Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Badai Pasti Berlalu


__ADS_3

Aku di haruskan membuka celanaku dan berbaring di atas tempat tidur dengan posisi sel*ngkangan ku terbuka lebar selebar-lebarnya.


Namun si Dokter laki-laki yang memeriksa keadaan ku hanya melihat isi nya tanpa melakukan tindakan, kemudian menatap ku lama tanpa mengatakan apapun. Dia mengisyaratkan kepadaku untuk menyudahi pemeriksaan tersebut dan menyuruh ku untuk menunggu nya memaparkan semua hasil yang diperoleh nya melalui pemeriksaan tanpa tindakan.


Dokter tersebut terlihat berbincang-bincang dengan banyak bidan dan juga perawat, dan tatapan mata Dokter itu sejurus melihat kearah ku.


Ku rasa ada sesuatu yang tidak beres mengenai diriku, pasalnya tenaga medis yang bertugas di dalam ruangan ini menunjukkan tatapan sejurus padaku di saat sang Dokter berbincang-bincang kepada mereka.


Atau hanya perasaan ku saja. Tapi memang, dari awal mula pemeriksaan, Dokter tersebut menunjukkan pandangan heran kepada ku tanpa mengatakan apapun selain matanya yang menyipit dan alisnya yang terangkat.


Dokter yang memeriksa ku akhirnya keluar dari ruangan nya, dan menghampiri kami yang sedari tadi menunggunya dari bilik kaca ruangan pemaparan hasil pemeriksaan.


"Nyonya Anya Arelista!" Panggil Dokter tersebut bicara di balik maskernya dan duduk menghadap kami berdua, kemudian dia menyibak maskernya menurunkannya sampai melorot di dagu.


"Sebelum saya memaparkan hasil pemeriksaan, ada satu hal yang saya ingin tanyakan?" Ujar Dokter tersebut sambil merapikan kertas-kertas yang ada di genggaman tangannya.


Aku merapatkan kedua kaki ku dan memandangi lekat kedua mata dokter tersebut.


"Iya dok?" Responku.


"Begini. Apakah Nyonya pernah melakukan hubungan suami istri kepada suami Nyonya dalam keadaan sadar!" Tanya Dokter tersebut di iringi nada bicara nya yang setengah mendikte.


Aku menatap Ibuku dahulu sebelum menjawab nya, dengan muka tertekuk dan setengah melirik Dokter tersebut aku memberanikan diri menjawab nya.


"Ti-tidak Dok!" Jawabku kikuk.


"Aahhh....!!" Ucap Dokter itu setengah mendesah kuat, seperti mendapatkan sebuah petunjuk berharga. "Baiklah. Sepertinya semuanya sudah jelas sekarang."


Aku saling melempar tatapan kepada Ibuku. Pasalnya Dokter ini membuat kami berdua menjadi tambah kebingungan.


"Memang nya kenapa Dok?" Tanya Ibuku dengan gusar.


"Yah ini sedikit membingungkan karena saat melakukan pemeriksaan observasi. Nyonya Anya ternyata tak mengalami perubahan pada bentuk bagian luar V*gina nya, Tak ada tanda-tanda pernah melakukan penetrasi." Jelas Dokter Sembari mencoret-coret selembar kertas dengan tulisan tangan nya yang seperti cakar ayam.


Kembali aku dan ibuku saling beradu tatapan untuk waktu yang lama dan kemudian sejurus menatap Dokter tersebut.


"Maksud nya dok?" Tanya Ibuku yang masih bingung.

__ADS_1


"Dengan kata lain Buk!" Ucapnya mengangkat pandangan menatap Ibuku. " Anak Ibuk ini masih perawan. Nyonya Anya ini belum pernah melakukan hubungan seksual, dan darah yang keluar dari *********** adalah darah haid atau darah menstruasi yang biasanya keluar sebulan sekali."


DEG...


"Apa?" Ucapku yang langsung kaget mendengar penuturan nya. Aku langsung menutup mulut ku sendiri karena tak percaya dengan kata-kata nya barusan, lagi pula bagaimana bisa.


"Lalu bagaimana dengan hasil yang keluar melalui cek urine ku pada waktu itu. Jelas-jelas kalau aku melihatnya sendiri kalau aku positif hamil." Ucapku dengan nada tak beraturan disertai tangan ku yang bergetar hebat.


Dokter itu berhenti mencoret-coret kertasnya dan menatapku.


"Yah..seperti nya memang ada masalah dengan hasil tes urine yang dilakukan di rumah sakit tersebut, bisa saja terdapat Hormon pengecoh di dalam tubuh anda sehingga Nyonya bisa mengalami hamil tanpa mengandung, bisa saja alat testpack yang nyonya pakai rusak, atau mungkin ada kekeliruan yang di lakukan oleh rumah sakit tersebut seperti data yang tertukar, dan lain sebagainya." Jelas Dokter tersebut panjang lebar.


Dengan tangan yang masih gemetar aku tak mampu membuka suara, bahkan untuk sedikit merespon perkataan nya. Sehingga hanya lirikan mataku yang berpendar membayangi responku terhadap penuturannya.


