
"A-apa yang terjadi?" Tanyaku.
"Anya!!"
Sontak mereka yang melihatku terbangun, langsung berhamburan berlari dan secara bersamaan mendekapku dengan tubuh mereka yang sedingin es.
"Lu ga kenapa-napa kan?" Tanya Laila yang langsung menangis sambil memelukku.
"Gua takut lu kenapa-napa?" Arya menghapus air matanya sambil memegang erat lenganku.
"Kita semua khawatir karena lu ga sadar-sadar dari tadi!!" Ujar Rio menambahkan.
"Napas lu juga lambat, anak-anak udah mikir keadaan terburuk mengenai kondisi terakhir lu." Tambah Dafa lagi.
"Di mana yang lain?" Potongku tiba-tiba tanpa mengambil tempo.
Mereka berempat saling bertatapan satu sama lain tanpa mengatakan apa pun. Pandangan pilu yang mereka perlihatkan tambah membuatku gusar.
"Di mana yang lain!?" Pekikku, Aku panik karena tak mendapatkan jawaban apapun dari mereka.
"Anya, tenanglah!!" Laila mengusap wajahku.
"Ga ada satu pun di sini yang tau keberadaan anak-anak yang lain?" Balas Tora yang tiba-tiba muncul dari seberang dinding. "Semua yang ada di sini juga ngalamin hal yang sama kayak lu, mereka juga kebangun dan tau-tau ada di tempat seperti ini!!" Jelasnya dengan muka gusar.
Kemudian kami semua terpekur menundukan kepala secara bersamaan. Tak ada yang mampu menjelaskan kondisi yang sekarang kami alami, selain prasangka menduga-duga kalau kami semua sedang dalam kondisi terancam bahaya.
__ADS_1
Tempat ini terlihat seperti bangunan tua di tengah hutan bekas gudang untuk menaruh gabah yang di tinggalkan pemiliknya. Terlihat jelas beberapa tumpuk gabah yang terbungkus karung berceceran sepanjang ruangan yang kami huni. Dari kondisi lumut yang merayapi dinding sampai kondisi berantakannya tempat ini, ku rasa sudah belasan tahun tempat ini di tinggalkan.
Bentuk bangunannya pun unik, tak ada jendela, celah dari sisi dek, atau sisi yang bisa di bongkar. Bentuknya hanyalah kotak memajang, dan terdapat ventilasi berbentuk bulat sebanyak 10 buah sebesar piring untuk meletakkan cangkir. Di ujung ruangan ini juga terdapat pintu besi yang kokoh, yang meskipun berusaha di robohkan oleh 5 orang dewasa pun pintu itu tak kan bergerak.
Krieeettt.....
Bunyi suara besi yang berderit membuyarkan lamunan kami berlima, dan sontak pandangan kami tertuju kepada pintu berlapis besi yang ada di ujung ruangan ini.
Seketika laki-laki yang tersisa di sini langsung memasang posisi siaga. Mereka langsung berdiri di hadapan ku dan Laila, sambil memasang kuda-kuda bertahan.
"Kalian udah bangun!!"
Suara pria bertimbre berat dan agak parau itu menyapa kami berlima di balik pintu besi, dan perlahan menunjukan wujudnya.
Lalu di ikuti oleh ke tiga orang lainnya yang ternyata bersekongkol dengan nya. Dan mereka semua berbekal senjata tajam, dan juga senjata api.
"Selamat pagi, apa tidur kalian nyenyak!!" Ucapnya dengan keramah-tamahan palsu.
"Ternyata lu orangnya!!" Ucap Tora siaga.
"Kalian bahkan ga sadar sama sekali kalau ada orang-orang seperti kami." Jawabnya dengan wajah bengis. "Apanya yang mantan pembunuh bayaran dan penjaga profesional handal, orang seperti kami saja masih bisa berkeliar..."
Braaakkkk.....
Tiba-tiba sebuah kaleng bekas susu melayang ke arah laki-laki itu, dan langsung mengenai pelipisnya.
__ADS_1
Nyaris tak terlihat oleh renungan mata, Rio dengan ceketan langsung merampas senjata api yang terlempar dari genggamannya, dan langsung menodongkanya balik.
"Lu jangan ngeremehin temen-temen gua!!" Ucap Rio serius. "Lu itu ga ada apa-apa nya. Pecundang!!"
Orang-orang di belakangnya bersiaga dan lansung mengacungkan senjata api milik mereka kepada Rio.
Namun lelaki itu tetap santai sambil mengelap darah yang keluar dari pelipisnya, setelah kena hantaman dari tendangan Rio.
"Santai, aku ga ada niatan buat ngeremehin temen-temen kamu kok!!" Ucap laki-laki itu sambil mengangkat tangannya ke belakang, isyarat yang pasti untuk menahan tembakan kepada anak buah yang ada di belakangnya. "Aku cuman lagi ngomongin realitanya aja." Tambahnya seperti sedang mengompori Rio.
Laki-laki itu berdiri dengan santainya, seperti tak ada takutnya dengan senjata api yang di todongkan oleh Rio.
"Hai, Nyonya. Kita ketemu lagi!!" Laki-laki itu menyapaku dari kejauhan, kilatan matanya mampu mengetahui keberadaanku meskipun di tutupi oleh punggung Dafa.
Aku tak bersuara dan menatapnya dengan pandangan benci.
"Kau ingat aku!?" Tanyanya lagi seperti mempermainkan situasi ini. "Bukannya kita udah beberapa kali ketemu ya, bahkan ini udah yang ke 5 kalinya."
Tiba-tiba hatiku tak tenang setelah mendengar penuturannya.
"Iya kan, Arel!!" Ujarnya.
DEG...
Keringat mengalir deras dari pelipisku dan membasahi bingkai wajahku. Perasaan yang familir ini adalah rasa takut karena tak berkutik dengan keadaan.
__ADS_1