
Bbraakkk.....
"Astagfirullahallazim. Copot jantung gua, b*ngke." Teriak Archie terlonjak saat aku masuk ke kamar nya tanpa mengetuk pintu nya terlebih dahulu.
"Kirain kamu belum pulang." Balas ku tersenyum tanpa sedikit pun rasa bersalah karena telah membuat nya kaget sampai terlonjak.
"Gak ada akhlak lu ye, main nyelonong masuk aja ke kamar orang. Kalau gua punya penyakit jantungan terus tetiba ko'id, lu mau tanggung jawab!" Cecar nya yang masih marah dengan perilaku ku yang masuk sembarangan ke kamar nya, sambil mematikan rokoknya di dalam asbak.
"Maaf deh kejadian kayak gini gak bakalan ke ulang lagi. Aku cuman ngambil charger HP ku ketinggalan, batre HP ku udah mau abis!" Ucap ku berjalan masuk kamar nya yang penuh asap rokok dan baunya menyengat memenuhi ruangan.
"Ambil aja noh di bawah!" Ujar nya lalu beranjak dari kursinya dan langsung menyalakan pembersih udara saat aku masuk. "Mabar mulu sih lu, makanya batre HP lu cepet abis!" Tuding nya lalu sibuk membuka seluruh jendela agar asap rokok di kamarnya cepat hilang.
"Laptop kamu emang udah bisa di pake." Tanyaku yang melihat dia sedang mengerjakan tugas.
"Udah gua buang, gua udah beli yang baru! Ngapain juga make barang cacat yang kerja nya udah gak performa." Jawab nya duduk kembali di kursi dan sibuk mengerjakan tugas-tugas nya.
"Kenapa di buang, mending di bawa ke tempat servis dan benerin yang rusak. Soalnya sayang banget kalau barang yang udah lama kita pake malah di buang gitu aja."
"Barang rusak dan cacat udah seharusnya di buang dan gak perlu di sayang-sayang, lagian gua gak mau nyimpan barang yang gak ada hubungannya dengan kebutuhan gua kalo kerjanya malah lemot dan gak performa, entar barang kayak gitu malah nyusahin kerjaan gua." Jelas nya sambil terus mengetik tugas nya.
Prinsipnya tidak salah sih, memang barang elektronik seperti laptop yang kerjanya sudah tidak performa dan tidak berfungsi dengan baik malah bakalan tambah menyusahkan dan membuat banyak kerjaan, barang seperti itu memang sudah sepantas nya diganti dan tidak perlu di sayang-sayang.
Tapi bagi diriku ini yang sangat penyayang terhadap barang-barang dan memperlakukan semua barang ku seperti malika kedelai hitam (iklan kecap top gambar burung) yang ku rawat seperti anak ku sendiri, tak kan semudah dia yang langsung membuangnya begitu saja tanpa perasaan bersalah.
Hal ini kembali mengingatkan ku tentang kejadian yang terjadi di restoran seafood beberapa waktu yang lalu, saat dia menjadikan ku sebuah tameng hidup untuk menyingkirkan pacar tidurnya yang bernama Chika.
Bagaimana dengan ku, apakah saat dia bosan dan aku sudah tak berguna baginya, dia akan menyingkirkan ku seperti yang dia lakukan kepada laptopnya dan juga Chika.
"Ngapain bengong!" Ucap nya melirik ku.
"Enggak, aku cuman lagi mikirin sesuatu!"
"Mikirin apaan?" Tanya nya.
"Kalau kita gak ada hubungan apa-apa terus bisa nikah, berarti suatu hari kamu juga bakalan buang aku kayak barang-barang kamu ya kerjanya gak performa." Ucap ku langsung mengungkapkannya.
Dia berhenti mengerjakan tugas nya dan menatap layar monitor sejenak. Kemudian berdiri dan memutar terbalik kursinya dan duduk menghadapkan ke arah ku.
"Gimana, gimana. Tadi lu bilang apa barusan!" Ucap nya sambil membuka kaca matanya.
aku diam tak bereaksi sambil menatap wajahnya yang serius melototi ku.
Mamp*s!!
Apa tadi aku malah salah ngomong, dan membuatnya kumat.
"Aku, aku gak..."
"Ssshhhtt..." Isyaratnya menyuruhku untuk tidak melanjutkan perkataan ku.
