingga meninggalkan bekas merah.
"Tuan susah untuk di bangunkan, begitu juga Nyonya!" Balasnya tetap anggun, sopan, dan tersenyum walaupun jidatnya terlihat memerah.
"Hendri gak mampir nih?" Tanyaku yang melihatnya berjalan keluar, ke arah parkiran setelah mengantar kami berdua menuju lift.
"Tidak Nyonya." Jawabnya menghentikan langkahnya. "Saya harus segera kembali ke perusahaan untuk mengurus keperluan Tuan!" Jawabnya kembali membungkuk padaku dan kemudian beranjak pergi.
"Kayaknya aku gak pernah liat Hendri liburan deh?" Tanyaku.
Archie dengan acuh menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Libur?" Jawabnya dengan mata terpejam. "Hendri gak mengenal kata libur!"
Ting...
Lift terbuka dan kami berdua pun masuk ke dalamnya.
"Kejam banget. Masa kamu gak ngasih dia liburan."
"No!" Jawabnya singkat dan memencet lantai 27. "Dia sendiri yang gak mau."
"Loh kenapa?" Tanyaku.
"Hendri tuh.." Matanya menyipit sembari berfikir. "Kalau ngomongin soal Hendri, dia itu asisten pribadi terbaik yang terpilih diantara 2000 orang kandidat yang masuk kualifikasi."
"Haaahh!" Ucapku kaget. " Dari 2000 kandidat?"
"Yang artinya dia adalah yang terbaik dari yang terbaik!" Jawab Archie menyilangkan kedua lengannya sambil bersandar di dinding lift. "Hendri tuh berada di atas level asisten pribadi biasa. Kekuatannya setara dengan 100 pengawal pribadi, kepintarannya melebihi 2 profesor, dan yang paling penting adalah tingkat kepatuhannya yang mencapai taraf dewa. Dia tuh adalah pengawal sekaligus asisten pribadi gua, yang sudah di gembleng selama 20 tahun menjalani pelatihan khusus, hanya untuk menjadi orang kepercayaan anggota keluarga Yuaga yang di pertahankan oleh ayahnya selama puluhan tahun." Jelas Archie.
"Dengan kata lain, Hendri itu mirip panglima sekaligus menteri pertahanan dalam suatu kerajaan. dan gua udah bareng dia sejak umur 9 tahun, mangkanya bisa di bilang dia lebih tau gua dari siapapun!!" Jelasnya dengan malas-malasan tapi bersemangat sekali mengoceh tentang Hendri.
"Pantas saja, dia itu mirip seperti robot manusia!!" Respon ku takjub.
__ADS_1
"Tentu aja sifatnya mirip seperti robot manusia, karena sistem pelatihan nya memang seperti itu. Mereka di latih layaknya anjing penjaga!!" Sambungnya memperjelas.
Ting...
Lift terbuka dan kami berdua pun berhamburan keluar.
Dug...
Tubuhku tiba-tiba tak sengaja menabrak seseorang yang sedang berseberangan arah di depan lift, sehingga HP ku dan HP nya berbarengan terjatuh ke lantai.
"Ahh...maaf Tuan!" Ucapku sambil membungkuk dan memungut HP nya yang terjatuh ke lantai.
"Tidak apa-apa. Aku saja yang kurang hati-hati." Balas pria itu sambil mengambil HP nya yang ku berikan padanya.
"Sekali lagi maaf Tuan!" Ucap ku sekali lagi mengiringi kepergiannya yang sudah masuk kedalam lift.
"Ayo..!" Pintaku pada Archie yang mematung di depan lift sambil menyandang outer coklat kotak-kotak di bahunya.
Tapi dia tidak beranjak dan diam disana dengan wajah serius.
"Kenapa?" Tanyaku yang kemudian muncul di hadapannya.
"Apa cuman perasaan gua atau..."Dia menjeda perkataanya dan menatap lurus lift yang sudah tertutup tersebut. "Enggak!" Jawabnya sendiri dan berjalan duluan menuju ke arah lorong.
"Loh..Kenapa sih!" Gumam ku yang menggoyang-goyangkan HP ku yang lemot nya minta kamehameha.."Ahhh...bikin emosi!" Pekik ku sambil menghempaskan nya di atas sofa bertubi-tubi.
"Ngapain sih!"
Sontak kehadiran Archie yang tiba-tiba membuatku menghentikan aksiku dan menatapnya yang berdiri sambil membawa gelas kosong.
"Bikinin gua kopi!" Perintahnya menyodorkan gelas kosong tersebut padaku.
"Bentar!" Ucapnya menahanku. "Siniin HP lu!" Pintanya.
"Dari tadi lemot mulu! Dahal aku gak naruh file yang berat-berat." Keluhku.
Dia hanya menatap layar ponsel ku yang meng-gelap tanpa menyalakannya.