Dokter tersebut meletakkan bolpoin nya di atas meja dan menatapku.


"Kalau masih ragu, Nyonya bisa melakukan pemeriksaan ulang di sini!" Ucap Dokter tersebut memberikan ku solusi yang dapat memecah kebimbanganku.


Seorang perawat wanita menginstruksikan kepadaku penggunaan cara memakai testpack secara manual di kamar mandi.


Selama dikamar mandi, aku merasa kan tekanan yang amat kuat. Bahkan saking kuatnya, air seniku tak mau keluar.


"Nyonya, apa sudah selesai!" Tanya Perawat itu menggedor kamar mandi karena aku sudah disini selama lebih dari 5 menit.


"Sebentar!" Jawabku yang berusaha keras agar tak tegang.


Setelah selesai, buru-buru aku memberikan hasilnya kepada mereka, dan duduk mematung menunggui hasil dari pemeriksaan ulang.


"Negatif Nyonya." Jawab Dokter itu menunjukkan garis merah satu bait di alat cek kehamilan yang di namakan testpack itu padaku.


Aku langsung terperajat, dengan air muka bahagia yang tak dapat ku bedung lagi, aku berucap syukur sambil meraup wajahku sendiri.


Ibu langsung mendekap ku sambil mengusap-usap punggung ku. Tangis kami berdua anak beranak pun pecah di dalam ruangan itu.


Reaksi kami berdua pun menjadi pemandangan aneh di ruangan tersebut.


**************

__ADS_1


Mobil hitam milik Hendri terparkir rapi di depan rumah ku. Tanpa memperlambat laju langkah ku, aku langsung berhambur masuk kedalam rumah dan tak sabar ingin bertemu dengan Hendri untuk segera mengabarkan berita bahagia ini kepadanya.


"Hendri!" Seruku dari ambang pintu berusaha mencari sosoknya.


Ternyata Hendri sedang berada di ruang tamu bersama Bapakku. Sontak mereka menoleh secara bersamaan saat mendengar ku meneriakkan nama Hendri yang menggema di seluruh penjuru rumah.


Hendri langsung berdiri dan membungkuk kepadaku.


"Selamat sore Nyonya!" Salamnya kepadaku.


"Saya sudah mendengar kabar bahagia ini dari Tuan besar, maka dari itu tujuan saya kemari adalah untuk menjemput Nyonya untuk kembali ke apartemen." Ucap Hendri sopan dan ramah seperti biasanya.


Sebelum aku mengatakan apapun, Ibu beserta Bapak datang dari arah yang berbeda. Mereka berdua langsung mendarat kan pelukan hangat kepada ku sembari di iringi isak tangis haru kebahagiaan.


"Percayalah sayang," Ujar Ibuku tersedu-sedu sembari mengecup pelipisku. "Jikalau Anya melewati segalanya dengan ikhlas dan menyerahkan segala suatu urusan dengan gusti allah yang maha kuasa, dengan tak putus-putusnya selalu berdoa memanjatkan puji syukur kuasanya, Anya pasti mampu melaluinya dengan ridho!"


Bapak bergantian mengusap ubun-ubun ku dan mendekap ku beserta ibu dalam satu rangkulannya.


"Anak Bapak adalah anak yang kuat. Bahkan hatinya sekuat baja. " Timpal Bapak sambil mengusap lembut ubun-ubun ku.


Suasana pun menjadi haru biru di iringi isak tangis bahagia. Aku datang kerumah ini dengan membawa tangisan pilu kesedihan, aku pergi dari rumah ini dengan membawa tangisan haru kebahagiaan. Hendri dengan malu-malu menampakkan senyum tipis yang tak sekalipun ku lihat dari wajahnya yang dingin dan juga datar.


Seolah langit menyaksikan langsung peristiwa ini. Hari pun mendadak hujan rintik yang di iringi pelangi di pelosok sana.


**************


"Saya akan menunggu Nyonya di dalam mobil!" Ucap Hendri di saat aku bergegas menuju lantai dua menuju kamar, mengambil segala perlengkapanku untuk bersiap kembali ke apartemen.


Dada ku serasa geli memikirkan pertemuan pertama ku kembali dengan Archie, seolah perasaan menggelitik ini memberikan kehangatan yang baru pertama kali nya ku rasakan seumur hidupku.


"Ahhh...antungku." Gumamku cengar-cengir sendiri di depan pintu memegangi dadaku sendiri dan tangan satunya memegang gagang pintu.


Ceklek.....


Tiba-tiba sebuah tangan menyambar ku dari dalam ruangan dan memaksa tubuhku untuk masuk segera ke dalam kamar.


Dengan keadaan terjepit, aku berusaha melepaskan diri dan melontarkan teriakan sekeras mungkin. Tapi na'as tangannya langsung mendekap mulutku dengan rapat, sehingga aku tak punya jalan lain selain terkepung dengan tubuh membelenggu dan mulut terdekap.

__ADS_1


__ADS_2