"mungkin lu mikir gua udah gak waras, kenapa setuju aja nikahin cewek burik kek lu yang udah gak famous, suka insecure, belagu, potato, dan banyak lagi keburikan lu itu yang gak bisa gua sebutkan satu persatu!" Ujarnya memujiku dengan sempurna.
"Ciihh..." Balas ku menyesal telah bertanya yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Tapi asal lu tau aja!" Ujar nya sambil merangkul kedua pundak ku."Kehadiran lu itu lebih berharga dari apa yang selama ini lu kira." Timpal nya melototiku.
Aku terkaget-kaget karena tiba-tiba dia mengatakan hal seperti ini, setelah tadi sempat menjatuhkan ku ke dasar jurang.
"Lu tu milik gua, dan selamanya bakalan jadi punya gua, paham gak lu?" Tegasnya menepuk kedua pundak ku mengisyaratkan kalau dia berbicara dengan sungguh-sungguh.
Aku diam tertegun saat mata bulat nya berwarna coklat keemasan mengingatkan ku tentang kejadian waktu dia memojokkan ku sambil tersenyum melihat ku menangis.
Bisa-bisanya orang yang waktu itu berbuat seperti setan, malah bersikap baik dan mengatakan sesuatu yang manis.
"Jangan anggap lu sendiri kayak barang!" Ucapnya pelan sambil mengusap pipiku.
"Gua orangnya emang gak pernah nolak cewek manapun yang datang dan gak pernah ngejar cewek manapun yang pergi, gua lebih suka berhubungan dengan cewek yang mudah di campakan ketimbang cewek yang ngajakin ribut gara-gara hal kecil. Makanya lu harus sadar diri." Ucap nya sambil menarik rahang ku ke arahnya."Lu tuh berbeda, lu istri gua, gak ada posisi apa pun yang bisa gantiin posisi lu di mata gua."
Kata-kata nya memang terdengar sangat romantis tapi kebalikannya, nada bicaranya malah mengerikan dan bernada mengancam. Tak lain dan tak bukan dia sedang menekan ku agar bersikap patuh padanya dan membuang pemikirian sempitku.
"Ngerti!" Jawab ku sembari menelan ludah.
"Anak pintar!" Pujinya sambil melepaskan rahangku dan tangannya beralih mengusap kepalaku. Dengan sekejap ekspresi wajahnya berubah menjadi sebuah senyuman dan mengelusku seperti seekor peliharaannya.
"Udah, gua gak mau bikin lu takut!" Timpalnya sambil menyatukan jidat nya dengan jidat ku sambil terus mengusap kepalaku."Gua cuman gak mau lu mikir kayak gitu lagi, sedangkan gua ada disini."
Berselang beberapa lama, eksprsinya berubah dan menatapku dengan gelisah.
"Anya, kok bau napas lu aneh. Lu abis makan jengkol ya!!"
Sontak aku mendorongnya karena malu lalu mencium nafas ku sendiri, dan benar. Nafas ku masih tercium bau jengkol, karena tadi sore anak-anak tim ku yang terdiri dari para jamet ngajakin makan di warteg.
"Nih!" Ujar nya sambil menyodorkan ku permen karet.
"Gua sedekat itu cuman sama lu, ngapain juga gua ngomong deket-deket ama cewek lain!" Balas nya dan ikut mengunyah permen karet.
"Cih, bohong!!" Aku tak percaya.
"Serah lu dah, kalau ga percaya!!"
"Archie!" Seru ku dengan nada ragu-ragu.
"Hhmmm.."
"Jadi orang yang semalam ada di kamarku itu siapa?" Tanyaku yang tak bisa menyembunyikan rasa penasaranku.
Dia hanya diam beberapa saat dan konsentrasi mengunyah permen karet di hadapan ku.
"Entar aja gua jelasin, lu belum seharusnya tahu apa yang terjadi!" Jawabnya sambil kembali berkutik di depan laptop dan melanjutkan tugasnya."Gua cuman gak mau bikin lu khawatir, itu aja. Suatu hari gua juga bakalan ceritain semuanya sama lu, tapi gak sekarang ada banyak banget hal yang harus gua selesain sebelum lu tau semuanya." Sambungnya.
"Aku juga mau tanya satu hal! Kenapa di kamar ku tiba-tiba aja kamu bisa nemu pistol." Tanyaku.