"Pake krimer nabati kan?" Tanyaku dari dapur sambil berteriak. Namun dia hanya diam sambil terus menatap layar HP ku yang meng-gelap.
Sambil berkutik di dapur aku terus memperhatikannya yang menatap layar ponselku tanpa menyalakannya, bahkan dia seperti sedang beradu pandang dengan pantulan layar HP ku yang memperlihatkan dirinya sendiri.
"Archie!" Panggilku sambil memegang lengannya.
Seketika dia menatapku seperti sedang berfikir keras lalu meletakan HP ku di atas meja.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanyaku yang dari tadi bingung memperhatikan kelakuannya.
"Ehhmmm...!" Jawabnya sambil menyeruput kopi yang ku buatkan.
"Kayaknya HP lu gak ada masalah!" Jawabnya sambil meletakkan cangkir kopi tersebut ke atas meja.
"Masa sih!" Ujar ku mengambil HP ku sambil menghidupkannya. "Tapi, kenapa bisa lemot kek gini?"
Dia mengambil HP ku dan menghidupkannya sambil menunjukannya padaku.
"Kondisi HP lemot itu ada banyak faktor kayak storage yang penuh, RAM yang kecil, banyak APK yang aktif, pake widget yang lebay, cache yang gak ke apus, software yang gak ke update, kualitas batre yang jelek." Jelasnya sambil menyorot layar tanpa menyentuhnya.
"Tapi HP lu ini kan keluaran terbaru, RAM nya gede, APK yang aktif cuman WE sama game gelud-gelud an yang gak mungkin mempengaruhi sistem, widget lu juga gak lebay gak pake wallpaper atau animasi yang gerak-gerak, software lu juga ke update dan terawat dengan baik, kalau batre ya gak mungkin lah kan HP lu keluaran terbaru." Jelasnya lagi memberikan info mendetil sekedar informasi per gadget an.
"Nah terus apaan dong?" Tanyaku bingung. "Apa karena tadi abis jatoh di lantai?"
"Bisa juga karena jatoh sih. Tapi.." Dia menjeda bicaranya."Gua takutnya HP lu kena hack!" Ujarnya sambil mematikan total HP ku dan menaruhnya di atas meja.
"Kena hack?"
"Ada beberapa tanda-tanda kalau HP itu kena Hack salah satunya yah ini perjalanan Sistem HP yang lemot dan susah gerak karena adanya perpindahan informasi yang di kirim melalui malware yang gak dikenal. Terus tanda yang lainnya kayak lokasi GPS yang tiba-tiba aktif sendiri, ada APK yang gak pernah kita unduh tapi tiba-tiba muncul di layar, dapet recent calls yang gak kita ingat pernah dapet nomor itu dari mana dan tetiba muncul gitu aja, dan yang paling kentara adalah HP yang tiba-tiba reboot sendiri. Yah gua rasa tanda kek gitu belum muncul sih di HP lu, cuman lemot biasa sama batre yang cepet abis dan keadaan HP lu yang cepet panas, tapi gak menutup kemungkinan kalau beneran HP lu ini di sadap." Jelasnya lagi kemudian melempar tatapan khawatir pada HP ku yang tergeletak di atas meja.
"Lu ingat gak kejadian yang waktu itu di kamar lu?" Tanyanya. "Nah, gada salahnya hati-hati!!"
Aku menatapnya dengan pandangan tegang.
"Tenang aja!" Ujar nya sambil mengusap lembut punggungku. "Gua gak bakalan biarian apa pun terjadi ama lu, meskipun gua gak bisa ceritain semuanya sekarang, tapi seenggaknya lu percaya kalau gua gak bakalan biarin ada seseorang pun yang berani nyakitin lu!"
Dia menjatuhkan kepalaku agar bersandar di dadanya, lalu mengusap lembut kepalaku dengan belaian tanganya.
Perlakuan yang menentramkan hati, dia bisa memanipulasi keadaan dalam sekejap. Meskipun aku merasa khawatir dengan apa yang telah menimpaku belakangan ini, tetap saja dia selalu memberikan suasana yang nyaman agar aku merasa aman.
"Archie!" Panggilku yang hanyut dalam setiap belaian lembut tangannya yang mengusap rambutku.
"Hhhmm...!" Balasnya mendaratkan bibirnya menyentuh ubun-ubunku.
"Aku penasaran!" Ucapku sambil melingkarkan lenganku di pinggangnya. "Gimana cara kamu minta persetujuan orang tuaku, buat nikah?"
Dia langsung berhenti membelai kepalaku dan mengepal sebagian rambutku di dalam genggaman nya.
"Jadi.." Ucapnya sambil menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataanya. "Kita berdua ini emang udah di rencanain buat nikah, tapi rencana awalnya masih 4 tahun lagi."
Sontak perkataanya membuatku ku kaget sehingga harus melepaskan pelukanku pada tubuhnya.
"Rencana?" Tanyaku menatapnya dengan senyum getir.
__ADS_1