
"Libiru maparin, kalau sebisa mungkin gua harus deketin lu, ampe lu benar-benar ga menaruh curiga sedikit pun ama dia. Dan selama Libiru bekerja, gua harus bikin lu benar-benar lengah sampai semua rencananya selesai!!" Lanjutnya.
"Rencana seperti apa!?" Tanyaku membeku bertopang pada tubuh Archie.
"Gua ga pernah tau, selama ini gua cuman bertugas buat deketin lu doang." Ucap Arya.
"Tapi.." Arya melanjutkan sambil membuang muka. "Gua ga tau lagi apa yang ada di kepalanya, pas dia bilang buat berenti nyakitin lu, karena selama ini target sebenarnya bukan lu, melainkan orang lain!!"
Archie tak gentar sedikitpun, bahkan saat aku terhenyak mendengar penuturan Arya, dia bergeming.
"Siapa, dia?" Tanyaku.
"Archie!!" Ujarnya memandangi Archie.
"Target Libiru adalah Archie!!"
"Archie!!" Aku menatap Archie, tapi dia tak mengeluarkan ekspresi apapun.
"Iya, Archie. Sepertinya, dari awal dia emang menargetkan Archie sebagai target utama." Arya memandangi kami berdua lekat, "Mulanya gua bingung kenapa tiba-tiba targetnya berubah dari lu menjadi Archie, tapi pas gua tau hubungan kalian berdua. Gua pun sadar. Kalau Libiru menargetkan Anya bukan tanpa alasan, melainkan dia sengaja menghancurkan kelemahan Archie yaitu Anya, setelah Anya berhasil di lumpuhkan, maka dengan mudah Libiru bisa memprovokasi kehancuran Archie tanpa kendala. Sejauh ini, itu yang gua pikirkan!!"
"Dari awal dia menargetkan Archie bukannya aku!! Ucapku lagi, "tapi...kalau kalian tak lagi menargetkan ku, kenapa kau terus mencelakaiku dengan memerintah Ruana!!"
Arya mengangkat kepalanya sambil mendengus.
"Mulanya gua emang bekerja buat Libiru, dan nurutin semua kemaun nya gitu aja. Tapi, ternyata dunia ini terlalu luas untuk di tinggali sendiri." Ucapnya.
"Maksud lu?" Tanya Archie meradang.
"Suatu hari gua di datangi oleh seseorang, yang merupakan atasan atau orang yang berada di balik Libiru." Ceritanya, "Dia mengungkapkan kalau gua harus terus menjalankan misi pertama Libiru buat ngelenyapin lu, terlepas setuju apa enggaknya dia ama rencana ini. Dan jika Libiru ga setuju atau menghalangi apa yang pengen gua lakuin, dia juga harus di lenyapkan tanpa terkecuali."
__ADS_1
Arya memandang searah.
"Dan jika gua ga mau ngelakuin tugas itu...."Arya mendengus lagi sambil memejamkan mata. "Orang itu juga ga bakalan segan-segan buat ngembunuh Laila!!" Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Aku melepaskan tubuh Archie yang masih menopangku, dan berlahan berjalan sempoyongan ke arah Arya.
"Gua. Gua ga punya pilihan lain Nya, gua putus asa!!" Dia merunduk tak mau menunjukan air matanya. "Gua ga punya pilih lain, selain ngelakuin ini semua!!"
Meskipun rasanya aku ingin mematahkan pergelangan kaki dan lehernya sampai dia cacat. Sekelebat ingatan tentang persahabatan yang selama ini terjalin di antara kami dan juga penderitaanya melintas menyeruak benakku.
Meskipun rasanya aku ingin marah dan mencerca nya dengan berbagai hinaan dan makian. Tatapan polos Laila dan juga tingkah absurnya melumpuhkan batin ku.
Aku membeku di hadapan Arya, menahan tangis sampai rasanya ingin muntah.
"Sial, sial, sial!!" Gumamku sambil memegangi kepalaku sendiri yang sakit.
Memangnya kenapa kalau ingin menjalani hidup dengan tenang dan bahagia, apakah hal seperti itu tak pantas jika aku jalani. Apakah aku harus mempresentasikan hidup ku sendiri seperti Mayfly yang hanya hidup selama 24 jam, dan menghabiskan sisa hidupnya dengan prahara.
Tap tap tap...
Archie berjalan dari punggungku dan langsung berdiri di hadapan Arya.
"Hei..!!" Archie memanggil Arya dengan memasang tatapan dingin.
Seketika Arya langsung mengangkat pandangannya sedikit dan melirik Archie.
"Katakan. Kalau lu benar gak ada hubungannya sama sekali dengan rencana Libiru, lalu kenapa lu dan Ruana mengikuti rencananya dan membawa Anya kemari!!" Archie langsung masuk ke intinya dan tak ingin repot-repot dengan hal remeh- temeh semacam perasaan yang mempertontonkan kemahatololan melankolis dirinya sendiri.
Arya yang masih di liputi perasaan gamang berusaha mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Archie.
__ADS_1
"Seperti yang udah gua katakan, gua emang ga lagi bekerja buat Libiru. Tapi gua masih jadi partnernya buat ngelenyapin lu." Ucapnya memandang lurus ke arah mata Archie. "Ruana emang ngelakuin itu secara suka rela dengan jaminan, gua ga bakalan balikin dia ke tempat Libiru kalau semua pekerjaannya sukses, dan karena dia beneran udah jengah di peralat Libiru."
Archie berjalan selangkah di hadapan Arya.
"Lantas, kalau semua itu benar, kenapa lu malah menggiring Anya ke sini, ke tempat ini!!"
Kening Arya mengernyit, dia menatap Archie lama tanpa mengatakan apapun.
"Tempat ini, adalah tempat yang letaknya sangat jauh dari area yang tertera di dalam penunjuk kode yang libiru paparkan, ini adalah tempat yang aman!!" Ucap Archie.
Arya diam saja.
"Kalau lu beneran pengen ngelenyapin Anya, dan ga pengen Laila mati di hadapan lu, kenapa lu malah bawa Anya ke tempat aman." Archie mendekat ke sisi wajah Arya, "lu juga ga mungkin tersesat, karena dari awal gua yakin, lu udah survey tempat ini!!"
Arya tak menyahut, dia tertunduk dalam keadaan tak ingin mengatakan apapun.
"Arya!!" Ujar Archie mendesaknya. "Apa yang sebenarnya lu rencanakan, kenapa lu bertindak sendiri dan tak melakukan perintah siapa pun!!"
"Gua ga bisa!!" Jawab Arya spontan.
"Apa yang lu ga bisa!!" Tanya Archie.
Arya mengerjapkan mata berlaki-kali, dia menatap kedua mata Archie sekilas lalu tertunduk lagi membuang muka.
"Anya. Gua sebenarnya ga bisa ngelakuin ini, gua ga bisa!!" Ucapnya dengan nada parau.
Archie tak bereaksi dia terus di situ tanpa bergerak.
"Gua ga bisa nyakitin lu. Lu itu temen gua!!" Ucapnya dengan wajah mewek menatapku, hingga akhirnya dia berlutut di atas tanah.
__ADS_1