"Entar aja gua jelasin!" Jawabnya mengacuhkan ku.
Mood nya berubah lagi, sepertinya ini bukan waktu yang tepat buat ku untuk menanyakan hal ini padanya.
"Ya udah kalau gitu aku balik kamar aja!" Ujar ku sambil berdiri dari kasurnya
__ADS_1
"Lu gak nginep di sini!"
"Enggak. Aku juga lagi nugas, kerjaan ku banyak." Jawab ku menatap punggungnya.
"Entar kalau ada orang yang ngumpet, terus ngelakuin yang bukan-bukan lagi ke lu gimana!"
"Gak gimana-gimana paling yang rugi kan kamu." Jawab ku dengan memberikan kesan manipulasi dari perkataannya.
dia berhenti bekerja, dan berdiri di dekatku.
"Makannya, mulai sekarang!" Ujar nya sambil menundukan kepalanya hingga menyentuh pundak ku.
"kita sekamar aja." bisiknya di dekat telingaku."Gua masih mau dengar akting keren lu yang semalam. Sampai gua merinding dan kepikiran seharian. Gimana kalau kita beneran ngelakuinnya aja sekarang, terus lu teriak Motto Hayaku, mot...to.. ha..yaa..ku.." Bisiknya di telingaku sampai ******* nafasnya memenuhi isi kepalaku.
Wajahku langsung memerah, di ikuti tubuhku yang mulai memanas.
"Kita mulai aja ya.." Ucapnya mendesah dileher ku.
"Aagghh..Beg*!" Teriak ku malu, mendorongnya dari hadapan ku, kemudian berlari sekuat tenaga dari kamar nya.
"Main kabur aja lu woii, ini charger lu ketinggalan."
*********
"Kita nungguin yang lain dateng ya, abis itu baru kita mulai." Ujar Yoona meletakkan tas nya di atas meja, sambil duduk lebih memepet di dekat Archie yang sedang bermain game dengan konsol portabel.
Cantik banget, mungkin itu lah yang terlintas di pikiran cewek buluk seperti ku ini jika melihat server satu spesies seperti Anayah Yoona.
Dia adalah cewek blasteran korea, indonesia, thailand dan menjadi cewek yang paling terkenal sekampus sebagai wanita paling cantik yang mendapat gelar ratu dan pantas untuk bersanding di samping pangeran Archie. Visual nya sudah kelewat cantik, dia layak disebut bidadari yang turun dari surga. Bahkan di kampus ini ada fangirl nya, dan menyaingi kepopuleran COTOR yang melagenda.
"Tinggal anak arsitek aja ni yang belom datang." Ujar Arya yang duduk di sampingku sambil memeriksa HP nya.
"Iya soalnya kelas mereka baru aja selesai." Jawab Yoona dengan senyumnya yang memikat.
Ceklek...
Suara pintu terbuka.
"Hai, selamat siang." Ujar anak-anak arsitek yang baru saja tiba dan menyapa kami dari pintu masuk.
"Met siang!" Jawab anak-anak yang sudah lama menunggu kedatangan mereka.
"Gua cariin dari tadi loh, ternyata lu udah duluan nyampe!" Teriak Dimas yang tiba-tiba muncul di antara anak-anak yang datang secara gerombolan, dan langsung duduk di sebelah ku sehingga posisinya aku di apit oleh dua jantan.
"Kalian ini udah lama saling kenal ya!" Tanya Yoona melihat kami berdua dengan senyuman yang seperti sedang menggoda kami.
Aku dan Dimas saling menatap, di ikuti tatapan mematikan Archie yang melototiku saat aku tak sengaja beradu pandang dengan nya disela dia bermain game.
"Kita udah saling kenal dari SMA, Anya ini adik kelas gua. Dan emang dari dulu kita deket banget." Jawab Dimas pamer.
Prraaaakkk....
"Sayang kenapa?" Tanya Yoona kaget karena tiba-tiba Archie memukul meja dengan sangat kuat seperti sedang mematahkan anggota tubuh manusia.
__ADS_1
Archie menatapku sekilas seperti memberikan aku sinyal peringatan keras, sebuah tanda merah yang menyatakan kalau sedikit saja kesalahan yang aku lakukan maka dia akan membunuhku dalam satu serangan.
"Enggak, tangan gua kesemutan." Jawab Archie menepis tangan Yoona yang memegang lengannya.